Kalau Sabun Bisa, Mengapa Harus Pake Detergent?

BEBERAPA minggu ini saya berkutat dengan cucian kotor, terutama cucian bayi, hehe. Menurut kebiasaan masyarakat kami, mencuci baju kotor bayi merupakan kewajiban seorang ayah. Tentu saja model ‘ayah baru’ seperti saya merasa tertantang dengan tugas tersebut. hehehe, meskipun lama-lama nyucinya pake mesin cuci juga.

Baju kotor bayi bisanya tidak cuma sekedar kotor, karena kalau gak kena pipisnya ya kena pup nya dedek bayi. Oleh karena itu, bagi bapak-bapak, mencuci baju bayi menjadi tantangan sendiri, karena banyak kejutan. Bayi yang baru lahir beberapa hari biasanya kotorannya berwarna hitam, namun seiring berlalunya waktu kotorannya akan menguning seperti kotoran manusia dewasa.

Untungnya, kotoran dedek bayi baunya khas, dan berbeda dari bau kotoran orang dewasa. Jadi mungkin disebabkan karena itu adalah kotoran anak sendiri, saat mencuci saya tidak merasa jijik sedikit pun.

Nah, sedikit berbagi cerita tentang mencuci pakaian bayi. Pertama jangan pake detergent sembarangan, terutama karena kulit bayi masih sensitif. Jangan pake detergent yang biasa dipakai untuk mencuci baju orang dewasa, gunakan detergent khusus bayi, hehe.

Meskipun sudah pake detergent khusus bayi, jangan berharap banyak sama kualitasnya. Karena tetap saja tidak bisa cukup sekali kucek, harus dikucek-kucek puluhan kali agar kotoran dedek bayi bisa ilang. Nah, biar tidak capek mengkucek, kita bisa menggunakan sabun mandi, sabun batangan (bar soap) yang biasa digunakan untuk mandi orang dewasa. Sebut saja GIV, Lux atau sabun mandi lainnya, heheheh. 

Jadi sabun mandi batangan selain bisa membersihkan kotoran/daki pada orang dewasa saat mandi, sabun batangan juga bisa memudahkan saat kita mencuci kotoran bayi. Tidak cuma kotoran bayi, kotoran yang melekat pada baju pada kenyataannya akan dengan mudah dibersihkan dengan sabun batangan.

Jadi, kalau ada sabun batangan, mengapa harus pake detergent? hehehe

adli-makarim-2

Akhirnya, Saat yang Mendebarkan itu Telah Lewat

BAGI saya, ada beberapa kejadian mendebarkan yang sangat membekas bagaimana dagdigdug-nya saya melewati kejadian-kejadian itu. Pertama, saat ijab qobul. Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana nervous-nya saya waktu itu. Gara-gara duduk bersila, saya sampai harus menahan kebelet pipis dan semutan secara bersamaan. Kedua, saat sidang skripsi. Meski degdegan, saya sempat dibuat jengkel dengan tim penguji yang tidak memperhatikan presentasi saya, malah ngobrol sendiri -,-. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai A. Dan yang ketiga, kejadian yang baru beberapa hari yang lalu saya lewati, saat istri saya melahirkan anak pertama kami.

Kurang lebih tiga bulan setelah menikah, suatu pagi istri saya memdatangi saya sambil senyam-senyum. Ternyata istri saya memberikan kejutan kepada saya berupa alat testpack kehamilan yang baru saja dipakainya yang menunjukkan hasil dua strip alias positif. Tentu saja saat itu saya girang bukan main. Kami berdua sama-sama menikah di usia yang tidak lagi muda, sehingga kehadiran buah hati merupakan sesuatu yang sangat kami nanti-nanti.

Soal testpack alau alat penguji kehamilan ini sebenarnya ada cerita tersendiri. Sebulan setelah ijab qabul, istri saya minta dibelikan testpack. Awalnya saya belikan hanya 1 buah, dengan harga yang relatif mahal, dengan harapan bisa lebih akurat daripada testpack yang murah, hehe. Namun beberapa kali dibeli alat tersebut selalu menunjukkan hasil negatif setiap kali diuji, haha. Ya iya namanya juga belum dikasih ya. Sampai sedikit putus asa, biar hemat, saya pun membeli testpack yang relatif murah, yang harga satuannya sekitar Rp3-4 ribuan per buah, padahal sebelumnya saya biasa membeli testpack dengan harga 10 kali lebih mahal, haha. Hemat bok!

