Pelayan Restoran dan Organisasi Kita

TERUS terang saya agak bete saat saya menanyakan salah satu menu masakan di restoran yang saya tidak tahu kepada pelayan restoran, lalu pelayan tersebut menjawab ‘tidak tahu’. Kira-kira begini dialognya:

Saya : Mba, Afogatto Bolbalaga Cihua-hua itu makanan apa ya?
Pelayan:  Wah saya kurang tahu Pak!

Atau

Saya : Mba, Afogatto Bolbalaga Cihua-hua itu makanan apa ya?
Pelayan:  Kayanya rasanya coklat-coklat bau busuk gitu deh Pak!

Padahal saya menginginkan jawaban yang lebih terperinci, mendetail dan lengkap, misalnya:

Saya : Mba, Afogatto Bolbalaga Cihua-hua itu makanan apa ya?
Pelayan:  Oh itu adalah buah avocado yang telah terlebih dahulu dikupas kulitnya, dikeringkan dagingnya dan didiamkan di dalam suhu ruangan selama 2 minggu. Lalu daging tersebut dihancurkan, dicampur dengan tepung meizena dan dicampur dengan madu dari hutan Tesso Nillo dan telur ayam kampung, diuleni dan dibuat adonan. Adonan tersebut dipanggang dalam suhu 50 derajat fahrenheit selama kurang lebih 1/2 jam, lalu dihidangkan dengan saus strawberry dicampur dengan potongan buah plum dan mangga Indramayu dipotong kubus. Dan tak lupa, untuk menyajikannya chef harus menari Bolbalaga Cihua-hua.

Tentu saja dialog di atas murni karangan saya. Tapi setidaknya saya mengharapkan jawaban yang lengkap dan mendetail seperti itu, bukan jawaban saya tidak tahu pak, atau kayanya sih rasanya coklat-coklat masam begitu pak. Bukannya apa-apa, saya bertanya karena saya tidak tahu makanan itu, tentu saja saya membutuhkan informasi mengenai rasanya, bahan pembuatnya, kehalalannya, asalnya (mungkin), atau bahkan nama chef-nya (yang ini gak wajib-wajib banget sih!).

Menurut saya, pelayan restoran harus tahu menu apa saja yang ada di buku menu dan apa rasanya, termasuk bagaimana cara pembuatannya. Hal itu akan membantu pelayan dalam memberikan service kepada pelanggan. Bukan hanya sekedar mencatat menu dan menyampaikannya ke chef. 

Maka, pengenalan seluruh menu makanan kepada pelayan restoran merupakan hal yang penting dan urgen dalam bisnis makanan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi restoran dan karyawannya, tetapi juga bagi semua entitas, entah profit maupun nonprofit. Perusahaan/Institusi entah bagaimana caranya harus membuat karyawan mengenal perusahaan/institusinya. Karena dengan mengenal secara penuh dan menyeluruh akan membuat karyawan merasa memiliki perusahaan/institusi tersebut.

Bagi organisasi seperti DJP, pengenalan terhadap tugas dan fungsi, apa saya sumber daya/resources yang dimiliki, maupun apa saja resiko pekerjaan yang akan dihadapi akan membuat karyawan sadar bahwa di pundaknya dipanggulkan beban yang berat. Seringnya kita sering saklek menggunakan prinsip GIGO, gold in gold out dan garbage in garbage out. Padahal, meskipun yang masuk berupa emas, namun diolah dan dibekali secara sembarangan, kadar keemasannya akan turun, atau bahkan pudar sama sekali.

Advertisements

Jelajah Pulau Kelor Bersama Nol Derajat Indonesia

Traveling teach you how to see—-ibn. Battuta

SETIAP kali akan mendarat di bandara Soekarno Hatta, pesawat yang saya naiki biasanya mulai menukik turun di daerah pantai. Saya menduga itu adalah daerah Banten, bagian paling barat dari Pulau Jawa. Dan setiap pesawat menukik itu saya akan melihat beberapa kapal (baik besar maupun kecil) berseliweran di sepanjang garis pantai. Pada saat itu biasanya saya akan berpikir: kira-kira kapan ya saya bisa melaut di sana?

Lalu, Sabtu kemarin semesta mengabulkan doa saya. Kali ini saya tidak lagi di atas pesawat, tetapi berada di atas kapal, melihat pesawat-pesawat mulai menukik turun. Saya melihat dari sudut pandang yang berbeda. Kemudian saya mengaminkan perkataan ibnu Battuta, bahwa traveling mengajarkan kita untuk ‘melihat’. Detik itu juga saya berpikir: kira-kira apa yang dipikirkan orang yang di atas pesawat sana? Apa dia memikirkan seperti apa yang saya pikirkan? *halah*

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu, teman saya Dini menawari short escape ke Kepulauan Seribu. Tapi trip ini beda. Tidak ada snorkeling, tidak ada renang, tidak ada menyelam dan foto-foto di depan karang menggunakan kamera bawah laut. Kenapa? Karena temanya adalah Historical Trip. Meski tidak tahu apa maksud historical trip, saya tetap mengiyakan ajakan Dini. Karena di sisi lain saya memang sudah lama tidak ketemu pantai. Terakhir ke pantai rasanya sudah lama sekali: saat ke Karimun Jawa tahun 2013 lalu. Maka Sabtu pagi saya sudah nongkrong di Stasiun Kota bersama Dini, Tanzil, dan Jalu untuk menuju meeting point kami bersama komunitas yang akan saya tebengi: Nol Derajat Indonesia (NDI). Tentang NDI akan saya ceritakan di akhir tulisan ini.

