Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

700-sdrhdt2015

AWALNYA saya tidak mengerti mengapa Eka menjuduli novelnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Lalu semakin saya baca saya jadi mengerti; mengerti mengapa ada kata dendam, ada kata rindu dan ada gambar burung mati dengan gambar hati di dadanya.

Setelah selesai membaca novel ini, saya ingin segera menyimpannya di barisan buku paling belakang, setidaknya agar novel ini tidak terlihat oleh siapapun. Saya tidak ingin anak saya nanti membaca novel ini. Karena ini adalah novel paling porno yang pernah saya baca. Jadi jika Anda ingin menghadirkan bacaan yang penuh tata krama dan sopan santun di perpustakaan/koleksi buku Anda, saya tidak merekomendasikan buku ini, hehe.

Adalah Ajo Kawir, seorang pemuda yang belum berumur dua puluhan, namun harus menanggung derita paling mengerikan yang saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika saya mengalami hal yang sama: alat kelamin Ajo Kawir tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ajo Kawir mengira burungnya tidur, untuk jangka waktu yang tidak pernah dia ketahui. Itulah mengapa gambar novel ini adalah burung yang tidur, tak mau bangun yang juga gambar dan kata-kata yang sama yang akan dituliskan Ajo Kawir di truk yang dibawanya.

Kelamin Ajo Kawir tidak tidur begitu saja, semua itu ada penyebabnya. Berbagai cara sudah dilakukan Ajo Kawir untuk menyembuhkan kelaminnya. Sangkin frustasinya, Ajo Kawir hampir saja memotong kelaminnya sendiri dengan kapak. Untung ada si Tokek, sahabat Ajo Kawir yang mencegahnya.

Meski menderita, kebahagiaan itu akhirnya datang, yakni ketika Ajo berkenalan dengan Iteung, seorang gadis kampung yang juga jago bergulat. Ajo dan Iteung saling mencintai dan menyayangi dan mereka berdua pada akhirnya menikah. Mesti dengan satu risiko: bahwa kelamin Ajo Kawir tidak berfungsi. Dan Iteung, atas nama cinta menerima Ajo apa adanya. Meski hasratnya harus dibayar hanya dengan jari tangan Ajo Kawir.

Ajo Kawir bahagia, Iteung juga nampaknya bahagia. Nampaknya, ya hanya nampaknya. Karena Iteung tetap merindukan kelamin yang normal yang bisa bangun dan membahagiakannya. Hingga suatu hari Iteung ternyata hamil, oleh orang dari masalalunya, Budi Baik.

Ajo Kawir pun pergi dari kehidupan Iteung. Meninggalkan Iteung dengan janin yang dikandungnya. Ajo Kawir merantau, menjadi supir truk yang membawanya kemana saja. Jawa-Medan, Jawa-Aceh, dan lain-lain.

Ajo Kawir merasa dendam, pada orang yang membuat burungnya tidak bisa bangun. Ajo Kawir merasa rindu, rindu pada istrinya, Iteung. Lalu muncullah Juwita, yang meski kehadirannya hanya sebentar, namun banyak membantu Ajo Kawir, terutama dalam membangunkan burungnya yang tidur dan sangat filosofis.

Novel ini, meski porno, banyak memberikan pelajaran kepada kita. Bahwa manusia banyak diperbudak oleh kelamin, bahwa apa yang dilakukan kebanyakan manusia hanyalah untuk memenuhi keinginan kelaminnya. Nafsu. Nafsu selalu menjadi pendorong terbesar manusia dalam berbuat di dunia ini. Oleh karena itu Ajo Kawir kemudian menjadi seorang filsuf yang tidak mau diperbudak oleh nafsu. Bahwa burungnya yang tidak bisa bangun mengajarkan banyak kebijaksanaan kepadanya.

Jadi, apakah dendam dan rindu Ajo Kawir terbayarkan? Jika Anda penasaran, silakan baca novel ini. Namun Anda merasa novel ini terlalu porno untuk dibaca, maka saya tidak merekomendasikan Anda membacanya.

Satu karya apik dari Eka Kurniawan.

Gambar dari sini.