Nah setelah hasil testpack menunjukkan double strip, saya pun membeli beberapa varian testpack, dari yang murah banget sampai yang mahal banget, dengan teknologi termutakhirkan, halah. Maksudnya testpack digital. Istri saya pun secara rutin melakukan pengujian kehamilannya pada testpack-testpack tersebut setiap selang sehari sekali. Entah kenapa harus selang sehari sekali, hahaha, hanya ikut kata orang saja. Alhamdulillah 4 testpack yang dipakai menunjukkan hasil positif. Sejak saat itu kami pun sedikit yakin dan akan segera memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan.

Kabar kehamilan istri saya menjadi kabar yang sangat menggemberikan bagi kami dan keluarga. Karena bagi keluarga saya, kehadiran anak saya akan menjadi cucu kedua dalam keluarga ibu saya, sementara bagi keluarga istri, kehadiran anak kami akan menjadi cucu yang ketujuh. Semua orang bergembira, alhamdulillah.

Saya ingat betul, ketika saya menceritakan kehamilan istri saya kepada sahabat saya, Rio, dia berpesan “tolong dijaga ya kehamilan Yuli (nama istri saya-red)”. Saya pun agak tidak mengerti dengan pesan Rio. Ya intinya saya harus menjaga kehamilan istri saya agar selamat, sehat dan lancar sampai persalinan. Thanks Rio buat pesannya, karena gara-gara pesan itu sejak hamil saya melarang istri saya mengendarai motor, naik motor sama saya pun harus sangat pelan, saya larang bepergian jauh dan kecapean, dan segudang larangan lainnya. Semuanya tidak lain dan tidak bukan saya lakukan agar kandungan istri saya sehat, anak dan ibunya selamat sampai persalinan kelak, amin.

Sejak istri mengandung, saya merasakan banyak hal berubah, terutama pada diri saya sendiri. Saya harus mempersiapkan diri menjadi seorang ayah. Saya selalu senyum-senyum sendiri saat saya membayangkan bahwa saya akan mendapat gelar ayah, gelar yang telah diperoleh teman-teman seangkatan bertahun-tahun yang lalu, dan saya baru akan mendapatkannya sekarang. Meskipun bagi saya sebenarnya hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah. Perubahan yang lain, saya merasakan jatuh cinta. Pertama, istri saya terlihat semakin cantik saat hamil, hehe (semoga istri saya tidak membaca tulisan ini); kedua saya juga catuh cinta pada anak kami. Saya jatuh cinta, bahkan sebelum saya bertemu dengan anak kami. Setiap malam saya ajak ngobrol, sebelum tidur dan sesudah bangun tidur selalu saya tuntun berdoa. Saya jatuh cinta, …

Singkat cerita kehamilan istri saya sudah menua dan kami sudah harus mempersiapkan kelahiran si kecil. Kami memanfaatkan weekend untuk melakukan senam hamil, jika tidak terlalu lelah kami akan berbelanja keperluan bayi, atau sekedar jalan-jalan atau nonton. Untuk memeriksakan kehamilan pun kami telah mencoba beberapa rumah sakit dan dokter, dari yang termahal sampai termurah namun berkualitas, hehe. Kami bahagia mempersiapkan diri menyambut kelahiran pangeran kecil kami, karena beberapa kali di-USG dokter selalu menunjukkan ‘monas’ bayi kami, yang artinya dia berjenis kelamin laki-laki, hehehe. Bisa dibayangkan kan betapa senangnya kami waktu itu, terutama saya.

Setiap kali memeriksakan kehamilan, pertanyaan yang selalu tanyakan kepada dokter kami adalah “apakah bayi sudah masuk panggul atau belum?” bahkan hingga kehamilan istri saya berumur 39 minggu, jawaban dokter selalu “belum”. Meski mendapat jawaban negatif, istri saya tidak pernah berputus asa. Setiap pagi kami selalu menyempatkan diri berjalan-jalan pagi, dan setiap hari istri saya melakukan olah raga jongkok berdiri, hingga ratusan kali, seperti saran bidan.

