Jika Perusahaan Mengalami Rugi Berkelanjutan

JIKA kita baca literatur-literatur ekonomi, tujuan dari berdirinya sebuah badan usaha atau tujuan orang melakukan usaha pada umumnya adalah menghasilkan profit, atau memaksimalkan laba. Ada juga literatur yang menyebutkan bahwa tujuan berdirinya sebuah badan usaha adalah mensejahterakan pemegang sahamnya. Keduanya sama-sama benar. Bahwa tidak ada badan usaha yang didirikan dengan tujuan mencari kerugian. Lalu bagaimana jika perusahaan saya rugi terus?

Darussalam dan Danny Septriadi (2007) menyatakan bahwa pada umumnya kerugian yang dialami suatu badan usaha disebabkan karena:

  1. Perusahaan baru beroperasi
    Perusahaan pada tahap awal operasi seringkali mengalami kerugian, terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur. Hal ini dikarenakan pada tahap awal usahanya perusahaan banyak membeli barang-marang modal seperti mesin, membangun pabrik, gedung kantor, kendaraan, dll untuk operasional perusahaan. Otoritas perpajakan biasanya memberikan jangka waktu maksimal sampai kapan perusahaan dapat mengalami kerugian, karena tidak mungkin kerugian yang dialami suatu badan usaha terus-terus ditoleransi. Di Indonesia sendiri, melalui Peraturan Menteri Keuangan nomor 31/PMK.03/2014 memberikan jangka waktu maksimal 3 tahun perusahaan dapat melaporkan kerugian, meskipun PMK tersebut tidak secara langsung menyatakan demikian. Beberapa negara lain juga memberlakukan kebijakan yang berbeda-beda terhadap perusahaan yang melaporkan kerugian, misalnya Kanada 3 dan Australia memberikan jangka waktu maksimal 3 tahun.
  2. Ketidakmampuan manajemen dan gangguan usaha (poor management and dedundancies)
    Bagi sebuah perusahaan, efisiensi merupakan kunci memperoleh laba yang tinggi. Semakin efisien, semakin tinggi profit yang akan dihasilkan. Ketidakmampuan manajemen dalam mengelola perusahaan dan menciptakan efisiensi tertentu. Kadangkala perusahaan juga mengalami gangguan, misalnya terlalu banyak mesin yang menganggur, jam operasi tidak maksimal, dll.
  3. Strategi bisnis (deliberate business strategies)
    Kadangkala strategi bisnis yang dilakukan perusahaan juga membawa efek kerugian bagi perusahaan, misalnya perusahaan gencar melakukan promosi untuk memperluas pasar. Namun, tentu saja perusahaan tidak menjalankan strategi tersebut sampai bertahun-tahun.
  4. Kondisi ekonomi
    Kondisi ekonomi merupakan hal yang lumrah bagi perusahaan mengalami kerugian, Misalnya karena terjadi resesi, sehingga permintaan akan produk tertentu mengalami penurunan.
  5. Tahapan atau siklus usaha (stage in business and industrial life cycle)
    Tahapan atau siklus suatu usaha biasanya terbagi menjadi 4 bagian, the pioneer, growth, mature and decline phases. Pada tahap pioneer, masih ada keraguan apakah produk dapat diterima pasar dan apakah strategi yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan dengan baik atau tidak. Pada tahap growth, produk sudah dapat diterima pasar dan pertumbuhan dan hasil penjualan sudah mulai dapat dilihat hasilnya. Pada tahap mature, tren industri sejalan dengan kondisi ekonomi pada umumnya dan para pelaku usaha sedang dalam tahap berkompetisi untuk mendapatkan pangsa pasar saat industri dalam kondisi stabil. Sedang pada tahap decline, pelanggan mulai beralih ke produk lain karena faktor cita rasa atau teknologi yang berkembang. Pada tahap pioneer dan decline biasanya perusahaan mengalami kerugian.
  6. Risiko keuangan yang tinggi (excessive financial risk)
    Perusahaan adakalanya menghadapi risiko keuangan termasuk risiko atas piutang yang tidak tertagih atau risiko rugi karena selisih kurs.
  7. Dampak kebijakan pemerintah (effect of goverment policies)
    Pemerintah biasanya mengintervensi ekonomi melalui kebijakan kontrol harga, kontrol suku bunga, pembatasan penggunaan teknologi dan jasa, subsidi terhadap sektor usaha tertentu, dan kontrol terhadap nilai tukar. Hal ini juga dapat berakibat kerugian bagi perusahaan, meskipun tak jarang juga justru menjadi jalan perusahaan mendapatkan laba.

