Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

700-sdrhdt2015

AWALNYA saya tidak mengerti mengapa Eka menjuduli novelnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Lalu semakin saya baca saya jadi mengerti; mengerti mengapa ada kata dendam, ada kata rindu dan ada gambar burung mati dengan gambar hati di dadanya.

Setelah selesai membaca novel ini, saya ingin segera menyimpannya di barisan buku paling belakang, setidaknya agar novel ini tidak terlihat oleh siapapun. Saya tidak ingin anak saya nanti membaca novel ini. Karena ini adalah novel paling porno yang pernah saya baca. Jadi jika Anda ingin menghadirkan bacaan yang penuh tata krama dan sopan santun di perpustakaan/koleksi buku Anda, saya tidak merekomendasikan buku ini, hehe.

Adalah Ajo Kawir, seorang pemuda yang belum berumur dua puluhan, namun harus menanggung derita paling mengerikan yang saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika saya mengalami hal yang sama: alat kelamin Ajo Kawir tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ajo Kawir mengira burungnya tidur, untuk jangka waktu yang tidak pernah dia ketahui. Itulah mengapa gambar novel ini adalah burung yang tidur, tak mau bangun yang juga gambar dan kata-kata yang sama yang akan dituliskan Ajo Kawir di truk yang dibawanya.

Kelamin Ajo Kawir tidak tidur begitu saja, semua itu ada penyebabnya. Berbagai cara sudah dilakukan Ajo Kawir untuk menyembuhkan kelaminnya. Sangkin frustasinya, Ajo Kawir hampir saja memotong kelaminnya sendiri dengan kapak. Untung ada si Tokek, sahabat Ajo Kawir yang mencegahnya.

Meski menderita, kebahagiaan itu akhirnya datang, yakni ketika Ajo berkenalan dengan Iteung, seorang gadis kampung yang juga jago bergulat. Ajo dan Iteung saling mencintai dan menyayangi dan mereka berdua pada akhirnya menikah. Mesti dengan satu risiko: bahwa kelamin Ajo Kawir tidak berfungsi. Dan Iteung, atas nama cinta menerima Ajo apa adanya. Meski hasratnya harus dibayar hanya dengan jari tangan Ajo Kawir.

Ajo Kawir bahagia, Iteung juga nampaknya bahagia. Nampaknya, ya hanya nampaknya. Karena Iteung tetap merindukan kelamin yang normal yang bisa bangun dan membahagiakannya. Hingga suatu hari Iteung ternyata hamil, oleh orang dari masalalunya, Budi Baik.

Ajo Kawir pun pergi dari kehidupan Iteung. Meninggalkan Iteung dengan janin yang dikandungnya. Ajo Kawir merantau, menjadi supir truk yang membawanya kemana saja. Jawa-Medan, Jawa-Aceh, dan lain-lain.

Ajo Kawir merasa dendam, pada orang yang membuat burungnya tidak bisa bangun. Ajo Kawir merasa rindu, rindu pada istrinya, Iteung. Lalu muncullah Juwita, yang meski kehadirannya hanya sebentar, namun banyak membantu Ajo Kawir, terutama dalam membangunkan burungnya yang tidur dan sangat filosofis.

Novel ini, meski porno, banyak memberikan pelajaran kepada kita. Bahwa manusia banyak diperbudak oleh kelamin, bahwa apa yang dilakukan kebanyakan manusia hanyalah untuk memenuhi keinginan kelaminnya. Nafsu. Nafsu selalu menjadi pendorong terbesar manusia dalam berbuat di dunia ini. Oleh karena itu Ajo Kawir kemudian menjadi seorang filsuf yang tidak mau diperbudak oleh nafsu. Bahwa burungnya yang tidak bisa bangun mengajarkan banyak kebijaksanaan kepadanya.