Namun apadaya, manusia boleh berencana, Tuhan yang memutuskan. 40 minggu telah berlalu, dan bayi kami belum juga masuk panggul istri saya. Padahal berdasarkan pemeriksaan panggul istri saya bagus dan cukup. Akhirnya kami memutuskan menunggu lagi, hingga satu minggu lagi. Di usia 41 minggu, kami mencari second opinion atas kondisi bayi kami dengan melakukan pemeriksaan ke dokter lain. Jawabannya masih tetap sama, bahwa bayi belum masuk panggul, masih jauh dari panggul. Bahkan dokter tersebut menyarankan agar bayi kalau bisa segera dilahirkan dalam 1-2 hari karena usianya sudah 41 minggu, terlebih beratnya menurut pemeriksaan USG sudah 3,6 kg.

Akhirnya kami kembali memeriksakan diri ke dokter kami. Dokter masih mengatakan hal yang sama, bahwa bayi belum masuk panggul, lalu ada informasi tambahan yang baru kami ketahui di hari itu, bahwa ada lilitan tali pusar di leher bayi kami dan posisi bayi kami yang belum membentuk siput, alias masih menghadap ke atas, sehingga tidak mungkin dilahirkan secara normal.

Setelah itu dokter menjadwalkan operasi c-section atas kehamilan istri saya. Meski berat, keputusan ini harus tetap kami ambil karena bagaimanapun juga keselamatan ibu dan bayi adalah hal yang utama. Saya merasakan betul bahwa keputusan ini berat bagi istri saya, terlebih sejak awal kehamilan istri saya sangat menginginkan melahirkan secara normal. Sekali lagi, Tuhan yang menentukan.

Hari Jumat, tanggal 4 Nopember 2016 jam 11.00 WIB istri saya dijadwalkan melakukan operasi di RS. Kalau boleh saya ceritakan, rasanya campur aduk. Dan itu adalah salah satu kejadian yang rasa degdegannya akan selalu saya kenang. Di satu sisi saya bahagia, bahwa bayi kami akan segera dilahirkan. Namun di sisi lain saya takut sekaligus waswas karena istri yang amat sangat saya cintai akan segera dioperasi.

Satu hal yang membuat saya sedih adalah (dan saya masih bersedih sampai sekarang), dokter melarang saya menemani istri saya di ruang operasi. Padahal dari beberapa referensi yang saya baca, suami dapat menemani istri di ruang bedah. Ternyata RS kami memiliki kebijakan yang berbeda. Saya yang cengeng cuma bisa menangis (di dalam hati), karena bahkan sesaat sebelum masuk ruang bedah, istri saya masih tersenyum, sebelum saya melepasnya dengan sebuah kecupan di kening dan di pipi.

unknown-3

Degdegan ijab qobul maupun sidang skripsi hanya saya rasakan dalam beberapa menit saja. Paling lama 15 menit. Namun degdegan istri dioperasi rasanya saya rasakan sangat lamaa. Setengah jam setelah istri saya dibawa masuk ke ruang bedah, saya dipanggil oleh perawat. Saya diberi selamat karena bayi kami sudah lahir, namun istri saya masih “dirapikan” begitu istilah perawat, maksudnya dijahit.

Saya pun diajak menemui bayi kami, yang saat itu tengah dibersihkan dan menangis kencang. Begitu melihat muka bayi kami, saya langsung menangis. Rasanya saat itu saya ingin berteriak “Naak, ini papi kamuuuu” tapi saya malu karena ada beberapa perawat/bidan di sana.

Saya pun diberi tahu oleh bidan bahwa anak saya laki-laki, sesuai hasil USG. Saya diminta memeriksa/tepatnya memperhatikan saat bidan memeriksa jenis kelamin dan jumlah jari-jari tangan dan kaki, bentuk mulut, hidung, pipi dan mata. Setelah dibersihkan dan dibedong, saya meminta izin untuk mengadzani dan mengqamati bayi kami, seperti yang diajarkan pendahulu kami dalam agama Islam.

Saya takjub, saat saya bacakan ta’awudz di telinga kanan, tangis bayi kami yang kencang langsung berhenti. Dengan bergetar saya lantunkan adzan dan iqamat. Setelah itu bayi kami dibawa ke ruangan bayi untuk diinkubator. Karena takut tertukar dengan bayi lainnya, saya menunggu bidan membuatkan identitas untuk bayi kami. Setelah itu saya keluar untuk menemui keluarga dan memberitahukan kabar gembiranya, tentu saja setelah saya jepret sana sini dengan bayi kami, hehehe. 

unknown-2

unknown

Tidak lama setelah itu, saya dipanggil kembali untuk bertemu dengan istri saya. Saat itu istri saya belum bisa berkata-kata, yang dia lakukan hanya menangis sambil berbisik “sakiittt….“. Saya tidak tahu harus berkata apa, sambil menangis saya hanya bisa bilang “sabar yang sayaangg …, dek Adli sudah lahir, kamu sudah ketemu kan?” istri saya hanya menjawab dengan anggukan.

