Earth to Echo: (Bukan) Film Tentang Alien

SUDAH lama saya tidak mengulas film. Bukan karena tidak pernah lagi nonton film di bioskop, tapi belakangan ini saya malas mengulas film karena beberapa film yang saya tonton termasuk dalam kelas main stream, yang saya yakin semua orang juga menonton film tersebut. Sebut saja X-Men, Transformers, atau How to Train Your Dragon. Tanpa diulas pun semua orang sudah pasti menonton, hehehe.

Minggu kemarin saya nonton Dawn of The Planet of the Apes, agak serem juga sih membayangkan kera-kera bisa bicara dan memiliki intelektualitas yang hampir sepadan dengan manusia. Saya jadi teringat bahwa perbedaan genetika antara kita dan mereka hanya 3%. Nah, sebelum film Dawn of The Planet of The Apes nya dimulai, ada iklan film yang kayanya bagus, yang diputernya hanya di Blitz Megaplex: Earth to Echo. Maka saya pun langsung berencana menonton film tersebut, yang baru bisa saya realisasikan minggu ini.

Saat melihat trailernya, saya pikir Earth to Echo adalah film tentang alien, makanya saya langsung tertarik. Namun saat menontonnya, menurut saya justru film ini lebih cocok disebut sebagai film tentang persahabatan ketimbang film tentang Alien. Menceritakan tentang tiga sahabat kecil, Tuck, Munch dan Alex yang tidak lama lagi harus berpisah karena kompleks tempat mereka tinggal akan digusur dengan alasan akan dibangun jalan tol.

Ketiganya tinggal di suatu kota yang merupakan daerah terdekat dengan gurun sierra nevada, yang katanya terminal pemberhentian alien jika datang ke bumi. Di malam terakhir kebersamaan mereka, mereka memutuskan untuk menyelesaikan suatu teka-teki penyebab ponsel mereka memunculkan gambar-gambar aneh semacam peta dan menunjukkan suatu tempat. Dengan sepeda yang sudah dilengkapi dengan kamera, mereka melaksanakan misinya malam itu juga.

Ternyata peta yang ada di ponsel mereka mengantarkan kepada suatu tempat di gurun dan mempertemukan mereka dengan ‘sesuatu’ penyebab ponsel mereka memunculkan peta-peta aneh: Alien yang terdampar di bumi yang ternyata ditembak oleh manusia dan menderita kerusakan parah, sehingga membutuhkan bantuan untuk kembali ke planetnya. Dan ketiganya dipilih oleh alien tersebut untuk menyelesaikan misinya.

Jangan dibayangkan alien ini seperti makhluk seram berkepala besar berwarna hijau seperti alien pada umunya, alien ini merupakan robot kecil unyu-unyu berwarna perak dengan mata berwarna biru, lebih menyerupai burung hantu daripada alien. Mereka menamai aliennya Echo, karena dia bisa meng-echo kan suara-suara alias menirukannya.

Alex adalah anak asuh di keluarganya, sehingga memiliki pengalaman pahit menjadi anak sebatang kara, sama seperti Echo yang terdampar di bumi seorang diri. Karena alasan emosional itulah Alex memutuskan untuk membantu Echo menemukan kapal ruang angkasanya agar bisa kembali ke planetnya. Dengan mengikuti peta-peta yang terus dibuat Echo di ponsel mereka, sedikit demi sedikit tenaga Echo mulai pulih dan kapal akan segera ditemukan.

Masalah mulai timbul ketika mereka mengetahui bahwa proyek jalan tol yang dibangun di kompleks rumah mereka bukanlah proyek yang sebenarnya. Karena yang akan mereka—yang mengaku sebagai pekerja konstruksi—lakukan sebenarnya adalah menggali kompleks tersebut, karena mereka sudah mengetahui bahwa di bawah tanah tertanam kapal luar angkasa milik Echo. Dan, mereka semua juga sedang mencari Echo.

Mampukan Tuck, Munch, dan Alex menyelamatkan Echo dan membantunya kembali ke planetnya? Pertengkaran akibat perbedaan pendapat mulai muncul diantara ketiganya, termasuk saat Alex ditinggalkan oleh kedua sahabatnya saat tertangkap basah oleh petugas keamanan, Alex sangat sensitif saat ditinggalkan oleh orang yang katanya menyayanginya. Kehadiran si Gadis Manekin, Emma, makin menghangatkan suasana persahabatan mereka.

Film ini dibuat seolah-olah sebagai film dokumenter, sama seperti Cloverfield, jangan heran di awal-awal film kita akan merasa sedikit pusing karena kamera yang terus bergerak tidak beraturan. Namun lama-kelamaan kita bisa membiasakan diri dengan filmnya kok. Cocok ditonton oleh anak-anak SD maupun SMP, meski bagus juga ditonton oleh dewasa, karena genrenya adalah SU, semua umur.

Jadi, selamat menonton!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s