Sketsa Doraemon Trip

DALAM setiap kebersamaan, pasti ada cerita senang, sedih, lucu, nggemesin, mbingungin, awkward bahkan suasana-suasana yang bikin speechless. Begitu juga dengan Doraemon Trip yang telah berlalu (meski telah berlalu, kenangannya akan selalu tersimpan di hati, tsaah), menyisakan banyak cerita, diantaranya beberapa kejadian lucu maupun gak lucu.

Akan saya ceritakan beberapa kejadian, yang sebenarnya biasa saja, namun terlalu sayang jika dilewatkan. Tidak perlu menyiapkan tisu karena bukan kejadian sedih yang membuat mata menangis, juga bukan kejadian lucu yang akan membuat tertawa terbahak-bahak. Hanya kejadian biasa, sebagai pengingat bagi kami berlima yang mengalaminya.

Ssst … saya selalu bermimpi, suatu saat seseorang akan membawakan blog saya ini dalam bentuk sebuah buku, kemudian menghadiahkan buku itu kepada saya untuk saya baca lagi ceritanya satu per-satu. Dan pada saat saya baca, cerita ini ada di dalamnya hingga saya akan tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian-kejadian ini.

1. Tragedi Bocor di Pesawat

Kejadian ini terjadi bahkan sebelum kami tiba di Jepang. Waktu itu pesawat membawa kami dari Soekarno Hatta ke Kuala Lumpur. Kami duduk satu baris di baris ke 18, tidak terlalu ke depan, juga tidak terlalu ke belakang. Saya sendiri duduk kursi dekat lorong di barisan tempat duduk sebelah kiri. Karena tidak membeli bagasi, kami menyimpan carrier kami di kabin pesawat. Saya sendiri tidak menaruh carrier di atas kursi saya, melainkan di kabin di atas kursi seberang (yang duduk di seberang adalah Dini, Rio, dan Irwan, sementara saya duduk dengan Tanzil). Urutan carrier kami waktu itu dari tengah ke samping kanan adalah carrier milik Rio, Tanzil, baru carrier saya di pojokan kabin yang ternyata tepat di atas kursi para penumpang di belakang mereka bertiga duduk.

Kira-kira setengah perjalanan pesawat kami, seorang ibu dan seorang bapak (yang kemudian kami ketahui mereka akan berlibur ke Sydney) tiba-tiba mengeluh kebocoran dari kabin, ada air menetes-netes. Si bapak pun membuka kabin dan memeriksa ada apa di dalam kabin. Tentu saja carrier saya yang menjadi tersangkanya karena tepat di atas posisi si ibu itu duduk. Si bapak pun mengecek-ngecek tas saya, sambil bertanya: “ini tas siapa ya?”, saya yang merasa bertanggungjawab pun menjawab bahwa itu tas saya.

Gara-gara ada keributan kecil, mbak-mbak pramugari yang mukanya agak jutek pun datang mendekati kami. Saya sudah menjelaskan kepada bapak dan ibu itu bahwa saya tidak membawa air minum di tas saya. Saya sempat mencium air yang menetes itu, apakah wangi atau tidak airnya, karena saya khawatir parfum saya yang pecah. Namun airnya tidak wangi kok. Bahkan saya sempat meminta pendapat Tanzil, ini wangi atau tidak.

Ibu itu masih keukeuh bahwa airnya jatuh dari tas saya, dan gara-gara hal itu tas saya pun harus dipindahkan oleh pramugari ke kabin di atas saya. Akhirnya pada saat kami semua kebingungan, Rio berdiri dan mengambil air dari carrier nya yang terletak di tengah, sambil mengatakan bahwa mungkin air yang tumpah dari carrier nya. Kira-kira begini dialognya:

Rio: “Ooh, saya bawa air sih bu, tapi saya gak tau apakah air saya atau bukan yang tumpah”.

Ibu: “Lha masnya bawa air ya? Tadi airnya sebanyak itu atau sekarang sudah berkurang? Kalau sudah berkurang ya berarti airnya mas-nya yang tumpah”

Rio: “Iya, saya lupa bu tadi sebanyak apa airnya. Maaf ya bu”

Dan kami berempat pandang-pandangan sambil krikkrikkrik, ternyata Rio pelakunya. Saya yang merasa tidak bersalah namun menjadi tertuduh, merasa pengen mencari pintu darurat dan lompat ke daratan 😀

2. Tolong Bukain Permennya Mba, Bukan Dimakan!

Siang itu kami naik kereta menuju Nara, jalur yang kami lewati disebut Hankyu Line yang apabila kita lihat di peta, Hankyu Line merupakan jalur kereta terpanjang di Osaka City, yang merupakan penghubung antartempat terjauh di Osaka City. Nara merupakan daerah yang lokasinya cukup tinggi di Jepang, sehingga kereta kami harus menanjak, melewati banyak stasiun, namun penumpangnya tidak terlalu banyak.

