#AADC2

SAYA termasuk satu dari beberapa suami yang dipaksa istri nonton AADC2. Meski dipaksa, akhirnya saya dengan suka cita juga menonton film itu. hehe.

Saya lupa kapan pertama kali menonton AADC, sepertinya sekitar tahun 2004-an. Maklum, belum ada bioskop di kota kami. Dulu, saya orang yang kalau ada masalah dikit terus suka melow galau nggak jelas gitu, ujung-ujungnya bikin puisi atau curhatan di buku tulis, hihi. Puisi-puisi Rangga di AADC banyak menginspirasi saya. Kesan saya setelah menonton AADC yang pertama, Dian Sastro pada saat itu sepertinya menjadi cewek paling cantik se-Indonesia, dan sepertinya predikat itu masih tetap melekat hingga sekarang ya meskipun sudah bersuami dan punya anak.

Suasana yang dibawa AADC2 sedikit berbeda dengan AADC1 ya. Kalau dulu kita banyak dibawa dengan suasana sekolahan SMA di Jakarta, AADC2 mengambil setting di 3 tempat sekaligus, Jakarta, New York dan Yogyakarta. Dan Yogyakarta menjadi fokus utama cerita. Saya bahagia karena selain menjawab penasaran penonton tentang kelanjutan cerita Rangga dan Cinta, AADC2 juga banyak mempromokan banyak lokasi wisata di Yogyakarta.

Rangga secara umum masih seperti dulu, pencinta namun penakut dan peragu. Sementara Cinta masih tetap realistis dan mudah sekali di PHP-in. Iya, Cinta termasuk cewek yang mudah sekali di PHP-in. Bagaimana tidak, bilangnya tidak lagi mau ketemu Rangga, tapi tetap berhias dan gonta-ganti lipstik saat seolah-olah ‘dipaksa’ ketemu Rangga. Secara umum ceritanya memuaskan kalau menurut saya, tidak terlalu ‘sinetron’ banget. Dan lagu Bimbang-nya Melly Goeslaw tetap menjadi lagu magis di film ini.

Agak sedikit terganggu, ketika di kawasan Kompleks Candi Ratu Boko, Rangga dan Cinta harus ngomongin soal pemilu dan pembicaraan tersebut diakhiri dengan pertanyaan “kecewa nggak?” haha.

Saya tidak akan membicarakan soal jalannya cerita, silakan nanti tonton sendiri ya. Intinya film ini sudah berhasil membawa saya kepada nostalgia romantisme jaman SMA. Soal tempat-tempat wisata di Yogyakarta juga bisa googling sendiri pake yahoo. Intinya buat saya, duuuuh kalau jadi cowok jangan terlalu peragu seperti Rangga, sebab berdasarkan pengalaman saya, kalau jadi cowok peragu seperti itu, jodohnya jauh. Dan kalau jadi cewek, jadilah cewek yang cantik seperti Cinta, hehe.

Selamat menonton.

Advertisements

[Sinopsis] The Boy

the-boy-movie

SEBENARNYA saya bukan orang yang hobi nonton film horor, karena saya tipikal orang yang penakut, hehehe, cuma karena ‘dipaksa’ istri saja saya mau nonton film-film dengan genre horor, seperti The Forest dan The Boy.

Adalah Greta, seorang gadis yang melarikan diri dari Amerika ke Inggris. Karena membutuhkan uang untuk ‘memulai lagi’ hidupnya setelah hancur dengan kekasihnya, Cole, Greta melamar menjadi pengasuh anak pada sebuah keluarga di Inggris. Sebuah keluarga hanya terdiri dari seorang kakek, seorang nenek dan seorang anak: Brahms yang secara fisik berbentuk boneka.

Meskipun hanya sebuah boneka, Brahmsy–panggilan Greta untuk Brahms–adalah boneka yang hidup. 20 tahun yang lalu Brahms meninggal karena kebakaran di rumahnya. Meskipun mati secara fisik, Brahms masih hidup dan tinggal di rumah tua yang seram itu. Dan kedua orang tuanya mengejawantahkan Brahms dalam bentuk boneka.