Alih-alih berangkat dari pelabuhan Muara Angke, kami berangkat dari Pelabuhan Muara Kamal. Pelabuhan Muara Kamal adalah pelabuhan kecil, tidak dikhususkan sebagai pelabuhan penumpang, tak heran fasilitasnya tidak sebagus di Angke. Kita bisa menjumpai pasar ikan di depan pelabuhan ini. Saya yang doyan ikan langsung jelalatan melihat ikan segar dan kerang hijau dijual murah. Sayangnya saya tidak mungkin membelinya, tidak ada yang masak soalnya 😛

WP_20141115_001

Jam 10.30 kapal kami berangkat meninggalkan Pelabuhan Muara Kamal menuju perhentian kami yang pertama: Pulau Kelor. Seperti yang saya bayangkan, kapal yang membawa kami adalah jenis kapal motor kecil seperti yang banyak dioperasikan nelayan untuk melaut. Begitu naik kapal ini, memori membawa saya ke Karimun Jawa. Aah, saya benar-benar kangen Karimun Jawa.

WP_20141115_007

Memang jika dibandingkan dengan wisata laut di Phuket, negara kita masih jauh ketinggalan. Saya ingat betul waktu ikut tur menggunakan tour travel di Phuket, dari hotel tempat kami menginap, kami dijemput menggunakan mobil tiga perempat, yang memang kerjaannya mengantar jemput peserta tur. Lalu kami di drop di pelabuhan, dan kapal layar lumayan besar dua tingkat sudah menunggu kami di pelabuhan. Memang masih banyak PR untuk menteri pariwisata kita yang baru.

Saat perjalanan menuju Pulau Kelor, saya melihat sebuah pemandangan unik. Di sana-sini dipasang bambu-bambu yang ditancapkan di laut. Menurut ketua rombongan kami, bambu-bambu itu dipasang untuk berkumpulnya kerang hijau. Kerang hijau akan berkumpul di sekitar kaki-kaki bambu, lalu para petani akan memanen kerang hijau tersebut. Saya manggut-manggut, baru tau!

WP_20141115_013

Pulau Kelor
Tidak ada setengah jam, kapal kami sudah merapat di Pulau Kelor, perhentian pertama kami. Mendengar nama Kelor saya jadi ingat nama salah satu pulau juga: Alor. Mendengar nama Kelor juga akan mengingatkan kita pada daun kelor yang biasa dipergunakan untuk kiasan sesuatu yang tidak terlalu luas: sempit. Pulau ini memang sempit, bisa dikelilingi dengan jalan kaki kurang dari lima belas menit. Di pulau ini terdapat benteng peninggalan Belanda yang disebut sebagai Benteng Martello. Disebut Martello katanya karena bentuknya yang mirip martil.

Ternyata memang benteng ini tidak dibuat main-main. Tebalnya saja sekitar 1,5 meter, terbuat dari batu bata yang katanya dibangun pada abad ke 17 sebagai pertahanan VOC dari serangan Portugis. Nama asli pulau Kelor adalah Pulau Kherkof, entah kenapa namanya berubah menjadi Kelor. Sebenarnya benteng ini cukup eksotis: indah, kuat, namun juga magis. Sayang sekali tidak terawat. Bahkan pengunjung ada yang dengan bebas naik-naik ke atap benteng. Benteng ini hancur pada tahun 1883 akibat tsunami saat Krakatau meletus (info dari sini)
WP_20141115_017
view Benteng Martello dari tempat kapal bersandar

WP_20141115_022
WP_20141115_023

Lapisan luar benteng Martello ini sudah hancur. Katanya sih akibat diserang oleh pasukan Portugis. Selain itu luas Pulau Kelor sepertinya menciut akibat abrasi. Untungnya sudah dipasang pemecah ombak di sekitar pulau ini.
WP_20141115_021
WP_20141115_032
WP_20141115_058
WP_20141115_068
rombongan berfoto bersama

Pulau Kelor adalah saksi sejarah kolonial yang juga menjadi saksi perjalanan kemerdekaan Indonesia. Sudah semestinya kita menjaganya, bukan malah merusaknya.

