Asuransi dan Ojek Online

LUMAYAN lama juga ya saya tidak nulis di sini. Bukan karena sibuk juga, tapi beberapa hari ini memang badan sedang tidak terlalu enak untuk diajak beraktivitas, walhasil harus istirahat ranjang (baca: bedrest) di rumah selama beberapa hari ini.

Sebagai karyawan, tentu bedrest membawa satu dampak tersendiri bagi saya. Pertama, dengan tidak ngantor artinya potongan gaji saya, meski tidak seberapa, kalau dipotong ya tetep sayang ya, hehe. Kedua, dengan tidak ngantor, pekerjaan kantor saya bukannya berkurang malah makin banyak karena ‘antrian pekerjaan’ jadi semakin panjang. Ya, namanya juga pegawai ya 🙂

Saya mau cerita sedikit tentang asuransi. Dulu–beberapa tahun yang lalu–kesadaran berasuransi saya sangat rendah. Waktu itu saya pikir ngapain ya saya harus bayar-bayar buat asuransi kesehatan yang manfaatnya kadang tidak saya ‘klaim’ sama sekali. Pemikiran itu mungkin ada benarnya sih ya, mengingat beberapa tahun lalu badan saya masih bugar, belum sering sakit-sakitan seperti sekarang. Waktu itu saya lebih tertarik sama asuransi unit link yang menawarkan pengembalian hingga 160%. Maka saya pun membeli asuransi unit link yang sebenarnya saya gak mudheng-mudheng banget cara kerjanya.

Dua tahun, masih oke membayar 500ribu sebulan untuk asuransi unit link saya. Setiap melihat monthly report atau annual report asuransi tersebut, sebenarnya saya agak-agak miris gimana gitu ya, dari 6juta rupiah yang saya bayarkan setiap bulannya (terutama di tahun-tahun awal), hanya ratusan ribu saja yang masuk sebagai nilai investasi saya karena sisanya entah diapakan oleh asuransi saya. Sering saya harus menelan ludah saya setiap membaca laporan tersebut. Bagi saya nilai uang tersebut sangat besar, bahkan hingga sekarang.

Tahun ketiga, saya mulai pikir-pikir. Sayang juga uang saya jika terus-terusan membayar asuransi yang membaca laporannya pun saya enggan. Ditambah asuransi tersebut tidak ada manfaat kesehatan yang bisa saya ambil. Maka setelah 2.5 tahun akhirnya saya memutuskan berhenti saja dari asuransi tersebut. Saya diwanti-wanti sama makelar asuransi saya waktu itu, intinya sayang banget kalau saya harus berhenti di tengah jalan. Namun keputusan sudah terlanjur saya ambil, saya tetap pada pendirian saya untuk quit dari asuransi tersebut, hehe. Saya pun kena penalti hampir 60% dari uang yang telah saya setor.

Beberapa tahun kemudian saya mulai berkenalan dengan asuransi kesehatan. Tentu saja ditambah kesadaran saya yang mulai tumbuh mengenai pentingnya asuransi kesehatan. Mengenai asuransi kesehatan ini, saya sangat bersyukur bahwa di dunia yang sedemikian kompleksnya ada model asuransi seperti ini. Bayangkan saja ya, dengan hanya membayar 1,5 juta rupiah setahun, saya bisa mendapatkan manfaat beberapa kali lipat dari nilai yang saya bayarkan tersebut. Kebetulan kantor tempat saya bekerja bekerja sama dengan asuransi yang pelayanannya sudah bagus, cashless, tidak pake reimbursement lagi. Cukup datang ke rumah sakit provider, periksa, gesek dan semuanya ditanggung oleh asuransi.

Saya pernah sakit DBD dan harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Karena dirawat dan ditanggung asuransi, saya ambil kelas VIP, waktu itu kebetulan harga kamarnya masih sesuai dengan angka yang ditanggung asuransi. Dan ketika saya melihat bill perawatan saya selama beberapa hari tersebut, tentu saja saya keberatan jika harus membayar dengan uang dari kantong saya sendiri, hehe. 