Setiap hari Greta harus merawat, memandikan, mengganti baju, mendengarkan musik, bahkan memberi makan Brahms. Banyak peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh Greta. Karena sekali saja Greta melanggar, Brahms akan meneror Greta: menguncinya di loteng, mencuri gaun dan perhiasannya, dan menerornya lewat suara-suara dan telepon.

Masalah datang ketika orang tua Brahms (kakek dan nenek itu) harus pergi meninggalkan Greta berdua saja dengan Brahms: untuk ‘berlibur’. Berlibur yang mereka maksud adalah berlibur dari kehidupan untuk selama-lamanya, karena mereka berdua kemudian bunuh diri dengan motif yang hanya bisa ditebak-tebak oleh penonton: tidak tahan dengan perilaku Brahms.

Misteri Brahms satu persatu mulai terurai. Greta–dengan bantuan Malcolm–akhirnya berhasil lolos dari teror Brahms: seorang anak kecil dalam tubuh manusia dewasa yang sebenarnya tidak pernah meninggal, karena dia masih hidup secara fisik dan ada di rumah itu.

Di akhir cerita, saya menjadi paham dengan ‘Greta harus membacakan puisi untuk Brahms dengan suara yang lantang’ atau ‘Greta harus mendengarkan musik klasik dengan suara yang lebih keras dari biasanya’: karena Brahms memang mendengarkan dan melihat semuanya.

Selamat menonton. 🙂

To Kill a Mockingbird

715vlp6m-ol

MAYCOMB adalah sebuah kota tua yang kelelahan saat kali pertama aku mengenalnya. Saat musim hujan, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur merah; semak tumbuh di trotoar, gedung pengadilan melesak di alun-alun. Dahulu, cuaca terasa lebih panas, anjing hitam menderita pada siang musim panas; bagal kerempeng kepanasan yang menghela kereta Hoover mengibas-ngibas lalat dalam bayangana pohon ek di alun-alun. Kerah baju kaku kaum lelaki tampak lusuh pada pukul sembilan pagi. Kaum wanita mandi sebelum tengah hari, setelah tidur siang pukul tiga, dan saat senja tiba mereka menyerupai kue teh lembut yang berlapis keringat dan bedak wangi.

Begitu kira-kira Harper Lee, penulis novel To Kill a Mockingbird menggambarkan bagaimana suasana kota kecil Maycomb pada suatu masa. Tinggal dan hidup di kota itu, dua orang anak kecil kakak beradik Scout dan Jem. Scout merupakan anak perempuan kecil yang menjadi tokoh aku di novel ini. Ibu mereka meninggal saat Scout berumur 2 tahun. Dan mereka dibesarkan oleh ayah mereka yang seorang pengacara, Atticus.

Novel lama, yang juga telah difilmkan dengan judul yang sama. Bercerita tentang perilaku rasis pemerintah dan masyarakat kala itu, yang membedakan kaum negro dan kaum kulit putih. Suatu ketika, salah seorang negro bernama Tom Robinson dituduh memperkosa salah seorang wanita kulit putih, dan Atticus diminta untuk menjadi pengacaranya.

buio-1024x576

Awal membaca novel ini saya sedikit bingung, terutama saya kesulitan menemukan benang merahnya. Namun ternyata semakin saya baca, saya semakin mengerti dan semakin paham, terutama mengenai perasaan Scout dan bagaimana dia dan kakaknya serta ayahnya melihat masyarakat kala itu. Masyarakat yang membeda-bedakan kulit putih dan kulit hitam. Bahkan di antara kaum kulit putih pun mereka saling membeda-bedakan berdasarkan riwayat dan kehormatan keluarga masing-masing.

Atticus adalah pengacara berwibawa yang menyedihkan. Dia tidak menikah lagi sejak istrinya meninggal, dan dia harus membesarkan Jem dan Scout. Perilaku Scout yang tomboy membuat Atticus dan Jem sendiri dicela, bahwa dia disebut salah asuhan. Terlebih ketika Atticus harus menjadi pengacara bagi Tom Robinson yang notabene kulit hitam dan telah melakukan pemerkosaan terhadap kaum kulit putih: Atticus dan keluarganya menjadi bulan-bulanan.

