Eskalator, Penghangat Ruangan, dan Eksploitasi Seksual di Jepang

SEPERTINYA jelek juga kalau setiap judul tulisan saya mengenai Jepang saya beri awalan ‘Jepang’ dan ‘titik dua’. Lama-lama membosankan ya, hehe. Awalnya saya pikir penulisan judul ‘Jepang’ dan ‘titik dua’ untuk membedakan antara tulisan saya tentang Jepang dan bukan tentang Jepang. Namun, sepertinya akan ada puluhan tulisan saya mengenai Jepang, karena di kepala saya sudah mengantri apa saja yang ingin saya ceritakan. Jadi mungkin mulai tulisan ini saya hilangkan saja penulisan judul dengan awalan ‘Jepang’ dan ‘titik dua’. 🙂

Saat membaca novel-novel tentang detektif saya selalu heran bagaimana detektif itu menggabungkan hal-hal kecil yang sepele dengan hal lain, dan hal kecil tersebut justru menjadi petunjuk kunci, atau menjadi informasi penting sehingga bisa mengetahui situasi apa yang sebenarnya terjadi.

Robert Galbraith—nama samaran JK Rowling—mengisahkan dengan cerdik cerita mengenai detektif di novelnya yang berjudul The Cuckoo’s Calling. Menceritakan tentang seorang psikopat yang telah membunuh orang lain, dengan banyak alibi dan pengkondisian yang pas, pembunuhan itu dianggap sebagai bunuh diri. Sakitnya lagi, setelah kasus itu ditutup oleh polisi, dia menghubungi detektif partikelir untuk menyelidiki kasusnya. Sayangnya detektif partikelir yang disewanya justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, karena kemudian detektif itu bisa membuktikan bahwa sebenarnya dia (sang psikopat) lah pelaku pembunuhan tersebut.

Saya menyukai cara Robert bercerita. Tadinya saya sempat berpikir bahwa JK Rowling hanya cocok menulis tentang fiksi dunia sihir seperti Harry Potter. Namun dia juga lihai menulis cerita kriminal. Dia menggabungkan banyak hal terpisah menjadi potongan-potongan yang jika dihubungkan akan berkelindan menjadi suatu petunjuk. Saya senang cara detektif di novel itu (Strike namanya) bekerja, sangat detail. Bahkan tetesan air dari bunga mawar yang baru diambil dari vas menjadi petunjuk siapa pelaku pembunuhan yang terjadi.

Saya sendiri senang memperhatikan hal-hal detail. Bahkan kadang oleh teman saya, saat saya membicarakan hal-hal detail tersebut, saya dianggap membicarakan sesuatu yang tidak penting dan remeh-temeh. Namun di hati saya, saya tetap menganggapnya sebagai hal penting, bahkan kadang perlu saya catat atau sekedar direkam di otak saya.

Cara orang berperilaku katanya menunjukkan kepribadian orang itu, misalnya cara berjalan seseorang menunjukkan wataknya. Cara berjalan cepat, berarti orang tersebut bla bla bla, orang yang jalannya diseret artinya bla bla bla, orang yang jalannya sedikit lompat, artinya bla ba bla, dan seterusnya. Cara berjalan adalah watak pribadi, sedangkan tata krama dalam berjalan menurut saya adalah watak kolektif, atau watak suatu masyarakat.

Sekedar untuk naik eskalator pun, orang Jepang punya keunikan tersendiri. Konsep eskalator bagi orang kita kebanyakan sebagai alat untuk ‘mempermudah’ naik, sehingga biasanya kita hanya akan diam saja di eskalator tersebut, dan menunggu mesin membawa kita sampai ke atas. Sedangkan bagi orang Jepang, selain ‘mempermudah’, eskalator adalah alat untuk ‘mempercepat’ naik, sehingga meskipun di eskalator, dia akan tetap berjalan seperti biasa. Akibat dua konsep: ‘mempermudah’ dan ‘mempercepat’ itu lah, maka ada dua tipe orang yang naik eskalator: orang yang berhenti di eskalator, dan orang yang tetap berjalan di eskalator.

Agar tidak saling mengganggu, orang yang akan berhenti di eskalator biasanya menepi, memberi kesempatan kepada orang yang akan tetap berjalan. Dari pengamatan saya, memang tidak ada kesepakatan tertulis apakah seseorang yang akan berhenti di eskalator harus menepi ke kiri atau ke kanan, karena kadang yang menepi di sebelah kiri, tak jarang juga di sebelah kanan. Jadi saya dapat mengambil kesimpulan, orang yang pertama kali naik eskalator—saat eskalator dalam keadaan kosong—menentukan arah menepinya. Jika dia akan berhenti dan mengambil jalur kiri, maka orang setelahnya yang akan berhenti juga harus mengambil kiri dan memberi kesempatan bagi orang yang akan tetap berjalan (sedang terburu-buru) di jalur kanan, dan sebaliknya.