Sakit yang saya derita beberapa hari ini, menurut dokter adalah typhus, namun belum perlu dirawat di rumah sakit, cukup bedrest saja di rumah. Tetap saja saya harus ke rumah sakit, ke laboratorium (beberapa kali) untuk memeriksakan darah saya dan tentu saja menebus obat yang harus saya minum. Alhamdulillah saya punya asuransi yang mengcover semuanya. Dan yang paling penting, alhamdulillah saya punya istri dan orang tua yang mau merawat saya dengan penuh kasih sayang, meski sebenarnya saya kasihan melihat istri saya yang juga sedang hamil, hehe. 

Intinya, asuransi kesehatan penting banget buat kita, terutama di tengah-tengah mahalnya ongkos kesehatan seperti sekarang ini. Ya gimana nggak mahal, orang cek laboratorium saja sekali datang bisa 600-850 ribu rupiah. Kalau  tidak pake asuransi ya tekor!

Itu cerita saya tentang asuransi. Selanjutnya saya ingin cerita tentang ojek online. Go-jek, Grab Bike, dan sejenisnya sekarang ini marak sekali di Jakarta. Dari sejak jaket mereka baru-baru semua, sampai jaketnya sudah pada lusuh seperti sekarang ini. Dari dandanan mereka necis-necis seperti dulu, sampai dandanan mereka sudah pada sembarangan seperti sekarang ini. Gimana nggak sembarangan coba, kemarin saya lihat driver ojek online yang pake celana Levis dipotong, terus pake sandal crocs palsu. Dilihatnya aja nggak enak sama sekali.

Dari semua ojek online yang ada, saya sih ngefans banget sama OK-Jek. Apalagi kalau drivernya cantik seperti Asna atau Sarah, hihi. Sayangnya OK-Jek cuma ada di Net.TV, tidak ada di jalanan Jakarta pada kenyataannya.

Jadi, gara-gara sakit, saya nggak bisa ke Gramedia untuk membeli buku, atas saran istri saya, saya pun memanfaatkan fasilitas ojek online ini untuk membeli buku. Kebetulan saya sedang penasaran dengan bukunya Eka Kurniawan: Manusia Harimau yang sudah dialihbahasakan kedalam banyak bahasa asing. Berkat ojek online ini juga saya bisa mengambil hasil tes laboratorium saya di klinik prodia tanpa harus datang lagi ke klinik yang sama untuk kedua kalinya di hari yang sama, hehehe.

Saya termasuk orang yang memandang segala sesuatu dari manfaatnya ya, saya sih sejujurnya tidak terlalu peduli dengan urusan peraturan atau tata perizinan, atau bahkan saya tidak peduli dengan perdebatan mengenai legal atau tidaknya ojek dan taksi online berbasis aplikasi. Bagi saya, selama bermanfaat bagi saya dan mudah, ya saya pakai. Seperti Sabtu kemarin, waktu saya sama istri saya mau periksa ke rumah sakit. Biasanya sih kami naik motor, cuma karena saya kurang fit, kami memutuskan naik taksi. Sengaja kami naik taksi offline (baca: nyegat di pinggir jalan) sebagai salah satu bentuk penghargaan kami untuk taksi-taksi nonaplikasi (meskipun mereka sudah memakai apliaksi juga sebenarnya). Maka kami-pun naik taksi putih dengan logo huruf E. Eeeh di tengah jalan, si Pak Supirnya menurunkan kami dengan paksa dengan alasan dia harus menjemput pelanggan di RS Fatmawati. Halooooo, salah sendiri ambil orderan saat ada penumpang. Meskipun dia bilang argonya tidak usah dibayar, tetap saja bagi saya itu masalah. Memang seperti itulah kadang kekurangan taksi offline ya, terutama saya risih banget saat melihat tatapan mereka meminta uang kembalian.