Jadi, apakah dendam dan rindu Ajo Kawir terbayarkan? Jika Anda penasaran, silakan baca novel ini. Namun Anda merasa novel ini terlalu porno untuk dibaca, maka saya tidak merekomendasikan Anda membacanya.

Satu karya apik dari Eka Kurniawan.

Gambar dari sini.

Advertisements

O – Eka Kurniawan

27808997

 

HAL pertama yang ingin saya ceritakan dari novel ini adalah harganya. Novel ini dijual dengan harga Rp99.000,- di Toko Buku Gramedia, namun saya mendapatkannya dengan harga Rp69.300,- saja karena menggunakan kartu BNI. 😛

Saya ingat jaman saya kecil dulu, senang membaca cerita fabel. Masih ingat kan cerita fabel? Fabel, seperti ingatan kita semua, adalah cerita mengenai hewan-hewan yang berperilaku seperti manusia. Hewan-hewan tersebut berbicara, berperasaan, dan bertingkah seperti manusia. Menurut saya O adalah salah satu fabel jenis baru, dimana Eka menceritakan mengenai kehidupan hewan disaling-silangkan dengan kehidupan manusia. Hewan berbicara, manusia berbicara, namun mereka tidak saling mengerti pembicaraan tersebut.

Sedikit berbeda dengan dua novel sebelumnya yang saya baca (Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka) yang fokus pada tokoh-tokoh yang saling terkait dan memiliki permasalahan sentral yang sama, dalam novel ini Eka menceritakan banyak pihak, banyak tokoh, banyak orang dengan permasalahan masing-masing, meski ide dasarnya tetap sama. Eka bercerita tentang kehidupan jaman sekarang yang sudah mulai edan, sudah terbalik: binatang ingin menjadi manusia, manusia ingin menjadi binatang. Monyet menjadi manusia, manusia menjadi babi.

Adalah Entang Kosasih, seekor monyet yang bercita-cita dan berkeyakinan bahwa suatu saat nanti dia akan menjadi manusia. Entang Kosasih terinspirasi dari leluhurnya yang menurut cerita para tetua telah berhasil berubah dari monyet menjadi manusia. Mereka (yang yakin dengan cerita itu) percaya bahwa sebelum menjadi monyet mereka adalah katak, dan sebelum katak mereka adalah ikan. Dan setelah menjadi monyet mereka akan menjadi manusia–teori evolusi Darwin.

Karena ambisi menjadi manusianya, Entang Kosasih selalu mencoba berperilaku seperti manusia, hingga suatu hari, ia belajar mengokang revolver dari dua orang polisi di kampungnya: Sobar dan Joni Simbolon. Menurut Entang Kosasih, satu-satunya cara menjadi manusia adalah dengan berperilaku seperti manusia. Joni Simbolon tewas akibat pelor yang dikokang dari revolver Sobar yang direbut oleh Entang Kosasih. Dan karena perbuatannya, Entang Kosasih juga harus merasakan pelor panas dari revolver Joni Simbolon yang dipegang oleh Sobar, menuntut balas atas kematian Joni Simbolon. Dalam kejadian itu, Entang Kosasih terjatuh ke hutan, namun Sobar hanya menemukan revolvernya yang terjatuh saat Entang Kosasih tumbang, dia tidak pernah menemukan mayat atau bangkai monyet pencuri tersebut, Entang Kosasih.

O, kekasih Entang Kosasih, percaya bahwa akibat kejadian penembakan itu Entang Kosasih telah menjelma menjadi manusia. Monyet itu diberi nama O karena kebisaan mulutnya membentuk huruf O. Dengan petunjuk seorang tikus cenayang (tikus cantik yang bisa membaca tanda), O akhirnya pergi ke pasar untuk mencari Entang Kosasih. Alih-alih bertemu Entang Kosasih, O masuk perangkap orang kampung dan dijual kepada penadah monyet untuk dijadikan sirkus topeng monyet.

