[Resensi] Lelaki Harimau, Eka Kurniawan

Senja ketika Margio membunuh  Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buahnya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang.

700-lh2015

SAYA tau buku ini dari teman sekantor. Katanya Lelaki Harimau merupakan novel bagus yang mengambil genre realis magis. Keesokan harinya saya memesan novel ini menggunakan jasa abang Go-Jek dan mulai khusyuk membacanya.

Awal-awal saya agak tidak mengerti dengan cerita di novel ini. Eka Kurniawan bercerita seolah-olah kita sudah mengenal lama tokoh-tokohnya: Margio, Anwar Sadat, Kyai Jahro, Mayor Sadrah, Komar bin Syueb, dll. Tapi begitu kita sudah tahu benang merahnya, kita tidak bisa berhenti membacanya.

Tokoh utama yang diceritakan adalah Margio, yang juga memerankan sebagai Lelaki Harimau itu sendiri. Disebut Lelaki Harimau karena Margio mewarisi kemampuan kakeknya yang berteman (kawin) dengan harimau, dan di dadanya lah harimau putih itu bersemayam.

Margio diceritakan sebagai anak pertama pasangan Komar bin Syueb dan Nuraeni. Komar dan Nuraeni adalah pasangan yang tidak berbahagia, karena selain miskin, mereka juga tinggal di gubuk bekas orang yang jelek, kecil dan tidak terawat. Margio bersaudara dengan adik perempuannya, Mameh. Komar yang berprofesi sebagai tukang cukur berperangai kasar kepada istrinya, Nuraeni. Nuraeni merasakan bahwa pernikahan mereka adalah penjara yang paling menjemukan dan membosankan, karena suaminya hanya bisa memukuli dan menyakitinya, demi memuaskan nafsu seksualnya.

Nuraeni yang juga menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Kasia–seorang bidan–dan Anwar Sadat yang pengangguran. Anwar Sadat yang dasarnya tukang main perempuan, suatu hari menggoda Nuraeni. Meski awalnya deg-degan, lama kelamaan Nuraeni merasa senang dengan sensasi itu: melakukan hubungan seksual tanpa dikasari oleh laki-laki. Sayangnya kebahagiaan itu diperoleh dengan cara yang salah. Margio, yang telah melihat dan merasakan penderitaan ibunya sejak kecil, mengalami kebingungan antara ikut berbahagia dengan perselingkuhan ibunya, atau merasa bersedih. Bahagia karena sejak perselingkuhan itulah Nuraeni memancarkan kebahagiaan, bukan wajah murung seperti biasa dan melampiaskannya dengan berbicara kepada panci dan kompor seperti orang sinting. Namun pada kahirnya Margio membunuh Anwar Sadat.

Alur maju mundur namun teratur membuat kita gampang mengikuti novel ini, meski saya merasa Eka memutar-mutar pemahaman kita mengenai jalan cerita di novel ini. Namun, di akhir novel kita akan mengetahui alasan utama kemarahan Margio (Harimau) kepada Anwar Sadat dan memaksa Margio membunuhnya.

Novel yang bagus dan layak ada dalam list buku yang harus dimiliki 2016 🙂

Gambar dari sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s