Di sebuah stasiun naik sepasang kakek-nenek yang bergandengan tangan. Sang kakek terlihat sudah renta. Saya duduk sebelahan dengan Dini, sedangkan yang lain duduk sebelahan juga, namun posisinya di seberang kami duduk. Merasa kakek dan nenek itu harus diutamakan, Dini pun sedikit menggeser duduknya, otomatis saya pun sedikit menggeser duduk saya agar kakek dan nenek itu bisa duduk.

Kakek-kakek itu duduk tepat di sebelah Dini, sedangkan nenek-neneknya di sebelah kakeknya, dan sang nenek seingat saya langsung memejamkan mata, tertidur, mungkin karena kelelahan. Sang kakek mengulaskan sebuah senyuman ke Dini, dan Dini pun membalas senyuman itu. Setelah mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang (yang kami tidak tau apa maksudnya), sang kakek memberikan satu buah permen kepada Dini. Dini pun menerima permennya sambil mengatakan Arigato ….

Dini : “Nash, gw diberi permen nih sama kakek sebelah gw. Buat menghormati kakeknya, gw makan aja permennya sekarang ya” Ucap Dini sambil menunjuk-nunjukkan permennya kepada saya. Sang kakek hanya memperhatikan Dini mengobrol dengan saya.

Saya: “Iya lu makan aja Din, biar kakeknya gak kecewa

Dini pun memakan permennya, setelah itu Dini mengacung-acungkan jempolnya kepada Kakek itu sambil manggut-manggut (maksudnya: Ehm, enak banget Kek, permennya!)

Sang kakek hanya memperhatikan kami dengan tatapan yang entah apa artinya. Tidak lama kemudian tiba-tiba kakek itu kembali mengeluarkan satu buah permen dan memberikannya kepada Dini. Dini pun menerimanya (lagi)

Dini: “Nash, ini buat elo, mungkin kakek itu gak enak kali ya, kita berdua tapi ngasih permennya cuma satu

saya: “Yakin lo kakek itu ngasih permennya buat gw? Jangan-jangan sebenarnya dia minta dibukain permen buat dia makan

Dini: “Hah, yang bener lo? hahahaha (ketawa spontan ala Dini), aduh gimana donk ini?”

Saya: “Ya udah lu bukain aja permennya buat kakek  itu

Dini yang panik akhirnya membuka permen itu dan memberikannya kembali kepada kakek tersebut. Namun kakek itu menolak (dengan memasang muka agak kecewa) dan selanjutnya memilih untuk memejamkan mata.

Akhirnya permen itu diberikan kepada saya, dan saya makan.

Sampai sekarang masih menjadi misteri apakah kakek itu memberikan permennya kepada kami berdua atau hanya meminta untuk dibukakan permennya. Maafkan kami ya kek. Kami pun hanya bisa ketawa-ketiwi ngikik setelahnya.

3. Tidak Tahu Cara Menggunakannya

Jika kita tidak tau cara menggunakan sesuatu di luar negeri, caranya gampang: perhatikan orang lain, bagaimana cara dia menggunakannya, lalu ikuti caranya, hahaha.

Ada dua cerita saat Doraemon Trip, dimana kami tidak tau cara menggunakan sesuatu, lalu yang kami lakukan adalah meniru bagaimana orang lain melakukannya.

Sore itu merupakan pertama kali kami akan naik subway di Jepang, dan kami berniat membeli tiket Eco Card. Eco card merupakan tiket sehari pakai, bisa lewat jalur mana saja, dan bisa kemana saja di Osaka City. Kami bermaksud menanyakan kepada Tourist Information Centre dimana kami bisa membeli tiket tersebut. Tourist Information Centre tersebut terletak tepat di depan lorong menuju stasiun.

Pintu tourist information centre nya seperti pintu otomatis, dengan petunjuk untuk membukanya, namun ditulis dalam bahasa Jepang, sehingga kami tidak mengetahui apa maksudnya. Kami pikir pintu akan otomatis terbuka begitu kami menginjakkan kaki di depannya, ternyata tidak. Kami berlima pun heboh mencari dimana ada bel, atau pencetan agar pintunya terbuka. Mungkin sekitar 2 menit kami heboh mencari cara bagaimana membuka pintunya sampai akhirnya kami menyerah.

