Menyoal Konsep Self Service di SPBU

Sekarang ini kita terbiasa dengan istilah self service. Self service yang kurang lebih artinya pelayanan mandiri mewujud dalam banyak nama: swalayan, self check-in, dll. Jenis pelayanan yang dilakukan dengan konsep self service pun beragam, dari belanja di supermarket, check-in di bandara, makan di restoran, dll. Dan kini konsep self service sudah mulai merambah bidang lain: SPBU. Di Jakarta sendiri sudah banyak SPBU yang sudah menggunakan konsep self service, terutama SPBU Pertamina. Melalui tulisan ini saya ingin sedikit menyoal kebijakan self service tersebut.

Bagi saya, pengguna motor yang setiap hari harus bergumul dengan kemacetan Ciputat-Jakarta, kebutuhan akan bensin merupakan hal yang tidak dapat terelakkan sampai ditemukan bahan bakar kendaraan bermotor berbahan dasar air. Hampir setiap dua hari sekali saya mengisi tangki motor saya dengan premium yang jumlahnya sudah semakin langka. Iya, setiap dua hari sekali karena dalam sehari motor saya harus menempuh jarak 60 km pulang-pergi.

Menurut saya, konsep self service bagi pelayanan SPBU merupakan inovasi yang perlu dikaji ulang. Terutama karena self service yang diterapkan bukan full self service, tetapi semi self service karena masih ada petugas kasir yang membantu pengisian bahan bakar. Ketika kita datang ke SPBU, petugas kasir akan menanyakan jumlah pengisian bahan bakar yang akan kita lakukan. Setelah kita membayar, kita sudah bisa mengisi bensin ke dalam tangki secara mandiri.

Konsep ini menjadi persoalan ketika banyak pengendara yang tidak tahu cara mengoperasikan gagang selang bensin, sehingga alih-alih antrian berjalan cepat, justru berjalan lambat. Sering saya mengantri cukup lama di depan bapak-bapak atau mas-mas atau mbak-mbak yang kikuk menggunakan gagang selang. Terlebih beberapa orang justru kadang salah mengarahkan ujung selang, sehingga malah mengarah ke dirinya sendiri atau ke orang lain dan berisiko bensin dialirkan ke arah yang tidak seharusnya.

Jika tujuan dilaksanakannya konsep self service untuk mengurangi jumlah karyawan, menurut saya justru konsep ini tidak efektif. Untuk dua lajur antrian, tetap dibutuhkan 1 orang karyawan SPBU untuk mengentri jumlah pembelian di komputer. Belum lagi antriannya menjadi sedikit lebih lama karena 1 orang petugas entri harus mengentri kebutuhan dua lajur antrian. Kecuali diterapkan sistem full self service, pengisian dan pembayaran murni dilakukan pembeli, tanpa campur tangan petugas.

Kelemahan lainnya, dengan konsep self service kita tidak bisa lagi mengisi bensin “full tank”, karena kita harus terlebih dahulu menentukan berapa jumlah pembelian. Misalnya, saya tidak tahu kebutuhan tangki bensin kendaraan saya, maka saya harus membuat perkiraan.  Jika perkiraan saya meleset dan terlalu banyak, maka kita harus merelakan sisanya untuk SPBU, tanpa bisa kita minta kembali. Sering sekali saya mengira Rp25ribu rupiah adalah angka yang tepat untuk pengisian bensin saya, namun setelah saya isi, tangki bensin motor saya cuma muat Rp20ribu. Maka Rp5ribu harus saya relakan untuk SPBU.

Kesimpulan saya, self service dalam pelayanan SPBU belum efektif diterapkan. Jika tujuannya memangkas jumlah karyawan, sistem ini harus dilakukan penuh, tidak setengah-setengah. Infra struktur juga harus dipersiapkan, terutama karena masyarakat kita belum sepenuhnya menerima konsep self service tersebut. Misalnya SPBU menyiapkan mesin yang selain mengalirkan bensin juga bisa menjadi kasir.

Salam.