Diceritakan dalam novel tersebut, bahwa sekeras apapun Atticus membela dan mencoba menyelamatkan Tom Robinson dari tiang gantungan, kaum negro tetaplah kaum negro. Mereka memiliki sisi-sisi kenegroan yang tidak dimiliki kaum kulit putih: bertindak gegabah dan tidak memikirkan masa depan. Suatu hari, di tengah upaya Atticus naik banding terhadap kasusnya, Tom Robinson mencoba melarikan diri dari penjara dan dia harus ditembak mati.

Herannya, meskipun kasus Tom Robinson telah berakhir, Atticus tetap mendapatkan perlawanan dari orang-orang sekitar, salah satunya adalah keluarga yang (merasa) menjadi korban perkosaan. Bahkan Jem dan Scout hampir menjadi korban pembunuhan pada suatu malam sepulang mementaskan drama di sekolah.

Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1960, tepat 55 tahun yang lalu. Pantas saja gaya bahasanya kadang agak membingungkan bagi saya. Namun novel ini berhasil memberikan gambaran kepada saya mengenai perlakuan orang kulit putih kepada negro di masa itu.

Berikut filmnya yang saya ambilkan dari Youtube

 

Mockingjay (Part1): Arti Sebuah Propaganda

5741813_16144029_lz

 

SAYA tidak pernah tau kekuatan seperti apa yang bisa dihadirkan oleh politik propaganda sebelum menonton film ini. Dimana perang disulut dengan propaganda.

Katniss Everdeen, yang telah meruntuhkan langit-langit dan panggung ‘tontotan’ milik Capitol dalam Hunger Games telah menjelma menjadi ‘sosok’ bagi seluruh distrik di Panem. Berdasarkan kesosokan inilah Katniss dijadikan alat propaganda oleh Distrik 13 untuk membangkitkan semangat seluruh distrik agar memberontak terhadap Capitol yang rakus dan licik.

Sayangnya, meski Katniss adalah media propaganda bagi Distrik 13–dan juga bagi seluruh distrik, ternyata Capitol juga memiliki media propaganda bagi Katniss: Peetha Mellark, yang kepadanya Katniss telah menambatkan hatinya. Kesakitan yang teramat sangat akan kita rasakan jika rasa sakit itu datang dari orang yang paling kita cintai, begitu ucapan presiden Capitol, Coriolanus Snow yang juga melatarbelakangi propaganda Peetha untuk Katniss.

Seperti biasa The Hunger Games selalu menyajikan gambaran cerita penuh trik dan intrik yang dilakukan Capitol terhadap seluruh distrik, meski semuanya akan terangkum menjadi satu kata: kejam. Katniss juga masih tetap hadir sebagai sosok yang galau, terutama mengenai kepada siapa hatinya akan berlabuh: Gale Hawthorne atau Peetha Mellark. Masih dibungkus dengan nuansa penuh teknologi canggih (apalagi pesawat tempurnya, keren abis!!) meski kostum-kostumnya tidak segemerlap di film-film sebelumnya, mengingat setting dan alur Mockingjay Part 1 ini adalah suasana perang antara Distrik 13 dan Capitol.

Di Mockingjay bagian pertama ini kita tidak menemukan adegan ciuman yang dilakukan Katniss, hihi, padahal itu yang saya tunggu-tunggu. Meski diakhir film yang menghabiskan hampir 2 jam waktu tayangnya ini saya harus bertanya kepada diri saya sendiri: gini doank? 

Ya, lagi-lagi karena alasan bisnislah film ini dibuat menjadi dua bagian. Sehingga mau tidak mau saya harus menunggu part 2 nya dirilis. Semoga film keduanya segera dirilis tidak dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Bagi yang belum menonton film sebelumnya mungkin akan sedikit bingung karena di awal film kita tidak diajak mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Ada sih, bagian dimana kita bisa mengingat bahwa di film sebelumnya Katniss meruntuhkan ‘panggung’ Capitol, tapi hanya lewat dialog yang diucapkan oleh Presiden Alma Coint, yaitu pemimpin distrik 13.