Jadi, bagi bapak-bapak yang istrinya tengah mengandung, baik melahirkan normal maupun operasi sama-sama sakitnya, namun tentu saja melahirkan normal merupakan pilihan terbaik. Saran saya, hanya pilih operasi jika memang dokter mengharuskannya.

Dan sekarang, alhamdulillah. Bayi kami sudah berada di tengah-tengah kami, sebagai penyejuk dan pelengkap kebahagiaan. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang bisa kami dustakan?

Kami beri nama bayi kami Adli Makarim, lahir di RS Setia Mitra, Jakarta Selatan pada hari Jumat, 4 Nopember 2016 melalui operasi c-section dengan berat badan 3,1 kg dan panjang badan 48 cm. Terima kasih kepada keluarga besar, sahabat dan handai taulan yang memberikan semangat dan bantuan tak henti kepada kami. Semoga Allah membalas kebaikan bapak/ibu sekalian dengan kebaikan lain yang berlipat. Amiin.

unknown-4

Tax Amnesty dan Antusiasme Wajib Pajak

untitled-design

SAYA ikut merasakan bagaimana hiruk pikuk pelayanan amnesti pajak. Wajib Pajak dengan penuh kesabaran mengantri dari pagi hingga malam hari untuk menyerahkan surat pernyataan harta. Berdasarkan pengalaman saya menjadi petugas penerima dan peneliti berkas SPH, pengecekan kelengkapan dan kebenaran berkas SPH Wajib Pajak memakan waktu yang tidak sebentar. Pengecekan tersebut meliputi:

  • Pengecekan validitas NPWP
  • Pengecekan apakah Wajib Pajak sedang dilakukan penyidikan
  • Pengecekan apakah Wajib Pajak sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan
  • Pengecekan piutang pajak Non PBB
  • Pengecekan file excel Wajib Pajak
  • Pengecekan kebenaran pengisian SPH
  • Pengecekan kebenaran pengisian lampiran SPH
  • Pengecekan lampiran dokumen hutang
  • Pengecekan kebenaran penghitungan uang tebusan
  • Pengecekan pembayaran uang tebusan
  • Pengecekan lampiran-lampiran (meliputi surat pernyataan, surat pengakuan utang, surat kuasa, dll)

Mengingat banyaknya item yang harus dicek oleh petugas, maka penerimaan berkas SPH memakan waktu yang lama, terlebih apabila ada kekurangan persyaratan maupun kesalahan pengisian file excel.

Meskipun memakan waktu yang lama, ternyata hal tersebut tidak menurunkan semangat dan antusias Wajib Pajak dalam memanfaatkan amnesti pajak. Saya ikut kagum melihat Wajib Pajak (atau perwakilannya: staff konsultan pajak maupun konsultan pajaknya sendiri) mengantri dari subuh hingga malam hari. Bahkan mendekati hari-hari terakhir, beberapa Wajib Pajak rela tidur di kantor agar bisa menyampaikan SPH tepat waktu.

Seperti yang telah disampaikan oleh Presiden RI dan Menteri Keuangannya, deklarasi harta dan pembayaran uang tebusan pada periode pertama amnesti pajak memberikan hasil yang menggembirakan. Semoga keberhasilan tersebut dapat terus berlanjut hingga periode ketiga amnesti pajak berlaku. Tentu saja keberhasilan tersebut berkat izin Tuhan YME dan kerja keras DJP, dan yang tetap memiliki andil paling besar atas keberhasilan tersebut adalah antusiasme Wajib Pajak.

Kini bulan telah berganti, dan sekarang tarif sudah naik. Bagi Wajib Pajak yang belum memanfaatkan amnesti pajak, masih dapat menghitung-hitung plus minus nya mengikuti amnesti pajak hingga akhir Desember tahun ini, atau akhir Maret tahun depan.

Wajib Pajak dan konsultan pajak adalah mitra. Konsultan pajak dan DJP adalah  mitra, karena konsultan pajak merupakan kepanjangan tangan DJP yang masih belum mampu menjangkau seluruh Wajib Pajak. Wajib Pajak dapat memanfaatkan amnesti pajak dengan atau tanpa bantuan konsultan pajak, karena tata cara pengisian maupun perhitungan uang tebusannya sama saja.

