Celotehan Malam (34)

SAYA sedang termenung di bengkel menunggu motor saya selesai diservice sama montir ketika tiba-tiba datang sebuah mobil pick up (kendaraan bak terbuka) membawa motor dalam kondisi yang sangat tidak biasa. Ban motor yang penyok–beneran penyok, sama penyoknya seperti tutup panci yang kita tempa dengan palu berkali-kali—rem tangan yang bengkok, lampu depan yang pecah, dan spakboard (entah ini benar atau tidak tulisannya) yang pecah bergerigi. Intinya motor itu datang dalam kondisi rusak parah.

Turun dari motor tersebut beberapa pemuda tanggung, sekitar awal-awal masuk SMP, mungkin ada sekitar 6-7 orang. Lalu mereka bergotong royong menurunkan motor yang rusak tersebut dari mobil dan membawanya masuk ke dalam bengkel. Turun juga dari mobil tersebut dua orang cewek yang sama tanggungnya, seumuran dengan beberapa pemuda tanggung tersebut. Salah seorang cewek mengenakan baju pramuka nampak sangat terpukul dengan mata sembab habis menangis, sementara cewek yang satunya lagi mengelus-elus punggung cewek yang satunya seolah memberi tenaga: all is well. Meski nampak terpukul dan habis menangis, herannya si cewek tadi ternyata masih bisa marah-marah. Dengan muka sewot dan setengah berteriak dia bertanya kepada kumpulan pemuda tanggung tadi: JADI GIMANA NIH MOTOR GW? KAPAN BISA SELESAINYA?

Aah … ternyata cewek yang seperti sedang terpukul ini rupanya pemilik motor yang rusak tersebut, sementara salah seorang pemuda diantara kumpulan pemuda tanggung tadi adalah tersangka yang membuat motor sang cewek menjadi penyok. Supir pick up yang membawa motor penyok pun turun, untuk menengahi keributan kecil di bengkel. Usut punya usut, ternyata salah seorang cowok diantara mereka telah menabrak motor sang cewek yang tengah diparkir di pinggir jalan. Cowok tersangka tersebut sedang belajar menyetir mobil. Yang mana mobil tersebut adalah mobil majikannya, dan dia memakai mobil majikannya tersebut tanpa izin.

Si cowok tersangka yang merasa bersalah terlihat lemas dan linglung. Bagaimana tidak, setelah saya korek informasinya lebih dalam (saya kepo ya), ternyata mobil sang majikan juga rusak parah. Penyok bagian depan dan sampingnya. Juga ternyata kecelakaan tersebut telah mengakibatkan tembok salah satu rumah jebol dan harus diganti. Kasihan sekali pemuda tanggung ini. Saya juga tidak kebayang kalau saya berada dalam posisinya.

Masih bingung? Begini cerita lengkapnya:

Sebut saja si A, pemuda tanggung yang bekerja sebagai kuli panggul di sebuah rumah percetakan di daerah Cipadu. Setiap hari dia mengangkut barang-barang pesanan dan barang-barang belanjaan milik majikannya, Tuan B. Sangkin kayanya, Tuan B punya 3 mobil, dan salah satu mobilnya berupa mobil Avanza digunakan sebagai operasional rumah percetakannya. Hari ini si A memutuskan untuk meminjam kunci mobil Avanza tersebut tanpa izin tuannya, maksud hati ingin belajar menyetir mobil. Ternyata si A belum pernah membawa mobil sama sekali, ini adalah kali pertamanya berlatih menyetir mobil dan sayangnya si A tidak ditemani partner yang berpengalaman dalam bidang setir menyetir mobil.

Ketika sampai di sebuah tikungan, si A panik saat menyetir mobilnya. Dan gara-gara kepanikan tersebut, motor yang tengah terparkir di pinggir jalan harus terseret oleh mobilnya sampai bagian roda depan motor tersebut harus terlindas sepanjang beberapa puluh meter dan mobil yang dibawa si A berakhir menabrak tembok warga. Si C dan temannya si D, adalah penumpang motor yang saat itu tengah parkir tersebut. Karena panik, si C dan si D berteriak minta tolong, padahal waktu itu adzan magrib baru saja berkumandang dan orang-orang tengah bergegas ke mesjid untuk menunaikan sholat berjamaah.