O juga bercita-cita menjadi manusia, bukan karena cerita leluhurnya, tetapi karena dia ingin mengejar cinta sejatinya: Entang Kosasih. O belajar menjadi manusia dengan memakai topeng monyet. Menurut dia, dengam memakai topeng monyet dia bisa merasakan bagaimana menjadi manusia.

O adalah monyet sirkus, topeng monyet, yang dipunyai oleh Betalumur, seorang pengangguran mantan begal yang tidak lulus sekolah. O sering mendapat siksaan dari majikannya yang selalu tidur saat O harus ngamen di perempatan jalan. Namun di situlah cerita tentang O dan Kirik (teman anjingnya) dimulai. Dan bersama Betalumur lah O kemudian tahu bahwa Entang Kosasih benar-benar telah menjadi seorang manusia, dalam wujud penyanyi dangdut: sang Kaisar Dangdut dengan bulu dada yang mencuat keluar dari bajunya, dengan gitar terselempang di bahunya.

Sobar (polisi yang menembak Entang Kosasih) dan Dara, kekasih gelapnya, adalah kisah yang berbeda. Cinta sejati membawa mereka menjadi sepasang ikan yang harus mati ditembak oleh Toni Bagong, mantan kekasih Dara.

Kisah Betalumur diceritakan kemudian. Betalumur adalah manusia yang berambisi menjadi binatang: babi. Betalumur menjadi babi ngepet, bukan untuk mencari pesugihan, tetapi sekedar ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi binatang. Seperti pesan wanita yang dicintainya, jika ingin belajar tentang cinta, Betalumur harus belajar dari binatang. Karena itulah Betalumur menjadi babi.

Eka menyaling silangkan semua cerita, hingga terjalin menjadi satu kisah yang membuat penasaran dan membuat kita ingin segera menyelesaikan novelnya. Saya mencatat beberapa kalimat dalam novel tersebut yang menurut saya bagus:

  • Cinta tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, meskipun cinta bisa memberimu hal itu. Aku menderita karena cinta, dan aku terus menderita. Karena aku terus mencintai ia yang membuatku menderita
  • Menghadapi maut, kini ia sadar, tak ada bedanya apakah kau manusia atau binatang. Pilihanmu hanyalah menyerah sebab maut tak bisa dilawan, atau berkelit sebab maut kadangkala masih ingin bermain-main dengan waktu. Hanya untuk mengulur kekalahan. Manusia atau binatang, tak ada yang menang melawan maut
  • Tanpa masa lalu, kau tak akan memiliki masa depan.

Masih tetap dengan gaya berceritanya, Eka sangat latah menyebut tai, kopet, kunyuk, munyuk, dll di novel ini: khas Eka. Namun di novel ini Eka juga mengutip dua ayat dari AlQuran, yaitu surat Al-Anam dan surat Yusuf, satu hal yang baru saya temui dari novel-novel Eka.

Selain kata-kata jorok, Eka juga masih tetap menyajikan adegan persetubuhan dalam novel ini, meskipun kali ini yang disajikan adalah persetubuhan panas dua ekor tikus. 😛

Jadi, apakah O berhasil menemui Entang Kosasih setelah menjadi manusia? Atau berhasilkan Betalumur merasakan bagaimana rasanya menjadi binatang? Yuk baca novelnya 🙂

Gambar dari sini.

Cantik itu Luka, Eka Kurniawan

700-cil2015

MUNGKIN karena saya bukan generasi pembaca cerita stensilan seperti generasi terdahulu, kesan pertama saya membaca novel ini adalah vulgarisme. Eka begitu latah menyebut kata tai, tombak (alih-alih penis), ngaceng, dan istilah-istilah lain yang berhubungan dengan birahi dan seksualitas. Jika Anda bukan tipe pembaca yang bisa menoleransi kevulgaran Eka dalam novel ini, saya tidak merekomendasikan Anda untuk melanjutkan membaca 🙂

Seperti novel-novel Eka yang lain, Cantik itu Luka menghadirkan tanda tanya besar di awal cerita. Kita dihadapkan pada pertanyaan kenapa? Kenapa tiba-tiba Dewi Ayu hidup lagi dari kematiannya setelah 21 tahun? Dan setelah berhadapan dengan pertanyaan besar itu, kita akan melanjutkan membacanya seperti tidak pernah bisa berhenti.