Jadi, kesimpulannya, asuransi kesehatan dan ojek online, selama kita bisa mengambil manfaatnya, jangan ragu deh buat memanfaatkannya, hehe.

Salam.

Advertisements

Tentang Saya dan Buku

KALAU dihitung-hitung, koleksi buku saya hingga saat ini mungkin mencapai lebih dari 350 judul yang merupakan koleksi saya sejak SMA sehingga sekarang (yaelaah sehingga … 😀). Bukan jumlah yang banyak, namun tidak juga sedikit karena saya harus menyediakan space dan waktu untuk merapikan dan menyusunnya. Sebagian kecil dari koleksi tersebut ada di Jakarta dan sisanya saya simpan di rumah ibu saya, di kampung.

Saya bukan Hatta yang membawa berpeti-peti buku ketika dibuang ke Digul atau Leon Trotzky yang membawa berpeti-peti buku pula ke tempat pembuangannya di Alma Ata. Bahkan saya juga bukan Tan Malaka yang membawa sepeti buku ke tempat pembuangannya pada 22 Maret 1922. Saya bukan mereka yang dari buku-buku itu melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi bangsa dan negaranya. Sekali lagi saya bukan mereka.

Buku, sampai dengan saat ini masih sekedar menjadi teman. Teman saat saya butuh ide dan inspirasi, teman saat saya tidak tahu lagi harus ngapain. Saya belum bisa mengambil sari pati buku tersebut, lalu menyaringnya untuk masuk ke dalam ruang ideologi saya, untuk kemudian saya tuangkan kembali menjadi bentuk lain yang merupakan ide dan gagasan pribadi saya.

Meski demikian, saya tidak mengerdilkan arti buku dan aktivitas membacanya. Saya mencintai buku, dengan arti cinta yang sama seperti saya mencintai manusia dan kemanusiaannya. Saya mencintai buku, dengan arti yang sama saya mencintai kehidupan saya yang indah dan bahagia. Saya mencintai buku, mesti tidak lebih dari rasa cinta saya kepada istri dan keluarga saya. Buku menempati ruang yang khusus di dalam hati saya. Dan saya sampaikan, bahwa hati saya telah tertambat kepada tiga hal: istri saya, keluarga saya, dan buku.

Butuh bertahun-tahun bagi Hatta dan Tan Malaka untuk menulis dan membagikan karyanya kepada masyarakat, dengan segala kendalanya. Butuh lebih dari setahun untuk Dee membuat sederatan novel Supernova-nya. Dan mungkin saja butuh bertahun-tahun bagi saya untuk menelurkan sebuah karya kecil.

Jika menulis adalah bekerja untuk keabadian, maka membaca buku adalah modalnya. Oleh karena itu menulis dan membaca adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Mari membaca.

Bukan Kaleidoskop

TAHUN 2015 adalah tahun yang luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, saya mengawali tahun ini dengan mendapat surat keputusan mutasi dari kantor lama ke kantor baru (meski sebenarnya bukan kantor yang baru banget). Saya masih ingat ketika pulang kantor (selepas maghrib), tiba-tiba saya dibombardir ucapan selamat dari teman-teman di WhatsApp. Saya yang bahkan belum membuka surat keputusan mutasi tersebut, kaget bercampur senang plus deg-degan membaca pesan-pesan WhatsApp tersebut. Akhirnya, setelah membuka pengumuman di website internal kantor, saya bisa memastikan bahwa saya memang dipindahtugaskan dari kantor lama ke kantor baru. Yang saya maksud kantor lama adalah Kring Pajak 500200 atau dikenal dengan Kantor Layanan Informasi Perpajakan (KLIP) dan yang saya maksud dengan kantor baru adalah Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan. Kantor baru saya ini sebenarnya bukan kantor yang baru banget, karena sebelum di Kring Pajak 500200 saya juga berkantor di kantor tersebut. Jadi bisa disimpulkan bahwa surat keputusan mutasi tersebut membawa saya kembali ke kantor lama saya.

