Jepang: Bagaimana Transportasi Mempengaruhi Perikehidupan

BEBERAPA kota di Jepang—terutama Osaka—terlihat sangat lengang. Meski jalan rayanya lebar-lebar, tapi jumlah kendaraan maupun jumlah orang di sekitar jalan sangat sedikit. Awalnya saya pikir hal tersebut disebabkan udara yang sedang dingin, karena masih perubahan dari musim semi ke musim panas. Udara bertiup sangat kencang. Saya sih seneng-seneng saja, hehe, soalnya udara jadi sejuk, jadi saya gak kepanasan karena berjalan jauh.

Tetapi saya baru tau penyebabnya keesokan harinya. Orang Jepang tidak banyak di permukaan bukan karena mereka tidak keluar dan tidak beraktivitas, tetapi karena mereka ada di dalam tanah. Ya, mereka ada di lorong-lorong di bawah tanah, di subway, di undeground way, yang menghubungkan dari satu stasiun ke stasiun lain, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu mal ke mal lain, maupun dari satu kantor ke kantor lain. Hal ini juga yang mungkin menyebabkan orang Jepang berkulit putih, dan tampak pucat namun cantik dan ganteng, karena mereka kurang matahari, hehe.

Tulisan ini saya khususkan untuk menceritakan mengenai moda transportasi di Jepang, murni dari pengamatan saya belaka.

Transportasi di Jepang bisa dikatakan sangat ideal. Dengan banyak pilihan dan terintegrasi hampir ke semua tempat dalam satu kota. Kita bisa ke manapun dengan moda transportasi yang ada. Tinggal pilih modanya, kemudian pilih rute yang sesuai. Metode pembayarannya pun bervariasi, tinggal memilih, mau tiket sekali jalan, tiket bersambung satu hari, dua hari, atau tiga hari. Semua bisa dimanfaatkan, bahkan oleh turis yang baru datang sekalipun bisa langsung dimanfaatkan karena memang sistemnya mudah dimengerti, dengan penunjuk dan petunjuk yang lengkap.

1. Kereta

Kereta merupakan transportasi utama Jepang. Pilihan jenis keretanya ada Subway, Japan Rail Lines (JR Lines), maupun kereta super cepat Shinkansen. Subway merupakan jaringan kereta bawah tanah, yang dikelola oleh banyak perusahaan di bawah komando Bureau Transportasi Pemerintah setempat, mungkin kalau di Indonesia seperti Dinas Perhubungannya. Bedanya adalah, jaringan subway ini sudah sangat amat luas sekali. Hampir seluruh tempat di Jepang bisa dijangkau dengan subway ini. Yang perlu kita lakukan cukup membeli tiket, menentukan tujuan, kemudian menentukan melewati jalur mana, transit di mana, lanjut  jalur mana, dan seterusnya.

Setiap hari (mungkin) lebih dari jutaan orang menggunakan jalur subway. Orang Jepang sudah terbiasa menggunakan transportasi umum, oleh karena itu jarang yang menggunakan kendaraan pribadi. Belum lagi biaya parkir di sana yang terbilang mahal, bisa mencapai Rp 90.000 per jamnya atau sekitar 900 Yen. Perusahaan parkir yang (sepertinya) terbesar adalah Times 24, dengan lahan parkir di mana-mana, baik parkir di lapangan terbuka maupun parkir di gedung dengan menggunakan lift. Dan yang serunya adalah, parkirnya self service. Kita cukup membeli tiket parkir di vending machine yang tersedia di dekat lahan parkir.

WP_20140523_197

WP_20140522_010

Subway—sebagai informasi saja—dibuat jauuuh di dalam tanah. Bisa sekitar 3 atau 4 lantai di bawah tanah. Sehingga kita harus menuruni tangga sampai beberapa kali. Dan di setiap lantainya pasti terdapat jalur kereta. Meskipun terdapat elevator maupun eskalator, orang Jepang kadang lebih memilih menggunakan tangga. Bayangkan saya kita naik turun tangga setiap hari, ditambah jalan kaki jauh dari satu platform kereta ke platform yang lainnya untuk transfer, belum lagi berjalan kaki dari stasiun ke tempat tujuan melalui underground way. Pantas saja orang Jepang kuat-kuat dan sehat-sehat. Tidak heran kita masih bisa menemui nenek-nenek atau kakek-kakek yang masih kuat, bahkan membawa beban berat sekalipun. Pernah suatu pagi saya melihat seorang nenek sedang mencoba memasukkan tas carrier besar ke coin locker di stasiun. Dan saya yakin tas yang sedang dia angkat sama beratnya dengan tas yang saya angkat, padahal saya sendiri pun kepayahan membawa carrier saya.

Coin locker tersedia hampir di semua tempat umum. Kita cukup memasukkan koin, maka kita bisa menyewa locker tersebut dan membawa kuncinya. Ukuran lockernya pun bervariasi, dari kecil, sedang, sampai besar. Untuk menyimpan 5 buah tas carrier besar, kami cukup menyewa satu buah locker dengan sewa sebesar 700 yen. Ada juga locker yang tidak menggunakan kunci, tetapi menggunakan sistem PIN. Jadi untuk membukanya kita harus memasukkan nomor PIN yang kita terima pada saat memasukkan barang.

