Celotehan Malam (19)

What do yo do when you feel empty?

I never noticed what was there before

but now that it’s gone

I wonder how I can feel it back up again

I’d do anything to get that back

I used to not believe in fate

I thought it was kind of silly

because I believed in myself

I thought that I could do anything

as long as I worked hard enough

I guess I was wrong

 

—TP

#Frame (1)

Mencintaimu adalah sebuah ketidakmungkinan. Kamu yang punya jabatan tinggi, dengan penghasilan lumayan, dan gaya hidup ala orang papan atas. Sementara aku hanya seorang staf biasa dengan penghasilan pas-pasan, kadang harus dipotong akibat aku terlambat masuk atau tidak masuk karena sakit, sakit orang miskin.
Cintaku adalah cinta si miskin ke pada si kaya, yang selamanya tidak akan bisa tersatukan selama orang-orang selalu menilai orang lain dari harta yang dia miliki. Aku adalah ketidakmungkinan bagi kamu, seperti kamu adalah ketidakmungkinan bagiku.
Kadang, di tengah hujan atau di tengah gelapnya malam, aku merasa kosong, saat aku harus menerima kesadaran bahwa rasa yang kumiliki ini tidak mungkin kusampaikan. Kesadaran itu datang seperti palu godam yang kemudian menghancurkanku bertubi-tubi hingga berkeping-keping. Semakin kesadaran itu datang dan menghujami hatiku, semakin aku merasa remuk jika mengingatmu, mengingat senyummu.

***
Pada suatu makan siang, kamu pernah menanyakan kepadaku
“Apa arti mencintai untukmu, Yo?”
Aku tergagap, kaget karena tiba-tiba kamu menanyakan pertanyaan semacam itu.
“Eh, … mencintai? Kok tumben nanya tentang cinta?” jawabku dalam gugup
“Ya nggak sih, pengen tau aja, bagaimana seorang Rio memaknai cinta” Katamu.
Aku berpikir barang sejenak, mencoba menjawab pertanyaanmu dengan bijaksana. Ya, bijaksana, setidaknya agar perasaan yang kumiliki terhadapmu tidak terlalu mencolok.
“Mencintai, seperti pengorbanan seorang ibu-ibu tukang jamu yang mendorong gerobak jamunya setiap hari, mengelilingi komplek perumahan. Dia berjualan dari pagi sampai senja, demi cintanya kepada anak-anaknya” Jawabku sekenanya.
“Eh, maksudnya? Apa hubungannya cinta dengan tukang jamu?” Protesmu.
“Yaa … menurutku, mencintai sama dengan berkorban. Si ibu tukang jamu berkorban demi anak-anaknya atas nama cinta. Ayah kita, ibu kita, berkorban untuk kita atas nama cinta. Tidak ada cinta tanpa pengorbanan” Aku semakin melantur.

***
Apakah kamu tidak pernah memperhatikan caraku menatapmu? Antusiasme yang aku berikan saat kamu bercerita tentang apa saja yang kadang menurutku justru tidak penting? Caraku mengirim pesan-pesan melalui BBM? Apa hati kamu terlalu putih sehingga kamu kadang terlalu ‘buta’?
Aku tidak akan pernah berani menyampaikan perasaan ini langsung kepadamu. Karena meski usia kita seumuran dan kita berteman dekat, bagiku kamu adalah ketidakmungkinan. Apakah aku berdosa membayangkan suatu ketika kita akan duduk bersama di pelaminan, menjalani hari-hari penuh kebahagiaan sebagai sepasang suami istri?
Palu godam itu datang lagi, menyadarkanku bahwa kita berbeda kasta. Kasta kita selamanya tidak akan pernah mengizinkan kita berdua bersatu. Bukan kastanya yang salah, aku tau. Tapi lebih kepada kamu yang tidak akan mungkin mencintaiku.
Kamu terlanjur menganggapku sebagai teman. Bahkan kamu menceritakan hal yang paling pribadi kepadaku. Dengan begitu, aku terlalu jauh masuk ke kehidupanmu. Bahkan kamu sering melampiaskan uring-uringmu saat kamu sedang datang penyakit bulanan, kepadaku. Bukan kepada bawahanmu. Aku, yang hanya berjarak beberapa lantai dari kantormu, yang harus menerima kekesalanmu itu. Aku memang ada di hatimu, tapi terjebak dalam sebuah ruangan sempit yang bertuliskan ‘teman’. Hanya seorang teman, tidak akan pernah lebih.