Dan, menurut pendapat saya, lagu-lagu di film ini keren semua. Bagi yang penasaran soundtracknya, berikut saya coba listkan:

1. Stromae-Melt Down
2. CHVRCHES-Dead Air
3. Major Lazer-All My Love
4. Lorde-Yellow Flickr Beat
5. Grace Jones-Original Beast
6. Lorde-Flickr
7. XOV-Animal
8. The Chemical Brothers-This is not a game
9. Lorder-Ladder Song
(Sumber: iTunes)

Selamat menonton!

Inter Stellar: Drama Antargalaksi

BEBERAPA hari yang lalu dalam perjalanan pulang Bandung-Jakarta, seorang teman tiba-tiba nyeletuk seperti ini: “Eh, kalian tau kan kalau satuan panjang cahaya dalam ruang hampa udara dinyatakan dengan tahun cahaya? Jadi kalau ada suatu planet yang jaraknya 2 juta tahun cahaya dari bumi, artinya untuk menuju planet tersebut kita benar-benar membutuhkan waktu 2 juta tahun dikali kecepatan cahaya”. Waktu itu karena capek dan tidak berniat memikirkannya lebih lanjut, pembicaraan pun berhenti sampai di situ.

Keesokan harinya, saya iseng mencari artikel yang relevan dengan pernyataan teman saya tersebut. Meski pernah merasakan juara pertama lomba olimpiade fisika tingkat kabupaten (hanya tingkat kabupaten saja), saya bahkan tidak pernah menyadari arti yang sesungguhnya dari tahun cahaya. Saya hanya menganggapnya sekilas saja. Salah satu artikel yang saya temukan menulis:

Untuk sampai ke bumi, cahaya matahari membutuhkan waktu 8 menit 20 detik. Artinya sinar matahari yang kita nikmati di bumi saat ini adalah sinar dari 8 menit 20 detik yang lalu. Bukan sinar yang benar-benar saat ini sedang dipancarkan oleh matahari.

Pembahasan selanjutnya dalam artikel tersebut adalah tentang relativitas waktu. Saya jadi ingat, waktu SMA guru fisika saya pernah bercerita mengenai relativitas waktu ini. Jika ada dua orang kembar, kemudian mereka dipisahkan (tempat hidupnya), satu tinggal di bumi dan satu lagi tinggal di ruang angkasa (waktu itu guru saya hanya menyebut ruang angkasa saja), maka ketika kembali bertemu di bumi, usia dua orang ini akan berbeda. Bisa jadi yang di bumi akan lebih tua daripada yang tinggal di ruang angkasa, atau sebaliknya, yang tinggal di bumi justru lebih muda.

Materi sejenis saya temukan persis di film yang baru saja saya tonton , sebuah film bagus yang sukses mengaduk-aduk perasaan dan membuat kita yang menontonnya harus menahan nafas dan ikut  merasakan sensasi berada di galaksi lain: inter stellar. 

Adalah Cooper (Matthew McConaughey), seorang mantan insinyur dan pilot NASA yang terpaksa menjadi petani akibat bumi yang mulai rusak karena global warming, dimana-mana terjadi kekeringan, kekurangan air, dan kelaparan. Bumi tidak lagi menjadi rumah bagi manusia. Di tengah keputus-asaan hidup di bumi bersama ayah dan kedua anaknya (salah satunya berumur 10 tahun bernama Murph, diperankan oleh Mackenzie Foy), Cooper ditawari oleh Prof Brand (Michael Chaine) dan anaknya Amelia Brand (Anne Hathaway) untuk mengendarai pesawat luar angkasa milik NASA untuk mencari kehidupan di galaksi lain, menjalankan misi penyelamatan bumi: Lazarus.

Sebenarnya Lazarus bukan misi pertama yang dikirimkan, karena sebelumnya NASA sudah mengirimkan beberapa astronot lainnya (Miller, Mann dan Edmunds), namun tidak menghasilkan. Misi ini akan membawa Cooper dan 3 orang timnya (salah satunya Amelia Brand) menuju Saturnus, kemudian melintasi lubang cacing (wormhole) dan membawa mereka ke galaksi lain.