Advertisements

WhatsApp Image 2017-03-16 at 11.20.14 AM

Jangan pernah menyepelekan ucapan dan doa, karena Allah selalu mendengarkan …

Semasa kuliah dulu saya pernah mendapat tugas membuat semacam proposal kehidupan. Di dalam proposal itu saya harus membuat perencanaan kehidupan saya hingga saya tua nanti. Saat berusia 30 tahun, di dalam proposal tersebut saya menuliskan bahwa saya sudah memiliki istri dan anak. Siapa sangka bahwa hal itu benar-benar terjadi? Hari ini usia saya menginjak kepala 3, dan saya dianugerahi seorang istri dan seorang anak, alhamdulillah.

Menjadi seorang suami dan ayah adalah anugerah luar biasa yang saya terima dalam 2 tahun belakangan ini. Tentu saja bukan tugas yang ringan dan mudah, karena pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Meski berat, semua laki-laki di dunia ini menurut saya harus bersedia ketika tanggung jawab itu diamanatkan kepadanya.

Jadi, jangan pernah menyepelekan ucapan atau doa. Karena syahadat adalah ucapan, yang menandakan seseorang menjadi muslim atau bukan. Ijab qabul adalah ucapan, yang menandakan seorang laki-laki telah sah menikahi seorang perempuan atau tidak. Yuk kita jaga ucapan dan lisan kita.

Akhirnya, selamat ulang tahun diri sendiri. 🙂

Problem Solving Training for Baby

Bayi Adli saat ini telah menginjak usia 4 bulan, dimana di usia tersebut bayi seharusnya sudah lebih aktif bergerak dan lebih banyak ‘ngoceh’, sudah bisa menegakkan kepala dan mulai berlatih tengkurap. Ocehannya tidak sekedar berbunyi ‘ooo … ooo’ atau ‘aaa … aaaa’ kini ocehan bayi Adli sudah bervariasi dengan nada yang berbeda untuk setiap keinginan. Misalnya saat ingin nenen berbeda dengan ocehan saat ngantuk, tangisan saat pup berbeda dengan tangisan saat bete/gerah. Tenaganya sudah semakin kuat, senang menendang-nendangkan kaki, menoleh-nolehkan kepala dan menggerak-gerakkan tangan.

Di usia 4 bulan, bayi sudah bisa diajak spa. Setelah mencari-cari tempat spa yang murah dan bagus, akhirnya pilihan kami jatuh ke RSIA Muhammadiyah Taman Puring di Jakarta Selatan. Menurut bidannya sih spa sudah bisa dilakukan di usia 3 bulan bagi bayi yang lahir di usia kandungan normal (>40w), sedangkan bagi bayi yang lahir prematur spa bayi baru bisa dilakukan di usia di atas 5 bulan.

Dengan biaya Rp125 ribu, bayi Adli sudah mendapatkan pijat selama 30 menit dan renang selama 15 menit atau dapat diperpanjang jika bayi suka. Ternyata teknik pemijatan yang dilakukan sedikit berbeda dengan yang selama ini dilakukan mbah uti-nya bayi Adli di rumah. Alhamdulillah istri saya belajar banyak dari pemijatan ini. Dan bayi Adli juga terlihat senang dan bahagia saat dipijat. Pemijatan dimulai dari kaki, tangan, wajah serta punggung.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah 30 menit pemijatan, dilanjutkan dengan berenang. Terlebih dahulu bayi Adli dipakaikan pelampung yang membatasi kepala dan badannya, agar kepalanya tidak tenggelam saat berenang. Air hangat dan alunan lagu-lagu anak telah terlebih dahulu disiapkan.

Ajaibnya, begitu menyentuh air, bayi Adli sudah refleks menggerak-gerakkan kakinya. Bayi Adli terlihat sangat kegirangan, karena sejak lahir memang suka dengan air. Bidan yang membantu pun mengatakan jika bayi Adli sudah memiliki bakat berenang, tinggal dikembangkan saja dengan di-spa secara rutin.