Jika perusahaan Anda mengalami kerugian, apakah salah satu dari ketujuh alasan tersebut menjadi penyebabnya? Dari sisi perpajakan, perusahaan yang mengalami kerugian selama beberapa tahun berturut-turut dapat menarik perhatian otoritas pajak. Jika selama (misalnya) 5 tahun berturut-turut perusahaan Anda mengalami kerugian, tapi tetap bertahan dan tidak dilikuidasi, mungkin ada yang disembunyikan perusahaan agar tidak membayar pajak sesuai ketentuan.

  • gambar ilustrasi dari sini.
  • Sumber utama: Konsep dan Aplikasi Cross-Border Transfer Pricing Untuk Tujuan Perpajakan, Darussalam dan Danny Septriadi (2008).

 

Advertisements

Ekspor Tapi Bukan Ekspor, Bukan Ekspor tapi Ekspor?

PT ABC di Indonesia sahamnya dimiliki 40% oleh ABC Pte Ltd di Singapura dan 60% sisanya dimiliki oleh PT XYZ di Indonesia. PT ABC merupakan produsen sebuah produk sepatu yang sudah mendunia dengan mark ABC Shoes. PT XYZ merupakan distributor utama dari produk sepatu tersebut, baik untuk penjualan lokal maupun untuk penjualan ekspor. Untuk penjualan lokal, PT ABC langsung menyerahkan sepatu kepada PT XYZ dan selanjutnya PT XYZ menjual sepatu tersebut ke pembeli lokal.

Sedangkan untuk penjualan ekspor ke Singapura, PT XYZ meminta bantuan ABC Pte Ltd di Singapura untuk memasarkan ABC Shoes di Singapura. PT XYZ akan membuat kontrak jual beli dengan ABC Pte Ltd. Keuntungan ABC Pte Ltd dihitung dari cost yang keluar ditambah margin tertentu (cost plus). Selanjutnya ABC Pte Ltd akan melakukan penjualan kepada pembeli di Singapura. Namun, barang dikirimkan langsung oleh PT ABC kepada ABC Pte Ltd.

Sehingga untuk penjualan ekspor ABC Shoes dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Snip 2017-07-03 23.08.22

Berdasarkan bagan di atas, siapakah yang sebenarnya melakukan ekspor? PT ABC atau PT XYZ? Apakah Bapak/Ibu memiliki kasus sejenis? Silakan komen di bawah atau kirim saya email untuk berdiskusi mengenai kasus tersebut.

Menyoal Konsep Self Service di SPBU

Sekarang ini kita terbiasa dengan istilah self service. Self service yang kurang lebih artinya pelayanan mandiri mewujud dalam banyak nama: swalayan, self check-in, dll. Jenis pelayanan yang dilakukan dengan konsep self service pun beragam, dari belanja di supermarket, check-in di bandara, makan di restoran, dll. Dan kini konsep self service sudah mulai merambah bidang lain: SPBU. Di Jakarta sendiri sudah banyak SPBU yang sudah menggunakan konsep self service, terutama SPBU Pertamina. Melalui tulisan ini saya ingin sedikit menyoal kebijakan self service tersebut.

Bagi saya, pengguna motor yang setiap hari harus bergumul dengan kemacetan Ciputat-Jakarta, kebutuhan akan bensin merupakan hal yang tidak dapat terelakkan sampai ditemukan bahan bakar kendaraan bermotor berbahan dasar air. Hampir setiap dua hari sekali saya mengisi tangki motor saya dengan premium yang jumlahnya sudah semakin langka. Iya, setiap dua hari sekali karena dalam sehari motor saya harus menempuh jarak 60 km pulang-pergi.

