Peranan CRM dalam Administrasi Pajak

b535b99f-30c2-4627-85c9-ddd4373b137e

Gambar dari sini.

PADA tulisan sebelumnya saya sedikit membahas mengenai compliance risk management (CRM), pada tulisan ini saya akan membahas lebih mendalam mengenai CRM dan peranannya dalam administrasi pajak. CRM secara umum didefinisikan sebagai sebuah proses yang sistematis dalam mengidentifikasi, menganalisis, meng-asses, memprioritisasi dan menindaklanjuti serta mengevaluasi risiko ketidakpatuhan yang dilakukan wajib pajak terhadap kewajiban perpajakan yang mereka miliki. CRM membantu otoritas pajak mencapai tujuannya, yakni tingkat kepatuhan wajib pajak yang tinggi.

Melihat definisi di atas, CRM merupakan alat pengambilan keputusan bagi otoritas pajak, baik terkait strategi pemeriksaan, pengawasan, maupun pelayanan dan penyuluhan  terhadap wajib pajak. Hal ini dikarenakan setiap wajib pajak sesuai dengan level ketidakpatuhannya perlu diberikan treatment yang berbeda.

Berdasarkan perilaku wajib pajak, risk engine CRM–menggunakan suatu formulasi yang telah ditetapkan sebelumnya–akan menghitung risiko wajib pajak. Secara umum wajib pajak akan dikategorikan menjadi wajib pajak berisiko tinggi, sedang dan rendah. Wajib pajak dengan risiko tinggi merupakan wajib pajak yang harms dilakukan pemeriksaan, wajib pajak berisiko sedang dapat dilakukan pengawasan, sedangkan wajib pajak berisiko rendah dilakukuan penyuluhan perpajakan. Hal ini didasarkan pada pendapat para ahli, salah satunya pendapat ATO berikut ini:

risk_assessment_tools-5-lg

Gambar dari sini.

Piramida pada gambar di atas menggambarkan kondisi kepatuhan wajib pajak. Wajib pajak di level terbawah dengan jumlah terbanyak adalah wajib pajak yang mau melakukan hal yang benar, wajib pajak ini merupakan tipe wajib pajak patuh dan harus diberikan pelayanan dengan baik. Di level berikutnya, dengan jumlah yang lebih sedikit dari tipe sebelumnya, merupakan wajib pajak yang coba-coba tidak patuh, namun tidak selalu berhasil. Wajib pajak dengan tipe ini harus dibantu untuk patuh, misalnya diberikan penyuluhan pajak, kelas pajak, dll. Pada level selanjutnya akan kita temui wajib pajak yang tidak ingin patuh, wajib pajak tipe ini harus dilakukan pengawasan oleh otoritas pajak. Sementara di level terakhir dengan jumlah paling sedikit, merupakan wajib pajak yang sudah memutuskan untuk tidak patuh. Wajib pajak tipe ini harus dilakukan law enforcement, misalnya dilakukan pemeriksaan, penyidikan, dll.

Bagi otoritas pajak, CRM juga berguna dalam alokasi sumber daya. Sesekali otoritas pajak perlu mengalihkan sumber dayanya untuk melakukan pemeriksaan pajak, sesekali perlu memperkuat tenaga pengawas perpajakan dan sesekali perlu memperkuat tenaga penyuluh tergantung strategi yang telah diputuskan. Secara umum CRM bermanfaat dalam:

  1. menjadi acuan dalam penyusunan rencana strategis
  2. men-treatment wajib pajak sesuai dengan perilaku ketidakpatuhannya
  3. fokus dalam peningkatan kepatuhan sukarela wajib pajak
  4. fokus dalam pemeriksaan wajib pajak berisiko tinggi
  5. mengidentifikasi modus ketidakpatuhan wajib pajak
  6. optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki otoritas pajak
  7. memberlakukan equal and consistent treatment terhadap wajib pajak
  8. membobot efek yang ditimbulkan oleh ketidakpatuhan wajib pajak
  9. mengukur hasil dari suatu program berdasarkan data dan informasi yang relevan
  10. meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan sistem perpajakan

Kepatuhan wajib pajak pada dasarnya dibedakan menjadi empat kategori, yaitu kewajiban mendaftarkan diri, kewajiban melaporkan SPT, kewajiban melaporkan SPT dengan lengkap dan benar dan kewajiban melakukan pembayaran pajak dengan benar. Berdasarkan empat kategori kepatuhan tersebut, CRM menghitung risiko wajib pajak.

