Melihat dari Kacamata Orang Lain

KARENA tidak suka melihat orang lain melanggar aturan lalu lintas, saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak melanggar aturan lalu lintas. Terus terang saya sebel bin kesel melihat para pengendara motor yang melanggar lampu lalu lintas, padahal lampu masih merah, tapi mereka sudah memaksakan diri melewati jalan. Saya juga kesel melihat orang melawan arah, udah gitu kalau dibilangin malah nyolot, tipikal orang kita banget ya, udah salah ngotot. 

Tentu saja bukan berarti saya tidak pernah melanggar aturan lalu lintas, dulu saya juga suka ikut-ikutan orang kebanyakan, melawan arah, melanggar lampu lalu lintas, melewati batas jalan, dll. Tapi lama kelamaan saya pikir, kalau saya berpikiran sama dengan mereka dan melakukan hal yang sama dengan mereka yang sudah jelas-jelas salah, apa bedanya saya dengan mereka? Maka sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak melanggar lalu lintas. Lebih baik saya terlambat ke kantor atau saya memutar agak jauh daripada saya harus melanggar lalu lintas.

Sikap menahan diri untuk tidak melanggar lalu lintas merupakan salah satu cara saya untuk latihan, latihan patuh dan sabar, meski kadang saya harus sendirian. Di dunia dengan arus perkembangan teknologi dan globalisasi yang ‘terlalu’ cepat seperti sekarang ini, kadang batas benar dan salah menjadi bias, suatu kesalahan yang dilakukan secara berjamaah menjadi sebuah kebenaran atau bahkan sesuatu yang dibenarkan. Dan sedihnya suatu kebenaran yang dilakukan satu orang menjadi terabaikan.

Saya belajar banyak dari lalu lintas, selain belajar kesabaran saya juga belajar menilai orang, bahwa perilaku melanggar lalu lintas memang tidak secara langsung mencerminkan keseluruhan sikap seseorang tersebut, tetapi perilaku melanggar lalu lintas adalah bibit-bibit sifat buruk yang bisa merusak seseorang. Siapa tau dari sikap melanggar lalu lintas tersebut lahir perilaku korup atau berkhianat. Wallahu’alam.

Dulu saya pernah menjadi agen call center di Kring Pajak 1500200, awal-awal saya harus menjawab pertanyaan Wajib Pajak, saya sering mengeluhkan pertanyaan Wajib Pajak yang kesannya sepele dan ecek-ecek. Saya sering mengeluh kepada team leader saya, kenapa sih pertanyaan seperti ini saja masih ditanyakan oleh Wajib Pajak? Tetapi kemudian saya belajar, saya belajar bahwa masyarakat Wajib Pajak memang beragam pengetahuannya, dari yang tidak tahu sama sekali sampai yang pengetahuannya terlalu filosofis hingga kadang dia tidak tahu bahwa filosofi tersebut tidak diterapkan di UU Pajak di Indonesia. Saya belajar melihat dari kacamata Wajib Pajak, saya belajar melihat dari perspektif yang berbeda. Dan di situlah kemudian timbul perasaan tulus, ikhlas dan bahagia saat bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Wajib Pajak. Saya belajar menggunakan sepatu yang dikenakan Wajib Pajak. Karena saya tidak suka, kesel dan sebel melihat orang yang melanggar lalu lintas, saya sebisa mungkin untuk tidak melanggar lalu lintas. Karena selain membahayakan diri juga saya membahayakan orang lain.

Jadi, yuk mulai belajar melihat dari kacamata orang lain, don’t judge, karena dari situ kita akan mengerti dan memahami sesuatu.

Jakarta, 31 Desember 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s