Menurut saya, konsep self service bagi pelayanan SPBU merupakan inovasi yang perlu dikaji ulang. Terutama karena self service yang diterapkan bukan full self service, tetapi semi self service karena masih ada petugas kasir yang membantu pengisian bahan bakar. Ketika kita datang ke SPBU, petugas kasir akan menanyakan jumlah pengisian bahan bakar yang akan kita lakukan. Setelah kita membayar, kita sudah bisa mengisi bensin ke dalam tangki secara mandiri.

Konsep ini menjadi persoalan ketika banyak pengendara yang tidak tahu cara mengoperasikan gagang selang bensin, sehingga alih-alih antrian berjalan cepat, justru berjalan lambat. Sering saya mengantri cukup lama di depan bapak-bapak atau mas-mas atau mbak-mbak yang kikuk menggunakan gagang selang. Terlebih beberapa orang justru kadang salah mengarahkan ujung selang, sehingga malah mengarah ke dirinya sendiri atau ke orang lain dan berisiko bensin dialirkan ke arah yang tidak seharusnya.

Jika tujuan dilaksanakannya konsep self service untuk mengurangi jumlah karyawan, menurut saya justru konsep ini tidak efektif. Untuk dua lajur antrian, tetap dibutuhkan 1 orang karyawan SPBU untuk mengentri jumlah pembelian di komputer. Belum lagi antriannya menjadi sedikit lebih lama karena 1 orang petugas entri harus mengentri kebutuhan dua lajur antrian. Kecuali diterapkan sistem full self service, pengisian dan pembayaran murni dilakukan pembeli, tanpa campur tangan petugas.

Kelemahan lainnya, dengan konsep self service kita tidak bisa lagi mengisi bensin “full tank”, karena kita harus terlebih dahulu menentukan berapa jumlah pembelian. Misalnya, saya tidak tahu kebutuhan tangki bensin kendaraan saya, maka saya harus membuat perkiraan.  Jika perkiraan saya meleset dan terlalu banyak, maka kita harus merelakan sisanya untuk SPBU, tanpa bisa kita minta kembali. Sering sekali saya mengira Rp25ribu rupiah adalah angka yang tepat untuk pengisian bensin saya, namun setelah saya isi, tangki bensin motor saya cuma muat Rp20ribu. Maka Rp5ribu harus saya relakan untuk SPBU.

Kesimpulan saya, self service dalam pelayanan SPBU belum efektif diterapkan. Jika tujuannya memangkas jumlah karyawan, sistem ini harus dilakukan penuh, tidak setengah-setengah. Infra struktur juga harus dipersiapkan, terutama karena masyarakat kita belum sepenuhnya menerima konsep self service tersebut. Misalnya SPBU menyiapkan mesin yang selain mengalirkan bensin juga bisa menjadi kasir.

Salam.

WhatsApp Image 2017-03-16 at 11.20.14 AM

Jangan pernah menyepelekan ucapan dan doa, karena Allah selalu mendengarkan …

Semasa kuliah dulu saya pernah mendapat tugas membuat semacam proposal kehidupan. Di dalam proposal itu saya harus membuat perencanaan kehidupan saya hingga saya tua nanti. Saat berusia 30 tahun, di dalam proposal tersebut saya menuliskan bahwa saya sudah memiliki istri dan anak. Siapa sangka bahwa hal itu benar-benar terjadi? Hari ini usia saya menginjak kepala 3, dan saya dianugerahi seorang istri dan seorang anak, alhamdulillah.

Menjadi seorang suami dan ayah adalah anugerah luar biasa yang saya terima dalam 2 tahun belakangan ini. Tentu saja bukan tugas yang ringan dan mudah, karena pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Meski berat, semua laki-laki di dunia ini menurut saya harus bersedia ketika tanggung jawab itu diamanatkan kepadanya.