Semoga bermanfaat.

Reference:
– Alink dan Kommer, Handbook on Tax Administration (2011)
– situs 
ATO pada link berikut ini.

 

Advertisements

(E)RM Dalam Administrasi Pajak

Risk management

RISK-FREE environments do not exist, begitu katanya. Siapapun, atau apapun di dunia ini pasti menghadapi risiko. Ketika kita berbicara organisasi, tidak ada satu-pun organisasi yang tidak menghadapi risiko, bahkan organisasi paling sederhana sekalipun. Di dalam praktek administrasi perpajakan, kita sering mendengar istilah risk management, kadang disertai juga dengan kata compliance atau enterprise di depannya: compliance risk management atau enterprise risk management. Risk management sama artinya dengan enterprise management, sedangkan compliance risk management merupakan bagian dari risk management. 

Risk management, atau ada yang menyebutnya dengan enterprise risk management (ERM) pada dasarnya merupakan alat bagi organisasi dalam mencapai tujuan. Dengan risk management, organisasi akan membalik suatu risiko/ancaman (threat) menjadi suatu kesempatan dan dengan manajemen yang baik kesempatan itu akan digunakan untuk mencapai tujuan organisasi. Secara sederhana risk management merupakan suatu proses yang sistematis di dalam organisasi, berdasarkan analisis risiko untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.

Administrasi pajak menghadapi ancaman berupa keadaan yang terus berubah, yang mana perubahan tersebut akan berdampak terhadap tujuan administrasi pajak. Perubahan tersebut dapat berupa perkembangan ekonomi, perubahan demografi, perkembangan IT, perubahan teknis, perubahan tingkat kepatuhan wajib pajak, dll. Perubahan-perubahan tersebut menciptakan atau mengubah risiko yang dihadapi oleh administrasi pajak.

Risiko-risiko yang dihadapi suatu organisasi harus dianalisis untuk meminimalisasi kerugian dan memaksimalkan keuntungan. Oleh karenanya risk management dilakukan di semua lini: strategis, taktis, maupun operasional. Risiko sendiri didefinisikan sebagai ancaman atau kemungkinan suatu tindakan/kejadian akan berdampak negatif terhadap organisasi. Risiko timbul sebagai akibat dari adanya ketidakpastian dan kemungkinan terjadinya kerugian. Karakter/ciri-ciri yang melekat pada suatu risiko biasanya berupa kerentanan, signifikansi dan frekuensi terjadinya risiko tersebut.

Risk management yang baik biasanya meliputi keseluruhan proses yang dihadapi oleh organisasi tersebut. Risk management untuk administrasi pajak digunakan untuk mengakomodasi hal-hal sebagai berikut:

  1. ketahanan legislasi (kurangnya celah dan isu-isu interpretasi)
  2. kelayakan struktur organisasi
  3. ketersediaan perencanaan dan monitoring yang efektif sebagai wujud akuntabilitas kepada stakeholder
  4. ketersediaan manajemen yang profesional untuk mengoperasikan dan me-menej sistem-sistem dan proses-proses yang berbeda-beda di dalam organisasi
  5. ketersediaan proses bisnis yang efektif untuk mengakomodasi ekpektasi users internal maupun eksternal
  6. ketersediaan sistem IT yang andal dan efektif untuk mendukung proses bisnis organisasi
  7. integritas sistem IT (terkait keamanan data)
  8. ketersediaan jumlah dan kualitas staff untuk menghadapi kebutuhan saat ini dan kebutuhan di masa mendatang
  9. ketersediaan kebijakan dan praktik yang memadai terkait rekrutmen dan seleksi, promosi, mutasi dan pengembangan kapasitas pegawai
  10. ketersediaan program-program integritas untuk pegawai, meliputi ketentuan bagaimana pegawai harus bersikap, tidak korupsi, standar profesional profesi, kerahasiaan data dan informasi, dll.
  11. ketersediaan mekanisme yang efektif untuk menjamin masa depan organisasi dalam melaksanakan kewajibannya
  12. ketersediaan perangkat aturan dalam menggaransi kerjasama yang efektif dan pertukaran informasi dengan mitra domestik maupun internasional

Risk management akan memberikan manfaat bagi administrasi pajak berupa:

  1. mempromosikan equal treatment dan kepercayaan publik
  2. mudah dalam mengalokasikan sumber daya
  3. memfasilitasi keputusan strategi yang efektif
  4. meringankan wajib pajak yang patuh dari beban pemeriksaan pajak
  5. meningkatkan penggunaan sumber daya untuk tujuan yang lebih baik
  6. memudahkan pembagian pekerjaan secara sistematis
  7. membuka kemungkinan komunikasi dan kooperasi yang efektif
  8. keputusan yang diambil didasarkan pada pendekatan analisis ilmiah
  9. memudahkan dalam mereview hal-hal yang memengaruhi perilaku kepatuhan Wajib Pajak
  10. memberikan alternatif-alternatif dalam mengurangi risiko dan hubungan antar altenatif tersebut
  11. analisis risiko dan penggunaan sumber daya untuk mencapai pelaksanaan ketentuan hukum yang optimal.

Demikian besar cakupan dan manfaat risk management bagi organisasi. Untuk DJP sendiri saat ini risk management yang dijalankan berkiblat kepada Keputusan Menteri Keuangan nomor 845/KMK.01/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Petunjuk Risiko di Kementerian Keuangan, belum ada aturan khusus yang mengatur manajemen risiko bagi administratur pajak.

Gambar dari sini.
Reference: Handbook on Tax Administration, Alink dan Kommer (2011).

Jika Perusahaan Mengalami Rugi Berkelanjutan

JIKA kita baca literatur-literatur ekonomi, tujuan dari berdirinya sebuah badan usaha atau tujuan orang melakukan usaha pada umumnya adalah menghasilkan profit, atau memaksimalkan laba. Ada juga literatur yang menyebutkan bahwa tujuan berdirinya sebuah badan usaha adalah mensejahterakan pemegang sahamnya. Keduanya sama-sama benar. Bahwa tidak ada badan usaha yang didirikan dengan tujuan mencari kerugian. Lalu bagaimana jika perusahaan saya rugi terus?

Darussalam dan Danny Septriadi (2007) menyatakan bahwa pada umumnya kerugian yang dialami suatu badan usaha disebabkan karena:

  1. Perusahaan baru beroperasi
    Perusahaan pada tahap awal operasi seringkali mengalami kerugian, terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur. Hal ini dikarenakan pada tahap awal usahanya perusahaan banyak membeli barang-marang modal seperti mesin, membangun pabrik, gedung kantor, kendaraan, dll untuk operasional perusahaan. Otoritas perpajakan biasanya memberikan jangka waktu maksimal sampai kapan perusahaan dapat mengalami kerugian, karena tidak mungkin kerugian yang dialami suatu badan usaha terus-terus ditoleransi. Di Indonesia sendiri, melalui Peraturan Menteri Keuangan nomor 31/PMK.03/2014 memberikan jangka waktu maksimal 3 tahun perusahaan dapat melaporkan kerugian, meskipun PMK tersebut tidak secara langsung menyatakan demikian. Beberapa negara lain juga memberlakukan kebijakan yang berbeda-beda terhadap perusahaan yang melaporkan kerugian, misalnya Kanada 3 dan Australia memberikan jangka waktu maksimal 3 tahun.
  2. Ketidakmampuan manajemen dan gangguan usaha (poor management and dedundancies)
    Bagi sebuah perusahaan, efisiensi merupakan kunci memperoleh laba yang tinggi. Semakin efisien, semakin tinggi profit yang akan dihasilkan. Ketidakmampuan manajemen dalam mengelola perusahaan dan menciptakan efisiensi tertentu. Kadangkala perusahaan juga mengalami gangguan, misalnya terlalu banyak mesin yang menganggur, jam operasi tidak maksimal, dll.
  3. Strategi bisnis (deliberate business strategies)
    Kadangkala strategi bisnis yang dilakukan perusahaan juga membawa efek kerugian bagi perusahaan, misalnya perusahaan gencar melakukan promosi untuk memperluas pasar. Namun, tentu saja perusahaan tidak menjalankan strategi tersebut sampai bertahun-tahun.
  4. Kondisi ekonomi
    Kondisi ekonomi merupakan hal yang lumrah bagi perusahaan mengalami kerugian, Misalnya karena terjadi resesi, sehingga permintaan akan produk tertentu mengalami penurunan.
  5. Tahapan atau siklus usaha (stage in business and industrial life cycle)
    Tahapan atau siklus suatu usaha biasanya terbagi menjadi 4 bagian, the pioneer, growth, mature and decline phases. Pada tahap pioneer, masih ada keraguan apakah produk dapat diterima pasar dan apakah strategi yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan dengan baik atau tidak. Pada tahap growth, produk sudah dapat diterima pasar dan pertumbuhan dan hasil penjualan sudah mulai dapat dilihat hasilnya. Pada tahap mature, tren industri sejalan dengan kondisi ekonomi pada umumnya dan para pelaku usaha sedang dalam tahap berkompetisi untuk mendapatkan pangsa pasar saat industri dalam kondisi stabil. Sedang pada tahap decline, pelanggan mulai beralih ke produk lain karena faktor cita rasa atau teknologi yang berkembang. Pada tahap pioneer dan decline biasanya perusahaan mengalami kerugian.
  6. Risiko keuangan yang tinggi (excessive financial risk)
    Perusahaan adakalanya menghadapi risiko keuangan termasuk risiko atas piutang yang tidak tertagih atau risiko rugi karena selisih kurs.
  7. Dampak kebijakan pemerintah (effect of goverment policies)
    Pemerintah biasanya mengintervensi ekonomi melalui kebijakan kontrol harga, kontrol suku bunga, pembatasan penggunaan teknologi dan jasa, subsidi terhadap sektor usaha tertentu, dan kontrol terhadap nilai tukar. Hal ini juga dapat berakibat kerugian bagi perusahaan, meskipun tak jarang juga justru menjadi jalan perusahaan mendapatkan laba.

