Pengalaman Memang Tidak Bisa Dibeli

SAYA ingat betul pesan ibu saya sebelum saya berangkat merantau ke kota (sudah tau kan kalau saya orang desa?), sekitar pertengahan 2005. Kata ibu saya waktu itu “Pergilah kemana pun kamu suka Nak, yang penting kamu bisa baca!“. Waktu itu sih saya mengartikannya ‘saya harus bisa baca biar gak tersesat di negeri orang‘, titik.

Semakin tua (sudah tau juga kan kalau saya sudah tua?) saya semakin sadar kalau yang dimaksud ibu saya lebih dari sekedar membaca a, b, c atau d, atau sekedar tahu arah timur dan utara. Membaca yang dimaksud ibu saya adalah belajarlah dari pengalaman. 

Beberapa hari yang lalu, di kantor, salah seorang agent saya, menerima telepon mengenai perlakuan pajak atas jasa kebandarudaraan. Dimana ada salah satu Peraturan Menteri Keuangan yang menjelaskan mengenai jenis/varian dari jasa kebandarudaraan tersebut, diantaranya adalah jasa penyediaan parkir pesawat, jasa bongkar muat barang penumpang, dan jasa garbarata. Agent tersebut bertanya kepada saya, apa itu garbarata? Saya pun menjelaskan bahwa garbarata adalah bla bla bla.

Iseng, saya pun bertanya, kamu pernah lihat garbarata kan? Eeh, secara mengejutkan dia bilang belum. Dengan polosnya  (FYI, agent saya ini fresh graduate, masih jujur dan polos, hehe) dia bilang kalau belum pernah naik pesawat, makanya gak tau apa itu garbarata. Saya sih gak kaget, mengingat saya sendiri pun baru naik pesawat setelah kerja, hihi. 

Lalu saya bilang ke dia, (sok bijak) Uang bisa dicari, tapi pengalaman tidak; pergilah kemana kamu mau pergi, selagi ada waktu dan kesempatan. Tentu saja kata-kata tersebut saya kutip dari buku/orang lain, bukan kata-kata saya, hihi. 

Terus terang saya penganut mazhab itu (baca: mazhab mencari pengalaman). Saya tidak suka mengumpulkan uang/harta (padahal sih karena memang tidak ada yang dikumpulin, hihi), saya senang mengumpulkan pengalaman. Manusia adalah kumpulan pengalaman, kumpulan waktu, kumpulan data, kumpulan peristiwa, dan juga kumpulan ilmu. Itulah sebabnya manusia adalah makhluk yang paling kompleks sedunia. Dan yang membuatnya semakin kompleks adalah karena dua hal, hati dan otaknya. Oleh karena itu, saya senang membuat dan mencari pengalaman. Karena pengalaman tidak bisa kita dapatkan dari orang lain, bahkan dengan cara membeli sekali pun. Pengalaman adalah sesuatu yang harus kita alami langsung tanpa perantara. Oleh karena itu pula mungkin dalam kurikulum pendidikan di Indonesia disebutkan bahwa belajar adalah tentang pengalaman. Indeed!

Seorang teman, tadi pagi mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian (yang ternyata dikutip dari Pramoedya Ananta Toer). Jadi jika ingin pengalaman kita abadi, tuliskanlah!

Jadi, carilah pengalaman, lalu tuliskanlah selagi ada waktu dan kesempatan.

Selamat malam Minggu.

———————————–

Bintaro, 25 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s