***
Aku mencintaimu, dalam diam. Mencintai dalam diam membutuhkan energi super besar, seandainya kamu mau tau. Aku harus memendam perasaan itu setiap kali kita bertemu, ngobrol, dan berkirim pesan melalui handphone. Aku bahkan harus menekan perasaan cemburu itu saat kamu menceritakan rasa cintamu kepada orang lain. Aku selalu ingin menjadi orang yang kamu ceritakan itu. Tidak hanya energi super besar, tetapi juga pengorbanan yang tidak sedikit. Beberapa kali aku harus mengantarkanmu menemui orang lain, gebetanmu. Tidak hanya mengantarkan, tetapi juga menungguimu hingga pertemuan—dating—mu dengannya selesai, kemudian aku akan mengantarkanmu kembali pulang karena kamu takut naik kendaraan umum, dan kamu tidak bisa mengendarai motor, sementara kamu tidak mau membawa mobil karena macet.
Mencintai dalam diam membuatku tidak boleh terlalu senang berlebihan saat kita ngobrol berdua. Atau bahkan pergi berdua. Karena aku tau, di hatimu tidak pernah ada aku. Hanya ada nama orang lain, yang kemudian aku tau bahwa orang-orang itu terus menyakitimu, karena hanya mencintai harta dan pangkatmu.
Mencintai dalam diam membuatku mengerti, bahwa cinta adalah pengorbanan, tepat sebagai jawaban atas pertanyaan yang pernah kamu lontarkan kepadaku tentang arti mencintai.

***
Suatu malam, kamu tiba-tiba datang ke rumahku. Bau parfum yang sudah memudar ditambah dengan bau minuman keras membuatku sedikit marah. Tapi kamu datang dalam keadaan menangis. Tidak hanya menangis, tapi kamu begitu lemah, tidak berdaya. Kamu datang, bahkan tanpa heels yang biasanya kamu kenakan. Tanpa alas kaki, kamu tiba-tiba datang memelukku, dan menangis. Aku hanya bisa diam sampai kamu selesai menangis. Satu setengah jam kemudian, kamu pergi, tanpa cerita apapun. Kamu hanya butuh bahu untuk menangis malam itu.
Apa kamu tau, malam itu aku tidak bisa tidur. Aku gelisah membayangkan apa sebenarnya yang tengah terjadi kepadamu. Bau minuman keras, bau parfum yang bukan parfummu, aku sakit hati. Aku menangis, bahkan dalam diam. Dalam gelap kamarku. Aku mencoba meneleponmu, tapi tidak kamu angkat.
Keesokan harinya, kamu sudah kembali seperti biasa. Ceria, seolah tidak pernah terjadi apapun. Kita masih tetap makan siang berdua, bahkan malam harinya kamu mengajakku menonton premier film di bioskop.

***
Aku ada di hatimu, bukan sebagai orang yang kamu cintai. Aku hanya ada di balik layar dari kehidupanmu. Kamu hanya ingat aku saat kamu butuh, tanpa pernah mempedulikan perasaanku.
Apakah aku bersalah jika aku mencintaimu? Suatu hari kamu mengatakan bahwa kamu mendambakan seseorang yang bisa ada saat kamu sedih, bukan hanya saat kamu bahagia. Kamu mendambakan seseorang yang meminjamkan bahu kepadamu saat kamu butuh bahu untuk bersandar. Saat itu rasanya ingin aku berteriak, kenapa kamu begitu buta?? Lalu apa artinya aku selama ini buatmu?
Lagi-lagi palu godam datang menghantam kepala dan seluruh tubuhku. Bahwa aku tidak ada di hatimu, meski kamu selalu ada di hatiku. Palu itu akan terus datang, memaksaku untuk terus diam, tanpa perlu menyampaikan isi hatiku yang sebenarnya.

***
Hingga pernah aku memutuskan pada suatu hari untuk tidak lagi menerima teleponmu, membalas pesanmu, bahkan mengabaikan ajakan makan siangmu. Tetapi, aku justru merasa sakit. Karena dengan tidak membalas telepon dan pesanmu, atau dengan tidak menatap matamu saat kamu bercerita, palu godam itu justru datang kepadaku dengan kekuatan berlipat-lipat. Membuatku semakin sakit. Maka aku kembali menerima teleponmu, kembali membalas pesanmu, dan kembali menemanimu makan siang. Dengan begitu aku merasa rasa sakitku berkurang. Dan, ironisnya, kamu bahkan tidak pernah menyadari perubahan sikapku itu. Kamu selalu menganggap aku sebagai teman—mungkin sahabat—tidak lebih, tidak akan pernah lebih.

***
Apa arti mencintai? Tanyamu. Mencintai berarti berkorban dan merasa sakit. Mencintaimu adalah menjadi gajah yang tidak pernah tampak di matamu. Tapi aku rela, karena dengan ini aku akan tetap menjadi bahu untukmu bersandar saat kamu bersedih.