Kepergian Cooper adalah kesakithatian bagi Murph yang baru berumur 10 tahun kala itu. Mengingat di kamarnya sendiri Murph mendapatkan isyarat (yang dia menyebut isyarat ini dari hantu di kamarnya) bahwa ayahnya tidak boleh pergi, harus tinggal: STAY begitu pesan yang disampaikan oleh hantu di kamar Murph melalui morse. Namun Cooper tetap pergi. Maka Murph marah kepada ayahnya, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian.

Sensasi-sensasi hening, menegangkan, bahkan sampai  getaran pesawat akibat tumbukan antara Endurance (nama pesawat mereka) dengan lubang cacing membuat film ini sangat dramatis. Kita diajak ikut merasakan bagaimana rasanya berada di luar angka. Endurance berhasil mencapai galaksi lain. Misi mereka adalah menguji apakah planet Miller, Mann atau Edmunds yang layak ditinggali oleh manusia.

Karena pengaruh relativitas, waktu di planet Miller (planet asing, namun dinamai seperti nama pilot yang berhasil mencapai ke sana, begitu juga dengan dua planet lainnya) sangat berbeda jauh dengan waktu di bumi. 1 jam di Miller sama dengan 7 tahun di bumi. Oleh karena itu mereka harus benar-benar efektif berada di sana. Segera setelah mendarat di Miller, yang mereka dapatkan hanyalah puing-puing pesawat milik Miller. Miller sendiri pun sudah meninggal akibat pesawatnya hancur. Ditambah kondisi planet Miller yang keseluruhannya dilingkupi air. Bahkan ada satu adegan dimana mereka pikir itu adalah sebuah gunung, namun ternyata ombak yang amat sangat besar. Misi di planet Miller gagal, padahal mereka sudah menghabiskan 23 tahun 4 bulan waktu bumi: kenyataan ini membuat mereka sedih dan menyesal, mengingat waktu untuk menyelamatkan bumi semakin menipis.

Adegan-adegan menegangkan dan suasana kecemasan akan masa depan, kesedihan, dan penyesalah berhamburan di film ini membuat saya beberapa kali menahan nafas, bahkan sampai ikut berkaca-kaca.

Misi berikutnya membawa mereka ke planet Mann, dimana mereka menemukan Pilot Dr Mann yang ternyata masih hidup dalam hibernasi panjangnya (tidur panjang di luar angkasa yang dilakukan pilot luar angkasa, menunggu seseorang datang menyelamatkannya tanpa membuatnya menua). Dr Mann mengatakan bahwa planet Mann layak ditinggali manusia, meskipun pada akhirnya ini hanyalah kebohongan yang dia sengaja. Dr Mann sendiri pada akhirnya adalah musuh yang akan menggagalkan misi mereka. Dr Mann tewas karena ledakan sebagian dari pesawat Endurance.

Mereka sudah menghabiskan puluhan tahun, tanpa hasil!

Misi selanjutnya menuju planet Edmunds, dengan Endurance yang sebagian rusak ditambah bahan bakar pesawat yang sudah menipis. Untuk mengatasinya, Cooper membawa pesawat ke sisi luar Gargantula (nama salah satu blackhole) dan melintaskan pesawat di titik kritisnya hingga dia tidak perlu mengeluarkan bahan bakar, serta melepaskan beberapa bagian pesawat, termasuk melepaskan dirinya melintasi bagian belakang horizon Gargantula: menjawab misteri blackhole yang belum juga ditemui manusia. Maka Cooper berpisah dengan Amelia Brand.

Dan di sinilah perjuangan Cooper untuk menyelamatkan diri dan manusia. Bagaimana tidak, misteri di belakang horizon Gargantula justru membawanya ke kamar anaknya sendiri: Murph, tepat sebelum dia berangkat menjadi pilot Endurance. Pesan yang dibaca Murph sebagai STAY ternyata adalah pesan yang dia kirimkan sendiri, bukan hantu seperti yang dikatakan Murph. Lagi-lagi relativitas waktu. Belakang horizon gargantula adalah sebuah galaksi lima dimensi, dimana waktu dan gravitasi adalah bagian dari dimensinya. Galaksi ini membawa Cooper ke kamar Murph yang menghadirkan seluruh kejadian. Dari Murph kecil hingga Murph dewasa (diperankan oleh Jessica Chastain).

