Jepang: Kesadaran Yang Menyesakkan

AKHIRNYA kesadaran itu datang, saat paspor saya dibolak-balik oleh petugas perempuan dengan muka kusut, tanpa senyum, wajah cemberut kelelahan karena antrian yang panjang dan tidak beraturan, dan jam kerja yang sepertinya sudah overtime, kemudian membubuhkan cap pada paspor saya dengan tulisan arrival. Kesadaran itu datang dengan tiba-tiba, seketika, dan sekaligus, bahwa saya sudah tiba kembali di Indonesia, di negeri yang (entah sampai kapan) saya cintai.

Aaah, rasanya baru kemarin saya berangkat ke Jepang, menggunakan taksi bersama Rio dan Ajo menuju terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Sekarang saya sudah kembali di kamar tercinta dengan laptop dan beberapa buku berserakan, mengumpulkan ide untuk menulis catatan perjalanan saya yang luar biasa. Saya tidak ingin terlarut dalam kesadaran yang menyesakkan itu, karena mengabadikan perjalanan saya dalam tulisan lebih penting ketimbang menyesali kenyataan bahwa saya sudah meninggalkan Jepang, dan entah kapan bisa kembali ke sana. Hiks.

Kami sengaja memilih taksi menuju bandara, karena memang kami berangkat bertiga. Dimana biaya yang akan kami keluarkan bertiga akan lebih murah dibandingkan jika kami harus naik travel ke bandara. Namun ternyata perkiraan kami meleset. Taksi yang kami tumpangi bukan taksi ecek-ecek, karena dikelola oleh perusahaan taksi terkenal yang hampir ada di seluruh kota besar di Indonesia. Namun pengemudinya sepertinya agak (maaf) teler, kepot sana sini, melewati polisi tidur maupun lubang dengan kasar, sehingga kami merasa mual. Akhirnya di tengah jalan kami memutuskan mengganti taksi kami dan melanjutkan perjalanan. Untungnya supir taksi yang kedua ini agak mendingan dibandingkan supir kami yang pertama.

Kami berlima—Saya, Rio, Irwan, Dini, dan Tanzil—berangkat dengan menggunakan Air Asia yang tiketnya kami beli dengan harga promo sembilan bulan yang lalu, sementara Ajo memang akan pulang ke Palembang dari terminal 2. Dari Jakarta kami transit di Kuala Lumpur International Airport (KLIA 2) yang merupakan bandara baru dengan fasilitas lengkap dan bangunan lebih megah dari Soekarno Hatta. Selain karpet yang empuk dan ruang tunggu yang nyaman, banyak, dan dilengkapi dengan TV Kabel untuk menonton film/berita, juga mushola yang bersih dan ada di hampir semua lorong, termasuk toiletnya juga yang bersih dan baru.

IMG-20140520-WA0023

IMG-20140520-WA0038 IMG-20140520-WA0025 DSC01077 WP_20140520_018 WP_20140520_002 WP_20140520_006 WP_20140520_010 WP_20140520_011 WP_20140520_015

Tepat jam 1 dini hari, dengan Air Bus A330 seri 300 kami melanjutkan perjalanan ke Kansai Airport. Ini adalah perjalanan yang sangat lama, karena membutuhkan hampir 6.5 jam perjalanan di pesawat. Untungnya dini hari, sehingga saya bisa tidur sepanjang perjalanan. Pesawat kami lumayan besar, dengan 9 tempat duduk dalam satu deret, dan ada sekitar 50 baris, sehingga dalam satu kali perjalanan bisa mengangkut sekitar 450 orang. Dini hari itu pesawat kami penuh dan ramai, banyak orang dengan berbagai bahasa. Di sebelah saya adalah bapak-bapak yang akan kembali ke Jepang bersama keluarganya, beberapa kali mengobrol dengan istrinya di dengan menggunakan bahasa Jepang. Sementara di depan saya ada serombongan anak-anak muda Singapore dengan bahasa Cina (sepertinya) akan jalan-jalan (seperti saya) di Jepang.

Pesawat kami tiba di Kansai Airport pada jam 7.30 pagi. Dari Terminal kedatangan ke imigrasi kami harus menggunakan shuttle train, dan kami berlima berdecak kagum melihat kereta kecil ini. Menghubungkan bangunan terminal dan bangunan tempat imigrasi dan bea cukai berada dengan waktu tempuh sekitar 3 menit saja.

IMG-20140521-WA0004

Setelah melewati imigrasi—yang juga peralatannya canggih, dengan pemindai sidik jari dan kamera pengambil gambar yang dilengkapi dengan layar depan, sehingga kita bisa melihat langsung hasilnya—kami masih harus melewati customs untuk mendeklar barang bawaan kami. Kecanggihan peralatan yang dipergunakan imigrasi Jepang di Bandara Kansai bisa kita lihat dari outputnya. Jika imigrasi bandara lain–termasuk imigrasi bandara Indonesia masih menggunakan stempel, baik untuk departure maupun arrivalnya, imigrasi di Bandara Kansai sudah mengunakan stiker yang dicetak oleh komputer dilengkapi dengan QR code untuk dipindai pada saat kepulangan kita.