Pada saat kami menyerah itulah datang orang lain yang juga akan masuk, dan ternyata yang dilakukan cukup menempelkan tangan kita pada pegangan pintu, maka pintu pun akan terbuka. Kami yang memperhatikannya kemudian ngakak bersama-sama. Konyol. Hampir dua menit kami mencari cara agar masuk ke dalam sana, dan yang kita lakukan cukup menempelkan tangan/jari kita pada pegangan pintu, maka pintu akan terbuka otomatis. Kampret banget kan orang Jepang? hahaha

Kejadian kedua, saat makan. Waktu itu beberapa dari kami makan udon. Sewaktu makan udon, selain sumpit, kita juga akan diberi sendok dengan ukuran cukup besar seperti centong. Kami yang tidak tau cara makan udon yang benar ya memanfaatkan sumpit dan centongnya secara terpisah. Jika akan makan mienya kami menggunakan sumpit, kemudian centongnya kami gunakan untuk meminum kuah udonnya.

Ternyata itu adalah cara yang salah. Karena untuk makan udon, caranya adalah: taruh mie dengan menggunakan sumpit ke centong yang telah terlebih dahulu diisi kuah, baru dimakan. Jadi sumpit hanya berfungsi memindahkan mie dari mangkok ke centongnya, hahaha. Dan cara ini baru kami ketahui setelah melihat orang lain makan udon juga …

4. Orang Jepang ada juga yang bauuu

Siang itu kami naik City Bus di daerah Kyoto. Kami dari Ginkakuji Temple akan menuju Kyoto Station. Bis siang itu sedikit penuh, sehingga kami sedikit berdesakan di dalamnya. Saya berdiri tepat di sebelah Rio, kemudian Dini dan Tanzil di sebelah Rio. Irwan sendiri berdiri di tempat terpisah.

Di tengah perjalanan, saya mencium bau ketek yang bikin mual. Saya pikir Rio yang bau, karena saya tau paginya Rio belum mandi, hahaha. Saya pun mencium-cium, mencari sumber bau. Saya bilang ke Rio :

Saya: “Yo, kamu mencium bau ketek nggak?”

Rio: “Pfftt …pff… nggak tuh Nash. Kamu sendiri kali yang bau”

Saya: “Enak aja! gw kan mandi tadi pagi, kamu tuh yang gak mandi”

Obrolan tersebut berakhir dengan saya yang menuduh Rio bau karena diab belum mandi. Beberapa menit kemudian

Rio: “Oh iya Nash, ada bau ….” Sambil mencium-cium, mencari sumber bau. Rio pun menceritakan kepada Tanzil dan Dini yang berada di sebelahnya.

Gara-gara hal itu kami mencari-cari di mana sumber baunya. Sampai Dini harus berpindah lokasi, dan akhirnya Dini menemukan sumber bau-nya. Ternyata seorang mas-mas Jepang, yang tadinya berdiri tepat di belakang saya, kemudian berpindah ke dekat Dini.

Kami pun tertawa ngakak, habisnya saya sudah terlanjur menuduh Rio yang bau, padahal bukan, hehe. Maaf ya Rio…

Ternyata orang Jepang juga ada yang BB, bau badan …

5. Lubangnya bukan yang ituuuuuu

Seperti di cerita-cerita sebelumnya, sangat mudah di Jepang menemukan coin locker. Bahkan sangkin mudah dan banyaknya, kita harus mengingat dengan pasti di locker mana kita menitipkan tasnya. Karena kalau kita sampai lupa bisa bahaya ….

Coin locker adalah locker yang bisa kita sewa dengan memasukkan sejumlah koin tertentu. Harganya bervariasi tergantung ukuran locker nya. Kami menyewa locker yang paling besar agar muat tas kami berlima, dengan harga sewa 700 yen sehari.

Setelah memasukkan tas, kemudian memasukkan koin ke lubangnya, kita harus mengunci dan mencabut kuncinya, kemudian membawa kuncinya. Pernah suatu siang, kami dalam keadaan kecapean dari jalan-jalan, maka kami menyerahkan kunci locker kepada Irwan. Saya pun menemani Irwan mengambil tas, kasihan kalau sendirian, soalnya tas kami semakin hari semakin berat (gara-gara oleh-oleh).

Pada saat membuka kunci itu, Irwan sepertinya kesulitan membuka kunci locker. Baru kami ketahui kemudian ternyata dia memasukkan kuncinya ke lubang koin, bukan lubang kuncinya. Ya sampai lebaran kelinci pun gak akan bisa terbuka pintunya 😀

—————————————————————————-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s