Dengan alur yang lompat-lompat dan maju mundur, tanpa kejelasan pola urutan waktunya, Eka mencoba memberikan kita jawaban demi jawaban pertanyaan itu. Meski saat memberi jawaban itu Eka kemudian menghadirkan beberapa tanda tanya kecil lainnya.

Tapi, bukankah vulgarisme dan alur yang lompat-lompat maju mundur serta penuh tanda tanya itu adalah ciri khas Eka Kurniawan? Saya sih tidak masalah, malah saya senang membaca karya-karyanya.

Adalah Dewi Ayu, seorang campuran pribumi dan Belanda yang lahir pada masa kolonial. Terpaksa (kemudian menjadi profesinya) menjadi pelacur pada masa pendudukan Jepang. Dewi yang memiliki perwajahan cantik “harus” menurunkan kecantikannya itu kepada tiga orang anaknya, Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Ketiganya merupakan anak dari hasil pelacurannya, tanpa pernah diketahui siapa ayah dari anak-anaknya. Berbeda dengan ketiga anaknya yang sebelumnya, pada saat hamil anak keempat, Dewi Ayu berdoa agar Tuhan menjadikan anaknya buruk rupa, dan Tuhan mengabulkan doa tersebut. Anak keempat yang diberi nama Cantik, adalah sosok perempuan yang memiliki wajah seperti monster.

Suatu hari setelah 21 tahun meninggal, Dewi Ayu bangkit kembali dari kuburnya. Untuk apa? Untuk menuntut balas atas kemalangan yang dialami anak-anaknya. Kepada siapa menuntut balas? Kepada orang dari masa lalu nenek moyangnya yang menyebabkan kehidupannya dan kehidupannya sendiri porak poranda, tidak pernah berbahagia. Dan di sinilah pertanyaan besar itu timbul. Siapa sebenarnya Dewi Ayu sampai bisa bangkit dari kematian? Apa yang menyebabkan dia bangkit kembali dari kuburnya?

Anak pertama Dewi Ayu, Alamanda, jatuh cinta dengan anak seorang komunis di Halimunda, Kliwon. Cinta mereka begitu tulus, meski kemudian Shodanco merebut keperawanan Alamanda dan Alamanda terpaksa menikah dengan Shodanco. Kliwon yang patah dan sakit hatinya, harus mengalami keguncangan kejiwaan hingga harus hidup di jalanan dan bergaul dengan gelandangan. Alamanda menikah dengan Shodanco tanpa cinta sedikitpun. Nasib baik membaca Kliwon kembali kepada keluarganya dan menjalani kehidupan sebagai pimpinan Serikat Nelayan di kotanya dan merangkap pimpinan partai komunis. Kliwon kemudian menikah dengan Adinda yang tidak lain adalah adik Alamanda.

Sementara itu anak ketiga Dewi Ayu, Maya Dewi, menikah dengan preman yang terobsesi dengan perempuan cantik anak bupati di suatu masa bernama Rengganis. Rengganis adalah putri cantik, yang kecantikannya menyiksa para laki-laki untuk segera menyentuhnya hingga ayahnya sendiri birahi kepadanya. Setelah berlayar berbulan-bulan, mengarungi banyak badai dan harus melawan hiu di lautan (diceritakan hiu tersebut kemudian menjadi sahabatnya), preman tersebut sampai ke Halimunda, kota dimana Rengganis tinggal. Apa yang didapatinya begitu tiba di Rengganis begitu mengecewakan hati sang preman. Rengganis, putri cantik yang didengarnya dari mulut ke mulut hingga membuat rasa cinta dan imajinasinya melayang-layang, ternyata sudah meninggal, ratusan tahun yang lalu. Rengganis adalah kisah di masa lalu. Preman tersebut yang bernama Maman Gendeng kemudian menikah dengan Maya Dewi ini. Maya Dewi menikah dengan Maman Gendeng pada usia 12 tahun, dan untuk itulah Maman Gendeng harus menunggu 5 tahun hingga malam pertama pernikahan mereka terlaksana.

