And The Mountains Echoed, a Novel by Khaled Hosseini

Saya termasuk salah satu penggemar novel-novel Khaled Hosseini. Novel pertamanya, The Kite Runner, berhasil membuat saya jatuh cinta pada tulisannya dan memaksa saya mencari buku keduanya, A Thousand Splendid Sun. The Kite Runner saya dapatkan gratisan dari teman, sebagai hadiah ulang tahun kalau saya tidak salah ingat, sekitar tahun 2007-2008, saya lupa detailnya. Kemudian novel keduanya baru saya beli sendiri, karena saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan cara dia bercerita yang menurut saya sangat dramatis. Dia bercerita seolah-olah benar-benar mengalami. Seolah-olah dia hadir di sana dan menyaksikan jalannya peristiwa itu. Itu yang membuat novelnya begitu hidup.

Hawa yang sama masih saya rasakan di novel ketiganya berjudul And The Mountains Echoed, atau dalam bahasa Indonesia-nya Dan Gunung-gunung Pun Bergema. Menceritakan tentang penemuan kembali kakak dan adik yang terpisah sejak kecil, akibat dijual oleh ayahnya sendiri. Mengambil settingan di sebuah desa kecil di Afghanistan bernama Shadbahg, yaitu sebelum Afghan bergejolak perang. Pada saat itu hiduplah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah mereka bernama Saboor (nama Saboor mengingatkan saya pada Bahadur, salah satu tokoh di novel dan film Ayat-ayat Cinta). Saboor memiliki anak bernama Abdullah dan Pari. Istrinya, meninggal saat melahirkan Pari. Sehingga Pari, harus dibesarkan tanpa ibunya. Meskipun menikah lagi dengan Parwana, Parwana tidak bisa merawat Pari yang waktu itu masih bayi dengan baik, karena dia juga harus merawat anak kandungnya dari Saboor, bernama Iqbal. Maka Abdullah, yang berselisih lima tahun dengan Pari-lah yang harus merawat Pari. Tidak hanya mengganti popoknya saat Pari pipis, tetapi juga meninabobokannya saat sudah waktunya Pari tidur. Maka ikatan yang timbul diantara keduanya lebih dari ikatan sebagai kakak dan adik, melainkan ikatan sehidup semati. Sampai pada suatu malam terjadi obrolan antara Pari dan Abdullah (Pari memanggil Abdullah sebagai Abollah) seperti ini:

Abollah?”

“Ya.”

“Kalau aku sudah besar nanti, akankah aku tinggal bersamamu?’

“Kalau kau mau. Tapi kau pasti tak mau.”

“Aku pasti mau!”

“Kau pasti ingin punya rumah sendiri.”

“Tapi kita bisa bertetangga.”

“Mungkin.”

“Kau tak akan tinggal jauh dariku.”

“Bagaimana kalau kau jemu denganku?”

Pari menyikut Abdullah. “Tak akan!”

Abdullah meringis. “Baiklah, ya sudah.”

“Kau akan selalu di dekatku.”

“Ya.”

“Sampai kita tua.”

“Tua bangka.”

“Untuk selamanya.”

“Ya, untuk selamanya.”

Pari menoleh. “Kau berjanji, Abollah?”

“Selama-lamanya.”

(Halaman 42-43)

Janji mereka kemudian dirusak ketika ayahnya menerima tawaran kakak ipar, yang merupakan paman tiri Abdullah dan Pari untuk menjual/menyerahkan Pari ke majikannya, Nila Wahdati, yang merupakan istri dari orang kaya karena warisan bernama Sulaeman Wahdati dan tinggal di Kota Kabul. Maka sejak saat itu mereka harus terpisah. Pari bahkan melupakan tentang Abdullah, karena perpisahan tersebut terjadi saat Pari masih sangat kecil. Abdullah sendiri kemudian harus menyimpan rasa sakitnya sendiri. Ayahnya melakukan itu karena alasan ekonomi.

Afghan kemudian mengalami masa-masa perang selama puluhan tahun. Banyak dari warga mengungsi ke negara lain. Nila Wahdati membawa Pari ke Paris saat dia masih kecil, semakin memperlebar jarak diantara kakak dan adik ini, karena kemudian Abdullah juga tinggal di California.

Melalui banyak pihak, akhirnya mereka dapat bertemu kembali, meskipun harus melewati beberapa generasi setelahnya. Khaled menceritakan jalannya pertemuan keduanya dengan sangat bagus, dengan memasukkan tokoh-tokoh lain yang membuat pertemuan mereka menjadi dramatis dan mengharukan. Namun cerita mengenai kehidupan Markos yang tinggal di Yunani,  yang dibahas di cerita ke delapan menurut saya tidak terlalu relevan dengan cerita novel itu secara utuh.

Novel ini memiliki latar waktu yang lama, puluhan tahun. Dari Abdullah dan Pari masih kecil sampai mereka baru bertemu kembali di usia senja. Namun masih tetap dengan gaya berceritanya Khaled, dia mengaduk-aduk perasaan kita dengan bahasa yang indah, namun tidak terlalu puitis.

Meski saya sedikit kecewa dengan ending novel ini, saya sangat menikmati membaca novel ini. Di sisi lain saya juga tidak bisa mengerti maksud judul novel ini, dalam kaitannya dengan isi cerita. Sepertinya judul And The Mountains Echoed hanya semacam kiasan saja yang menggambarkan bahkan gunung-gunung pun bergema untuk mempertemukan dua saudara yang telah lama terpisahkan. Novel setebal 512 halaman ini bisa menyedot perhatian saya selama beberapa hari, sehingga saya tidak lagi menonton tv begitu pulang dari tempat kerja. 🙂

Selamat membaca!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s