Puas berfoto dan melihat-lihat sekaligus belajar sejarah di Pulau Kelor, kami menuju dua perhentian kami berikutnya: Pulau Cipir dan Pulau Onrust. Sebenarnya baik Pulau Kelor, Cipir, maupun Onrust merupakan pulau-pulau yang tergabung dalam Taman Arkeologi Onrust. Pulau Onrust diberi nama Onrust katanya karena pulau ini yang waktu itu tidak pernah beristirahat (unrest) saking sibuknya pelabuhan di pulau ini. Sejujurnya tidak ada yang menarik di pulau Cipir dan pulau Onrust. Hanya ada puing-puing bangunan bekas rumah sakit dan karantina haji yang justru memberi pemandangan seram.
WP_20141115_085
WP_20141115_080
Tentang Nol Derajat Indonesia
Saya sendiri baru tau tentang NDI gara-gara ikut short escape ini. Tadinya saya tidak tahu sama sekali. Dipimpin oleh Mas Yoki, NDI banyak melakukan traveling. Kata mas Yoki sih, NDI anti mainstream. Maksudnya, traveling yang dilakukan NDI beda dari komunitas yang lain. Sepanjang trip kemarin Mas Yoki banyak cerita sejarah pulau Kelor, Pulau Cipir, dan Pulau Onrust yang kami kunjungi. Dan usut punya usut, ternyata mas Yoki ini seorang arkeolog. Pantas saja jalan-jalannya ke situs arkeologi. 😛

WP_20141115_043

mas Yoki

WP_20141115_042

mas Yoki memberi ‘kuliah’ kepada peserta.

Seperti pesan Mas Yoki saat trip kemarin, katanya NDI bukanlah tour travel, cuma komunitas orang-orang yang suka ngetrip saja. Setuju banget. Thanks mas Yoki dan NDI. Semoga bisa ikut jalan-jalan berikutnya ya.

Pengalaman Memang Tidak Bisa Dibeli

SAYA ingat betul pesan ibu saya sebelum saya berangkat merantau ke kota (sudah tau kan kalau saya orang desa?), sekitar pertengahan 2005. Kata ibu saya waktu itu “Pergilah kemana pun kamu suka Nak, yang penting kamu bisa baca!“. Waktu itu sih saya mengartikannya ‘saya harus bisa baca biar gak tersesat di negeri orang‘, titik.

Semakin tua (sudah tau juga kan kalau saya sudah tua?) saya semakin sadar kalau yang dimaksud ibu saya lebih dari sekedar membaca a, b, c atau d, atau sekedar tahu arah timur dan utara. Membaca yang dimaksud ibu saya adalah belajarlah dari pengalaman. 

Beberapa hari yang lalu, di kantor, salah seorang agent saya, menerima telepon mengenai perlakuan pajak atas jasa kebandarudaraan. Dimana ada salah satu Peraturan Menteri Keuangan yang menjelaskan mengenai jenis/varian dari jasa kebandarudaraan tersebut, diantaranya adalah jasa penyediaan parkir pesawat, jasa bongkar muat barang penumpang, dan jasa garbarata. Agent tersebut bertanya kepada saya, apa itu garbarata? Saya pun menjelaskan bahwa garbarata adalah bla bla bla.

Iseng, saya pun bertanya, kamu pernah lihat garbarata kan? Eeh, secara mengejutkan dia bilang belum. Dengan polosnya  (FYI, agent saya ini fresh graduate, masih jujur dan polos, hehe) dia bilang kalau belum pernah naik pesawat, makanya gak tau apa itu garbarata. Saya sih gak kaget, mengingat saya sendiri pun baru naik pesawat setelah kerja, hihi. 

Lalu saya bilang ke dia, (sok bijak) Uang bisa dicari, tapi pengalaman tidak; pergilah kemana kamu mau pergi, selagi ada waktu dan kesempatan. Tentu saja kata-kata tersebut saya kutip dari buku/orang lain, bukan kata-kata saya, hihi. 

Terus terang saya penganut mazhab itu (baca: mazhab mencari pengalaman). Saya tidak suka mengumpulkan uang/harta (padahal sih karena memang tidak ada yang dikumpulin, hihi), saya senang mengumpulkan pengalaman. Manusia adalah kumpulan pengalaman, kumpulan waktu, kumpulan data, kumpulan peristiwa, dan juga kumpulan ilmu. Itulah sebabnya manusia adalah makhluk yang paling kompleks sedunia. Dan yang membuatnya semakin kompleks adalah karena dua hal, hati dan otaknya. Oleh karena itu, saya senang membuat dan mencari pengalaman. Karena pengalaman tidak bisa kita dapatkan dari orang lain, bahkan dengan cara membeli sekali pun. Pengalaman adalah sesuatu yang harus kita alami langsung tanpa perantara. Oleh karena itu pula mungkin dalam kurikulum pendidikan di Indonesia disebutkan bahwa belajar adalah tentang pengalaman. Indeed!

Seorang teman, tadi pagi mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian (yang ternyata dikutip dari Pramoedya Ananta Toer). Jadi jika ingin pengalaman kita abadi, tuliskanlah!

Jadi, carilah pengalaman, lalu tuliskanlah selagi ada waktu dan kesempatan.

Selamat malam Minggu.

———————————–

Bintaro, 25 Oktober 2014

Bogor ….

