Jepang: Sebuah Pengantar

Saya yakin semua orang memiliki sejumlah tempat yang ingin dikunjungi di dunia. Sebut saja list places to visit before die.  Dulu waktu saya kecil dan masih ingusan, Jakarta merupakan tempat yang berada di urutan pertama di list tersebut. Kenapa Jakarta? Karena di TV selalu diberitakan tentang Jakarta. Saya ingin melihat dan naik ke Monas, kemudian masuk ke Kebun Binatang Ragunan, dan melihat Masjid Istiqlal yang selalu muncul ketika kumandang adzan maghrib. Di urutan kedua adalah Bandung, karena gedung sate selalu memesona saya setiap acara kelompencapir maupun berita daerah Jawa Barat yang ditayangkan di TVRI waktu itu. Setiap menontonnya, dalam hati kecil saya selalu mbatin bahwa suatu ketika saya harus ke sana.

Ternyata doa saya didengar oleh Tuhan, karena di umur 12 atau 13 tahun—saya lupa waktu itu umur berapa—Bapak saya mengajak saya ke Bandung. Meskipun saya kecewa, tidak melihat Bandung seperti tampilan di TV, karena ternyata saya tidak melihat gedung sate dari sisi depan, tetapi dari sisi samping, dan bis yang kami tumpangi tidak berhenti di depan gedung sate. Beberapa tahun kemudian, sekitar SMA Kelas 2, saya kembali ke Bandung. Kali ini bukan dengan Bapak saya, tetapi dengan ibu guru matematika saya. Pada waktu itu saya ditunjuk untuk mewakili sekolah saya bersama dua orang teman saya yang lain mengikuti olimpiade matematika di ITB. Dan bukan hanya berhenti di depan gedung sate, tetapi juga turun dan masuk ke kawasan gedung sate. Saya sangat bersyukur waktu itu.

Mimpi berkunjung ke Jakarta dikabulkan beberapa tahun kemudian, pada waktu itu wisuda sekolah saya diadakan di Balai Sidang JCC. Dan pada waktu itulah pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta. Kota yang katanya sumber pengharapan, masa depan cerah dan menjanjikan. Meski hanya lewat saja, saya merasa puas melihat gedung-gedung bertingkat. Ternyata pada saat itu Tuhan masih menunda terkabulnya impian itu, karena beberapa tahun kemudian Tuhan mengabulkan seluruh mimpi saya untuk melihat Jakarta. Bahkan lebih dari itu, saya tinggal di Jakarta—tepatnya di dekat Jakarta.

Oleh karena itu, sejak pengalaman ke Bandung tersebut, saya terus memperbaharui list places to visit saya. Setiap mengetahui suatu tempat yang indah atau bagus untuk dikunjungi, saya selalu menambahkan tempat tersebut ke daftar saya. Meski tempat tersebut hanya sebuah taman. Bahkan taman menteng pernah masuk ke dalam daftar saya, hihi. Tidak ada salahnya membuat daftar tersebut, setidaknya itu menunjukkan bahwa kita punya mimpi yang harus kita capai sebelum kita meninggal. Tempat yang menduduki posisi paling atas yang ingin saya kunjungi adalah Kabah, mungkin terlalu mainstream bagi kaum muslim, tapi memang Kabah adalah tempat yang paling ingin saya kunjungi sebelum saya meninggal. Dan posisi nomor dua dari daftar tersebut adalah Jepang.

Suatu ketika saya sudah berniat untuk membeli rumah. Saya sudah berikhtiar dengan mendatangi beberapa perumahan yang menurut saya akan sesuai bujet saya. Namun bukan Jakarta namanya kalau harga properti tidak selangit. Semakin saya mendatangi perumahan-perumahan tersebut, saya semakin ciut dengan harganya. Saya menyebut harga properti di Jakarta sebagai anomali. Saya pun mulai putus asa. Di tengah keputusasaan saya, saya bilang ke ibu saya, nanti kalau memang tidak ada rumah yang bisa dibeli (baca: di DP-in buat dicicil), saya mau pergi umroh atau mau ke Jepang saja. Ibu saya hanya tersenyum dan mengiyakan pada waktu itu.

Tidak lama setelah kejadian itu, salah seorang teman mengajak ke Derawan, sebuah Kepulauan di Kalimantan Timur. Derawan ini masuk juga ke dalam list saya, karena katanya tempat ini lebih indah dari Karimunjawa maupun Raja Ampat.

derawan-1

sumber : gambar1

Namun mungkin rencana ke Derawan ini belum mendapat restu dari semesta, sehingga terpaksa gagal. Namun kegagalan tersebut justru melahirkan ide lain yang ternyata lebih gila. Karena kemudian rencananya berpindah dari derawan ke urutan nomor 2 di list saya, Jepang.

Dan, hingga hari ini saya bersama empat orang lain tengah mempersiapkan perjalanan kami ke Jepang. Dan, berkat kerja keras teman-teman saya tersebut, sekarang itinerary perjalanan kami ke Jepang sudah jadi dalam bentuk buku dengan tebal hampir 200 halaman. Saya bangga sekaligus terharu melihat keseriusan teman-teman saya mempersiapkan perjalanan kami. Semoga saja dilancarkan.

coveranyar

 

Advertisements

4 thoughts on “Jepang: Sebuah Pengantar

  1. adinsu

    WOW..
    sungguh wow sekali kalo sampe 200 halaman hehe

    jgn lupa oleh2nya Nash, cukup dibawakan seekor doraemon aja deh

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s