Edensor

Saya tidak membaca tetralogi laskar pelangi-nya Andrea Hirata, tidak satu pun bukunya saya baca. Meski begitu, saya selalu menonton film-filmnya, dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, sampai yang sekarang masih diputar, Laskar Pelangi 2: Edensor.

Saya pribadi selalu memisahkan antara novel dan film, karena menurut saya keduanya adalah karya seni yang terpisah. Kadang bukunya bagus, namun tak jarang filmnya jelek. Kadang filmnya lebih bagus dari bukunya, dan tak jarang pula keduanya merupakan karya yang bagus, layak dibaca dan ditonton.

Edensor, film yang menurut saya seharusnya bagus, hanya saja produser (atau sutradaranya?) kurang sedikit kreatif. Film ini mengambil setting di Paris. Setahu saya, Paris merupakan kota model, tidak hanya memiliki moda transportasi yang bagus, namun bangunan, lansekap, dan budayanya juga merupakan hal yang tidak boleh kita lewatkan di sana. Sayang sekali kita tidak akan menemukannya di film Edensor ini, karena meski diambil di Paris beneran, hanya menampilkan flat tempat Arai dan Ikal tinggal, serta taman di depan kampus mereka. Sampai-sampai saya sendiri bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Entah kekurangan dana, atau hanya menyesuaikan dengan cerita di novelnya, hanya saja menurut saya, pembuat film ini tidak terlalu kreatif.

Adalah Ikal dan Arai, yang sedang menuntut ilmu di Paris, di Sorbonne University. Keduanya sedang mengambil gelar master mereka di sana, dengan beasiswa yang hanya cukup untuk membayar kuliah semata, sehingga mereka harus mencari sumber penghasilan lainnya.
Inti dari film ini adalah menceritakan persahabatan antara Ikal dan Arai, yang juga diceritakan di film sebelumnya, Sang Pemimpi.
Hanya saja,seperti yang saya ceritakan di atas, pembuat film kurang mengeksplorasi Paris dengan segala keindahannya.

Seperti beberapa film yang lain, kehadiran penulis novel atau produser di film selalu mengganggu—kalau tidak bisa saya katakan merusak. Kehadiran Habiburrahman ES di film-filmnya, kemunculan Hanung di film-filmnya, dan juga kehadiran Andrea Hirata di Edensor, mengganggu ending film ini. Itu menurut saya pribadi sih, seharusnya mereka tidak usah repot-repot masuk ke dalam layar, kalau memang mereka lebih berkompeten di belakang layar.

Nilai saya untuk film ini, 6.5

—————————————————————–
Kabel, 26 Desember 2013

Advertisements

One thought on “Edensor

  1. Patrick

    I see a lot of interesting content on your page. You have to
    spend a lot of time writing, i know how to save you a lot of time,
    there is a tool that creates unique, SEO friendly articles in couple of
    minutes, just type in google – k2 unlimited content

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s