BOGOR selalu menyimpan cerita tersendiri bagi saya. Dulu sering sekali malam-malam (sekitar jam 22.00 atau 23.00) saya bersama teman-teman naik metromini Bogor-Depok yang kalau malam larinya kaya roller coaster karena supirnya ngebut super mampus. Sering juga saya bersama teman-teman berdesak-desakan di angkot Cibinong-Bogor untuk sekedar hang out. Ya, kota Bogor pernah singgah di hati saya.

Suatu hari saya pernah naik KRL dari Jakarta ke Bogor. Tahu sendiri kan bagaimana kondisi KRL di Jakarta? penuh, panas, dan berdesak-desakan. Kebetulan saya dapat tempat duduk. Di salah satu stasiun, ada nenek-nenek bersama seorang cucunya naik dan berdiri tepat di depan saya duduk. Karena saya merasa nenek tersebut lebih berhak duduk daripada saya, saya pun menawarkan tempat duduk saya kepada si nenek.

“Nek, duduk aja Nek,” kata saya berbasa-basi sambil berdiri

Di luar dugaan saya, nenek tersebut menjawab kecut sambil cemberut dengan mata (maaf) agak melotot

“Gak usah! Saya beli tiketnya dua, sama cucu saya. Kalau duduk juga harus berdua!” Jawabnya dengan sedikit membentak.

Ya saya sih tidak tahu, peristiwa apa yang dialami nenek itu sebelumnya sampai-sampai harus melampiaskan kemarahannya kepada saya. Mata saya pun memanas, nafas memburu, muka memerah, hehe—lebay. Saya kan cuma berniat membantu. Karena tempat duduknya cuma satu, ya jangan salahkan saya donk nek. Kan bisa cucunya dipangku. Dengan agak bengong dan kaget, saya pun menjawab

“Oooh … ya sudah Nek, biar saya saja yang duduk”

Oooh dunia, niat baik kadang tidak diterima dengan baik oleh orang lain.

Saya juga pernah naik angkot ke Bogor sendirian. Waktu itu hari Sabtu atau hari Minggu, saya lupa; yang jelas hari libur kerja. Saya naik angkot pertama, jadi masih kosong. Saya pun mengambil bangku tengah, menyisakan satu tempat kosong di pojok belakang. Semakin mendekati Bogor, angkot semakin penuh. Saat itu kursi yang kosong hanya di pojokan yang saya sisakan. Di sekitar Jambu Dua ada ibu-ibu (agak gemuk) naik. Karena hanya satu kursi kosong di pojokan tersebut, ibu itu pun menuju pojokan. Sialnya kaki saya keinjek sama ibu itu waktu dia melewati saya. Saya pun meringis kesakitan karena dia mengenakan sepatu. Tidak cukup menginjak kaki saya, saat mau duduk, karena agak gemuk, si ibu itu pun menyuruh saya bergeser. Saya pun ikut terdorong ke arah depan karena ibu itu memaksa menempelkan pantatnya seluruhnya. Eeh, ternyata tidak cukup menginjak dan mendorong saya, si ibu itu tanpa alasan yang jelas tiba-tiba memarahi saya

“Mas, geser donk! Udah saya dorong-dorong nggak mau geser juga. Begini nih kelakuan anak muda sekarang, ada orang tua gak mau ngalah”

Laaah …. dari tadi saya juga udah geser kali Bu. Saya pun lagi-lagi menanggung malu untuk kesalahan yang tidak saya pahami.

Tapi, di luar kejadian-kejadian itu, Bogor adalah episode indah di kehidupan saya. Saya tinggal di Cibinong tahun 2007 sampai 2009. Karena pusat hiburan terdekat terletak di Bogor, mau tidak mau hampir setiap weekend kami ke Bogor. Semua moda sudah pernah saya rasakan, KRL (waktu itu ada ekonomi, ekonomi AC, dan Ekspress), angkot, metro mini, bahkan ojek sekalipun. Bogor yang katanya kota hujan, menurut saya lebih tepat disebut kota angkot, karena memang banyak sekali angkot di sana.

Stasiun Bogor, Taman Topi, Warung Taman, Botani Square, The Jungle, pernah menjadi bagian dari cerita saya di sana. Dan yang tak kalah pentingnya adalah Kebun Raya Bogor. Memang dibanding dengan Jakarta, Bogor lebih sejuk. Karena memang posisinya lebih tinggi dari Jakarta, selain itu di Bogor masih banyak pepohonan—bahkan di tengah kotanya sekalipun. Pohon-pohon besar yang sudah tua dengan mudah akan kita temui di Bogor.

Selain banyak makanan enak, outlet belanja (baju dan sepatu) murah, juga banyak tempat yang cozy untuk sekedar ngumpul dan nongkrong. Dulu di daerah Pajajaran ada tempat makan surabi yang enak (saya lupa namanya, dan sekarang sudah tidak ada). Setiap ada rekan kantor yang ulang tahun, biasanya resto atau rumah makan sunda menjadi pilihan tempat untuk merayakannya. Saya sebagai penggemar kuliner sunda merasa sangat beruntung bisa tinggal dekat dengan Bogor.