Jadi, jangan pernah menyepelekan ucapan atau doa. Karena syahadat adalah ucapan, yang menandakan seseorang menjadi muslim atau bukan. Ijab qabul adalah ucapan, yang menandakan seorang laki-laki telah sah menikahi seorang perempuan atau tidak. Yuk kita jaga ucapan dan lisan kita.

Akhirnya, selamat ulang tahun diri sendiri. 🙂

Problem Solving Training for Baby

Bayi Adli saat ini telah menginjak usia 4 bulan, dimana di usia tersebut bayi seharusnya sudah lebih aktif bergerak dan lebih banyak ‘ngoceh’, sudah bisa menegakkan kepala dan mulai berlatih tengkurap. Ocehannya tidak sekedar berbunyi ‘ooo … ooo’ atau ‘aaa … aaaa’ kini ocehan bayi Adli sudah bervariasi dengan nada yang berbeda untuk setiap keinginan. Misalnya saat ingin nenen berbeda dengan ocehan saat ngantuk, tangisan saat pup berbeda dengan tangisan saat bete/gerah. Tenaganya sudah semakin kuat, senang menendang-nendangkan kaki, menoleh-nolehkan kepala dan menggerak-gerakkan tangan.

Di usia 4 bulan, bayi sudah bisa diajak spa. Setelah mencari-cari tempat spa yang murah dan bagus, akhirnya pilihan kami jatuh ke RSIA Muhammadiyah Taman Puring di Jakarta Selatan. Menurut bidannya sih spa sudah bisa dilakukan di usia 3 bulan bagi bayi yang lahir di usia kandungan normal (>40w), sedangkan bagi bayi yang lahir prematur spa bayi baru bisa dilakukan di usia di atas 5 bulan.

Dengan biaya Rp125 ribu, bayi Adli sudah mendapatkan pijat selama 30 menit dan renang selama 15 menit atau dapat diperpanjang jika bayi suka. Ternyata teknik pemijatan yang dilakukan sedikit berbeda dengan yang selama ini dilakukan mbah uti-nya bayi Adli di rumah. Alhamdulillah istri saya belajar banyak dari pemijatan ini. Dan bayi Adli juga terlihat senang dan bahagia saat dipijat. Pemijatan dimulai dari kaki, tangan, wajah serta punggung.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah 30 menit pemijatan, dilanjutkan dengan berenang. Terlebih dahulu bayi Adli dipakaikan pelampung yang membatasi kepala dan badannya, agar kepalanya tidak tenggelam saat berenang. Air hangat dan alunan lagu-lagu anak telah terlebih dahulu disiapkan.

Ajaibnya, begitu menyentuh air, bayi Adli sudah refleks menggerak-gerakkan kakinya. Bayi Adli terlihat sangat kegirangan, karena sejak lahir memang suka dengan air. Bidan yang membantu pun mengatakan jika bayi Adli sudah memiliki bakat berenang, tinggal dikembangkan saja dengan di-spa secara rutin.

1110987612

Ternyata pemijatan yang telah dilakukan sebelumnya berfungsi untuk melemaskan otot-otot dan merangsang gerakan bayi. Renang, selain berguna agar bayi lebih aktif bergerak juga ternyata memiliki banyak manfaat. Melatih kepercayaan diri, melatih agar bayi bisa berjalan pada waktu yang tepat (tidak terlambat karena kaki kurang dilatih gerak) serta melatih bayi memiliki kemampuan problem solving. Saat masuk ke air, bayi harus bisa mengambil keputusan apakah akan diam di tempat atau menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Inilah yang dimaksud dengan problem solving training. Selain itu bayi yang aktif dan mampu menggerak-gerakkan kaki dan tangan saat berenang cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Orang tua/pemandu bisa membantu menggerak-gerakkan air agar bayi lebih aktif bergerak. Renang dilakukan selama 15 menit atau dapat diperpanjang jika bayi terlihat bahagia dan menikmati. Dan bayi Adli menghabiskan waktu 30 menit sendiri untuk berenang. Alunan lagu-lagu anak dan bola-bola berwarna-warni membantu bayi agar lebih aktif saat berenang.

