[…] Inteligensi Embun Pagi, Dee Lestari

supernova-6-intelegensi-embun-pagi-ttd-va-330x0

Mengetik di laptop hanyalah sebagian dari menulis itu sendiri. Mengkhayal, mengobservasi, dan meriset berlangsung nyaris tanpa henti dan merupakan bagian inheren dari proses saya berkarya (Dee Lestari dalam Inteligensi Embun Pagi)

TULISAN ini bukan resensi atau review saya terhadap novel terakhir seri Supernova-nya Dee Lestari: Inteligensi Embun Pagi. Tulisan ini hanya komentar saya sebagai pembaca yang awam, yang berusaha memahami novel tersebut pun saya susah 😛

Saya mengenal Supernova kira-kira tahun 2010, waktu itu saya sedang tugas belajar, banyak waktu luang, sehingga saya memperbanyak waktu membaca. Saya membaca seri pertama Supernova: KPBJ. Yang saya alami saat saya membaca novel tersebut adalah perasaan kebingungan yang membanjiri saya. Saya seperti bertemu ribuan pertanyaan pada setiap kepingnya. Terlebih banyak istilah-istilah yang tidak saya mengerti. Namun naluri saya mengatakan bahwa saya harus menyelesaikan novel itu.

Saya mulai bisa menikmati Supernova saat ceritanya agak-agak down to earth, bukan hayalan tingkat tinggi seperti KPBJ. Maka Akar, Petir, Partikel dan Gelombang saya lahap dengan nikmat. Saya membaca dan menikmati setiap kepingnya, sama seperti saya membaca Madre, Perahu Kertas, Filosofi Kopi, atau bahkan seperti saya mendengarkan Rectoverso. Sejak saat itu saya mencintai karya-karya Dee. Saya menanti-nanti lanjutan-lanjutan keping dari 99 keping yang disusun Dee lewat Supernova. Saya menunggu Partikel cukup lama sejak Petir, dan saya menunggu Gelombang lumayan lama sejak Partikel. Jujur saya menikmati semua proses menunggu itu.

IEP merupakan penutup sekaligus reunian semua pemeran Supernova. Dee menyatukan seluruh keping-keping yang terpisah di IEP. Dan di IEP inilah saya menjadi tau apa yang sebenarnya ingin diceritakan Dee dalam Supernova. Saya menjadi tau apa yang menjadi pertanyaan besar dalam Supernova yang juga ingin Dee jawab. Seperti yang diungkapkan Dee, Supernova hanyalah caranya bertanya sekaligus upayanya menjawab (pertanyaan-pertanyaan yang juga pencariannya).

Begitu saya membaca IEP, sontak saya teringat ke novel The Secret of The Immortality of Nicholas Flamel-nya Michael Scott, yang juga disusun dalam 6 novel, masing-masing menceritakan kejadian selama 2 hari. Jadi novel sebanyak 6 buku yang disusun Scott bertahun-tahun hanya menceritakan kejadian selama kurang lebih 12 hari lamanya. Sama seperti IEP yang hanya menceritakan kejadian selama beberapa hari saja. The Secret of The Immortality of Nicholas Flamel bisa dikatakan memiliki ide yang sejenis dengan Supernova: tentang orang-orang yang immortal (meski dalam novel ini diceritakan bahwa mereka adalah manusia) yang telah melewati beratus-ratus peradaban, yang telah menyamar dan menjelma menjadi banyak tokoh di dunia, tak jarang menjadi sosok yang dipuja-puja, tak jarang menjadi tokoh yang dikenang sebagai orang jahat.

Perasaan saya saat membaca IEP mengingatkan saya pada perasaan saya saat membaca KPBJ. Saya bingung, tidak mengerti, namun saya penasaran. Oleh karena itu yang saya lakukan adalah terus membaca. Satu hal yang membuat saya penasaran dari IEP adalah apakah Zarah bisa menemukan ayahnya, Firas atau tidak. Dan saya bersyukur Zarah menemukan ayahnya, meski ayahnya telah tiada, saya turut merasakan kelegaan yang dirasakan Zarah atas seluruh pencarian yang dilakukannya selama dua belas tahun. Dan, entah kenapa sepanjang membaca novel ini saya membayangkan Zarah sebagai seorang Maudy Ayunda. Aah semoga jika novel ini difilmkan, Maudy bisa mengambil peran sebagai Zarah 🙂

Pada akhirnya, saya ingin mengingatkan kembali bahwa tulisan ini bukan resensi atau review, ini hanya cerita pengalaman pembaca yang tidak mengerti hayalan tingkat dewa yang telah direncanakan Dee sejak bertahun-tahun yang lalu. Meski tidak mengerti, saya mencintai ide dan karya Dee Lestari, karena menurut saya Dee adalah novelis Indonesia satu-satunya yang mampu menulis dengan ide dan kualitas super se-super Supernova, meski pada awalnya menuai kontroversi.

Pada akhirnya, manusia tetaplah manusia. Bahkan seorang Peretas yang terlahir sebagai peretas tetaplah manusia, seperti Gio dan Zarah yang kemudian jatuh cinta. Karena kemudian cinta menjelma menjadi bahasa universal yang bisa menyatukan siapapun, mahluk apapun dari dimensi apapun.

Selamat membaca dan selamat jatuh cinta pada Supernova.

Gambar dari sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s