Awal 2015 juga saya mulai memaksakan diri menulis secara aktif, baik menulis di blog ini maupun menulis untuk majalah pajak. Bisa dikatakan bahwa tahun 2015 ini adalah tahun terproduktif saya untuk urusan menulis pajak. Meski saya akui, tulisan-tulisan saya masih terbatas pada tulisan mengenai aturan pajak. Saya memindahkan bahasa hukum (peraturan) menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami melalui tulisan tersebut. Saya belum berani menulis mengenai ide dan pendapat sendiri, meskipun ada beberapa namun saya akui masih belum berani dan belum terlalu banyak. Tahun 2015 ini juga secara resmi blog ini bisa memberikan penghasilan pasif buat saya, meskipun tidak banyak, tapi saya tetap menganggap itu sebagai suatu pencapaian yang layak diapresiasi diri sendiri.

Surat keputusan mutasi saya terima dengan tangan terbuka dan hati lapang. Surat keputusan tersebut adalah kebahagiaan saya. Bisa kembali bekerja dengan passion adalah anugerah yang harus saya syukuri sampai kapanpun. Bukannya di tempat sebelumnya saya tidak bekerja dengan passion, tetapi saya memang senang berkutat dengan data dan membuat analisis atas data tersebut, dan di tempat baru tersebut-lah saya bisa melampiaskan passion saya tersebut. Surat keputusan mutasi tersebut menjadi kejutan awal tahun yang indah bagi saya.

Bertepatan dengan hari ulang tahun saya, saya memberanikan diri untuk melamar sahabat, teman dan musuh saya sejak SMP. Kami berteman di SMP dan SMA, dan bersahabat sejak saat itu. Meski sempat kehilangan kontak, akhirnya reuni SMP kembali mempertemukan kami dan saya mulai memikirkan kedekatan kami sejak saat itu. Mengingat ibu saya yang sering mempertanyakan kapan saya menikah, dan teman-teman seangkatan yang saya rasakan mulai meninggalkan saya (karena mereka masing-masing telah berkeluarga), dan untuk mengobati rasa kesepian dan kesendirian yang terus menyerang saya (aelaah….), akhirnya saya memutuskan untuk melamar Yuliana dan memintanya menjadi istri saya. Alhamdulillah hubungan kami telah diresmikan pada tanggal 8 Oktober 2015 yang lalu.

Sewaktu SMP, tingkat pertama, saya tidak sekelas dengan istri saya, tetapi saya sekelas dengan saudara kembarnya (yang sekarang menjadi kakak ipar saya). Baru di tingkat tiga saya sekelas dengan keduanya (istri saya dan kembarannya). Kedekatan kami dimulai sejak saya aktif di pramuka dan beberapa dan PMR. Sebenarnya tidak bisa dibilang dekat, karena kami lebih sering berantem (iya, berantem, saling ejek, dll) dibanding saling curhat. Di SMA kami tidak pernah sekelas, tetapi karena kampung kami bertetangga, kami sering ketemu di angkutan menuju ke sekolah, baik berangkat maupun pulang sekolah. Dan ingatan saya tentang istri saya justru kejadian saling ejek di angkutan umum, terutama mengenai warna kulit kami yang sama-sama gelap (sebenarnya kulit saya lebih putih :P).

Menikah adalah keputusan yang sangat besar bagi saya, dan saya tidak menyesalinya karena ternyata Allah telah menganugerahi istri yang sabar, pengertian, dan tentu saja cantik 🙂 ibarat mengenakan helm, saya mendengar bunyi klik dari hubungan kami. Dan saya berkesimpulan bahwa jodoh, sekeras apapun usahanya, sejauh apapun kita mencari,  ternyata dia justru orang dekat yang selama ini kita kenal. Urusan jodoh, saya sudah jatuh bangun, mencari, memulai, mencoba menemukan, bahkan saya pernah pada tahap menyerah. Tetapi Allah memang menjawab doa-doa dan usaha kita di waktu yang tepat.

