Asuransi dan Ojek Online

LUMAYAN lama juga ya saya tidak nulis di sini. Bukan karena sibuk juga, tapi beberapa hari ini memang badan sedang tidak terlalu enak untuk diajak beraktivitas, walhasil harus istirahat ranjang (baca: bedrest) di rumah selama beberapa hari ini.

Sebagai karyawan, tentu bedrest membawa satu dampak tersendiri bagi saya. Pertama, dengan tidak ngantor artinya potongan gaji saya, meski tidak seberapa, kalau dipotong ya tetep sayang ya, hehe. Kedua, dengan tidak ngantor, pekerjaan kantor saya bukannya berkurang malah makin banyak karena ‘antrian pekerjaan’ jadi semakin panjang. Ya, namanya juga pegawai ya 🙂

Saya mau cerita sedikit tentang asuransi. Dulu–beberapa tahun yang lalu–kesadaran berasuransi saya sangat rendah. Waktu itu saya pikir ngapain ya saya harus bayar-bayar buat asuransi kesehatan yang manfaatnya kadang tidak saya ‘klaim’ sama sekali. Pemikiran itu mungkin ada benarnya sih ya, mengingat beberapa tahun lalu badan saya masih bugar, belum sering sakit-sakitan seperti sekarang. Waktu itu saya lebih tertarik sama asuransi unit link yang menawarkan pengembalian hingga 160%. Maka saya pun membeli asuransi unit link yang sebenarnya saya gak mudheng-mudheng banget cara kerjanya.

Dua tahun, masih oke membayar 500ribu sebulan untuk asuransi unit link saya. Setiap melihat monthly report atau annual report asuransi tersebut, sebenarnya saya agak-agak miris gimana gitu ya, dari 6juta rupiah yang saya bayarkan setiap bulannya (terutama di tahun-tahun awal), hanya ratusan ribu saja yang masuk sebagai nilai investasi saya karena sisanya entah diapakan oleh asuransi saya. Sering saya harus menelan ludah saya setiap membaca laporan tersebut. Bagi saya nilai uang tersebut sangat besar, bahkan hingga sekarang.

Tahun ketiga, saya mulai pikir-pikir. Sayang juga uang saya jika terus-terusan membayar asuransi yang membaca laporannya pun saya enggan. Ditambah asuransi tersebut tidak ada manfaat kesehatan yang bisa saya ambil. Maka setelah 2.5 tahun akhirnya saya memutuskan berhenti saja dari asuransi tersebut. Saya diwanti-wanti sama makelar asuransi saya waktu itu, intinya sayang banget kalau saya harus berhenti di tengah jalan. Namun keputusan sudah terlanjur saya ambil, saya tetap pada pendirian saya untuk quit dari asuransi tersebut, hehe. Saya pun kena penalti hampir 60% dari uang yang telah saya setor.

Beberapa tahun kemudian saya mulai berkenalan dengan asuransi kesehatan. Tentu saja ditambah kesadaran saya yang mulai tumbuh mengenai pentingnya asuransi kesehatan. Mengenai asuransi kesehatan ini, saya sangat bersyukur bahwa di dunia yang sedemikian kompleksnya ada model asuransi seperti ini. Bayangkan saja ya, dengan hanya membayar 1,5 juta rupiah setahun, saya bisa mendapatkan manfaat beberapa kali lipat dari nilai yang saya bayarkan tersebut. Kebetulan kantor tempat saya bekerja bekerja sama dengan asuransi yang pelayanannya sudah bagus, cashless, tidak pake reimbursement lagi. Cukup datang ke rumah sakit provider, periksa, gesek dan semuanya ditanggung oleh asuransi.

Saya pernah sakit DBD dan harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Karena dirawat dan ditanggung asuransi, saya ambil kelas VIP, waktu itu kebetulan harga kamarnya masih sesuai dengan angka yang ditanggung asuransi. Dan ketika saya melihat bill perawatan saya selama beberapa hari tersebut, tentu saja saya keberatan jika harus membayar dengan uang dari kantong saya sendiri, hehe. 

