Belajar Ketulusan dari Orang Jepang

SELAIN tulus dalam membantu, orang Jepang juga sangat tulus dalam bekerja. Kalau kita lewat di depan sebuah toko, petugas ‘marketing‘ toko tersebut yang tugasnya berteriak-teriak untuk menarik pengunjung, dia akan terus berteriak, dengan semangat dan ketulusan yang tidak dibuat-buat. Bahkan jika kita kembali lagi ke toko tersebut dua jam kemudian, dia masih berteriak dengan semangat yang sama. Tidak peduli tukang teriak-teriak di depan toko, tidak peduli tukang sayur, bahkan tidak peduli tukang sampah, mereka akan melakukan tugas mereka dengan baik, tulus. Dan mereka sangat saling menghargai. Membuang sampah pada tempatnya adalah wujud penghargaan terhadap tukang sampah.

Hampir semua jalanan—kecuali beberapa jalanan di Kobe dan Tokyo—bersih dari sampah. Sama sekali tidak ada sampah, padahal kalau saya perhatikan, tong sampah tidak terlalu banyak. Dulu saya pikir sampah berserakan di Jakarta dikarenakan sedikitnya tong sampah yang disediakan. Namun ternyata saya salah. Jumlah tong sampah di Jepang tidak banyak-banyak amat, namun karena masyarakatnya sudah sadar dan memang tidak suka membuang sampah sembarangan, jadi kotanya bersih dari sampah berserakan. Kesimpulannya, ternyata bukan tentang fasilitas, melainkan tentang sikap mental atau moral.

Jepang juga sangat menghargai orang berkebutuhan khusus. Hampir semua fasilitas umum menyediakan kemudahan bagi mereka (baca: orang cacat). Dari mulai toilet, bis, kereta, eskalator, tangga, bahkan tempat wisata pun selalu mengutamakan pelayanan buat orang cacat. Pernah kami naik city bus menuju suatu objek wisata, dan yang akan naik adalah orang dengan kursi roda. Supir bus dengan sigap membantu menaikkan dan juga menurunkan penumpang tersebut.

WP_20140524_010

Soal toiletnya sendiri, jangan ditanya. Hampir semua tempat umum menyediakan toilet dengan jumlah cukup dan bersih. Tidak terlalu sulit menemukan toilet di sana. Meski toilet umumnya miskin tissue, karena tissue harus dibeli dari vending machine di dekat toilet dengan harga 100-120 yen.

WP_20140524_094

WP_20140524_093

Pernah suatu siang kami sedang kebingungan. Sebenarnya kami tidak kebingungan mencaru rute, kami bingung mencari tempat makan, karena sudah agak sore dan kami belum sempat makan siang. Tiba-tiba seseorang menawarkan diri membantu kami. Dia menanyakan kami akan menuju kemana, kemudian dia menjelaskan bahwa untuk menuju ke sana kami harus melalui line A, kemudian pindah ke B, dst. Bahkan dia—Higashi namanya—mengantarkan kami sampai ke platform keretanya. Saya jadi agak bingung juga, kenapa malah jadi nyari rute, padahal tadi lagi nyari tempat makan T,T

Ketika baru sampai di Kyoto pada malam hari (sekitar jam 21.00) kami kebingungan membaca peta, karena alamat Piece Hostel yang diberikan tidak terlalu jelas. Maka kami tanya kepada serombongan pemuda Jepang (berjumlah 4 orang) yang baru keluar dari stasiun. Mereka tidak tau sebenarnya Piece Hostel ada di mana, namun yang saya kagum dari mereka, 4 orang tersebut tanpa dikomando mengeluarkan iPhone dan mencarikan lokasinya melalui google maps. Dengan bahasa inggris yang pas-pasan mereka menerangkan kepada kami mengenai alamatnya.

Entah ini kali keberapanya kami kebingungan di jalur subway saat tiba-tiba seorang nenek-nenek dengan ramahnya menyapa kami dan menawarkan bantuan. Bahasa inggrisnya bagus, dan nenek-nenek ini pun mengantarkan kami ke platform keretanya. Terima kasih nek!

Beberapa kali kami mengawali pembicaraan dengan orang Jepang, entah itu bertanya tentang jalur subway, bertanya alamat, maupun menanyakan hal lain. Kadang nyambung, kadang nggak nyambung juga. Kalau sudah tidak nyambung, maka kami akan menyerah dan mengatakan ‘its oke, arigato‘, hahaha. Umumnya petugas hotel atau tourist information centre sudah berbahasa inggris dengan baik, meski kita harus benar-benar berkonsentrasi saat ngomong dengan mereka, karena mereka menyebut ticket dengan ciketo, mengingat mereka tidak memiliki konsonan dalam struktur bahasa mereka (yang ini kata Tanzil). Saat berbelanja barang yang dibebaskan dari pajak, kita harus menunjukkan paspor. Beberapa kali saya harus bengong karena bingung, soalnya mereka menyebut passport dengan sesuatu yang kedengarnya seperti paspoto. Mungkin mereka menyebut passporto. Dalam hati saya, saya beli barang, kenapa harus ngasih pas foto segala ya, hahaha.

WP_20140522_105

WP_20140522_104

Polisi Jepang—yang mukanya kebanyakan masih imut-imut dan sama sekali gak kelihatan garang seperti polisi kita—saat kita tanya mengenai suatu tempat kebanyakan tidak tahu. Jadi jangan tanya polisi deh, mending tanya ke tourist information centre saja, hehe.

WP_20140524_128

Suatu sore kereta kami tiba di Kobe. Kami berlima berjalan dalam kondisi kelaparan dan kecapaian karena beban tas kami yang berat. Rencananya malam itu dari Kobe kami akan melanjutkan perjalanan ke Tokyo dengan menggunakan bis–willer bus express. Maka sore hari itu pun kami terlebih dahulu mencari alamat bis-nya, niatnya sih mau menitipkan barang dan lanjut jalan-jalan di Kobe. Kami sudah menanyakan alamatnya kepada beberapa orang, namun tidak juga kami bisa menemukan tempatnya. Tiba-tiba seseorang menghampiri kami dan menawarkan diri mencarikan tempat. Usut punya usut peta yang diberikan oleh Willer Bus merupakan peta jadul yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Maka kami pun muter-muter mencari alamatnya, sampai harus bertanya pos polisi segala (dan polisi nya pun gak tau), bahkan sampai orang tersebut menelepon ke bisnya dan menanyakan lokasinya ada di mana.

WP_20140525_007

Kata teman saya, Neni—yang sudah beberapa kali melancong ke Jepang—kalau nyasar di Jepang itu wajar, cukup nikmati saja kenyasaran itu, karena bahkan nyasar-nya pun indah. Ternyata memang betul, karena nyasar justru membawa kami kepada banyak pengalaman seru, belajar tentang ketulusan, dan keramahan negara Jepang.

————————————————————–

Foto-foto oleh Rio, Irwan, Saya, Dini, dan Tanzil

Advertisements

2 thoughts on “Belajar Ketulusan dari Orang Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s