[Resensi] Fire by Kristin Cashore

firegramediaforblogger

“KAU menyia-nyiakan sesuatu yang kau miliki”, kata Clara padanya di suatu hari, hampir jengkel. “Sesuatu yang hanya bisa kami bayangkan untuk memilikinya. Penyia-nyiaan adalah kejahatan.”

Saya secara tidak sengaja membeli novel ini. Sore itu saya diminta mengantar istri saya ke suatu acara, dan sambil menunggu istri saya selesai acara tersebut, saya berjalan-jalan di sebuah mall. Sepertinya mata saya langsung berbinar sewaktu keluar dari parkir motor dan mendapati ada bazaar buku di pelataran parkir tersebut. Banyak buku-buku yang tadinya mahal dijual hanya dengan harga Rp30 ribu-an, salah satunya buku Fire ini.

Pernah nggak kita membayangkan rasanya menjadi monster? Bukan, bukan monster dengan badan raksasa, muka jelek dan kekuatan super, bukan. Fire adalah monster yang berbeda, cantik jelita, anggun, dengan rambut berkilau berwarna jingga. Fire sama seperti manusia pada umumnya, karena Fire adalah monster manusia. Satu-satunya yang membedakannya dengan manusia adalah warna rambut dan kekuatannya membaca benak orang lain. Ya, Fire adalah monster manusia pembaca benak.

Pada zaman itu, hidup berdampingan dan saling memangsa: manusia dan monster. Jenis monster pun beraneka macam, monster hewan dan monster manusia. Fire adalah satu-satunya monster manusia yang masih hidup pada zaman itu. Monster saling memangsa, sesama monster hewan, maupun monster hewan memangsa manusia, dan sebaliknya, karena monster manusia juga memakan monster hewan. Sementara manusia biasa juga memangsa monster. Meskipun monster, Fire adalah keturunan keluarga keraajaan. Ayahnya Cansrell adalah peselingkuh yang tidur dengan semua orang, salah satunya ibunya Fire. Cansrell juga monster manusia. Biasanya Cansrell membunuh semua anaknya yang perempuan. Namun tidak dengan Fire. Fire adalah pengecualian bagi ayahnya.

Fire diasingkan di suatu tempat di utara oleh ayahnya. Sesekali ayahnya menengoknya. Fire belajar mengendalikan benak orang lain dari ayahnya. Fire pula yang membunuh ayahnya. Fire hidup dengan Brocker dan Archer. Archer mencintai Fire dengan sepenuh jiwa hingga cinta itu pada akhirnya membuatnya harus tewas di tangah ayah kandungnya yang tidak pernah diketahui Archer.

Oleh keluarga raja, Fire diminta datang ke kerajaan untuk membaca benak para mata-mata. Waktu itu terjadi perang antara tiga kerajaan. Raja-raja mereka yang bersaudara: Nash, Mydogg dan Murgda saling bertikai berebut kekuasaan. Fire membantu Kerajaan Raja Nash untuk memenangkan perang.

Dan di kerajaan ini Fire bertemu Brigan, panglima perang yang dingin, benaknya tidak dapat ditembus dengan usaha sekeras apapun. Awalnya Fire membenci Brigan, namun lama-lama Fire sadar bahwa Fire mencintai Brigan.

Meski lebih banyak dialognya daripada aksi perangnya, novel ini lumayan bagus. Membuat kita yang membaca semakin penasaran membacanya. Salah satu hal yang menarik saya membeli novel ini adalah, saat membaca resensi di bagian belakang buku, saya membaca ada nama saya tertulis di novel ini 😀

Lalu, apakah Fire berhasil membantu Nash dan Brigan memenangkan perang? Bagaimana rasanya membaca benak-benak orang yang kesakitan dan hampir mati? Bagaimana rasanya membaca benak orang yang kita cintai? Novel ini siap menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Semoga bermanfaat. 🙂

Gambar dari sini.

 

Advertisements

One thought on “[Resensi] Fire by Kristin Cashore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s