DSC01426

DSC01947

Tiket subway pun tidak perlu repot-repot ke loket untuk membelinya, karena mesin tiket sudah tersedia banyak. Cukup memilih jenis tiket yang akan kita beli, kemudian membayar, dan mesin akan mengeluarkan tiket sekaligus kembaliannya. Cerdas sekali memang orang Jepang ini. Semua hal dibuat mudah, mudah.

WP_20140522_013

WP_20140521_083

Sistem tiketnya (sepertinya) diadopsi oleh KRL Indonesia. Dimana tiket cukup di tap dan kita bisa masuk ke platform untuk menunggu kereta. Namun ternyata tidak cuma di tap, tiket yang berbentuk kertas, bukan berbentuk kartu bermagnet, bisa kita masukkan ke mesin dan mesin akan melubangi tiket tersebut sebagai tanda tiket sudah pernah digunakan.

WP_20140521_071

Meski jadwal kereta hampir ada setiap 3 menit, pada jam-jam sibuk kereta tetap penuh kok. Sama seperti KRL di Indonesia. Bedanya, di sini orangnya lebih santun, karena tidak saling dorong. Antri saat naik atau turun, dan selalu mendahulukan penumpang yang turun terlebih dahulu. Bahkan sebelum keretanya datang pun, mereka sudah mengantri, sepertinya mereka melakukannya secara naluriah.

DSC01815

Beda Subway dengan JR Lines adalah, JR Lines tidak di bawah tanah, tetapi di atas tanah. Oleh karena itu jaringannya pun lebih sedikit. JR Lines sepertinya dirancang untuk menghubungkan satu ujung kota dengan ujung yang lainnya. Sedangkan Shinkansen sendiri merupakan kereta jarak jauh dengan harga tiket sekitar 1.000 – 4.000 yen. Shinkansen merupakan kereta cepat dengan jumlah gerbong yang sangat banyak.

Orang Jepang sepertinya tidak suka ngobrol heboh saat di kereta. Mereka lebih senang membaca buku atau sekedar bermain handphone (baca: iPhone, karena 9 dari 9 orang di sana menggunakan iPhone), atau sekedar diam saja. Kalau pun ngobrol mereka mengobrol dengan pelan, sehingga tidak mengganggu penumpang yang lainnya. Tidak seperti kami berlima yang begitu masuk kereta langsung heboh komentar sana sini, hihi, jadi malu sendiri kalau mengingat beberapa orang melirik kami karena kami ngobrol dengan heboh, sekali-sekali tertawa keras. Gapapa, kata teman saya, nggak kenal ini.

2. Bus

Bus merupakan alternatif transportasi yang lain. Pilihannya ada dua, city bus atau bis dalam kota, atau bis antar kota. City bus sendiri bisa kita naik dari mana saja, asal ada bus stop, dan kita memilih rute yang sesuai. Semua informasi mengenai jalur, jadwal, dan nomor bus nya pun terpampang jelas di bus stop. City bus merupakan bis yang ramah lingkungan, karena dibawa dengan santun oleh supir yang profesional, berdasi, dan berpakaian necis, serta mengenakan sarung tangan. Setiap pemberhentian, bis secara otomatis akan miring ke kiri, sehingga orang-orang akan mudah naik tanpa harus mengangkat kaki tinggi-tinggi. Pintu masuk bis merupakan pintu tengah, dan pintu keluar bis adalah pintu depan. Karena pada saat keluar penumpang harus memasukkan tiket ke mesin, atau membayar dengan koin, atau sekedar menge-tap kartu untuk membayar. Keren kan?

DSC01594

Bis hanya berhenti di bus stop, tidak bisa di tempat lain. Semua moda transportasi, baik bus, atau kereta, selalu menyediakan informasi mengenai pemberhentian berikutnya, dan ada objek/tempat apa saja di dekat situ, biasanya berupa suara perempuan yang direkam dalam beberapa bahasa, Jepang, Inggris, Cina, dan Korea. Sehingga penumpang akan dengan mudah mengetahui turun di mana tanpa harus bertanya. Saya sendiri sampai sekarang masih terngiang-ngiang suara mbak-mbak di kereta yang memberitahukan mengenai stasiun berikutnya.

Sedangkan bis jarak jauh melayani perjalanan jarak jauh. Harganya lebih murah dibandingkan Shinkansen. Kami menggunakan Willer Bus Express dari Kobe ke Tokyo yang memakan waktu sekitar 8,5 jam. Bis-nya mirip dengan bis-bis AC di Indonesia dan sama-sama tidak menyediakan toilet. Tempat duduk bisa disandarkan sampai miring sekali, sehingga kita bisa tidur dengan sandaran kaki yang bisa dinaikkan. Di bagian kepala ada fitur tambahan berupa tudung, sehingga kita bisa menutup kepala kita saat tidur.

IMG-20140525-WA0000

Moda transportasi yang lain adalah becak orang. Ya, becak orang, seperti yang biasa kita lihat di film-film China jaman dulu. Becak yang ditarik denga tenaga orang. Cuma biasanya becak orang ini hanya tersedia di tempat-tempat wisata, terutama di Asakusa.

———————————————————————————

Foto oleh Rio, Irwan, Saya, Dini, dan Tanzil.

Next : Serunya Menyeberang di Jepang

 

Advertisements

2 thoughts on “Jepang: Bagaimana Transportasi Mempengaruhi Perikehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s