Cantik itu Luka, Eka Kurniawan

700-cil2015

MUNGKIN karena saya bukan generasi pembaca cerita stensilan seperti generasi terdahulu, kesan pertama saya membaca novel ini adalah vulgarisme. Eka begitu latah menyebut kata tai, tombak (alih-alih penis), ngaceng, dan istilah-istilah lain yang berhubungan dengan birahi dan seksualitas. Jika Anda bukan tipe pembaca yang bisa menoleransi kevulgaran Eka dalam novel ini, saya tidak merekomendasikan Anda untuk melanjutkan membaca 🙂

Seperti novel-novel Eka yang lain, Cantik itu Luka menghadirkan tanda tanya besar di awal cerita. Kita dihadapkan pada pertanyaan kenapa? Kenapa tiba-tiba Dewi Ayu hidup lagi dari kematiannya setelah 21 tahun? Dan setelah berhadapan dengan pertanyaan besar itu, kita akan melanjutkan membacanya seperti tidak pernah bisa berhenti.

Dengan alur yang lompat-lompat dan maju mundur, tanpa kejelasan pola urutan waktunya, Eka mencoba memberikan kita jawaban demi jawaban pertanyaan itu. Meski saat memberi jawaban itu Eka kemudian menghadirkan beberapa tanda tanya kecil lainnya.

Tapi, bukankah vulgarisme dan alur yang lompat-lompat maju mundur serta penuh tanda tanya itu adalah ciri khas Eka Kurniawan? Saya sih tidak masalah, malah saya senang membaca karya-karyanya.

Adalah Dewi Ayu, seorang campuran pribumi dan Belanda yang lahir pada masa kolonial. Terpaksa (kemudian menjadi profesinya) menjadi pelacur pada masa pendudukan Jepang. Dewi yang memiliki perwajahan cantik “harus” menurunkan kecantikannya itu kepada tiga orang anaknya, Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Ketiganya merupakan anak dari hasil pelacurannya, tanpa pernah diketahui siapa ayah dari anak-anaknya. Berbeda dengan ketiga anaknya yang sebelumnya, pada saat hamil anak keempat, Dewi Ayu berdoa agar Tuhan menjadikan anaknya buruk rupa, dan Tuhan mengabulkan doa tersebut. Anak keempat yang diberi nama Cantik, adalah sosok perempuan yang memiliki wajah seperti monster.

Suatu hari setelah 21 tahun meninggal, Dewi Ayu bangkit kembali dari kuburnya. Untuk apa? Untuk menuntut balas atas kemalangan yang dialami anak-anaknya. Kepada siapa menuntut balas? Kepada orang dari masa lalu nenek moyangnya yang menyebabkan kehidupannya dan kehidupannya sendiri porak poranda, tidak pernah berbahagia. Dan di sinilah pertanyaan besar itu timbul. Siapa sebenarnya Dewi Ayu sampai bisa bangkit dari kematian? Apa yang menyebabkan dia bangkit kembali dari kuburnya?

Anak pertama Dewi Ayu, Alamanda, jatuh cinta dengan anak seorang komunis di Halimunda, Kliwon. Cinta mereka begitu tulus, meski kemudian Shodanco merebut keperawanan Alamanda dan Alamanda terpaksa menikah dengan Shodanco. Kliwon yang patah dan sakit hatinya, harus mengalami keguncangan kejiwaan hingga harus hidup di jalanan dan bergaul dengan gelandangan. Alamanda menikah dengan Shodanco tanpa cinta sedikitpun. Nasib baik membaca Kliwon kembali kepada keluarganya dan menjalani kehidupan sebagai pimpinan Serikat Nelayan di kotanya dan merangkap pimpinan partai komunis. Kliwon kemudian menikah dengan Adinda yang tidak lain adalah adik Alamanda.

Sementara itu anak ketiga Dewi Ayu, Maya Dewi, menikah dengan preman yang terobsesi dengan perempuan cantik anak bupati di suatu masa bernama Rengganis. Rengganis adalah putri cantik, yang kecantikannya menyiksa para laki-laki untuk segera menyentuhnya hingga ayahnya sendiri birahi kepadanya. Setelah berlayar berbulan-bulan, mengarungi banyak badai dan harus melawan hiu di lautan (diceritakan hiu tersebut kemudian menjadi sahabatnya), preman tersebut sampai ke Halimunda, kota dimana Rengganis tinggal. Apa yang didapatinya begitu tiba di Rengganis begitu mengecewakan hati sang preman. Rengganis, putri cantik yang didengarnya dari mulut ke mulut hingga membuat rasa cinta dan imajinasinya melayang-layang, ternyata sudah meninggal, ratusan tahun yang lalu. Rengganis adalah kisah di masa lalu. Preman tersebut yang bernama Maman Gendeng kemudian menikah dengan Maya Dewi ini. Maya Dewi menikah dengan Maman Gendeng pada usia 12 tahun, dan untuk itulah Maman Gendeng harus menunggu 5 tahun hingga malam pertama pernikahan mereka terlaksana.

Cerita berlanjut dengan kisah kehamilan Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Dari pernikahannya dengan Shodanco, Alamanda memiliki anak Nur Aini yang dipanggil Ai. Adinda dan Kamerad Kliwon memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Krisan. Sementara Maman Gendeng dan Maya Dewi mempunyai seorang anak cantik yang diberi nama Rengganis si Cantik, diambilkan dari nama putri Rengganis yang menginspirasi Maman Gendeng hingga harus datang ke Halimunda.

Inti cerita novel ini terletak pada persahabatan Ai, Krisan dan Rengganis si Cantik. Hingga ketiganya harus meregang nyawa. Lalu bagaimana nasib anak ke-4 Dewi Ayu, Cantik? Temukan jawabannya di novel ini ya.

Cantik itu Luka memberi pesan kepada kita bahwa sesuatu yang cantik tidak selamanya indah. Bahkan kadang sesuatu yang cantik membawa luka. Novel ini menceritakan tentang kecantikan Dewi Ayu dan tiga orang anaknya, yang kecantikan itu dekat dengan birahi. Namun, bersama dengan kecantikan itu juga terdapat luka. Hingga Dewi Ayu mengharapkan anaknya buruk rupa, karena cantik itu luka. Namun Dewi Ayu salah, jika cantik itu luka, maka buruk rupa adalah luka kuadrat. hehe.

Selamat membaca.

Gambar dari sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s