Berenang menghabiskan energi yang banyak bagi bayi. Oleh karena itu segera setelah berenang bayi agar diberikan asupan asi/susu, setelahnya bayi dapat tidur nyenyak karena telah beraktivitas yang lebih dari biasanya.

Bayi Adli terlihat senang dan bahagia saat berenang, mami dan papinya pun terlihat girang bukan main saat melihatnya. Bagi ayah atau bunda yang memiliki anak di atas 3 bulan, maka spa bayi bisa dijadikan alternatif hiburan dan sarana berlatih bagi bayi. Kuy!

Penghasilan dalam UU PPh

contoh-surat-keterangan-penghasilan

Siapa yang tidak mengenal istilah Pajak Penghasilan (PPh), hampir semua orang Indonesia mengenal istilah tersebut. Terlebih dewasa ini kesadaran masyarakat akan pajak semakin meningkat sebagai akibat edukasi yang dilakukan oleh pemerintah sudah semakin baik. Apa sih sebenarnya penghasilan itu?

Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun. Penghasilan menurut UU PPh dibagi menjadi tiga jenis, penghasilan yang menjadi objek pajak, penghasilan yang dikenai PPh Final dan Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak.

UU PPh mengenal penghasilan dalam arti luas. Pada dasarnya seluruh tambahan kemampuan ekonomis dengan nama dan dalam bentuk apapun merupakan penghasilan yang dikenai pajak, kecuali diatur bahwa penghasilan itu bukanlah objek pajak. Penghasilan dapat diperoleh dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Penghasilan tersebut dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak. Oleh karena itu salah satu cara menghitung penghasilan Wajib Pajak dapat dilakukan dengan analisis biaya konsumsi atau analisis harta.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa seluruh penghasilan dikenai pajak, kecuali UU menentukan bahwa penghasilan tersebut bukanlah objek pajak.

UU PPh kita mengatur jenis-jenis penghasilan dalam pasal-pasal berikut:
a. Penghasilan yang dikenai PPh: Pasal 4 ayat (1)
b. Penghasilan yang dikenai PPh Final: Pasal 4 ayat (2)
c. Penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak: Pasal 4 ayat (3)

Semoga bermanfaat.

Hati-Hati dengan Piutang

utang

Utang piutang ternyata memiliki banyak implikasi hukum. Tidak hanya hukum agama dan perdata, namun utang piutang juga memiliki implikasi dari segi hukum pajak. Berikut saya coba uraikan.

Dalam akuntansi kita mengenal kaidah harta merupakan penjumlahan dari kewajiban dan modal. Artinya, kewajiban dan modal yang kita laporkan merepresentasikan harta yang kita miliki dan seharusnya kita laporkan dalam SPT Tahunan PPh.

Bagi yang berhutang, melaporkan hutang dalam SPT Tahunan PPh jelas menginformasikan bahwa yang bersangkutan memiliki hutang kepada pihak tertentu. Tentu saja hutang tersebut harus bisa direpresentasikan dalam harta yang dimilikinya, kecuali hutangnya dipergunakan untuk konsumsi.

Bagi yang menghutangkan, piutang merupakan harta yang harus dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh. Jelas kita ketahui bersama bahwa piutang merupakan kategori aset. Yang harus diperhatikan bagi pihak yang menghutangkan, apakah piutang tersebut sudah dilaporkan dalam SPT tahunan PPh sebagai harta atau belum. Karena jika kita tidak melaporkan piutang tersebut sebagai harta, namun pihak yang berhutang melaporkan hutang tersebut dalam SPT nya, otoritas pajak akan menganggap kita memiliki harta yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh kita.

Ilustrasi:

Tuan Adli memiliki hutang sebesar Rp200 juta kepada Tuan Makarim. Hutang tersebut diperoleh tahun 2015 untuk kekurangan pembelian tanah. Tuan Adli telah melaporkan hutang tersebut dalam SPT Tahunan PPh 2015. Namun, Tuan Makarim lalai melaporkan piutang tersebut dalam SPT Tahunan PPh nya. Dalam hal ini, Tuan Makarim dapat dianggap belum melaporkan harta berupa piutang tersebut.

Semoga bermanfaat.