WP_20140529_001

Bandara Kansai adalah sebuah bandara besar dengan fasilitas super lengkap. Petugas informasi berada tepat di depan pintu keluar kedatangan internasional, sehingga mudah ditemukan. Gedungnya kokoh dengan tiang-tiang tinggi dari beton atau baja, sepertinya dibuat antigempa. Dengan kemudahan transportasi, mulai dari kereta, bis, sampai kapal feri, tinggal dipilih sesuai kebutuhan.

WP_20140521_007

WP_20140521_009

WP_20140521_010

DSC01088

Entah karena dilarang foto di bandara atau bagaimana, begitu kami sedang asyik foto-foto di sekitar bandara, ada dua orang polisi mendatangi kami. Mereka menunjukkan identitas mereka (sebagai polisi), kemudian menanyakan beberapa hal kepada kami; apakah kami pelajar atau turis, kemudian berapa lama tinggal di jepang. Sempat deg-degan juga sih, khawatir berakibat buruk buat kami. Dua orang polisi tersebut mencatat nama dan nomor passport kami, kemudian mereka meminta maaf atas ketidaknyamanannya, dan kami dibiarkan pergi. Saya sendiri tidak terlalu ngerti dengan kejadian ini, karena meskipun menggunakan bahasa inggris, kata-kata polisi tersebut susah sekali dimengerti. Ah, tapi ya sudahlah, toh memang tidak terjadi apa-apa sampai kami pulang kembali ke Indonesia.

Saya bagikan beberapa tips untuk teman-teman yang hendak bepergian ke Jepang untuk traveling:

1. Sebelum keberangkatan

Pastikan semua barang sudah dipacking dengan benar, tidak memenuhi tas/ransel/carrier. Oleh karenanya, bawa saja barang yang dibutuhkan. Barang yang tidak dibutuhkan tidak perlu di bawa. Buatlah catatan kecil berisi tentang ceklis barang bawaan wajib, sehingga memudahkan saat packing. Jangan lupa membawa ballpoint dan buku notes kecil untuk catat mencatat.

Perhatikan berat dan dimensi tas yang dibawa. Beberapa penerbangan mensyaratkan ukuran dan berat barang bawaan yang bisa masuk kabin. Jangan sampai ‘bepergian hemat’ kita menjadi boros hanya karena harus membayar biaya bagasi yang mahal.

Jangan lupa membawa tissue basah, karena kebanyakan toilet di Jepang adalah toilet kering, tidak menyediakan air untuk bersih-bersih setelah kita membuang air. Dan untuk kenyamanan dalam menggunakan gadget, colokan di Jepang merupakan colokan dua pipih ke arah luar. Persiapkan colokan internasional, biasanya toko listrik menyediakan.

2. Buat Daftar Hal Yang Harus Dilakukan dan Daftar Barang Yang Akan Dibeli

Buatlah catatan kecil semacam Things To Do in Japan dan Things To Buy, sehingga jalan-jalan kita akan lebih efektif. Things To Do in Japan bisa dijadikan bahan menyusun itinerary, lengkap dengan jadwal, moda transportasi yang akan digunakan, maupun biaya yang akan dikeluarkan sehingga bisa dihitung berapa pengeluaran yang mungkin terjadi. Things To Buy menjauhkan kita dari setan kalap belanja. Beli yang dibutuhkan saja, jangan kalap. Apalagi Jepang terkenal dengan industri kecil kreatifnya yang unik dan kreatif sekali. Daftar ini akan memudahkan kita untuk fokus saat belanja.

3. Buat dan Patuhi Itinerary

Itinerary itu semacam DIPA bagi satker. Pedoman. Itinerary mempermudah kita saat traveling. Tanpa itinerary kita akan kebingungan, karena terlalu banyak tempat yang harus dikunjungi dengan lokasi yang berbeda-beda. Jangan lupa patuhi itinerary tersebut. Percuma membuat itinerary tapi tidak dipatuhi. Memang kadang pelaksanaan tidak akan selalu cocok dengan itinerary, tapi itinerary sangat membantu kita untuk fokus. Jadi kita tidak membuang waktu dan biaya pada hal-hal atau tempat yang tidak terlalu bagus untuk dikunjungi.

Itinerary kami kemarin merupakan itinerary super tebal, dengan jumlah halaman hampir mencapai 200. Kami lengkapi dengan peta dan how to get there, termasuk dengan menggunakan moda transportasi apa. Apabila membutuhkan silakan mengkontak saya, saya dan teman-teman pasti akan dengan senang hati membaginya.

Bagaimana jika sumber yang dibaca untuk menyusun itinerary sudah terlalu lama sehingga informasinya tidak terlalu update? Hampir di semua tourist information maupun di stasiun-stasiun menyediakan secara gratis buku atau flyer guide mengenai tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi. Jangan ragu untuk membaca buku/flyer tersebut untuk mencocokkan dengan itinerary yang telah dibuat.