Jika perusahaan Anda mengalami kerugian, apakah salah satu dari ketujuh alasan tersebut menjadi penyebabnya? Dari sisi perpajakan, perusahaan yang mengalami kerugian selama beberapa tahun berturut-turut dapat menarik perhatian otoritas pajak. Jika selama (misalnya) 5 tahun berturut-turut perusahaan Anda mengalami kerugian, tapi tetap bertahan dan tidak dilikuidasi, mungkin ada yang disembunyikan perusahaan agar tidak membayar pajak sesuai ketentuan.

  • gambar ilustrasi dari sini.
  • Sumber utama: Konsep dan Aplikasi Cross-Border Transfer Pricing Untuk Tujuan Perpajakan, Darussalam dan Danny Septriadi (2008).

 

Ekspor Tapi Bukan Ekspor, Bukan Ekspor tapi Ekspor?

PT ABC di Indonesia sahamnya dimiliki 40% oleh ABC Pte Ltd di Singapura dan 60% sisanya dimiliki oleh PT XYZ di Indonesia. PT ABC merupakan produsen sebuah produk sepatu yang sudah mendunia dengan mark ABC Shoes. PT XYZ merupakan distributor utama dari produk sepatu tersebut, baik untuk penjualan lokal maupun untuk penjualan ekspor. Untuk penjualan lokal, PT ABC langsung menyerahkan sepatu kepada PT XYZ dan selanjutnya PT XYZ menjual sepatu tersebut ke pembeli lokal.

Sedangkan untuk penjualan ekspor ke Singapura, PT XYZ meminta bantuan ABC Pte Ltd di Singapura untuk memasarkan ABC Shoes di Singapura. PT XYZ akan membuat kontrak jual beli dengan ABC Pte Ltd. Keuntungan ABC Pte Ltd dihitung dari cost yang keluar ditambah margin tertentu (cost plus). Selanjutnya ABC Pte Ltd akan melakukan penjualan kepada pembeli di Singapura. Namun, barang dikirimkan langsung oleh PT ABC kepada ABC Pte Ltd.

Sehingga untuk penjualan ekspor ABC Shoes dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Snip 2017-07-03 23.08.22

Berdasarkan bagan di atas, siapakah yang sebenarnya melakukan ekspor? PT ABC atau PT XYZ? Apakah Bapak/Ibu memiliki kasus sejenis? Silakan komen di bawah atau kirim saya email untuk berdiskusi mengenai kasus tersebut.

Menyoal Konsep Self Service di SPBU

Sekarang ini kita terbiasa dengan istilah self service. Self service yang kurang lebih artinya pelayanan mandiri mewujud dalam banyak nama: swalayan, self check-in, dll. Jenis pelayanan yang dilakukan dengan konsep self service pun beragam, dari belanja di supermarket, check-in di bandara, makan di restoran, dll. Dan kini konsep self service sudah mulai merambah bidang lain: SPBU. Di Jakarta sendiri sudah banyak SPBU yang sudah menggunakan konsep self service, terutama SPBU Pertamina. Melalui tulisan ini saya ingin sedikit menyoal kebijakan self service tersebut.