Saat si C dan si D berteriak tersebut, berdatanganlah beberapa orang, yaitu si E, F, G, H, I dan J yang merupakan pemuda tanggung di daerah tersebut. Maka meledaklah emosi keenam pemuda tanggung tersebut dan hampir saja membumihanguskan si A. Ketika ribut-ribut itulah datang Bapak K, yang hendak ke mesjid untuk menengahi keributan yang hampir berujung pada tindakan main hakim sendiri. Setelah ditengahi Bapak K mereka sepakat untuk membawa motor tersebut ke bengkel segera setelah sholat maghrib.

Sekitar jam 18.30 WIB mereka berangkat ke bengkel dengan menggunakan mobil pick up Bapak K bersama-sama. Begitu tiba di bengkel, Bapak K menyarankan kepada F agar mengantar pulang C dan memberitahu keluarganya. si F yang awalnya menolak karena takut, akhirnya mau dan mengerti setelah dinasehati oleh Bapak K. Tidak lama kemudian datanglah ayahanda si C, sebut saja Bapak L. Sayangnya Bapak L datang tidak sendirian, tetapi lengkap dengan anak sulungnya (yang mukanya lebih mirip preman) sebut saja si M, dan beberapa tetangganya sebut saja si N dan si O.

Begitu tiba di bengkel, Bapak L langsung berteriak MANA YANG MENABRAK MOTOR ANAK SAYA? kontan saja seisi bengkel kaget. Wajar saja sih, muka Bapak L sudah merah merona, bukan malu, tetapi marah. Teriakan Bapak L disusul oleh teriakan anak sulungnya (oh iya, kata-kata sulung ini hanya perkiraan, saya tidak sempat mewawancara mereka :)) MANA YANG NABRAK MOTOR ADEK GW?

Si A yang merasa menjadi most wanted person berdiri. Bapak L san kakak M langsung menuju si A. Masih dengan roman marah dan dengan suara yang sengaja diteriak-teriakkan, sang Bapak L berkata: POKOKNYA KAMU HARUS GANTI MOTOR ANAK SAYA, BELIKAN MOTOR YANG BARU. SAYA TIDAK MAU JIKA MOTOR INI HANYA DISERVICE DI BENGKEL. Sang kakak M pun melanjutkan: LO HARUS GANTI BARU, INI MOTOR BARU, INI BUKAN RUSAK MESIN, TIDAK PERLU DISERVICE.

Aah, saya yang menonton pun menjadi pusing sekaligus penasaran, tapi saya juga kasihan dengan si A yang nampak ketakutan dan kebingungan. Tidak lama kemudian datanglah si P, kakaknya si A. si P yang merasa bahwa adiknya bersalah pun datang meminta maaf kepada Bapak L dan kakak M. Namun, karena dalam kondisi marah, Bapak L menolak ajakan bersalaman dari si P sambil mengatakan: SAYA TIDAK MAU SALAMAN SEBELUM MOTOR ANAK SAYA DIBELIKAN BARU. MANA MOBIL YANG DIPAKE BUAT MENABRAK MOTOR ANAK SAYA? SAYA MAU MOBILNYA DIPARKIR DI HALAMAN RUMAH SAYA SEBAGAI JAMINAN!

Saya makin pusing dengan cara berpikir Bapak L. Akhirnya si P mengatakan, BAPAK MOBIL TERSEBUT BUKAN MOBIL ADIK SAYA, MOBIL MAJIKANNYA YANG SAYA JUGA TIDAK TAHU BAGAIMANA CARA MENGGANTINYA. BAGAIMANA JIKA MOTOR SAYA SAJA YANG DIJADIKAN JAMINAN? INI KUNCINYA, bujuk si P. Si M pun berteriak: TIDAK BISA, MOTOR ADIK SAYA BARU, JAMINANNYA MOTOR JELEK BEGINI!

Fyuuh, saya jadi ikut gregetan menyaksikan drama di depan mata ini. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa membantu banyak sekaligus saya juga tidak suka ikut campur urusan orang. Akhirnya saya mengucap syukur ketika motor saya telah selesai dan saya bisa pulang, setidaknya tidak perlu melihat drama yang semakin dramatis tersebut.

Pesannya, segala masalah bisa diselesaikan baik-baik, tidak perlu marah-marah yang berlebihan ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s