Semoga tahun 2016 saya bisa tetap menulis, dengan semangat dan tema yang sedikit berbeda. Saya bisa menjadi suami yang baik bagi istri saya, anak yang baik bagi kedua orang tua saya, menantu yang baik bagi mertua saya, dan pegawai yang baik bagi institusi saya. Amin.

Saya menganggap mutasi dan pernikahan saya merupakan kejadian terbesar di hidup saya sepanjang 2015. Jadi, apa kejadian terbesarmu di tahun 2015?

Melihat dari Kacamata Orang Lain

KARENA tidak suka melihat orang lain melanggar aturan lalu lintas, saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak melanggar aturan lalu lintas. Terus terang saya sebel bin kesel melihat para pengendara motor yang melanggar lampu lalu lintas, padahal lampu masih merah, tapi mereka sudah memaksakan diri melewati jalan. Saya juga kesel melihat orang melawan arah, udah gitu kalau dibilangin malah nyolot, tipikal orang kita banget ya, udah salah ngotot. 

Tentu saja bukan berarti saya tidak pernah melanggar aturan lalu lintas, dulu saya juga suka ikut-ikutan orang kebanyakan, melawan arah, melanggar lampu lalu lintas, melewati batas jalan, dll. Tapi lama kelamaan saya pikir, kalau saya berpikiran sama dengan mereka dan melakukan hal yang sama dengan mereka yang sudah jelas-jelas salah, apa bedanya saya dengan mereka? Maka sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak melanggar lalu lintas. Lebih baik saya terlambat ke kantor atau saya memutar agak jauh daripada saya harus melanggar lalu lintas.

Sikap menahan diri untuk tidak melanggar lalu lintas merupakan salah satu cara saya untuk latihan, latihan patuh dan sabar, meski kadang saya harus sendirian. Di dunia dengan arus perkembangan teknologi dan globalisasi yang ‘terlalu’ cepat seperti sekarang ini, kadang batas benar dan salah menjadi bias, suatu kesalahan yang dilakukan secara berjamaah menjadi sebuah kebenaran atau bahkan sesuatu yang dibenarkan. Dan sedihnya suatu kebenaran yang dilakukan satu orang menjadi terabaikan.

Saya belajar banyak dari lalu lintas, selain belajar kesabaran saya juga belajar menilai orang, bahwa perilaku melanggar lalu lintas memang tidak secara langsung mencerminkan keseluruhan sikap seseorang tersebut, tetapi perilaku melanggar lalu lintas adalah bibit-bibit sifat buruk yang bisa merusak seseorang. Siapa tau dari sikap melanggar lalu lintas tersebut lahir perilaku korup atau berkhianat. Wallahu’alam.

Dulu saya pernah menjadi agen call center di Kring Pajak 1500200, awal-awal saya harus menjawab pertanyaan Wajib Pajak, saya sering mengeluhkan pertanyaan Wajib Pajak yang kesannya sepele dan ecek-ecek. Saya sering mengeluh kepada team leader saya, kenapa sih pertanyaan seperti ini saja masih ditanyakan oleh Wajib Pajak? Tetapi kemudian saya belajar, saya belajar bahwa masyarakat Wajib Pajak memang beragam pengetahuannya, dari yang tidak tahu sama sekali sampai yang pengetahuannya terlalu filosofis hingga kadang dia tidak tahu bahwa filosofi tersebut tidak diterapkan di UU Pajak di Indonesia. Saya belajar melihat dari kacamata Wajib Pajak, saya belajar melihat dari perspektif yang berbeda. Dan di situlah kemudian timbul perasaan tulus, ikhlas dan bahagia saat bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Wajib Pajak. Saya belajar menggunakan sepatu yang dikenakan Wajib Pajak. Karena saya tidak suka, kesel dan sebel melihat orang yang melanggar lalu lintas, saya sebisa mungkin untuk tidak melanggar lalu lintas. Karena selain membahayakan diri juga saya membahayakan orang lain.