Cerita berlanjut dengan kisah kehamilan Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Dari pernikahannya dengan Shodanco, Alamanda memiliki anak Nur Aini yang dipanggil Ai. Adinda dan Kamerad Kliwon memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Krisan. Sementara Maman Gendeng dan Maya Dewi mempunyai seorang anak cantik yang diberi nama Rengganis si Cantik, diambilkan dari nama putri Rengganis yang menginspirasi Maman Gendeng hingga harus datang ke Halimunda.

Inti cerita novel ini terletak pada persahabatan Ai, Krisan dan Rengganis si Cantik. Hingga ketiganya harus meregang nyawa. Lalu bagaimana nasib anak ke-4 Dewi Ayu, Cantik? Temukan jawabannya di novel ini ya.

Cantik itu Luka memberi pesan kepada kita bahwa sesuatu yang cantik tidak selamanya indah. Bahkan kadang sesuatu yang cantik membawa luka. Novel ini menceritakan tentang kecantikan Dewi Ayu dan tiga orang anaknya, yang kecantikan itu dekat dengan birahi. Namun, bersama dengan kecantikan itu juga terdapat luka. Hingga Dewi Ayu mengharapkan anaknya buruk rupa, karena cantik itu luka. Namun Dewi Ayu salah, jika cantik itu luka, maka buruk rupa adalah luka kuadrat. hehe.

Selamat membaca.

Gambar dari sini.

Hari Buku Sedunia

img_2015042358389

HARI ini, 23 April 2016, dunia memperingati hari buku sedunia. Ya, ternyata ada lho hari khusus dimana kita memperingati dan memuliakan (halah) buku di hari tersebut. Menurut referensi yang saya baca, hari buku sedunia pertama kali diperingati pada tahun 1995. Buku yang dimaksud di sini buku dalam arti yang sebenarnya ya. Buku secara fisik, bukan e-book atau buku digital.

Saya mulai senang membaca buku sejak SMP. Waktu itu saya mendapat jatah menjaga perpustakaan saat jam istirahat. Sejak saat itu, saya jatuh cinta pada membaca, membaca buku. Seiring dengan kemajuan teknologi, mulai muncul e-book, dimana buku disajikan dalam bentuk dokumen digital. Meski demikian, saya tetap memfavoritkan buku secara fisik, karena selain bisa dikoleksi, kadang buku tertentu memberi nilai sejarah bagi saya.

Novel tertua yang pernah saya baca, seingat saya adalah novel Dracula karya Bram Stoker yang ditulis pada 1876.

Selamat hari buku 🙂

Gambar dari sini.

[Resensi] Lelaki Harimau, Eka Kurniawan

Senja ketika Margio membunuh  Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buahnya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang.

700-lh2015

SAYA tau buku ini dari teman sekantor. Katanya Lelaki Harimau merupakan novel bagus yang mengambil genre realis magis. Keesokan harinya saya memesan novel ini menggunakan jasa abang Go-Jek dan mulai khusyuk membacanya.

Awal-awal saya agak tidak mengerti dengan cerita di novel ini. Eka Kurniawan bercerita seolah-olah kita sudah mengenal lama tokoh-tokohnya: Margio, Anwar Sadat, Kyai Jahro, Mayor Sadrah, Komar bin Syueb, dll. Tapi begitu kita sudah tahu benang merahnya, kita tidak bisa berhenti membacanya.