Belajar Ketulusan dari Dae Jang Geum

dae_jang_geum_100026

PERTAMA kali saya nonton drama Korea ini saat saya SMA, mungkin sekitar tahun tahun 2005-an. Waktu itu kalau saya tidak salah Jewel in the Palace disiarin RCTI setiap jam 16.00. Maka jadilah setiap sore saya nongkrong di depan tv demi menonton Dae Jang Geum.

Ketika 11 tahun kemudian (sekarang) saya menonton drama Korea itu lagi, saya masih tetap terpukau oleh pesona kecantikan dan kerendahhatian Jang Geum. Bahwa Jang Geum dikirim oleh ibunya ke istana untuk balas dendam, adalah sesuatu yang benar. Jangkan dendam, rindu-pun kata Eka Kurniawan harus dibayar dengan tuntas. Kedatangan Jang Geum ke istana memang membawa misi: membalas dendam atas kematian ayah dan ibunya yang sebenarnya tidak bersalah.

Sebelum meninggal ibu Jang Geum (Park Myeong) meninggalkan wasiat kepada Jang Geum agar menjadi Dayang Tertinggi (satu tingkat lebih rendah dari Dayang Kepala) di istana raja Joseon. Wasiat ibunya menjadi satu-satunya dorongan Jang Geum untuk giat belajar, tekun mempelajari masakan raja dan istana.

Selain cerdas, Jang Geum juga pintar menciptakan rasa. Setidaknya begitu yang diungkapkan Dayang Han (Dayang Pembimbing Jang Geum yang juga sahabat almarhumah ibunya). Masakan Jang Geum memiliki rasa yang unik, yang belum pernah ada sebelumnya. Jang Geum pintar mempergunakan bahan-bahan yang tadinya tidak berguna bisa dimanfaatkan dan enak untuk dimakan. Beberapa kejadian darurat memperlihatkan kepada kita bahwa Jang Geum selalu mempunyai solusi untuk mengatasi keadaan saat genting.

Tak hanya pintar, Jang Geum juga berani. Saat ada utusan Cina yang datang ke Korea dan utusan tersebut mempunyai penyakit diabetes, dengan berani Jang Geum (bersama-sama dengan Dayang Han) menolak menyajikan masakan mewah dan enak-enak karena tidak baik untuk penderita diabetes. Meski Dayang Han kemudian harus ditahan karena dianggap membangkang, pada akhirnya utusan Cina tersebut mengakui loyalitas Jang Geum.

Tidak ada yang gratis dalam perjuangan. Perjuangan Jang Geum harus dibayar dengan kematian Dayang Han demi menyelamatkan Jang Geum saat perjalanan ke pengasingan. Disini saya tidak bisa menyebut kematian Dayang Jung karena memperjuangkan Jang Geum, karena pada kenyataannya Dayang Jung memang sudah tua dan penyakitan.

Satu hal yang saya pelajari dari Jang Geum adalah, bahwa ketika kita berniat mencapai sesuatu, maka belajarlah dengan tekun. Cerdas menghadapi situasi yang tidak terduga, dan stay humble. Tetap rendah hati dan jangan sombong. Karena pada akhirnya kesombongan dan kecongkakan-lah yang membuat musuh utama Jang Geum harus menelan kekalahan: Dayang Choi dan Geum Young. Tulus saat mengerjakan sesuatu dan tidak mempergunakan sesuatu itu untuk kekuasaan.

Selain misi membalaskan dendam ibu bapaknya, Dayang Han dan Dayang Jung, Jang Geum juga membawa pesan bahwa makanan tidak seharusnya digunakan untuk kekuasaan, apalagi dengan cara-cara yang kotor. Pada akhirnya Dayang Choi mengakui hal itu, meski tetap merasa sakit hati dan akan membalas dendam (yang mungkin melalui anaknya).

Tidak ada salahnya menonton serial ini 2 atau 3 kali, karena memang banyak pelajaran yang bisa kita petik. Selain ilmu tentang herbal, makanan dan manfaatnya, juga bisa kita peroleh ilmu pengobatan Korea tempo dulu. Setidaknya serial ini cuma terdiri dari 54 episode, tidak seperti Uttaran yang terdiri dari ribuan episode, hehe. 