Bagi saya, pengguna motor yang setiap hari harus bergumul dengan kemacetan Ciputat-Jakarta, kebutuhan akan bensin merupakan hal yang tidak dapat terelakkan sampai ditemukan bahan bakar kendaraan bermotor berbahan dasar air. Hampir setiap dua hari sekali saya mengisi tangki motor saya dengan premium yang jumlahnya sudah semakin langka. Iya, setiap dua hari sekali karena dalam sehari motor saya harus menempuh jarak 60 km pulang-pergi.

Menurut saya, konsep self service bagi pelayanan SPBU merupakan inovasi yang perlu dikaji ulang. Terutama karena self service yang diterapkan bukan full self service, tetapi semi self service karena masih ada petugas kasir yang membantu pengisian bahan bakar. Ketika kita datang ke SPBU, petugas kasir akan menanyakan jumlah pengisian bahan bakar yang akan kita lakukan. Setelah kita membayar, kita sudah bisa mengisi bensin ke dalam tangki secara mandiri.

Konsep ini menjadi persoalan ketika banyak pengendara yang tidak tahu cara mengoperasikan gagang selang bensin, sehingga alih-alih antrian berjalan cepat, justru berjalan lambat. Sering saya mengantri cukup lama di depan bapak-bapak atau mas-mas atau mbak-mbak yang kikuk menggunakan gagang selang. Terlebih beberapa orang justru kadang salah mengarahkan ujung selang, sehingga malah mengarah ke dirinya sendiri atau ke orang lain dan berisiko bensin dialirkan ke arah yang tidak seharusnya.

Jika tujuan dilaksanakannya konsep self service untuk mengurangi jumlah karyawan, menurut saya justru konsep ini tidak efektif. Untuk dua lajur antrian, tetap dibutuhkan 1 orang karyawan SPBU untuk mengentri jumlah pembelian di komputer. Belum lagi antriannya menjadi sedikit lebih lama karena 1 orang petugas entri harus mengentri kebutuhan dua lajur antrian. Kecuali diterapkan sistem full self service, pengisian dan pembayaran murni dilakukan pembeli, tanpa campur tangan petugas.

Kelemahan lainnya, dengan konsep self service kita tidak bisa lagi mengisi bensin “full tank”, karena kita harus terlebih dahulu menentukan berapa jumlah pembelian. Misalnya, saya tidak tahu kebutuhan tangki bensin kendaraan saya, maka saya harus membuat perkiraan.  Jika perkiraan saya meleset dan terlalu banyak, maka kita harus merelakan sisanya untuk SPBU, tanpa bisa kita minta kembali. Sering sekali saya mengira Rp25ribu rupiah adalah angka yang tepat untuk pengisian bensin saya, namun setelah saya isi, tangki bensin motor saya cuma muat Rp20ribu. Maka Rp5ribu harus saya relakan untuk SPBU.

Kesimpulan saya, self service dalam pelayanan SPBU belum efektif diterapkan. Jika tujuannya memangkas jumlah karyawan, sistem ini harus dilakukan penuh, tidak setengah-setengah. Infra struktur juga harus dipersiapkan, terutama karena masyarakat kita belum sepenuhnya menerima konsep self service tersebut. Misalnya SPBU menyiapkan mesin yang selain mengalirkan bensin juga bisa menjadi kasir.

Salam.

WhatsApp Image 2017-03-16 at 11.20.14 AM

Jangan pernah menyepelekan ucapan dan doa, karena Allah selalu mendengarkan …

Semasa kuliah dulu saya pernah mendapat tugas membuat semacam proposal kehidupan. Di dalam proposal itu saya harus membuat perencanaan kehidupan saya hingga saya tua nanti. Saat berusia 30 tahun, di dalam proposal tersebut saya menuliskan bahwa saya sudah memiliki istri dan anak. Siapa sangka bahwa hal itu benar-benar terjadi? Hari ini usia saya menginjak kepala 3, dan saya dianugerahi seorang istri dan seorang anak, alhamdulillah.

Menjadi seorang suami dan ayah adalah anugerah luar biasa yang saya terima dalam 2 tahun belakangan ini. Tentu saja bukan tugas yang ringan dan mudah, karena pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Meski berat, semua laki-laki di dunia ini menurut saya harus bersedia ketika tanggung jawab itu diamanatkan kepadanya.

Jadi, jangan pernah menyepelekan ucapan atau doa. Karena syahadat adalah ucapan, yang menandakan seseorang menjadi muslim atau bukan. Ijab qabul adalah ucapan, yang menandakan seorang laki-laki telah sah menikahi seorang perempuan atau tidak. Yuk kita jaga ucapan dan lisan kita.