Sakit yang saya derita beberapa hari ini, menurut dokter adalah typhus, namun belum perlu dirawat di rumah sakit, cukup bedrest saja di rumah. Tetap saja saya harus ke rumah sakit, ke laboratorium (beberapa kali) untuk memeriksakan darah saya dan tentu saja menebus obat yang harus saya minum. Alhamdulillah saya punya asuransi yang mengcover semuanya. Dan yang paling penting, alhamdulillah saya punya istri dan orang tua yang mau merawat saya dengan penuh kasih sayang, meski sebenarnya saya kasihan melihat istri saya yang juga sedang hamil, hehe. 

Intinya, asuransi kesehatan penting banget buat kita, terutama di tengah-tengah mahalnya ongkos kesehatan seperti sekarang ini. Ya gimana nggak mahal, orang cek laboratorium saja sekali datang bisa 600-850 ribu rupiah. Kalau  tidak pake asuransi ya tekor!

Itu cerita saya tentang asuransi. Selanjutnya saya ingin cerita tentang ojek online. Go-jek, Grab Bike, dan sejenisnya sekarang ini marak sekali di Jakarta. Dari sejak jaket mereka baru-baru semua, sampai jaketnya sudah pada lusuh seperti sekarang ini. Dari dandanan mereka necis-necis seperti dulu, sampai dandanan mereka sudah pada sembarangan seperti sekarang ini. Gimana nggak sembarangan coba, kemarin saya lihat driver ojek online yang pake celana Levis dipotong, terus pake sandal crocs palsu. Dilihatnya aja nggak enak sama sekali.

Dari semua ojek online yang ada, saya sih ngefans banget sama OK-Jek. Apalagi kalau drivernya cantik seperti Asna atau Sarah, hihi. Sayangnya OK-Jek cuma ada di Net.TV, tidak ada di jalanan Jakarta pada kenyataannya.

Jadi, gara-gara sakit, saya nggak bisa ke Gramedia untuk membeli buku, atas saran istri saya, saya pun memanfaatkan fasilitas ojek online ini untuk membeli buku. Kebetulan saya sedang penasaran dengan bukunya Eka Kurniawan: Manusia Harimau yang sudah dialihbahasakan kedalam banyak bahasa asing. Berkat ojek online ini juga saya bisa mengambil hasil tes laboratorium saya di klinik prodia tanpa harus datang lagi ke klinik yang sama untuk kedua kalinya di hari yang sama, hehehe.

Saya termasuk orang yang memandang segala sesuatu dari manfaatnya ya, saya sih sejujurnya tidak terlalu peduli dengan urusan peraturan atau tata perizinan, atau bahkan saya tidak peduli dengan perdebatan mengenai legal atau tidaknya ojek dan taksi online berbasis aplikasi. Bagi saya, selama bermanfaat bagi saya dan mudah, ya saya pakai. Seperti Sabtu kemarin, waktu saya sama istri saya mau periksa ke rumah sakit. Biasanya sih kami naik motor, cuma karena saya kurang fit, kami memutuskan naik taksi. Sengaja kami naik taksi offline (baca: nyegat di pinggir jalan) sebagai salah satu bentuk penghargaan kami untuk taksi-taksi nonaplikasi (meskipun mereka sudah memakai apliaksi juga sebenarnya). Maka kami-pun naik taksi putih dengan logo huruf E. Eeeh di tengah jalan, si Pak Supirnya menurunkan kami dengan paksa dengan alasan dia harus menjemput pelanggan di RS Fatmawati. Halooooo, salah sendiri ambil orderan saat ada penumpang. Meskipun dia bilang argonya tidak usah dibayar, tetap saja bagi saya itu masalah. Memang seperti itulah kadang kekurangan taksi offline ya, terutama saya risih banget saat melihat tatapan mereka meminta uang kembalian.

Jadi, kesimpulannya, asuransi kesehatan dan ojek online, selama kita bisa mengambil manfaatnya, jangan ragu deh buat memanfaatkannya, hehe.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s