Selamat menonton.:)

Jangan Bilang Tidak Pada Amnesti Pajak

TARGET penerimaan pajak tahun 2013 ini, ditetapkan Rp1.360 triliun. Bukan angka yang kecil memang, bahkan bisa dibilang terlalu fantastis. Dan para pegawai pajak harus bekerja ekstra keras untuk merealisasikannya atau tahun depan penghasilan pegawai pajak kembali dipotong seperti yang terjadi di tahun 2016 ini. Bagi pegawai pajak, usaha untuk merealisasikan penerimaan pajak adalah pertaruhan dapur keluarga dan masa depan istri dan anak-anak.

Amnesti pajak yang digadang-gadang bisa membawa pulang Rp1.000 triliun dari repatriasi dan Rp4.000 triliun dari deklarasi diharapkan bisa berkontribusi sebesar Rp165 triliun bagi penerimaan pajak. Kalau mau jujur, dengan atau tanpa amnesti pajak, tugas Ditjen Pajak masih tetap berat. Jika target amnesti pajak berhasil, Ditjen Pajak masih harus mengumpulkan penerimaan pajak sebesar Rp1.195 triliun.

Tentu saja pencapaian target penerimaan pajak tersebut bukanlah semata-mata tugas Ditjen Pajak. Tetapi tugas semua orang yang merasa menjadi warga negara Indonesia. Tugas seluruh kementerian, karena penerimaan pajak merupakan imbas dari kondisi iklim politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Jika iklim politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan mendukung bagi pertumbuhan ekonomi yang baik, terciptanya iklim investasi yang kondusif, maka akan berdampak baik bagi penerimaan pajak. Demikian juga sebaliknya.

Namun sekali lagi, amnesti pajak adalah persoalan momentum. Sekarang adalah momentum yang baik untuk membuktikan bahwa kita juga peduli pada pembangunan bangsa dan negara yang membutuhkan dana yang tidak sedikit seperti sekarang ini. Saat ini, negara memanggil seluruh warga negaranya untuk turut serta memanfaatkan amnesti pajak.

Jadi, jangan bilang tidak pada amnesti pajak. Ungkapkan harta yang belum kita laporkan, hitung dan bayar uang tebusan, lalu kelegaan itu datang setelah kita mendapatkan surat keterangan bahwa kita dibebaskan dari segala bentuk pidana perpajakan.

Jangan bilang tidak pada amnesti pajak.

Idul Fitri, Tax Amnesty dan Momentum

MESKI baru disahkan dan diundangkan belum lama ini, pemberitaan tentang amnesti pajak telah ramai sejak tahun 2015 yang lalu. Semua pihak ikut memperbincangkannya, meramalkannya dan memberikan opini dan komentar sesuai bidang keilmuan masing-masing. Meski kemudian fenomena amnesti pajak kalah saing dengan pemberitaan #brexit saat mudik lebaran kemarin, hehe. 

Sama seperti halnya idul fitri yang memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki kesalahan dan meminta maaf atas segala salah kepada orang lain, maka demikian juga dengan amnesti pajak. Amnesti pajak memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia (baik yang sudah terdaftar sebagai Wajib Pajak atau belum) untuk melaporkan harta dan penghasilannya dan membayar uang tebusan, tanpa dikenai sanksi pidana. Meski pada hakikatnya meminta maaf kepada orang lain tidak harus selalu dilakukan di hari lebaran, demikian juga dengan membetulkan SPT Tahunan PPh pada hakikatnya tidak harus selalu dilakukan melalui amnesti pajak.

Namun kita (manusia) selalu berbicara tentang momentum. Lebaran merupakan momentum yang pas dan baik untuk meminta maaf kepada orang lain, kemudian memperbaiki kesalahan itu. Begitu juga dengan diundangkannya UU No 11/2016 tentang Amnesti Pajak merupakan momentum yang tepat untuk memperbaiki dan melaporkan harta yang tidak kita laporkan dalam SPT Tahunan PPh kita. Kita bisa bertemu dengan banyak waktu dan kesempatan, tapi kita belum tentu bertemu kembali dengan momentum amnesti pajak di masa mendatang. Pilihannya ada di tangan kita masing-masing: mau memanfaatkannya atau tidak.