Sejujurnya film ini mengingatkan saya pada film yang tayang pada 2013 lagu, Gravity. Sensasi ketegangan, keheningan, ketakutan, kecemasan, dan keheningannya sama. Film ini membuat saya semakin sadar bahwa di tengah kumpulan galaksi yang amat sangat luas ini, manusia hanyalah setitik debu yang tidak ada artinya.

Lalu, apakah Cooper berhasil mengirimkan pesan kepada Murph untuk menyelamatkannya yang tengah ‘terjebak’ di galaksi lain?

Selamat menonton!

Earth to Echo: (Bukan) Film Tentang Alien

SUDAH lama saya tidak mengulas film. Bukan karena tidak pernah lagi nonton film di bioskop, tapi belakangan ini saya malas mengulas film karena beberapa film yang saya tonton termasuk dalam kelas main stream, yang saya yakin semua orang juga menonton film tersebut. Sebut saja X-Men, Transformers, atau How to Train Your Dragon. Tanpa diulas pun semua orang sudah pasti menonton, hehehe.

Minggu kemarin saya nonton Dawn of The Planet of the Apes, agak serem juga sih membayangkan kera-kera bisa bicara dan memiliki intelektualitas yang hampir sepadan dengan manusia. Saya jadi teringat bahwa perbedaan genetika antara kita dan mereka hanya 3%. Nah, sebelum film Dawn of The Planet of The Apes nya dimulai, ada iklan film yang kayanya bagus, yang diputernya hanya di Blitz Megaplex: Earth to Echo. Maka saya pun langsung berencana menonton film tersebut, yang baru bisa saya realisasikan minggu ini.

Saat melihat trailernya, saya pikir Earth to Echo adalah film tentang alien, makanya saya langsung tertarik. Namun saat menontonnya, menurut saya justru film ini lebih cocok disebut sebagai film tentang persahabatan ketimbang film tentang Alien. Menceritakan tentang tiga sahabat kecil, Tuck, Munch dan Alex yang tidak lama lagi harus berpisah karena kompleks tempat mereka tinggal akan digusur dengan alasan akan dibangun jalan tol.

Ketiganya tinggal di suatu kota yang merupakan daerah terdekat dengan gurun sierra nevada, yang katanya terminal pemberhentian alien jika datang ke bumi. Di malam terakhir kebersamaan mereka, mereka memutuskan untuk menyelesaikan suatu teka-teki penyebab ponsel mereka memunculkan gambar-gambar aneh semacam peta dan menunjukkan suatu tempat. Dengan sepeda yang sudah dilengkapi dengan kamera, mereka melaksanakan misinya malam itu juga.

Ternyata peta yang ada di ponsel mereka mengantarkan kepada suatu tempat di gurun dan mempertemukan mereka dengan ‘sesuatu’ penyebab ponsel mereka memunculkan peta-peta aneh: Alien yang terdampar di bumi yang ternyata ditembak oleh manusia dan menderita kerusakan parah, sehingga membutuhkan bantuan untuk kembali ke planetnya. Dan ketiganya dipilih oleh alien tersebut untuk menyelesaikan misinya.

Jangan dibayangkan alien ini seperti makhluk seram berkepala besar berwarna hijau seperti alien pada umunya, alien ini merupakan robot kecil unyu-unyu berwarna perak dengan mata berwarna biru, lebih menyerupai burung hantu daripada alien. Mereka menamai aliennya Echo, karena dia bisa meng-echo kan suara-suara alias menirukannya.

Alex adalah anak asuh di keluarganya, sehingga memiliki pengalaman pahit menjadi anak sebatang kara, sama seperti Echo yang terdampar di bumi seorang diri. Karena alasan emosional itulah Alex memutuskan untuk membantu Echo menemukan kapal ruang angkasanya agar bisa kembali ke planetnya. Dengan mengikuti peta-peta yang terus dibuat Echo di ponsel mereka, sedikit demi sedikit tenaga Echo mulai pulih dan kapal akan segera ditemukan.

Masalah mulai timbul ketika mereka mengetahui bahwa proyek jalan tol yang dibangun di kompleks rumah mereka bukanlah proyek yang sebenarnya. Karena yang akan mereka—yang mengaku sebagai pekerja konstruksi—lakukan sebenarnya adalah menggali kompleks tersebut, karena mereka sudah mengetahui bahwa di bawah tanah tertanam kapal luar angkasa milik Echo. Dan, mereka semua juga sedang mencari Echo.

