Bukan Kaleidoskop

TAHUN 2015 adalah tahun yang luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, saya mengawali tahun ini dengan mendapat surat keputusan mutasi dari kantor lama ke kantor baru (meski sebenarnya bukan kantor yang baru banget). Saya masih ingat ketika pulang kantor (selepas maghrib), tiba-tiba saya dibombardir ucapan selamat dari teman-teman di WhatsApp. Saya yang bahkan belum membuka surat keputusan mutasi tersebut, kaget bercampur senang plus deg-degan membaca pesan-pesan WhatsApp tersebut. Akhirnya, setelah membuka pengumuman di website internal kantor, saya bisa memastikan bahwa saya memang dipindahtugaskan dari kantor lama ke kantor baru. Yang saya maksud kantor lama adalah Kring Pajak 500200 atau dikenal dengan Kantor Layanan Informasi Perpajakan (KLIP) dan yang saya maksud dengan kantor baru adalah Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan. Kantor baru saya ini sebenarnya bukan kantor yang baru banget, karena sebelum di Kring Pajak 500200 saya juga berkantor di kantor tersebut. Jadi bisa disimpulkan bahwa surat keputusan mutasi tersebut membawa saya kembali ke kantor lama saya.

Awal 2015 juga saya mulai memaksakan diri menulis secara aktif, baik menulis di blog ini maupun menulis untuk majalah pajak. Bisa dikatakan bahwa tahun 2015 ini adalah tahun terproduktif saya untuk urusan menulis pajak. Meski saya akui, tulisan-tulisan saya masih terbatas pada tulisan mengenai aturan pajak. Saya memindahkan bahasa hukum (peraturan) menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami melalui tulisan tersebut. Saya belum berani menulis mengenai ide dan pendapat sendiri, meskipun ada beberapa namun saya akui masih belum berani dan belum terlalu banyak. Tahun 2015 ini juga secara resmi blog ini bisa memberikan penghasilan pasif buat saya, meskipun tidak banyak, tapi saya tetap menganggap itu sebagai suatu pencapaian yang layak diapresiasi diri sendiri.

Surat keputusan mutasi saya terima dengan tangan terbuka dan hati lapang. Surat keputusan tersebut adalah kebahagiaan saya. Bisa kembali bekerja dengan passion adalah anugerah yang harus saya syukuri sampai kapanpun. Bukannya di tempat sebelumnya saya tidak bekerja dengan passion, tetapi saya memang senang berkutat dengan data dan membuat analisis atas data tersebut, dan di tempat baru tersebut-lah saya bisa melampiaskan passion saya tersebut. Surat keputusan mutasi tersebut menjadi kejutan awal tahun yang indah bagi saya.

Bertepatan dengan hari ulang tahun saya, saya memberanikan diri untuk melamar sahabat, teman dan musuh saya sejak SMP. Kami berteman di SMP dan SMA, dan bersahabat sejak saat itu. Meski sempat kehilangan kontak, akhirnya reuni SMP kembali mempertemukan kami dan saya mulai memikirkan kedekatan kami sejak saat itu. Mengingat ibu saya yang sering mempertanyakan kapan saya menikah, dan teman-teman seangkatan yang saya rasakan mulai meninggalkan saya (karena mereka masing-masing telah berkeluarga), dan untuk mengobati rasa kesepian dan kesendirian yang terus menyerang saya (aelaah….), akhirnya saya memutuskan untuk melamar Yuliana dan memintanya menjadi istri saya. Alhamdulillah hubungan kami telah diresmikan pada tanggal 8 Oktober 2015 yang lalu.

Sewaktu SMP, tingkat pertama, saya tidak sekelas dengan istri saya, tetapi saya sekelas dengan saudara kembarnya (yang sekarang menjadi kakak ipar saya). Baru di tingkat tiga saya sekelas dengan keduanya (istri saya dan kembarannya). Kedekatan kami dimulai sejak saya aktif di pramuka dan beberapa dan PMR. Sebenarnya tidak bisa dibilang dekat, karena kami lebih sering berantem (iya, berantem, saling ejek, dll) dibanding saling curhat. Di SMA kami tidak pernah sekelas, tetapi karena kampung kami bertetangga, kami sering ketemu di angkutan menuju ke sekolah, baik berangkat maupun pulang sekolah. Dan ingatan saya tentang istri saya justru kejadian saling ejek di angkutan umum, terutama mengenai warna kulit kami yang sama-sama gelap (sebenarnya kulit saya lebih putih :P).

Menikah adalah keputusan yang sangat besar bagi saya, dan saya tidak menyesalinya karena ternyata Allah telah menganugerahi istri yang sabar, pengertian, dan tentu saja cantik 🙂 ibarat mengenakan helm, saya mendengar bunyi klik dari hubungan kami. Dan saya berkesimpulan bahwa jodoh, sekeras apapun usahanya, sejauh apapun kita mencari,  ternyata dia justru orang dekat yang selama ini kita kenal. Urusan jodoh, saya sudah jatuh bangun, mencari, memulai, mencoba menemukan, bahkan saya pernah pada tahap menyerah. Tetapi Allah memang menjawab doa-doa dan usaha kita di waktu yang tepat.

Semoga tahun 2016 saya bisa tetap menulis, dengan semangat dan tema yang sedikit berbeda. Saya bisa menjadi suami yang baik bagi istri saya, anak yang baik bagi kedua orang tua saya, menantu yang baik bagi mertua saya, dan pegawai yang baik bagi institusi saya. Amin.

Saya menganggap mutasi dan pernikahan saya merupakan kejadian terbesar di hidup saya sepanjang 2015. Jadi, apa kejadian terbesarmu di tahun 2015?

Advertisements

One thought on “Bukan Kaleidoskop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s