Tokoh utama yang diceritakan adalah Margio, yang juga memerankan sebagai Lelaki Harimau itu sendiri. Disebut Lelaki Harimau karena Margio mewarisi kemampuan kakeknya yang berteman (kawin) dengan harimau, dan di dadanya lah harimau putih itu bersemayam.

Margio diceritakan sebagai anak pertama pasangan Komar bin Syueb dan Nuraeni. Komar dan Nuraeni adalah pasangan yang tidak berbahagia, karena selain miskin, mereka juga tinggal di gubuk bekas orang yang jelek, kecil dan tidak terawat. Margio bersaudara dengan adik perempuannya, Mameh. Komar yang berprofesi sebagai tukang cukur berperangai kasar kepada istrinya, Nuraeni. Nuraeni merasakan bahwa pernikahan mereka adalah penjara yang paling menjemukan dan membosankan, karena suaminya hanya bisa memukuli dan menyakitinya, demi memuaskan nafsu seksualnya.

Nuraeni yang juga menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Kasia–seorang bidan–dan Anwar Sadat yang pengangguran. Anwar Sadat yang dasarnya tukang main perempuan, suatu hari menggoda Nuraeni. Meski awalnya deg-degan, lama kelamaan Nuraeni merasa senang dengan sensasi itu: melakukan hubungan seksual tanpa dikasari oleh laki-laki. Sayangnya kebahagiaan itu diperoleh dengan cara yang salah. Margio, yang telah melihat dan merasakan penderitaan ibunya sejak kecil, mengalami kebingungan antara ikut berbahagia dengan perselingkuhan ibunya, atau merasa bersedih. Bahagia karena sejak perselingkuhan itulah Nuraeni memancarkan kebahagiaan, bukan wajah murung seperti biasa dan melampiaskannya dengan berbicara kepada panci dan kompor seperti orang sinting. Namun pada kahirnya Margio membunuh Anwar Sadat.

Alur maju mundur namun teratur membuat kita gampang mengikuti novel ini, meski saya merasa Eka memutar-mutar pemahaman kita mengenai jalan cerita di novel ini. Namun, di akhir novel kita akan mengetahui alasan utama kemarahan Margio (Harimau) kepada Anwar Sadat dan memaksa Margio membunuhnya.

Novel yang bagus dan layak ada dalam list buku yang harus dimiliki 2016 🙂

Gambar dari sini.

[…] Inteligensi Embun Pagi, Dee Lestari

supernova-6-intelegensi-embun-pagi-ttd-va-330x0

Mengetik di laptop hanyalah sebagian dari menulis itu sendiri. Mengkhayal, mengobservasi, dan meriset berlangsung nyaris tanpa henti dan merupakan bagian inheren dari proses saya berkarya (Dee Lestari dalam Inteligensi Embun Pagi)

TULISAN ini bukan resensi atau review saya terhadap novel terakhir seri Supernova-nya Dee Lestari: Inteligensi Embun Pagi. Tulisan ini hanya komentar saya sebagai pembaca yang awam, yang berusaha memahami novel tersebut pun saya susah 😛

Saya mengenal Supernova kira-kira tahun 2010, waktu itu saya sedang tugas belajar, banyak waktu luang, sehingga saya memperbanyak waktu membaca. Saya membaca seri pertama Supernova: KPBJ. Yang saya alami saat saya membaca novel tersebut adalah perasaan kebingungan yang membanjiri saya. Saya seperti bertemu ribuan pertanyaan pada setiap kepingnya. Terlebih banyak istilah-istilah yang tidak saya mengerti. Namun naluri saya mengatakan bahwa saya harus menyelesaikan novel itu.