1110987612

Ternyata pemijatan yang telah dilakukan sebelumnya berfungsi untuk melemaskan otot-otot dan merangsang gerakan bayi. Renang, selain berguna agar bayi lebih aktif bergerak juga ternyata memiliki banyak manfaat. Melatih kepercayaan diri, melatih agar bayi bisa berjalan pada waktu yang tepat (tidak terlambat karena kaki kurang dilatih gerak) serta melatih bayi memiliki kemampuan problem solving. Saat masuk ke air, bayi harus bisa mengambil keputusan apakah akan diam di tempat atau menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Inilah yang dimaksud dengan problem solving training. Selain itu bayi yang aktif dan mampu menggerak-gerakkan kaki dan tangan saat berenang cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Orang tua/pemandu bisa membantu menggerak-gerakkan air agar bayi lebih aktif bergerak. Renang dilakukan selama 15 menit atau dapat diperpanjang jika bayi terlihat bahagia dan menikmati. Dan bayi Adli menghabiskan waktu 30 menit sendiri untuk berenang. Alunan lagu-lagu anak dan bola-bola berwarna-warni membantu bayi agar lebih aktif saat berenang.

Berenang menghabiskan energi yang banyak bagi bayi. Oleh karena itu segera setelah berenang bayi agar diberikan asupan asi/susu, setelahnya bayi dapat tidur nyenyak karena telah beraktivitas yang lebih dari biasanya.

Bayi Adli terlihat senang dan bahagia saat berenang, mami dan papinya pun terlihat girang bukan main saat melihatnya. Bagi ayah atau bunda yang memiliki anak di atas 3 bulan, maka spa bayi bisa dijadikan alternatif hiburan dan sarana berlatih bagi bayi. Kuy!

Penghasilan dalam UU PPh

contoh-surat-keterangan-penghasilan

Siapa yang tidak mengenal istilah Pajak Penghasilan (PPh), hampir semua orang Indonesia mengenal istilah tersebut. Terlebih dewasa ini kesadaran masyarakat akan pajak semakin meningkat sebagai akibat edukasi yang dilakukan oleh pemerintah sudah semakin baik. Apa sih sebenarnya penghasilan itu?

Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun. Penghasilan menurut UU PPh dibagi menjadi tiga jenis, penghasilan yang menjadi objek pajak, penghasilan yang dikenai PPh Final dan Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak.

UU PPh mengenal penghasilan dalam arti luas. Pada dasarnya seluruh tambahan kemampuan ekonomis dengan nama dan dalam bentuk apapun merupakan penghasilan yang dikenai pajak, kecuali diatur bahwa penghasilan itu bukanlah objek pajak. Penghasilan dapat diperoleh dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Penghasilan tersebut dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak. Oleh karena itu salah satu cara menghitung penghasilan Wajib Pajak dapat dilakukan dengan analisis biaya konsumsi atau analisis harta.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa seluruh penghasilan dikenai pajak, kecuali UU menentukan bahwa penghasilan tersebut bukanlah objek pajak.

UU PPh kita mengatur jenis-jenis penghasilan dalam pasal-pasal berikut:
a. Penghasilan yang dikenai PPh: Pasal 4 ayat (1)
b. Penghasilan yang dikenai PPh Final: Pasal 4 ayat (2)
c. Penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak: Pasal 4 ayat (3)

Semoga bermanfaat.

Hati-Hati dengan Piutang

utang

Utang piutang ternyata memiliki banyak implikasi hukum. Tidak hanya hukum agama dan perdata, namun utang piutang juga memiliki implikasi dari segi hukum pajak. Berikut saya coba uraikan.

Dalam akuntansi kita mengenal kaidah harta merupakan penjumlahan dari kewajiban dan modal. Artinya, kewajiban dan modal yang kita laporkan merepresentasikan harta yang kita miliki dan seharusnya kita laporkan dalam SPT Tahunan PPh.

Bagi yang berhutang, melaporkan hutang dalam SPT Tahunan PPh jelas menginformasikan bahwa yang bersangkutan memiliki hutang kepada pihak tertentu. Tentu saja hutang tersebut harus bisa direpresentasikan dalam harta yang dimilikinya, kecuali hutangnya dipergunakan untuk konsumsi.