Jadi, jika ditanya: masih mau tinggal di Bogor? Saya akan menganggukkan kepala saya berkali-kali tanda setuju, hehehe. 

buktah_1

IMG00864-20110615-1352

IMG01461-20111022-1031

IMG02506-20120916-0958

IMG02521-20120930-1424

IMG02617-20121110-1304

IMG02619-20121110-1313

 

Menyatu dengan Alam di Curug Nangka

ENAM Juni 2011 lalu saya bersama empat orang teman saya pernah melakukan perjalanan mendadak yang lumayan mengesankan. Sebenarnya bukan kali ini saja perjalanan mendadak kami, karena hampir setiap punya rencana traveling seringnya tidak terencana alias ujug-ujug. Siang itu salah satu teman saya, Ajo, mengajak saya ikut ke Bogor. Padahal siang itu saya sedang ada di Bandung. Saat itu rencananya hanya ke Bogor saja, dan ternyata sudah ada tiga orang teman yang lain yang juga akan bergabung: Randy, Surya, dan Ozi. Karena kebetulan mas Randy ada mobil, pergilah mereka berempat menggunakan mobilnya pada sore hari dari Bintaro menuju Bogor, sedang saya berangkat dari Bandung dan harus menemui mereka di Botani Square sekitar lepas maghrib.

Sekitar jam 7 malam kami berangkat dari kota Bogor menuju Curug Nangka. Saat itu saya tidak tau mas Randy membawa mobilnya ke arah mana, karena saya hanya ikut saja plus ketiduran selama perjalanan. Ternyata dua jam kemudian kami sudah tiba di sebuah tempat tinggi, sangat dingin, suara jangkrik melengking, suara air sungai menderu, dan suara angin berhembus agak kencang, karena memang waktu itu memang sedang musim kemarau. Ternyata kami berada di lokasi wisata Curug Nangka. Curug Nangka–setelah saya cari tau, terletak di Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Untuk mencapainya kami melewati jalanan kecil menanjak yang berbelok-belok karena banyak tikungan.

Curug—merupakan bahasa Sunda yang berarti air terjun. Jadi sebenarnya Curug Nangka merupakan air terjun yang bernama Nangka. Curug Nangka biasanya disingkat menjadi Cunang. Malam itu rencananya kami akan menyewa tenda dan tidur di dalam tenda. Namun karena tidak ada tempat penyewaan tenda dan kebetulan ada warung yang menyediakan tempat menginap, kami pun menginap di warung itu.

Bangunannya bukan dari bata atau beton, tetapi dari anyaman bambu. Warung tersebut bisa disebut rumah panggung yang dipasang secara paksa di tepian sungai, karena tepat di belakang warung tersebut mengalir sungai yang entah apa namanya. Mengalir deras dan suaranya menemani tidur kami sepanjang malam yang dingin. Dingin sekali. Sudah menggunakan baju beberapa lapis plus jaket, tetap saja dingin. Tidak terbayang seandainya kami jadi menyewa tenda dan tidur di dalamnya.

Malam berlalu, pagi harinya kami harus melakukan sedikit tracking untuk menuju air terjun. Pemandangan lumayan indah, dengan pohon jati di sepanjang jalan. Kadang kami harus melewati tebing, kadang harus melompat diantara bebatuan sungai, hingga mas Randy pun pernah sekali terjatuh hingga kameranya membentur batu. Untung tidak rusak. Berikut ini beberapa foto yang bisa saya temukan diantara file foto-foto saya:

IMG00821-20110606-0645

IMG00824-20110606-0646

IMG00825-20110606-0659

IMG00826-20110606-0659

IMG00827-20110606-0756

IMG00828-20110606-0757

IMG00830-20110606-0758

IMG00831-20110606-0758

IMG00834-20110606-0759

 

 

Suatu Senja di Ancol

SEJAUH yang saya ketahui, satu-satunya pantai yang dimiliki kota Jakarta hanya Ancol saja. Kepulauan Seribu bukan punya kota Jakarta, tapi punya DKI Jakarta sebagai sebuah provinsi. Jakarta bukanlah Phuket yang pantainya bisa kita temui dengan mudah, bahkan di belakang hotel tempat kita menginap sekali pun. Jakarta bukanlah Bali atau Lombok yang pantainya banyak, meski kotor dan tidak terawat. Jakarta adalah Jakarta. Kota metropolis yang manusianya bergerak cepat dari subuh sampai ke subuh lagi. Dan, Ancol, meski bibir pantainya pun tidak ada, adalah pantai yang layak dikunjungi di Jakarta.

Terletak di bagian barat kota Jakarta, Ancol sebenarnya bukanlah pantai yang ideal sebagaimana pantai pada umumnya. Bibir pantainya tidak jelas. Pun pengelolaannya yang dilakukan oleh pihak swasta, sehingga tiket masuknya lumayan mahal untuk tempat wisata berupa pantai. Pantas saja pada tahun 2013 pernah menjadi kontroversi mengenai tiket masuk Ancol yang mahal ini. Meski menuai kontroversi, toh Ancol tetap ramai dikunjungi masyarakat Jakarta. Karena masyarakat butuh tempat hiburan berupa pantai.