Yuk sampaikan SPH!

Jika Anda Seorang Artis/Selebritis, Begini Cara Menghitung Pajaknya

artis-harus-bayar-pajak-juga-iya-doonk

HALO Para Pembaca, kali ini saya ingin menulis tentang bagaimana cara menghitung pajak-pajak yang terutang bagi seorang artis/selebritis. Yang saya maksud artis di tulisan ini adalah artis seperti yang ada di pikiran kebanyakan orang Indonesia: selebritis, bintang film, bintang iklan, model, penyanyi, pemain sinetron, dsb. Mengapa saya tiba-tiba ingin menulis mengenai hal ini? Hehe, ada beberapa alasan. Pertama, sering kali saya menemukan notifikasi di blog saya bahwa orang-orang banyak mencari (search terms) tentang PPh Artis, Pajak Artis, Cara Menghitung Pajak Artis, dan lain sebagainya.

Artis, apapun profesinya, cara penghitungan pajaknya hampir sama. Hal ini dikarenakan UU PPh mengatur tata cara pengenaan dan penghitungan PPh bagi seluruh warganya. Permasalahannya adalah–seperti yang telah sama-sama kita pahami–artis biasanya memiliki penghasilan dari sumber yang banyak, entah dari profesinya sebagai artis maupun dari usahanya apabila dia juga melakukan kegiatan usaha.

Pada dasarnya, artis harus menghitung PPh yang terutang sendiri. Hal ini dikarenakan UU PPh kita menggunakan self assessment system dimana Wajib Pajak diberi kepercayaan penuh untuk menghitung dan memperhitungkan serta melaporkan sendiri besarnya pajak-pajak yang terutang. Namun, terdapat juga mekanisme pemotongan dan pemungutan oleh pihak lain atas penghasilan yang diterima oleh subjek pajak tertentu.

Apabila artis melakukan pekerjaan (sebagai pekerja artis), maka dalam hal ini artis memberikan jasa (berupa jasa di bidang kesenian) kepada orang lain: pemberi penghasilan. Maka atas penghasilan yang telah dibayarkan dipotong PPh Pasal 21 oleh pemberi penghasilan tersebut. Sedangkan apabila artis menerima penghasilan dari pihak yang bukan pemotong pajak (misalnya penghasilan dari orang pribadi) maka atas penghasilan tersebut dihitung sendiri besarnya PPh yang terutang.

Dalam ketentuan perpajakan kita artis diklasifikasikan sebagai orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas. Sehingga artis melaporkan PPh nya dengan menggunakan formulir 1770. Untuk lebih jelasnya akan saya berikan ilustrasi sebagai berikut:

Tuan Rasi Ahmad Bintang merupakan seorang pekerja seni. Sepanjang tahun 2015, Tuan Rasi memperoleh pekerjaan dan penghasilan sebagai berikut:

  1. Menjadi bintang iklan Shampo Bersih dengan total kontrak Rp120 jt, atas penghasilan ini Tuan Rasi mendapat bukti potong PPh Pasal 21 sebesar Rp20 jt;
  2. Menjadi bintang iklan pembersih muka Novea dengan total kontrak Rp240 jt, atas penghasilan ini Tuan Rasi mendapat bukti potong PPh Pasal 21 sebesar Rp38 jt;
  3. Menjadi pemain utama pada film Bintang Timur Asia dengan total kontrak Rp300 jt; atas penghasilan ini Tuan Rasi dipotong PPh Pasal 21 Rp50 jt;
  4. Menjadi bintang tamu pada acara yang diselenggarakan oleh koleganya, dengan bayaran Rp50 jt. Atas penghasilan ini tidak dipotong pajak;
  5. Mendapatkan permintaan endorse kemeja pria oleh seorang fans, dengan bayaran Rp20 juta;
  6. Penghasilan dari usahanya sebagai desainer baju artis sebanyak Rp1.2 miliar; dan
  7. Setiap bulan Tuan Rasi membayar PPh Pasal 25 sebesar Rp2 jt / bulan selama 12 bulan sepanjang tahun 2015.