Bagi yang menghutangkan, piutang merupakan harta yang harus dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh. Jelas kita ketahui bersama bahwa piutang merupakan kategori aset. Yang harus diperhatikan bagi pihak yang menghutangkan, apakah piutang tersebut sudah dilaporkan dalam SPT tahunan PPh sebagai harta atau belum. Karena jika kita tidak melaporkan piutang tersebut sebagai harta, namun pihak yang berhutang melaporkan hutang tersebut dalam SPT nya, otoritas pajak akan menganggap kita memiliki harta yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh kita.

Ilustrasi:

Tuan Adli memiliki hutang sebesar Rp200 juta kepada Tuan Makarim. Hutang tersebut diperoleh tahun 2015 untuk kekurangan pembelian tanah. Tuan Adli telah melaporkan hutang tersebut dalam SPT Tahunan PPh 2015. Namun, Tuan Makarim lalai melaporkan piutang tersebut dalam SPT Tahunan PPh nya. Dalam hal ini, Tuan Makarim dapat dianggap belum melaporkan harta berupa piutang tersebut.

Semoga bermanfaat.

Kini Lapor SPT bisa Pakai e-Form

eform

Entah ini kemajuan atau kemunduran ya bagi DJP. Disaat semua hal bisa dilakukan secara daring, DJP justru kembali ke semi-daring.Dengan e-Form, kini Wajib Pajak bisa terlebih dahulu mengisi SPT di Formulir, kemudian menguploadnya di website djponline.

Namun ternyata bukan soal kemajuan atau kemundurannya, justru DJP mengklaim bahwa e-Form merupakan fasilitas untuk mempermudah Wajib Pajak. Tidak bisa kita pungkiri bahwa masih ada wilayah atau masyarakat di Indonesia yang belum terjangkau internet secara penuh, atau bahkan tidak ada internet sama sekali. Serta tidak jarang juga server djponline melambat di detik-detik terakhir pelaporan SPT Tahunan. Oleh karena itu dengan e-Form Wajib Pajak bisa mengisi formulir secara online terlebih dahulu, baru mengunggahnya di situs djponline.

Untuk membuka eForm Wajib Pajak terlebih dahulu menginstall aplikasi form viewer yang bisa diunduh di pajak.go.id atau di laman djponline atau bisa juga diklik disini. Saat ini formulir eForm tersedia bagi SPT 1770 atau 1770S bagi Wajib Pajak orang pribadi.

Jadi, tinggal pilih saja mau pakai efiling langsung atau semiefiling: dengan eForm.

Cerita Pendek Untuk Sebuah Kisah yang Panjang

Haloo… jika tulisan ini bisa saya selesaikan, tulisan ini akan menjadi curhatan saya yang pertama di tahun 2017, hehe. Windy Ariestanty, pada sebuah pelatihan menulis yang saya ikuti mengatakan bahwa writing is about rewriting. Sedihnya sejak akhir 2016 saya mulai jarang menulis. Dan tentu saja itu bukan tanpa alasan.

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, akhir tahun 2016 kami sekeluarga diberkahi kebahagiaan yang luar biasa dengan hadirnya buah hati kami. Lahir melalui operasi caesar di RS Setia Mitra Jakarta Selatan dengan berat 3.1 kg dan panjang 49 cm, kami beri nama Adli Makarim.

Adli Makarim saya ambilkan dari bahasa Arab, karena dalam agama Islam, AlQuran yang menjadi panutan hidup juga diturunkan dan ditulis dengan bahasa Arab. Jadi bisa disebut bahasa Arab merupakan bahasa ibu bagi umat Islam. Manusia yang akan berbuat adil untuk kemuliaan, begitu kira-kira arti nama anak Adli Makarim.

Nah, sejak lahirnya Adli, otomatis waktu saya tercurah sepenuhnya untuk dia. Apalagi di awal-awal dia lahir, jarang sekali saya bisa merasakan tidur nyenyak. Saya kira semua orang tua mengalami hal yang sama ya, jadi rasanya tidak pantas kalau saya mengeluh 🙂 Sehingga wajar saja jika waktu membaca buku dan menulis saya juga ikut berkurang banyak. *sad*

Akhir Januari 2017, saya mengikuti pelatihan menulis yang diadakan majalah internal kantor. Windy Ariestanty—yang novelnya belum selesai saya baca—mengisi sesi menulis narasi dengan apik. Agak ironis sih ya, ikut pelatihan menulis tapi frekuensi menulis saya malah menurun. Pelatihan diadakan di Trizara Resort, sebuah resor dengan konsep yang entah apa namanya, kamarnya terdiri dari tenda-tenda dengan fasilitas hotel berbintang, mirip dengan Tanakita di Sukabumi.