Saya pribadi senang mengunjungi Ancol saat senja. Sebenarnya tidak cuma Ancol, pantai manapun pasti indah saat senja. Plus saat malam, karena Ancol bisa dikatakan dikelilingi gedung-gedung, sehingga menambah suasana indahnya di malam hari.

IMG01225-20110816-1735  IMG01217-20110816-1728

IMG01220-20110816-1730  IMG01222-20110816-1733

 

Karena dekat dengan kota, wisata pantai Ancol juga menghadirkan banyak pilihan tempat makan yang harganya di atas rata-rata. Tempat makan favorit saya dan teman-teman saya adalah Bandar Djakarta, tempat makan seafood dengan menu yang bisa kita beli langsung di pasar ikan-nya dan bisa kita pesan mau dimasak seperti apa. Sebenarnya bukan konsep restoran seafood yang baru, karena kalau kita makan di Pantai Depok di Jogja pun sudah memiliki konsep yang sama, bahkan pasar ikannya benar-benar TPI (Tempat Pelelangan Ikan).

ancol_3

ancol_6

Pademangan-20120316-00911

Yaah, karena pada dasarnya saya suka pantai, Ancol kadang menjadi alternatif saya saat kangen dengan pantai. Mari ke Ancol.

——————————————————————-

foto-foto oleh Randy, Surya, dan Zaki.

Sketsa Doraemon Trip

DALAM setiap kebersamaan, pasti ada cerita senang, sedih, lucu, nggemesin, mbingungin, awkward bahkan suasana-suasana yang bikin speechless. Begitu juga dengan Doraemon Trip yang telah berlalu (meski telah berlalu, kenangannya akan selalu tersimpan di hati, tsaah), menyisakan banyak cerita, diantaranya beberapa kejadian lucu maupun gak lucu.

Akan saya ceritakan beberapa kejadian, yang sebenarnya biasa saja, namun terlalu sayang jika dilewatkan. Tidak perlu menyiapkan tisu karena bukan kejadian sedih yang membuat mata menangis, juga bukan kejadian lucu yang akan membuat tertawa terbahak-bahak. Hanya kejadian biasa, sebagai pengingat bagi kami berlima yang mengalaminya.

Ssst … saya selalu bermimpi, suatu saat seseorang akan membawakan blog saya ini dalam bentuk sebuah buku, kemudian menghadiahkan buku itu kepada saya untuk saya baca lagi ceritanya satu per-satu. Dan pada saat saya baca, cerita ini ada di dalamnya hingga saya akan tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian-kejadian ini.

1. Tragedi Bocor di Pesawat

Kejadian ini terjadi bahkan sebelum kami tiba di Jepang. Waktu itu pesawat membawa kami dari Soekarno Hatta ke Kuala Lumpur. Kami duduk satu baris di baris ke 18, tidak terlalu ke depan, juga tidak terlalu ke belakang. Saya sendiri duduk kursi dekat lorong di barisan tempat duduk sebelah kiri. Karena tidak membeli bagasi, kami menyimpan carrier kami di kabin pesawat. Saya sendiri tidak menaruh carrier di atas kursi saya, melainkan di kabin di atas kursi seberang (yang duduk di seberang adalah Dini, Rio, dan Irwan, sementara saya duduk dengan Tanzil). Urutan carrier kami waktu itu dari tengah ke samping kanan adalah carrier milik Rio, Tanzil, baru carrier saya di pojokan kabin yang ternyata tepat di atas kursi para penumpang di belakang mereka bertiga duduk.

Kira-kira setengah perjalanan pesawat kami, seorang ibu dan seorang bapak (yang kemudian kami ketahui mereka akan berlibur ke Sydney) tiba-tiba mengeluh kebocoran dari kabin, ada air menetes-netes. Si bapak pun membuka kabin dan memeriksa ada apa di dalam kabin. Tentu saja carrier saya yang menjadi tersangkanya karena tepat di atas posisi si ibu itu duduk. Si bapak pun mengecek-ngecek tas saya, sambil bertanya: “ini tas siapa ya?”, saya yang merasa bertanggungjawab pun menjawab bahwa itu tas saya.

Gara-gara ada keributan kecil, mbak-mbak pramugari yang mukanya agak jutek pun datang mendekati kami. Saya sudah menjelaskan kepada bapak dan ibu itu bahwa saya tidak membawa air minum di tas saya. Saya sempat mencium air yang menetes itu, apakah wangi atau tidak airnya, karena saya khawatir parfum saya yang pecah. Namun airnya tidak wangi kok. Bahkan saya sempat meminta pendapat Tanzil, ini wangi atau tidak.

Ibu itu masih keukeuh bahwa airnya jatuh dari tas saya, dan gara-gara hal itu tas saya pun harus dipindahkan oleh pramugari ke kabin di atas saya. Akhirnya pada saat kami semua kebingungan, Rio berdiri dan mengambil air dari carrier nya yang terletak di tengah, sambil mengatakan bahwa mungkin air yang tumpah dari carrier nya. Kira-kira begini dialognya:

Rio: “Ooh, saya bawa air sih bu, tapi saya gak tau apakah air saya atau bukan yang tumpah”.