WP_20140529_003

4. Ketahui tentang Moda Transportasi di Jepang

Moda Transportasi di Jepang lumayan lengkap. Dari kereta, bus, kapal, maupun taksi. Kereta pun ada banyak sekali perusahaan operatornya, dari subway, Japan Rail Lines (JR Lines), Kereta super cepat Shinkansen, maupun beberapa private rail. Beberapa kereta ada yang tiketnya bisa dibeli online, namun ada beberapa yang harus dibeli on the spot. Mengetahui jenis moda yang tersedia serta jadwalnya akan mempermudah akses kita menuju tempat tujuan, sehingga tidak akan nyasar-nyasar yang membuang waktu dan energi.

Mengenai transportasi di Jepang ini, terutama kereta, akan saya bahas khusus pada postingan selanjutnya.

5. Pandai Membaca Peta

Sistem transportasi dan pariwisata di Jepang sudah dibangun dengan sangat bagus, dan terintegrasi. Tidak susah menemukan tourist information di tempat-tempat umum seperti stasiun, bandara, maupun tempat belanja. Peta pun tersedia di mana-mana dalam bentuk peta yang dipasang di tempat umum maupun peta dalam bentuk flyer. Peta ini meliputi peta transportasi (misalnya peta jalur kereta) maupun peta lokasi. Pandai-pandailah membaca peta, karena akan sangat berguna. Tanpa peta waktu jalan-jalan kita akan habis hanya untuk mencari lokasi, kecuali bepergian dengan jasa travel.

WP_20140521_086a

WP_20140524_059

WP_20140525_015

WP_20140522_008

WP_20140522_063

WP_20140523_007

WP_20140523_178

WP_20140524_015

WP_20140525_014

Jangan lupa mencari peta/flyer yang ditulis dengan menggunakan huruf dan angka arab, karena beberapa peta/flyer masih ditulis dengan bahasa dan huruf Jepang.

6. Jangan Malu Bertanya

Masyarakat Jepang adalah tipikal masyarakat yang ramah. Mereka akan dengan senang hati membantu apabila kita bertanya; beberapa bahkan langsung bertanya kepada kami, apakah kami membutuhkan bantuan atau tidak. Mungkin karena mereka melihat kami sedang kebingungan. Jika kita menanyakan sesuatu dan mereka tidak bisa membantu, sangat jelas terlihat di muka mereka bahwa mereka merasa berdosa. Orang Jepang sangat tulus dalam membantu maupun melakukan pekerjaan mereka sendiri. Beberapa kali kami harus merepotkan mereka, karena kami bertanya tentang suatu tempat, dan akhirnya mereka dengan senang hati mengantarkan kami ke tempat tujuan tersebut. Bahkan ada Bapak-bapak yang rela menggunakan ponselnya untuk menelepon tempat tujuan kami, dan menanyakan sebenarnya dimana lokasinya.

Mengenai bahasa, memang tidak banyak yang nyambung jika diajak berbicara dengan bahasa Inggris. Kebanyakan menjawab dengan bahasa mereka. Saya jadi berpikir, hal itu bukan dikerenakan mereka tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi lebih kepada mereka tidak mau menggunakannya. Mereka terlalu cinta dengan bahasa dan tulisan mereka sendiri. Salut!

WP_20140522_005

Irwan bertanya jalur subway kepada petugas

DSC01780

Salah satu orang baik yang mau mengantarkan kami ke tempat tujuan

IMG-20140522-WA0063

Higashi, yang tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu saat kami kebingungan. Foto agak blur.

7. Perhatikan Tanda/Suara

Kota-kota di Jepang merupakan kota besar yang maju. Dalam satu kereta bawah tanah saja (subway) ada banyak line/jalur yang jika kita salah naik bisa tersesat jauh. Maka pandai-pandailah membaca tanda. Beberapa tanda ditulis dengan bahasa dan huruf mereka, tetapi sebagian besar sudah ditulis dengan huruf arab juga. Tanda-tanda ini sangat membantu kita. Tanda-tanda yang mereka buat juga sudah dibuat lengkap dengan warna dan gambar yang mudah dimengerti.

WP_20140521_077

WP_20140521_196

WP_20140522_007

WP_20140522_014

WP_20140523_126

WP_20140523_177

WP_20140523_194

WP_20140524_018

WP_20140524_022

 

WP_20140524_109

—————————————————————————

bersambung.

Foto-foto oleh Irwan, Rio, Saya, Dini dan Tanzil.

 

Advertisements

3 thoughts on “Jepang: Kesadaran Yang Menyesakkan

  1. Dina

    Halo, Mas,
    Salam kenal 🙂
    Tulisan2 mengenai Jepang nya bikin tambah semangat mau kesana 💪
    Jika berkenan, saya minta tolong dikirimkan itin super tebalnya?
    Terima kasih.

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s