Saya mulai bisa menikmati Supernova saat ceritanya agak-agak down to earth, bukan hayalan tingkat tinggi seperti KPBJ. Maka Akar, Petir, Partikel dan Gelombang saya lahap dengan nikmat. Saya membaca dan menikmati setiap kepingnya, sama seperti saya membaca Madre, Perahu Kertas, Filosofi Kopi, atau bahkan seperti saya mendengarkan Rectoverso. Sejak saat itu saya mencintai karya-karya Dee. Saya menanti-nanti lanjutan-lanjutan keping dari 99 keping yang disusun Dee lewat Supernova. Saya menunggu Partikel cukup lama sejak Petir, dan saya menunggu Gelombang lumayan lama sejak Partikel. Jujur saya menikmati semua proses menunggu itu.

IEP merupakan penutup sekaligus reunian semua pemeran Supernova. Dee menyatukan seluruh keping-keping yang terpisah di IEP. Dan di IEP inilah saya menjadi tau apa yang sebenarnya ingin diceritakan Dee dalam Supernova. Saya menjadi tau apa yang menjadi pertanyaan besar dalam Supernova yang juga ingin Dee jawab. Seperti yang diungkapkan Dee, Supernova hanyalah caranya bertanya sekaligus upayanya menjawab (pertanyaan-pertanyaan yang juga pencariannya).

Begitu saya membaca IEP, sontak saya teringat ke novel The Secret of The Immortality of Nicholas Flamel-nya Michael Scott, yang juga disusun dalam 6 novel, masing-masing menceritakan kejadian selama 2 hari. Jadi novel sebanyak 6 buku yang disusun Scott bertahun-tahun hanya menceritakan kejadian selama kurang lebih 12 hari lamanya. Sama seperti IEP yang hanya menceritakan kejadian selama beberapa hari saja. The Secret of The Immortality of Nicholas Flamel bisa dikatakan memiliki ide yang sejenis dengan Supernova: tentang orang-orang yang immortal (meski dalam novel ini diceritakan bahwa mereka adalah manusia) yang telah melewati beratus-ratus peradaban, yang telah menyamar dan menjelma menjadi banyak tokoh di dunia, tak jarang menjadi sosok yang dipuja-puja, tak jarang menjadi tokoh yang dikenang sebagai orang jahat.

Perasaan saya saat membaca IEP mengingatkan saya pada perasaan saya saat membaca KPBJ. Saya bingung, tidak mengerti, namun saya penasaran. Oleh karena itu yang saya lakukan adalah terus membaca. Satu hal yang membuat saya penasaran dari IEP adalah apakah Zarah bisa menemukan ayahnya, Firas atau tidak. Dan saya bersyukur Zarah menemukan ayahnya, meski ayahnya telah tiada, saya turut merasakan kelegaan yang dirasakan Zarah atas seluruh pencarian yang dilakukannya selama dua belas tahun. Dan, entah kenapa sepanjang membaca novel ini saya membayangkan Zarah sebagai seorang Maudy Ayunda. Aah semoga jika novel ini difilmkan, Maudy bisa mengambil peran sebagai Zarah 🙂

Pada akhirnya, saya ingin mengingatkan kembali bahwa tulisan ini bukan resensi atau review, ini hanya cerita pengalaman pembaca yang tidak mengerti hayalan tingkat dewa yang telah direncanakan Dee sejak bertahun-tahun yang lalu. Meski tidak mengerti, saya mencintai ide dan karya Dee Lestari, karena menurut saya Dee adalah novelis Indonesia satu-satunya yang mampu menulis dengan ide dan kualitas super se-super Supernova, meski pada awalnya menuai kontroversi.

Pada akhirnya, manusia tetaplah manusia. Bahkan seorang Peretas yang terlahir sebagai peretas tetaplah manusia, seperti Gio dan Zarah yang kemudian jatuh cinta. Karena kemudian cinta menjelma menjadi bahasa universal yang bisa menyatukan siapapun, mahluk apapun dari dimensi apapun.

