Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

700-sdrhdt2015

AWALNYA saya tidak mengerti mengapa Eka menjuduli novelnya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Lalu semakin saya baca saya jadi mengerti; mengerti mengapa ada kata dendam, ada kata rindu dan ada gambar burung mati dengan gambar hati di dadanya.

Setelah selesai membaca novel ini, saya ingin segera menyimpannya di barisan buku paling belakang, setidaknya agar novel ini tidak terlihat oleh siapapun. Saya tidak ingin anak saya nanti membaca novel ini. Karena ini adalah novel paling porno yang pernah saya baca. Jadi jika Anda ingin menghadirkan bacaan yang penuh tata krama dan sopan santun di perpustakaan/koleksi buku Anda, saya tidak merekomendasikan buku ini, hehe.

Adalah Ajo Kawir, seorang pemuda yang belum berumur dua puluhan, namun harus menanggung derita paling mengerikan yang saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika saya mengalami hal yang sama: alat kelamin Ajo Kawir tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ajo Kawir mengira burungnya tidur, untuk jangka waktu yang tidak pernah dia ketahui. Itulah mengapa gambar novel ini adalah burung yang tidur, tak mau bangun yang juga gambar dan kata-kata yang sama yang akan dituliskan Ajo Kawir di truk yang dibawanya.

Kelamin Ajo Kawir tidak tidur begitu saja, semua itu ada penyebabnya. Berbagai cara sudah dilakukan Ajo Kawir untuk menyembuhkan kelaminnya. Sangkin frustasinya, Ajo Kawir hampir saja memotong kelaminnya sendiri dengan kapak. Untung ada si Tokek, sahabat Ajo Kawir yang mencegahnya.

Meski menderita, kebahagiaan itu akhirnya datang, yakni ketika Ajo berkenalan dengan Iteung, seorang gadis kampung yang juga jago bergulat. Ajo dan Iteung saling mencintai dan menyayangi dan mereka berdua pada akhirnya menikah. Mesti dengan satu risiko: bahwa kelamin Ajo Kawir tidak berfungsi. Dan Iteung, atas nama cinta menerima Ajo apa adanya. Meski hasratnya harus dibayar hanya dengan jari tangan Ajo Kawir.

Ajo Kawir bahagia, Iteung juga nampaknya bahagia. Nampaknya, ya hanya nampaknya. Karena Iteung tetap merindukan kelamin yang normal yang bisa bangun dan membahagiakannya. Hingga suatu hari Iteung ternyata hamil, oleh orang dari masalalunya, Budi Baik.

Ajo Kawir pun pergi dari kehidupan Iteung. Meninggalkan Iteung dengan janin yang dikandungnya. Ajo Kawir merantau, menjadi supir truk yang membawanya kemana saja. Jawa-Medan, Jawa-Aceh, dan lain-lain.

Ajo Kawir merasa dendam, pada orang yang membuat burungnya tidak bisa bangun. Ajo Kawir merasa rindu, rindu pada istrinya, Iteung. Lalu muncullah Juwita, yang meski kehadirannya hanya sebentar, namun banyak membantu Ajo Kawir, terutama dalam membangunkan burungnya yang tidur dan sangat filosofis.

Novel ini, meski porno, banyak memberikan pelajaran kepada kita. Bahwa manusia banyak diperbudak oleh kelamin, bahwa apa yang dilakukan kebanyakan manusia hanyalah untuk memenuhi keinginan kelaminnya. Nafsu. Nafsu selalu menjadi pendorong terbesar manusia dalam berbuat di dunia ini. Oleh karena itu Ajo Kawir kemudian menjadi seorang filsuf yang tidak mau diperbudak oleh nafsu. Bahwa burungnya yang tidak bisa bangun mengajarkan banyak kebijaksanaan kepadanya.

Jadi, apakah dendam dan rindu Ajo Kawir terbayarkan? Jika Anda penasaran, silakan baca novel ini. Namun Anda merasa novel ini terlalu porno untuk dibaca, maka saya tidak merekomendasikan Anda membacanya.

Satu karya apik dari Eka Kurniawan.

Gambar dari sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s