Sebagai warga negara yang baik mari kita manfaatkan momentum yang baik ini. Sebagai wujud bakti kita kepada negara tempat kita berpijak, yakni dengan turut serta membiayai negara melalui pajak. Karena bagaimanapun juga pajak dalam sejarahnya hadir sejalan dengan lahirnya sebuah negara dan akan tetap ada selama negara itu ada.

Yuk, kita manfaatkan amnesti pajak. ungkap, tebus, lega. 

Salam.

UU Amnesti Pajak dapat diunduh di sini.

 

PTKP Baru Tahun 2016

BELUM lama ini Peraturan Menteri Keuangan nomor 101/PMK.010/2016 tentang Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) telah diberlakukan. Sebenarnya bukan hal yang baru jika ketentuan mengenai PTKP terus diperbaharui karena memang itu amanat dari UU PPh kita. Tahun 2015 ketentuan mengenai PTKP juga diperbaharui dan kembali diubah di tahun 2016 ini. Tampaknya Pak Menteri merasa kebijakan PTKP ini cukup ‘seksi’ sehingga dilakukan perubahan setiap tahunnya.

Pada intinya, untuk tahun pajak 2016 ini ketentuan PTKP kembali diubah menjadi:

  1. Rp54.000.000,00 (lima puluh empat juta rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi;
  2. Rp4.500.000,00 (empat juta lima ratus ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin;
  3. Rp54.000.000,00 (lima puluh empat juta rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008;
  4. Rp4.500.000,00 (empat juta lima ratus ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.

Perubahannya cukup signifikan, dari Rp3.000.000,-/bulan pada tahun 2015 menjadi Rp4.500.000,-/bulan di tahun 2016 ini, atau naik sebesar Rp1.500.000,- untuk setiap diri Wajib Pajak. Berbeda dengan tahun 2016 yang naiknya hanya sebesar Rp975.000,- (dari Rp2.025.000,- menjadi Rp3.000.000,-/bulan) per diri Wajib Pajak.

Berapapun kenaikannya, tentu saja kenaikan PTKP diharapkan bisa menjadi stimulus dan insentif fiskal bagi perekonomian Indonesia. Jadi, jika di tahun 2015 setelah ada perubahan PER/31/PJ/2012 menjadi PER-32/PJ/2015, maka seharusnya di tahun ini juga ada perubahan PER-32/PJ/2015 tersebut. Kita tunggu saja.

Pembayaran Pajak Dengan e-Billing

ebilling

BARU saja sebagai Wajib Pajak saya mendapatkan email dari Newsletter Pajak mengenai MPN G2. Newsletter Pajak merupakan fitur baru dari DJP dalam rangka “mempererat silaturahmi” dengan Wajib Pajak. Tentu saja ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi kita, bahwa DJP terus berbenah diri, terutama dalam melayani Wajib Pajak dengan memanfaatkan teknologi informasi. Ibarat kata, hari gini masih pake surat manual buat ngirim info? kan ketinggalan jaman banget ya! Newsletter merupakan salah satu wujud komitmen DJP untuk terus memperbaiki layanan kepada para pembangun bangsa ini, para Wajib Pajak.

Jadi di Newsletter tersebut diberitahukan bahwa mulai 1 Juli 2016 seluruh bank dan pos persepsi akan menerapkan sistem pembayaran pajak secara elektronik melalui modul penerimaan negara generasi kedua (MPN-G2). Bedanya dengan MPN generasi pertama (MPN-G1) yang kalau mau bayar pajak ya cukup isi SSP saja seperti biasa, MPN-G2 ini membutuhkan kode Billing dalam pembayaran pajak. Kode billing pada dasarnya merupakan kode identifikasi yang diterbitkan melalui sistem Billing atas suatu jenis pembayaran atau setoran pajak yang akan dilakukan Wajib Pajak. Jadi di dalam kode Billing tersebut terdapat informasi identitas Wajib Pajak beserta jenis pajak yang akan dibayar dan jumlah rupiahnya.