Selamat membaca dan selamat jatuh cinta pada Supernova.

Gambar dari sini.

[Resensi] Jodoh-Fahd Pahdepie

28044651

SAYA membaca beberapa bukunya Fahd Pahdepie, beberapa buku ditulis waktu dia masih menggunakan nama pena Fahd Djibran. Awal membaca buku Jodoh, mengingatkan saya pada buku Rumah Tangga karya penulis yang sama, atau buku Perjalanan Rasa karya penulis yang sama juga. Rasanya sama, karena cara bercerita dan ide-ide cerita yang hampir mirip. Selain membaca bukunya, saya juga sempat aktif membaca blognya.

Awal mula mengenal tulisan Fahd lewat buku Hidup Berawal dari Mimpi dan Yang Galau Yang Meracau (Curhat Tuan Setan). Bisa dikatakan gaya bercerita Fahd selalu begitu (secara kasar boleh saya bilang begitu-begitu saja). Untungnya cerita yang dihadirkan Fahd menarik. Oleh karena itu membaca buku Jodoh ini, saya kembali merasakan hawa dan pengalaman yang sama, meski rasanya tak sekuat Perjalanan Rasa.

Novel Jodoh menceritakan tentang Sena, yang jatuh cinta kepada Keara dari kelas 1 SD. Cinta yang terlalu sederhana, bahkan sangkin sederhananya Sena tidak tahu bagaimana menjelaskan definisi “cinta”itu. Cinta yang sederhana itu menjadi berbentuk saat mereka berdua sekolah di pesantren yang sama di Garut, di Daarul Arqam. Ketatnya peraturan pesantren tentang hubungan santriwan dan santriwati menjadi pengalaman jatuh cinta tersendiri bagi Sena dan Keara, namun mereka berdua sepenuhnya sadar dan mengetahui bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain.

Masalah muncul saat Keara divonis mengidap penyakit Spinal Muscular Atrophy yang menyebabkan Keara bisa lumpuh kapan saja. Dan di sinilah kekuatan novel ini berasal. Fahd dengan lihai menceritakan bagaimana Sena teguh pada pendirian untuk menikahi Keara, meski dokter mengatakan bahwa usia Keara tidak akan lebih dari 23 tahun. Fahd beberapa kali mengutip puisi Sapardi Djoko Damono dalam buku Hujan Bulan Juni–saya jadi ingat bahwa saya belum selesai membaca novel Hujan Bulan Juni yang saya beli beberapa bulan yang lalu.

Saya kira novel ini kisah nyata Fahd dan istrinya, seperti buku Rumah Tangga. Namun, saya salah. Masih seperti tulisan-tulisannya yang lain, Fahd yang memang agak melow romantis membawa pembaca pada situasi yang dilematis: setia pada Keara yang penyakitan dan usianya tidak lama lagi, atau pergi mencari jodoh yang lain? Beberapa kali saya harus menahan nafas, atau bahkan berkaca-kaca ketika membaca bagian-bagian akhir novel ini. Satu pertanyaan besar yang dicari Sena dalam novel ini ada pada judul novelnya: apa itu jodoh? apakah benar kamu jodohku?

Novel yang menarik, layak dibaca oleh teman-teman, baik yang sudah menemukan jodohnya maupun belum, hehe. Saya semakin tersadarkan bahwa cinta sejati kadang tidak membutuhkan alasan.

Akhirnya, meski gaya bercerita Fahd begitu-begitu saja, harus saya akui bahwa novel ini mampu membawa saya terlempar pada perjalanan cinta saya sendiri: dan harus saya akui bahwa novel ini bagus dan layak untuk dibaca. Meski kisah cinta saya tidak mirip dengan kisah cinta Sena, tapi setiap cinta memang butuh perjuangan, jika memang layak diperjuangkan.

Apa Sena berhasil menikahi Keara? Silakan temukan sendiri jawabannya.

Gambar dari sini.