A Leader, not a BOSS

DELAPAN tahun sudah saya malang melintang (baca: mengabdikan diri) di instansi pemerintah, institusi yang menurut saya memiliki tugas dan fungsi yang sangat mulia: membiayai hampir 80% pengeluaran negara. Selama delapan tahun itu pula saya pernah bertemu dengan beraneka ragam tipe dan karakteristik manusia.

Struktur organisasi yang terdiri dari atasan-bawahan pada hakikatnya membuat kedua pihak tersebut akan saling menilai. Atasan melakukan penilaian bawahan untuk tujuan dinas dan tujuan personal, sementara bawahan juga melakukan penilaian terhadap atasan untuk tujuan personal.

Saya pernah bertemu atasan yang karakternya sangat keras, memimpin dengan kekerasan, menyampaikan pendapat dengan marah-marah, bahkan ngomong biasa pun tampak seperti sedang marah-marah. Saya juga pernah bertemu dengan atasan yang lembut, yang tidak enakan, bahkan untuk menegur bawahan sendiri, terlalu banyak pertimbangan. Pernah bertemu atasan yang tidak mengerti sama sekali tugas dan fungsinya sebagai atasan, namun tak jarang saya juga bertemu atasan yang sangat mengerti secara komprehensif mengenai tugas, fungsi dan tujuan organisasi.

Perbedaan utama antara atasan pria dan wanita, kadang lebih didominasi oleh unsur feminismenya. Atasan wanita lebih perasa dan kadang melakukan sesuatu lebih kepada pertimbangan enak tidak enak, pantas tidak pantas dan suka tidak suka. Atasan wanita lebih mudah tersinggung, terutama apabila yang bersangkutan merasa kedudukannya diremehkan atau dipertanyakan. Pernah saya bertemu atasan yang terlalu hobi mempertanyakan kepada bawahannya: siapa yang jadi bos? saya atau kamu??! Bawahan adalah sumber daya yang harus diberdayakan, begitu prinsipnya. Tidak hanya diberdayakan untuk memaksimalkan fungsi dan mencapai tujuan organisasi, tetapi juga diberdayakan untuk alasan-alasan pribadinya dalam rangka meraih simpati atasannya.

Namun, dibalik banyaknya karakteristik atasan tersebut, saya bersyukur punya atasan yang pintar, baik dan juga santun. Tidak terlalu membanggakan jabatan karena beliau sadar bahwa jabatan pada dasarnya hanyalah titipan. Tidak terlalu membanggakan jabatan karena yang bersangkutan memperoleh jabatan tersebut dengan cara terhormat, bukan dengan cara-cara kotor dan menjijikan. Tidak perlu menegaskan kepada bawahannya mengenai siapa atasan dan siapa bawahan, karena tanpa diminta pun orang sudah menghargainya sebagai atasan. Dialah atasan yang benar-benar pemimpin, bukan bos yang harus selalu kita layani. Bukan bos penjilat yang juga dikelilingi bawahan penjilat.

Seorang leader, bukan seorang boss.

Dan, sekarang setelah delapan tahun, saya menjadi semakin paham bahwa menjadi atasan tidaklah mudah. Menjadi atasan harus mengerti secara holistik tugas dan fungsi organisasi, agar bisa membawa organisasi menuju tujuannya. Atasan yang hanya mengerti organisasi dari satu sisi saja, hanya membuat organisasi menjadi timpang. Organisasi yang sebenarnya bisa difungsikan dengan baik menjadi tidak optimal, karena hanya dilihat dari satu sisi saja. Saya juga menjadi semakin bersyukur atas semua kesempatan belajar itu. Belajar mengamati dan menilai orang lain. Saya bersyukur dengan atasan yang saya miliki sekarang, seorang pemimpin, bukan seorang bos.

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s