Akhirnya, selamat ulang tahun diri sendiri. 🙂

Problem Solving Training for Baby

Bayi Adli saat ini telah menginjak usia 4 bulan, dimana di usia tersebut bayi seharusnya sudah lebih aktif bergerak dan lebih banyak ‘ngoceh’, sudah bisa menegakkan kepala dan mulai berlatih tengkurap. Ocehannya tidak sekedar berbunyi ‘ooo … ooo’ atau ‘aaa … aaaa’ kini ocehan bayi Adli sudah bervariasi dengan nada yang berbeda untuk setiap keinginan. Misalnya saat ingin nenen berbeda dengan ocehan saat ngantuk, tangisan saat pup berbeda dengan tangisan saat bete/gerah. Tenaganya sudah semakin kuat, senang menendang-nendangkan kaki, menoleh-nolehkan kepala dan menggerak-gerakkan tangan.

Di usia 4 bulan, bayi sudah bisa diajak spa. Setelah mencari-cari tempat spa yang murah dan bagus, akhirnya pilihan kami jatuh ke RSIA Muhammadiyah Taman Puring di Jakarta Selatan. Menurut bidannya sih spa sudah bisa dilakukan di usia 3 bulan bagi bayi yang lahir di usia kandungan normal (>40w), sedangkan bagi bayi yang lahir prematur spa bayi baru bisa dilakukan di usia di atas 5 bulan.

Dengan biaya Rp125 ribu, bayi Adli sudah mendapatkan pijat selama 30 menit dan renang selama 15 menit atau dapat diperpanjang jika bayi suka. Ternyata teknik pemijatan yang dilakukan sedikit berbeda dengan yang selama ini dilakukan mbah uti-nya bayi Adli di rumah. Alhamdulillah istri saya belajar banyak dari pemijatan ini. Dan bayi Adli juga terlihat senang dan bahagia saat dipijat. Pemijatan dimulai dari kaki, tangan, wajah serta punggung.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah 30 menit pemijatan, dilanjutkan dengan berenang. Terlebih dahulu bayi Adli dipakaikan pelampung yang membatasi kepala dan badannya, agar kepalanya tidak tenggelam saat berenang. Air hangat dan alunan lagu-lagu anak telah terlebih dahulu disiapkan.

Ajaibnya, begitu menyentuh air, bayi Adli sudah refleks menggerak-gerakkan kakinya. Bayi Adli terlihat sangat kegirangan, karena sejak lahir memang suka dengan air. Bidan yang membantu pun mengatakan jika bayi Adli sudah memiliki bakat berenang, tinggal dikembangkan saja dengan di-spa secara rutin.

1110987612

Ternyata pemijatan yang telah dilakukan sebelumnya berfungsi untuk melemaskan otot-otot dan merangsang gerakan bayi. Renang, selain berguna agar bayi lebih aktif bergerak juga ternyata memiliki banyak manfaat. Melatih kepercayaan diri, melatih agar bayi bisa berjalan pada waktu yang tepat (tidak terlambat karena kaki kurang dilatih gerak) serta melatih bayi memiliki kemampuan problem solving. Saat masuk ke air, bayi harus bisa mengambil keputusan apakah akan diam di tempat atau menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Inilah yang dimaksud dengan problem solving training. Selain itu bayi yang aktif dan mampu menggerak-gerakkan kaki dan tangan saat berenang cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Orang tua/pemandu bisa membantu menggerak-gerakkan air agar bayi lebih aktif bergerak. Renang dilakukan selama 15 menit atau dapat diperpanjang jika bayi terlihat bahagia dan menikmati. Dan bayi Adli menghabiskan waktu 30 menit sendiri untuk berenang. Alunan lagu-lagu anak dan bola-bola berwarna-warni membantu bayi agar lebih aktif saat berenang.

Berenang menghabiskan energi yang banyak bagi bayi. Oleh karena itu segera setelah berenang bayi agar diberikan asupan asi/susu, setelahnya bayi dapat tidur nyenyak karena telah beraktivitas yang lebih dari biasanya.

Bayi Adli terlihat senang dan bahagia saat berenang, mami dan papinya pun terlihat girang bukan main saat melihatnya. Bagi ayah atau bunda yang memiliki anak di atas 3 bulan, maka spa bayi bisa dijadikan alternatif hiburan dan sarana berlatih bagi bayi. Kuy!