Pulang dari pelatihan menulis, saya sekeluarga harus pindahan rumah. Kontrakan kami habis bulan Maret, jadi karena gubuk yang kami beli sudah siap ditempati, kami memilih untuk segera pindah pada akhir Januari 2017. Dari Radio Dalam di Jakarta Selatan, kami pindah ke Sawangan di Depok, Jawa Barat. Untuk menuju kesana, kami harus melewati 3 provinsi: DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Kebayang kan gimana jauhnya saya berangkat ke kantor saya yang berlokasi di Jakarta, sudah sama seperti supir bis AKAP. Lagi-lagi menjadi ayah, suami dan kepala keluarga menuntut saya untuk tidak mengeluh.Syukuri saja, begitu ujar ibu saya.

Rumah sendiri, meskipun kecil dan sempit terasa lapang dan adem, karena kami tidak lagi ngontrak di bawah ketiak orang lain. Yang sangat saya syukuri adalah kami sekeluarga betah disana, termasuk Adli yang baru menginjak 3 bulan waktu itu. Dan serunya di rumah sendiri adalah, kita bisa melakukan apa saja dengan rumah kita. Karena tidak ada jalan motor, akhirnya saya membeli batu alam yang sudah jadi dan siap pasang (seperti ubin). Saya bisa memasangnya sendirian? tentu saja tidak. Untung sekali ada ayah mertua yang siap membantu saya memasangkannya.

Selanjutnya: kanopi. Meski belum ada mobil, saya harus memastikan bahwa motor saya bisa parkir dengan nyaman tanpa terkena panas dan hujan. Alhamdulillah ada rejeki buat memasang kanopi. Dan ternyata memilih kanopi juga harus jeli ya, karena harganya sangat bervariasi, padahal dari segi kualitas sebenarnya mirip-mirip saja. Kebanyakan mereka mengatakan bahwa kanopi mereka anti UV, tidak berisik saat hujan dan tidak karatan. Penjual model ini biasanya menawarkan kanopi dengan harga di atas Rp300 ribu per meternya. Saya memilih kanopi dari baja ringan dengan harga kurang Rp210rb per meternya. Murah dan efisien.

Menanam rumput juga ternyata butuh kejelian sendiri, karena kita harus rajin menyiraminya pagi dan sore serta mencabut rumput liar yang kadang tumbuh diantaranya. Alhamdulillah rumput yang baru ditanam akhir Januari kemarin sekarang sudah mulai menyebar dan hampir menutup seluruh halaman rumah… senangnya.

Tanggal 4 bulan ini Adli sudah 4 bulan. Sungguh anak adalah kebahagiaan yang paling utama bagi orang tua ya. Sudah pinter ngoceh dan marah-marah kalau keinginannya tidak dipenuhi. Sudah mengenali mana papinya, mana maminya. Sudah pintar menolak ajakan orang jika sedang tidak ingin digendong orang tersebut, sudah mulai kelihatan gigi susunya, dan semoga sebentar lagi bisa tengkurep. Amiin.

Dan sekarang, setiap hari kurang lebih saya harus menempuh 1 hingga 1,5 jam perjalanan ke kantor. Meskipun jauh, alhamdulillah selalu terasa dekat karena saya senang menjalaninya. Keluarga: istri dan anak ternyata menjadi booster terbesar saya untuk berangkat ke kantor dan kembali pulang ke rumah. Saat berangkat saya niatkan mencari rizki yang halal untuk menghidupi anak dan istri, serta saat pulang saya niatkan untuk segera bertemu dengan Adli yang suka heboh kalau ketemu papinya.

Sekian cerita pendek saya tentang sebuah kisah yang panjang. Terima kasih sudah mampir 🙂

Salam.