Kasarnya kode billing adalah:

(Wajib Pajak + niat membayar pajak + jenis pajak yang akan dibayar + jumlah pembayaran) hehe. Ketika Wajib Pajak mempunyai niat membayar pajak, kemudian menginput jenis pajak dan jumlah pembayarannya, informasi tersebut digenerate secara sistem dalam sebuah kode yang dienkripsi menjadi kode Billing.

Kode billing dapat dibuat melalui kanal-kalan berikut:

1. petugas bank (Teller/CS) dengan membawa SSP
2. Kring Pajak (1500200) khusus untuk Wajib Pajak Orang Pribadi
3. *141*500# (SMS ID Billing Telkomsel)
4. https://billing-djp.intranet.pajak.go.id (Aplikasi Layanan Elektronik Mandiri di KPP/KP2KP)
5. https://sse.pajak.go.id
6. https://sse2.pajak.go.id
7. Internet Banking BRI
8. Application Service Provider (www.online-pajak.com)

Petugas Bank (Teller/CS) dengan membawa SSP
Pembuatan kode billing dengan cara ini pada dasarnya sama dengan pembayaran pajak seperti biasa. Wajib Pajak cukup mengisi SSP dan membawanya ke petugas bank/teller. Kode billing akan dibuatkan oleh petugas bank/teller di sistem perbankan mereka. Cara ini bisa dilakukan di bank/pos persepsi sebagaimana biasanya.

Kring Pajak (1500200) khusus untuk Wajib Pajak Orang Pribadi
Ternyata Kring Pajak 1500200 tidak hanya melayani permintaan informasi saja, tetapi saat ini Kring Pajak 1500200 sudah dikembangkan untuk melayani pelaporan SPT maupun pembuatan kode billing pajak. Jangan ragu untuk menekan 1500200 dari pesawat telepon Anda, namun jangan lupa menyiapkan informasi yang dibutuhkan (misalnya identitas, NPWP, tanggal lahir, dst.)

*141*500# (SMS ID Billing Telkomsel)
Berikut saya kutipkan penjelasan dari website pajak:

Wajib Pajak dapat memilih menu Registrasi User Billing apabila belum pernah melakukan perekaman user billing melalui layanan ini dengan memasukkan 15 digit NPWP dan memilih angka 1 untuk melakukan registrasi. Setelah dilakukan registrasi dengan benar, Wajib Pajak sebagai akan menerima SMS notifikasi sebagai bukti telah melakukan registrasi. Setelah terdaftar sebagai user billing, langkah berikutnya adalah membuat ID Billing Pajak melalui SMS dengan menekan *141*500#. Selanjutnya akan ditunjukkan menu untuk membuat ID Billing. Dari menu tersebut, Wajib Pajak dapat memilih NPWP Sudah Register untuk melanjutkan proses pembuatan ID Billing. Selanjutnya Wajib Pajak harus melakukan langkah-langkah berikut ini:

  1. Masukkan 6 digit Kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP);
  2. Lalu masukkan 3 digit Kode Jenis Setoran;
  3. Setelah itu masukkan masa pajak yang akan disetorkan dengan format mm/mm, tahun pajak yang akan disetorkan dengan format yyyy dan nominal Billing Pajak yang akan disetorkan

Selanjutnya akan ditampilkan notifikasi untuk mengkonfirmasi kebenaran data yang telah dimasukkan oleh Wajib Pajak. Setelah konfirmasi dilakukan, Wajib Pajak akan mendapatkan notifikasi berupa SMS yang menginformasikan identitasnya sekaligus menerima kode ID Billing. Langkah di atas juga dapat dilakukan apabila Wajib Pajak belum terdaftar sebagai user billing. Caranya adalah dengan memilih menu NPWP Belum Register, dan mengikuti langkah berikutnya dalam proses pembuatan ID Billing.

