Tentang Bercerita

Tidak ada hal yang tidak bisa diceritakan di dunia ini, kecuali rahasia diantara rahasia: rahasia terdalam yang tidak mungkin diceritakan kepada orang lain. Setiap hal—selain rahasia terdalam—bisa diceritakan, bahkan sebelum hal tersebut menjadi sebuah cerita sekalipun.

Beberapa hari ini saya sangat ingin membuat sebuah cerita—cerpen—dan imajinasi mengenai ide ceritanya sudah mengular kemana-mana, namun belum juga saya wujudkan dalam bentuk kumpulan kata. Masih sebatas imajinasi. Masih di kepala. Saya sendiri agak heran, mengapa saya tiba-tiba ingin membuat sebuah cerpen. Kalau diagnosis sementara saya sih karena saya banyak membaca novel belakangan ini, sehingga memicu saya untuk menjajal kemampuan imajinasi dan bercerita saya. Cuma ya itu, masih di pikiran saja, belum terwujud. Alih-alih konsep, keinginan itu baru sebatas rasa ‘ingin’ semata.

Seperti yang saya sebutkan di atas, bahkan sebelum hal tersebut menjadi sebuah cerita, tetap bisa kita ceritakan kepada orang lain: seperti saya yang sekarang bercerita mengenai keinginan membuat cerita, meskipun cerita tersebut belum mewujud.

Seorang penulis, Irfan Amalee mengatakan bahwa manusia adalah makhluk pencerita. Pasti bisa bercerita. Saya setuju dengan pendapat tersebut, karena saya sendiri sejatinya suka ngomong—bercerita. Saya senang berpendapat, dan tentu saja saya senang menyampaikan pendapat tersebut kepada orang lain. Maka saya yakin, siapa saja pasti bisa bercerita, dan lebih jauh menurut Irfan, siapa saja pasti bisa menulis.

Kemampuan bercerita sangat dipengaruhi oleh daya imajinasi, yang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan atau wawasan. Semakin tinggi pengetahuan, semakin banyak wawasan, daya imaji seseorang akan semakin tinggi. Saya senang kepada orang tua yang membiasakan bercerita kepada anak-anaknya sebelum tidur, meskipun cerita yang disampaikan adalah fiktif, cerita tersebut akan melatih daya imajinasi anak, memperbanyak hasanah bercerita si anak. Yang mana hal tersebut akan sangat berguna bagi anak dalam mengasah kemampuan berceritanya.

Keinginan menulis cerita fiksi tersebut—selain dipengaruhi oleh saya yang kebanyakan membaca novel—juga karena salah satu teman saya bercerita bahwa dia sedang ikut kelas menulis skenario di sanggar menulis. Dan saya merasa tertarik sekaligus tertantang untuk menjajal kemampuan saya dalam menulis fiksi. Meski saya sendiri masih ragu dengan kemampuan saya.

Salah satu halangan bagi saya dalam menulis cerita fiksi adalah karena saya harus merubah kata ganti. Ya, menurut saya pribadi, cerita fiksi lebih cocok ditulis dengan kata ganti aku atau gw, bukan saya. Saya biasa menulis dengan kata ganti saya, sehingga ketika membuat cerita fiksi dengan kata ganti aku agak kagok. Tapi, saya sendiri tidak akan tau kemampuan saya sebelum mencobanya.

Jadi, saya akan mencoba menulis cerita, doakan saya!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s