DSC02191

Sangat berbeda dengan yang kita lihat di Indonesia. Karena konsep ‘mempermudah’ itu, kesannya eskalator dianggap sebagai tempat beristirahat ketika berjalan. Akibatnya baik sedang terburu-buru atau tidak, kebanyakan orang berhenti di eskalator, di kedua sisi, kiri dan kanan. Akibatnya tidak memberi kesempatan kepada orang yang terburu-buru untuk berjalan. Sekali lagi ini menunjukkan karakter kolektif suatu masyarakat. Beberapa kali kami berlima lupa menepi saat di eskalator, dan terus terang kejadian-kejadian itu membuat kami malu.

DSC02192

Ya, karakter kolektif jelas dipengaruhi oleh karakter pribadi. Saya tidak sedang mengagung-agungkan karakter orang Jepang, saya hanya kagum pada perilaku ke-beragama-an mereka, padahal sepertinya kita lebih religius dari mereka. Pada akhirnya aplikasi dalam perikehidupan memang lebih penting dan lebih akan nampak daripada sekedar pengakuan beragama.

Awal bulan Juni seharusnya sudah memasuki musim panas di Jepang, sehingga akhir bulan Mei (saat kami ke sana kemarin) merupakan masa peralihan dari musim semi ke musim panas. Angin bertiup dengan kencang, meskipun matahari juga bersinar (tidak terlalu terik). Sehingga di foto-foto kami terlihat panas, namun kami malah memakai baju hangat. Karena memang kondisinya dingin, angin bertiup kencang, dan banyak cewek Jepang yang menggunakan rok pendek (lho, apa hubungannya? :D)

IMG-20140523-WA0021

Akibat hal itu, di luar ruangan kami rasakan sangat dingin, meski orang sana sepertinya sudah terbiasa, dan di dalam ruangan terasa lebih hangat. Saya jadi berpikir, orang Jepang  ini memang sudah memikirkan semuanya dengan baik. Selain gedung yang anti gempa, juga mereka memikirkan konsep pendingin dan penghangat ruangan. Di mal atau di stasiun-stasiun yang besar sekalipun akan terasa lebih hangat. Berapa energi yang diperlukan untuk menyalakan listrik dan penghangat di ruangan sebesar itu? Di mana-mana menggunakan energi listrik. Tidak hanya melulu untuk lampu dan AC/Penghangat ruangan, mereka menggunakan banyak eskalator, banyak lift, banyak jalur KRL, hampir di semua eskalator akan ada suara rekaman yang menginformasikan eskalatornya menuju kemana, bahkan di rest room pun akan ada petunjuk suara itu ruangan apa. Semua menggunakan energi listrik. Pantas saja Jepang ketar-ketir kalau harus menarik energi nuklirnya ya. Listrik hampir mempermudah seluruh aspek kehidupan ke sana. Lalu akan dengan energi apa jika mereka tidak lagi menggunakan nuklir?

Ternyata di balik semua kenyamanan itu, ada bahaya besar. Meski tentu saja mereka sudah memikirkan bagaimana caranya mengantisipasi bahaya tersebut.

Kabar baiknya bagi negeri kita adalah, setidaknya negeri kita tidak menjual video porno secara terang-terangan. Di Jepang sangat mudah mendapatkan video porno maupun menemukan tempat-tempat untuk melakukan kemesuman. Memang sex menjadi salah satu komoditas utama negara Jepang. Tidak heran toko video porno ada di tengah-tengah keramaian, di jalan-jalan yang juga dilalui anak-anak kita bisa menemukan tempat mesum, yang poster-poster di depannya ada gambar cewek bugil atau sedang menaikkan roknya ke atas sampai sedikit terlihat (maaf) kelaminnya. Tidak heran di kereta-kereta banyak kita temui iklan-iklan berbau pornografi. Dan semuanya dilakukan secara terang-terangan. legal. Tidak heran ada tempat mandi yang justru kita harus bugil untuk mandi di tempat tersebut, dan majalah porno dijual bebas di sevel, lawson, family mart, maupun convenience store lainnya.

IMG-20140523-WA0062

Di sini saya melihat suatu kontradiksi. Antara perilaku beragama: keteraturan, keramahan, kebersihan dan sebagainya dengan perilaku ke-tidakberagama-an: eksploitasi seksual untuk kepentingan bisnis. Memang setiap bangsa pasti ada sisi positif dan negatifnya, saya anggap eksploitasi seksual untuk kepentingan bisnis ini sebagai sisi negatif masyarakat Jepang.

Pada akhirnya kita sendiri yang harus menilai baik buruknya sesuatu, tentu saja dengan standar kita masing-masing.

————————————————————————-

Foto-foto oleh Rio, Irwan, Saya, Dini dan Tanzil

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s