https://billing-djp.intranet.pajak.go.id
(Aplikasi Layanan Elektronik Mandiri di KPP/KP2KP)
Jika Bapak/Ibu tidak bisa pergi ke bank membawa SSP, tidak bisa menelepon Kring Pajak 1500200, maupun tidak bisa menggunakan layanan pembuatan kode billing melalui SMS, Bapak/Ibu tetap bisa membuat kode billing di kantor pelayanan pajak maupun di KP2KP. Silakan datang saja ke KPP, temui petugas informasi, Bapak/Ibu akan dilayani untuk membuat kode billing tersebut.

https://sse.pajak.go.id dan https://sse2.pajak.go.id
Waktu dan kesempatan memang barang yang mahal. Jika Bapak/Ibu termasuk orang yang tidak memiliki banyak waktu, pembuatan kode billing tetap bisa dilakukan dengan memanfaatkan internet melalui website di atas. Caranya:
a. Bapak/Ibu login ke website di atas, pilih salah satu saja
b. Login dengan akun DJP Online (apabila belum memiliki akun silakan mendaftar dulu ke KPP
c. Pilih menu Isi SSE
d. Inputkan pembayaran pajak yang akan dilakukan
e. Setelah data diinputkan, pilih simpan
f. Setelah itu pilih Kode Billing untuk membuat kode billing
g. Selanjutnya akan muncul informasi Kode Billing beserta masa berlakunya

Internet Banking BRI
Ternyata DJP juga sudah bekerjasama dengan Bank BRI untuk pembuatan kode/id Billing. Jika Bapak/Ibu merupakan nasabah bank BRI dan memiliki fitur/layanan internet banking, maka dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kode billing maupun pembayaran pajaknya. Caranya:
a. Bapak/Ibu login ke internet banking BRI
b. Pilih Menu Pembayaran
c. Pilih Sub Menu MPN
d. Pilih menu Buat Billing Pajak
e. Masukkan informasi pembayaran yang diinginkan
f. Setelah informasi diinputkan, tekan Kirim
g. Internet Banking BRI akan memunculkan informasi Kode Billing

Application Service Provider (www.online-pajak.com)
Jika seluruh layanan di atas tidak berfungsi, atau tidak memuaskan menurut Wajib Pajak, atau karena satu dan lain hal Bapak/Ibu sama sekali tidak ingin mempergunakannya, Bapak/Ibu dapat mempergunakan layanan pembuatan kode billing melalui pihak ketika melalui website http://www.online-pajak.com. Website ini dikelola oleh pihak ketiga yang bekerjasama dengan DJP dalam rangka pembuatan kode billing. Selain pembuatan kode billing website ini juga menyediakan layanan pelaporan dan pembayaran pajak dengan bekerjasama dengan bank terkait.

PEMBAYARAN PAJAK
Dengan membuat kode billing, Wajib Pajak telah menyelesaikan 50% proses pembayaran pajak. 50% sisanya adalah Wajib Pajak harus melakukan penyetoran pembayaran pajak tersebut ke kas negara, hehehe. Pembayaran pajak tersebut dilakukan melalui:

1. Teller Bank/Pos Persepsi
2. Branchless Banking (BRILink
3. ATM
4. Mini ATM (EDC khusus untuk pembayaran pajak yang tersedia di KPP/KP2KP)
5. Internet Banking
6. Mobile Banking

Caranya, masukkan kode billing pada menu/tempat/fitur yang disediakan, maka setelah kode billing diinputkan, akan muncul informasi pembayaran yang telah diinputkan pada saat membuat kode billing. Selanjutnya setelah informasi pembayaran diyakini kebenarannya, Wajib Pajak dapat melakukan penyetoran pajak ke kas negara.

Semoga bermanfaat.

Gambar dari sini.

Tunjangan Hari Raya: Ketentuan yang Berlaku dan Tata Cara Pemotongan PPh Pasal 21-nya

BAPAK/IBU sudah tahu mengenai Peraturan Menteri Ketenagakerjaan nomor 6 tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan? Ketentuan apa saja yang diatur dalam peraturan tersebut? Lalu apa hubungannya dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-32/PJ/2015 tentang Tata Cara Pemotongan PPh Pasal 21/26 atas pekerjaan/jasa yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi? Silakan simak tulisan saya di sini.