Cerita Sore

SAYA bertemu ibu ini pada suatu sore di sebuah bengkel sepeda motor. Waktu itu saya sedang menservice motor saya setelah sekian lama tidak terurus. Seorang ibu paruh baya, dengan wajah memancarkan kerasnya hidup yang ia lewati. Pembicaraan kami berawal ketika ibu tersebut bercerita kalau uangnya untuk membayar ongkos bengkel kurang Rp125.000,-.

Dengan raut muka penuh kesedihan, ibu itu bercerita bahwa dia adalah seorang single parent. Suaminya telah 10 tahun lebih meninggalkan dirinya dan keluarganya. Anak pertamanya telah menikah dan hidup berpisah darinya. Anak keduanya adalah seorang lelaki pengangguran berumur 23 tahun. Kerjanya tidur di siang hari dan bergadang–menggelandang–pada malam hari. Motor yang tengah ia service waktu itu adalah motor yang dipergunakan anak keduanya itu.

Anak ketiganya, seorang perempuan, bekerja sebagai kasir di sebuah supermarket dengan gaji Rp2.000.000,- per bulan. Dan anak terakhirnya (anak keempat) saat ini masih menempuh pendidikan di kelas 2 SMP. Untuk memenuhi biaya hidupnya, si ibu bekerja dari rumah ke rumah. Menjadi tukang cuci piring atau tukang cuci baju. Tak jarang ibu tersebut mendatangi keluarga yang sedang mengadakan hajatan dan menawarkan tenaganya. Semuanya ikhlas dia lakukan selama itu halal.

Awalnya keluarganya hidup berkecukupan, bisnis suaminya (saya tidak tau apa jenis bisnisnya) berjalan lancar sampai sang suami terpikat kepada seorang perempuan yang lebih cantik dari dirinya, lalu meninggalkan keluarganya. Gara-gara perempuan itu pula bisnis suaminya menjadi berantakan sampai harus menjual harta benda yang telah mereka miliki sebelumnya. Dan tentu saja si ibu itu juga harus kehilangan suaminya. Yang membuat saya sedikit terkejut, sampai saat ini ibu tersebut belum diceraikan oleh suaminya.

Matanya berkaca-kaca saat menceritakan semuanya. Saya sudah hampir mengeluarkan uang dari dompet saya untuk membantunya membayar biaya bengkel ketika ibu tersebut mengatakan bahwa dia tidak meminta saya membantunya membayar biaya bengkel, dia cuma meminta saya mengantarkan ke ATM terdekat agar dia dapat mengambil uang. Seperti membaca pikiran saya, si ibu tersebut kemudian mengatakan bahwa meskipun hidupnya susah, dia bukan peminta-minta, dia masih punya tenaga untuk mencari uang. Si ibu pun tersenyum begitu saya selesai mengantarkannya ke ATM dan dia mengambil uang.

Ketika motornya telah selesai diservice dan si ibu itu beranjak pulang, saya hanya bisa mengatakan agar ibu tersebut selalu sabar dalam menjalani kehidupan. Ibu itu pun tersenyum sembari menepuk-nepuk pundak saya.

Sebuah pelajaran besar di sore hari, bahwa betapapun sulitnya hidup yang kita lewati, kita harus tetap tabah dan sabar dan senantiasa berusaha untuk keluar dari kesulitan itu.

—————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s