Maka atas penghasilan-penghasilan tersebut, Tuan Rasi dapat membuat daftar seperti ini:

Sumber/Jenis Penghasilan Jumlah PPh Dipotong
Bintang Iklan Shampo Bersih 120.000.000,- 20.000.000,-
Bintang iklan pembersih muka Novea 240.000.000,- 38.000.000,-
Pemain film Bintang Timur Asia 300.000.000,- 50.000.000,-
 Bintang tamu acara kolega 50.000.000,- 0,-
 Endose kemeja pria 20.000.000,- 0,-
 Penghasilan desainer baju artis 1.200.000.000,- 0,-
 Jumlah 2.030.000.000,- 108.000.000,-

Karena penghasilan Tuan Rasi masih di bawah Rp4,8 miliar, maka Tuan Rasi menghitung penghasilan neto-nya menggunakan norma. Norma dari penghasilan neto Tuan Rasi diasumsikan sebagai berikut:

a. Norma untuk penghasilan sebagai artis (penghasilan nomor 1 s.d. 6) sebesar 50%
b. Norma untuk penghasilan dari desainer baju artis sebesar 32%

Apabila Tuan Rasi berstatus K/1, maka penghitungan PPh terutang Tuan Rasi selama tahun 2015 adalah sebagai berikut:

Uraian Jumlah
Penghasilan neto dari penghasilan keartisan (50% x Rp730.000.000,-) 365.000.000,-
Penghasilan neto dari penghasilan sebagai desainer baju artis (32% x Rp1.200.000.000,-) 360.000.000,-
Jumlah penghasilan neto 725.000.000,-
PTKP (K/1) 45.000.000,-
Penghasilan Kena Pajak (PKP) 680.000.000,-
PPh Terutang 149.000.000,-
Kredit Pajak:
a. PPh Pasal 21
b. PPh Pasal 25
Jumlah Kredit Pajak
108.000.000,-
24.000.000,-
132.000.000,-
PPh Kurang Bayar 17.000.000,-

Semoga bermanfaat bagi para artis. Jika Anda adalah seorang artis dan membaca tulisan ini, semoga bisa meninggalkan jejak komentar di bawah ini, hihi. ngarep banget dikomen artis ya🙂

Semoga bermanfaat.

Amnesti atau Tidak?

12092016

HARI ini, sudah hampir setengah jalan kita masuk di bulan September, yang artinya, menurut UU Pengampunan Pajak, sebentar lagi periode pertama pengampunan pajak akan segera berakhir. Dan apakah Anda masih bingung menentukan apakah ikut amnesti atau tidak?

Jika Bapak/Ibu masih bingung apakah akan memanfaatkan amnesti pajak atau tidak, mungkin beberapa pertanyaan berikut ini bisa membantu menjawab kegundahan hati Bapak/Ibu sekalian:

  1. apakah ada harta yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh terakhir?
    Jika ADA, mungkin sebaiknya Bapak/Ibu mempertimbangkan untuk memanfaatkan amnesti pajak dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
    Jika TIDAK ADA dan Bapak/Ibu yakin bahwa seluruh penghasilan Bapak/Ibu telah dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh terakhir, Bapak/Ibu tidak perlu memanfaatkan amnesti pajak.
  2. apakah Bapak/Ibu mempunyai kewajiban melaporkan SPT Tahunan PPh?
    Jika IYA, maka Bapak/Ibu dapat mempertimbangkan untuk memanfaatkan amnesti pajak dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
    Jika TIDAK, maka Bapak/Ibu boleh tidak memanfaatkan amnesti pajak. Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Tahunan PPh sebagaimana diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan nomor 243/PMK.03/2014 adalah Wajib Pajak orang pribadi yang dalam satu Tahun Pajak menerima atau memperoleh penghasilan neto tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
  3. apakah harta yang belum dilaporkan tersebut berupa harta warisan atau harta hibah?
    jika TIDAK, Bapak/Ibu dapat mempertimbangkan untuk memanfaatkan amnesti pajak.
    Jika IYA, Bapak/Ibu dapat melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.
  4. Apakah harta warisan/hibah tersebut sudah dilaporkan di SPT Pewaris atau Pemberi Hibah?
    Jika SUDAH, Bapak/Ibu tidak perlu memanfaatkan amnesti pajak.
    JIKA BELUM, Bapak/Ibu dapat mempertimbangkan untuk memanfaatkan amnesti pajak.

UU Pengampunan Pajak memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu berupa:
a. pelaporan penghasilan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya;
b. pelaporan harta yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya:
dengan membayar uang tebusan yang dihitung dari nilai harta bersih yang belum dilaporkan di SPT Tahunan PPh terakhir.

Yuk, kita manfaatkan amnesti pajak di periode pertama ini. Tinggal beberapa hari saja lho. Semoga bermanfaat.

idul-adha