Jadi, yuk mulai belajar melihat dari kacamata orang lain, don’t judge, karena dari situ kita akan mengerti dan memahami sesuatu.

Jakarta, 31 Desember 2015.

Kancing Baju Cadangan

SAYA sering penasaran, kenapa kancing baju cadangan–yang biasanya ditempel di bagian dalam baju/celana yang kita beli–hanya diberikan satu buah. Misalnya saya membeli kemeja merk A dengan jumlah kancing dari atas ke bawah sebanyak tujuh buah kancing dan tentu saja tujuh buah lubangnya :), tapi mengapa kancing baju cadangan yang diberi dan disertakan di baju tersebut hanya satu buah saja? Mengapa tidak tujuh?

Lalu saya mencoba mengerti arti kata cadangan. Kita sering mangartikan cadangan sebagai serep atau persediaan. Yaah namanya juga serep, pasti jumlahnya lebih sedikit. Tapi apa hanya karena dia persediaan lalu jumlahnya hanya satu?

Saya pun cuma bisa menebak-nebak dengan alasan yang lebih filosofis. Bahwa pada dasarnya, kesempatan kedua itu hanya datang satu kali. Kesempatan kedua, apapun bentuknya: entah benar-benar kesempatan kedua, entah pemberian maaf dari seseorang atas kesalahan yang kita perbuat, atau pengampunan atas kesalahan yang kita lakukan, hanya akan diberikan satu kali. Jika pada prakteknya kesempatan kedua dapat diberikan lebih dari sekali atau bahkan beberapa kali, saya yakin itu bukan kesempatan kedua namanya, tetapi kesempatan ketiga, keempat, dst, hehe.

Maksudnya? Jangan melakukan perbuatan salah lebih dari satu kali, karena kesempatan keduanya hanya akan datang sekali. Keledai saja tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Karena kesalahan yang dilakukan berulang-ulang, hanya akan menimbulkan pertanyaan: bisa nggak sih? atau niat nggak sih?  Niat dan kapabilitas kita kemudian akan dipertanyakan.

Sekian tulisan lebay dan nggak jelas saya tentang kancing baju cadangan.

Usaha Tidak Pernah Menghianati Hasil

SORE ini saya sedikit terkejut ketika membuka dashboard di blog saya dan mengklik bagian iklan (WordAds). Saya terkejut ketika menyadari bahwa iklan-iklan yang dipasang oleh WordPress di blog saya sudah mulai menghasilkan. Meski belum banyak, tapi saya tetap bersyukur bahwa saya bisa menghasilkan sesuatu dari tulisan-tulisan saya. Meskipun sudah sering menerima upah ketik dari majalah pajak, tetapi menerima upah dari pemasangan iklan di blog sendiri adalah hal yang baru bagi saya. Dulu sempat ada salah satu majalah pajak memasang iklan di majalah saya, majalah tersebut meminta saya menempel banner iklan majalahnya, namun karena ada wanprestasi akhirnya banner tersebut saya lepas.

Sejujurnya saya sangat bahagia dan bersyukur, bahwa usaha yang saya lakukan diiringi dengan doa orang-orang terdekat saya (ibu, bapak, istri, dan keluarga) tidak sia-sia. Saya semakin yakin bahwa usaha memang tidak pernah menghianati hasil. Jika kita menginginkan hasil yang maksimal, maka berusahalah secara maksimal juga.

Menurut ilmu fisika, usaha didefinisikan sebagai hasil dari gaya dan perpindahan, sehingga diformulasikan dengan W = F.s dimana W = usaha, F = gaya dan s= jarak perpindahan yang bisa kita tempuh. Berdasarkan formula tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa S = W/F, atau jarak yang akan kita tempuh merupakan perbandingan antara usaha \dibagi dengan gaya yang kita lakukan. Agar jarak yang kita tempuh semakin besar/jauh, maka kita harus memperbesar usaha, namun harus memperkecil gaya. Jadi, banyak usaha namun sedikit gaya ya! 😛

Pada akhirnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pembaca blog saya, semoga tulisan saya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, terutama kepada diri saya sendiri dan kepada para pembaca sekalian. Masih mengutip perkataan Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian, sampai detik ini saya masih ingin agar tulisan saya abadi, meskipun pada suatu hari nanti saya harus meninggalkan dunia ini. Semoga.