Ibu: “Lha masnya bawa air ya? Tadi airnya sebanyak itu atau sekarang sudah berkurang? Kalau sudah berkurang ya berarti airnya mas-nya yang tumpah”

Rio: “Iya, saya lupa bu tadi sebanyak apa airnya. Maaf ya bu”

Dan kami berempat pandang-pandangan sambil krikkrikkrik, ternyata Rio pelakunya. Saya yang merasa tidak bersalah namun menjadi tertuduh, merasa pengen mencari pintu darurat dan lompat ke daratan 😀

2. Tolong Bukain Permennya Mba, Bukan Dimakan!

Siang itu kami naik kereta menuju Nara, jalur yang kami lewati disebut Hankyu Line yang apabila kita lihat di peta, Hankyu Line merupakan jalur kereta terpanjang di Osaka City, yang merupakan penghubung antartempat terjauh di Osaka City. Nara merupakan daerah yang lokasinya cukup tinggi di Jepang, sehingga kereta kami harus menanjak, melewati banyak stasiun, namun penumpangnya tidak terlalu banyak.

Di sebuah stasiun naik sepasang kakek-nenek yang bergandengan tangan. Sang kakek terlihat sudah renta. Saya duduk sebelahan dengan Dini, sedangkan yang lain duduk sebelahan juga, namun posisinya di seberang kami duduk. Merasa kakek dan nenek itu harus diutamakan, Dini pun sedikit menggeser duduknya, otomatis saya pun sedikit menggeser duduk saya agar kakek dan nenek itu bisa duduk.

Kakek-kakek itu duduk tepat di sebelah Dini, sedangkan nenek-neneknya di sebelah kakeknya, dan sang nenek seingat saya langsung memejamkan mata, tertidur, mungkin karena kelelahan. Sang kakek mengulaskan sebuah senyuman ke Dini, dan Dini pun membalas senyuman itu. Setelah mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang (yang kami tidak tau apa maksudnya), sang kakek memberikan satu buah permen kepada Dini. Dini pun menerima permennya sambil mengatakan Arigato ….

Dini : “Nash, gw diberi permen nih sama kakek sebelah gw. Buat menghormati kakeknya, gw makan aja permennya sekarang ya” Ucap Dini sambil menunjuk-nunjukkan permennya kepada saya. Sang kakek hanya memperhatikan Dini mengobrol dengan saya.

Saya: “Iya lu makan aja Din, biar kakeknya gak kecewa

Dini pun memakan permennya, setelah itu Dini mengacung-acungkan jempolnya kepada Kakek itu sambil manggut-manggut (maksudnya: Ehm, enak banget Kek, permennya!)

Sang kakek hanya memperhatikan kami dengan tatapan yang entah apa artinya. Tidak lama kemudian tiba-tiba kakek itu kembali mengeluarkan satu buah permen dan memberikannya kepada Dini. Dini pun menerimanya (lagi)

Dini: “Nash, ini buat elo, mungkin kakek itu gak enak kali ya, kita berdua tapi ngasih permennya cuma satu

saya: “Yakin lo kakek itu ngasih permennya buat gw? Jangan-jangan sebenarnya dia minta dibukain permen buat dia makan

Dini: “Hah, yang bener lo? hahahaha (ketawa spontan ala Dini), aduh gimana donk ini?”

Saya: “Ya udah lu bukain aja permennya buat kakek  itu

Dini yang panik akhirnya membuka permen itu dan memberikannya kembali kepada kakek tersebut. Namun kakek itu menolak (dengan memasang muka agak kecewa) dan selanjutnya memilih untuk memejamkan mata.

Akhirnya permen itu diberikan kepada saya, dan saya makan.

Sampai sekarang masih menjadi misteri apakah kakek itu memberikan permennya kepada kami berdua atau hanya meminta untuk dibukakan permennya. Maafkan kami ya kek. Kami pun hanya bisa ketawa-ketiwi ngikik setelahnya.

3. Tidak Tahu Cara Menggunakannya

Jika kita tidak tau cara menggunakan sesuatu di luar negeri, caranya gampang: perhatikan orang lain, bagaimana cara dia menggunakannya, lalu ikuti caranya, hahaha.

Ada dua cerita saat Doraemon Trip, dimana kami tidak tau cara menggunakan sesuatu, lalu yang kami lakukan adalah meniru bagaimana orang lain melakukannya.

Sore itu merupakan pertama kali kami akan naik subway di Jepang, dan kami berniat membeli tiket Eco Card. Eco card merupakan tiket sehari pakai, bisa lewat jalur mana saja, dan bisa kemana saja di Osaka City. Kami bermaksud menanyakan kepada Tourist Information Centre dimana kami bisa membeli tiket tersebut. Tourist Information Centre tersebut terletak tepat di depan lorong menuju stasiun.