Mampukan Tuck, Munch, dan Alex menyelamatkan Echo dan membantunya kembali ke planetnya? Pertengkaran akibat perbedaan pendapat mulai muncul diantara ketiganya, termasuk saat Alex ditinggalkan oleh kedua sahabatnya saat tertangkap basah oleh petugas keamanan, Alex sangat sensitif saat ditinggalkan oleh orang yang katanya menyayanginya. Kehadiran si Gadis Manekin, Emma, makin menghangatkan suasana persahabatan mereka.

Film ini dibuat seolah-olah sebagai film dokumenter, sama seperti Cloverfield, jangan heran di awal-awal film kita akan merasa sedikit pusing karena kamera yang terus bergerak tidak beraturan. Namun lama-kelamaan kita bisa membiasakan diri dengan filmnya kok. Cocok ditonton oleh anak-anak SD maupun SMP, meski bagus juga ditonton oleh dewasa, karena genrenya adalah SU, semua umur.

Jadi, selamat menonton!

Maleficent: Belajar Memaafkan

 

SAAT pertama kali membaca judul film ini, saya pikir tulisannya Maleeficient (Male-Eficient) atau Laki-laki yang efisien, hahaha, ternyata saya salah. Ketika melihat trailer-nya, saya langsung teringat film Alice in Wonderland atau film-film dunia khayal seperti Bridge to Terrabithia, Lord of The Rings, atau bahkan The Hobbits, sebab banyak pohon-pohon yang hidup dan berjalan, berperang, ada kurcari, elf, peri, dan makhluk-makhluk lainnya.

Adalah Maleficent (diperankan oleh Angelina Jolie), elf yang sakit hati akibat sayapnya dicuri oleh orang yang paling disayanginya, Stefan. Setelah mencuri sayapnya, Stefan kemudian menikahi putri raja dan menjadi seorang raja di kemudian hari. Rasa sakit hati dan tidak bisa memaafkan itu kemudian dilampiaskan Maleficent dengan mengutuk bayi kecil yang baru dilahirkan oleh pasangan Stefan dan istrinya. Kutukan itu adalah sebuah sumpah bertuah bahwa sehari setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-16, anak bayi—yang diberi nama Aurora—tersebut akan tertusuk jarum mesin pemintal benang, dan setelahnya akan tertidur selamanya sampai seseorang dengan cinta sejati akan menciumnya.

Panik, marah, dan sakit hati karena anaknya telah dikutuk, Stefan menyuruh anaknya disembunyikan pada sebuah tempat. Justru di tempat persembunyiannya itu Maleficent bisa memantau perkembangan si bayi, yang tanpa dihindarinya, lama-lama Maleficent justru jatuh cinta pada bayi tersebut yang semakin hari semakin tumbuh, lucu, dan menjadi gadis yang baik dan dicintai semua orang.  Hingga Aurora tahu bahwa Maleficent mengawasi dan menjaganya, sehingga dia memanggilnya Peri Pelindung.

Maleficent merasa menyesal, bahwa, karena dendamnya dia mengutuk Aurora. Maleficent berusaha mencabut kutukannya, namun tidak bisa, karena bahkan kekuatan terkuat di dunia pun tidak ada yang bisa mencabut kutukan tersebut kecuali ciuman cinta sejati (yang Maleficent tahu bahwa tidak ada cinta sejati di dunia ini, sehingga Aurora akan tidur selamanya).

Jadi, mampukah Maleficent mencabut kutukannya sendiri?

Saya belajar tentang memaafkan di film ini. Bahwa kadang orang yang paling membuat sakit hati kita justru orang yang paling kita sayangi di dunia ini. Namun itulah hidup, kadang memaafkan adalah kesembuhan bagi kesakithatian, meski melupakan adalah hal yang lain lagi. Saya belajar untuk tidak membuat keputusan dalam keadaan marah, karena itu bahaya dan bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Jangan ragu untuk menontonnya, film yang sangat layak diapresiasi.