Pelayan Restoran dan Organisasi Kita

TERUS terang saya agak bete saat saya menanyakan salah satu menu masakan di restoran yang saya tidak tahu kepada pelayan restoran, lalu pelayan tersebut menjawab ‘tidak tahu’. Kira-kira begini dialognya:

Saya : Mba, Afogatto Bolbalaga Cihua-hua itu makanan apa ya?
Pelayan:  Wah saya kurang tahu Pak!

Atau

Saya : Mba, Afogatto Bolbalaga Cihua-hua itu makanan apa ya?
Pelayan:  Kayanya rasanya coklat-coklat bau busuk gitu deh Pak!

Padahal saya menginginkan jawaban yang lebih terperinci, mendetail dan lengkap, misalnya:

Saya : Mba, Afogatto Bolbalaga Cihua-hua itu makanan apa ya?
Pelayan:  Oh itu adalah buah avocado yang telah terlebih dahulu dikupas kulitnya, dikeringkan dagingnya dan didiamkan di dalam suhu ruangan selama 2 minggu. Lalu daging tersebut dihancurkan, dicampur dengan tepung meizena dan dicampur dengan madu dari hutan Tesso Nillo dan telur ayam kampung, diuleni dan dibuat adonan. Adonan tersebut dipanggang dalam suhu 50 derajat fahrenheit selama kurang lebih 1/2 jam, lalu dihidangkan dengan saus strawberry dicampur dengan potongan buah plum dan mangga Indramayu dipotong kubus. Dan tak lupa, untuk menyajikannya chef harus menari Bolbalaga Cihua-hua.

Tentu saja dialog di atas murni karangan saya. Tapi setidaknya saya mengharapkan jawaban yang lengkap dan mendetail seperti itu, bukan jawaban saya tidak tahu pak, atau kayanya sih rasanya coklat-coklat masam begitu pak. Bukannya apa-apa, saya bertanya karena saya tidak tahu makanan itu, tentu saja saya membutuhkan informasi mengenai rasanya, bahan pembuatnya, kehalalannya, asalnya (mungkin), atau bahkan nama chef-nya (yang ini gak wajib-wajib banget sih!).

Menurut saya, pelayan restoran harus tahu menu apa saja yang ada di buku menu dan apa rasanya, termasuk bagaimana cara pembuatannya. Hal itu akan membantu pelayan dalam memberikan service kepada pelanggan. Bukan hanya sekedar mencatat menu dan menyampaikannya ke chef. 

Maka, pengenalan seluruh menu makanan kepada pelayan restoran merupakan hal yang penting dan urgen dalam bisnis makanan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi restoran dan karyawannya, tetapi juga bagi semua entitas, entah profit maupun nonprofit. Perusahaan/Institusi entah bagaimana caranya harus membuat karyawan mengenal perusahaan/institusinya. Karena dengan mengenal secara penuh dan menyeluruh akan membuat karyawan merasa memiliki perusahaan/institusi tersebut.

Bagi organisasi seperti DJP, pengenalan terhadap tugas dan fungsi, apa saya sumber daya/resources yang dimiliki, maupun apa saja resiko pekerjaan yang akan dihadapi akan membuat karyawan sadar bahwa di pundaknya dipanggulkan beban yang berat. Seringnya kita sering saklek menggunakan prinsip GIGO, gold in gold out dan garbage in garbage out. Padahal, meskipun yang masuk berupa emas, namun diolah dan dibekali secara sembarangan, kadar keemasannya akan turun, atau bahkan pudar sama sekali.