Pintu tourist information centre nya seperti pintu otomatis, dengan petunjuk untuk membukanya, namun ditulis dalam bahasa Jepang, sehingga kami tidak mengetahui apa maksudnya. Kami pikir pintu akan otomatis terbuka begitu kami menginjakkan kaki di depannya, ternyata tidak. Kami berlima pun heboh mencari dimana ada bel, atau pencetan agar pintunya terbuka. Mungkin sekitar 2 menit kami heboh mencari cara bagaimana membuka pintunya sampai akhirnya kami menyerah.

Pada saat kami menyerah itulah datang orang lain yang juga akan masuk, dan ternyata yang dilakukan cukup menempelkan tangan kita pada pegangan pintu, maka pintu pun akan terbuka. Kami yang memperhatikannya kemudian ngakak bersama-sama. Konyol. Hampir dua menit kami mencari cara agar masuk ke dalam sana, dan yang kita lakukan cukup menempelkan tangan/jari kita pada pegangan pintu, maka pintu akan terbuka otomatis. Kampret banget kan orang Jepang? hahaha

Kejadian kedua, saat makan. Waktu itu beberapa dari kami makan udon. Sewaktu makan udon, selain sumpit, kita juga akan diberi sendok dengan ukuran cukup besar seperti centong. Kami yang tidak tau cara makan udon yang benar ya memanfaatkan sumpit dan centongnya secara terpisah. Jika akan makan mienya kami menggunakan sumpit, kemudian centongnya kami gunakan untuk meminum kuah udonnya.

Ternyata itu adalah cara yang salah. Karena untuk makan udon, caranya adalah: taruh mie dengan menggunakan sumpit ke centong yang telah terlebih dahulu diisi kuah, baru dimakan. Jadi sumpit hanya berfungsi memindahkan mie dari mangkok ke centongnya, hahaha. Dan cara ini baru kami ketahui setelah melihat orang lain makan udon juga …

4. Orang Jepang ada juga yang bauuu

Siang itu kami naik City Bus di daerah Kyoto. Kami dari Ginkakuji Temple akan menuju Kyoto Station. Bis siang itu sedikit penuh, sehingga kami sedikit berdesakan di dalamnya. Saya berdiri tepat di sebelah Rio, kemudian Dini dan Tanzil di sebelah Rio. Irwan sendiri berdiri di tempat terpisah.

Di tengah perjalanan, saya mencium bau ketek yang bikin mual. Saya pikir Rio yang bau, karena saya tau paginya Rio belum mandi, hahaha. Saya pun mencium-cium, mencari sumber bau. Saya bilang ke Rio :

Saya: “Yo, kamu mencium bau ketek nggak?”

Rio: “Pfftt …pff… nggak tuh Nash. Kamu sendiri kali yang bau”

Saya: “Enak aja! gw kan mandi tadi pagi, kamu tuh yang gak mandi”

Obrolan tersebut berakhir dengan saya yang menuduh Rio bau karena diab belum mandi. Beberapa menit kemudian

Rio: “Oh iya Nash, ada bau ….” Sambil mencium-cium, mencari sumber bau. Rio pun menceritakan kepada Tanzil dan Dini yang berada di sebelahnya.

Gara-gara hal itu kami mencari-cari di mana sumber baunya. Sampai Dini harus berpindah lokasi, dan akhirnya Dini menemukan sumber bau-nya. Ternyata seorang mas-mas Jepang, yang tadinya berdiri tepat di belakang saya, kemudian berpindah ke dekat Dini.

Kami pun tertawa ngakak, habisnya saya sudah terlanjur menuduh Rio yang bau, padahal bukan, hehe. Maaf ya Rio…

Ternyata orang Jepang juga ada yang BB, bau badan …

5. Lubangnya bukan yang ituuuuuu

Seperti di cerita-cerita sebelumnya, sangat mudah di Jepang menemukan coin locker. Bahkan sangkin mudah dan banyaknya, kita harus mengingat dengan pasti di locker mana kita menitipkan tasnya. Karena kalau kita sampai lupa bisa bahaya ….

Coin locker adalah locker yang bisa kita sewa dengan memasukkan sejumlah koin tertentu. Harganya bervariasi tergantung ukuran locker nya. Kami menyewa locker yang paling besar agar muat tas kami berlima, dengan harga sewa 700 yen sehari.

Setelah memasukkan tas, kemudian memasukkan koin ke lubangnya, kita harus mengunci dan mencabut kuncinya, kemudian membawa kuncinya. Pernah suatu siang, kami dalam keadaan kecapean dari jalan-jalan, maka kami menyerahkan kunci locker kepada Irwan. Saya pun menemani Irwan mengambil tas, kasihan kalau sendirian, soalnya tas kami semakin hari semakin berat (gara-gara oleh-oleh).

Pada saat membuka kunci itu, Irwan sepertinya kesulitan membuka kunci locker. Baru kami ketahui kemudian ternyata dia memasukkan kuncinya ke lubang koin, bukan lubang kuncinya. Ya sampai lebaran kelinci pun gak akan bisa terbuka pintunya 😀

—————————————————————————-