Soekarno, Sukarno?

Sepertinya bulan ini saya harus menambah bujet nonton saya, karena setelah The Hobbit: The Desolation of Smaug dan Soekarno, masih ada Edensor dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang akan segera dirilis di bulan ini juga. Ooh … berarti saya harus siap-siap banyak menulis sinopsis, hehe.

Setelah kemarin saya menonton film The Hobbit 2, malam ini saya nonton film Soekarno. Sebenarnya film ini sudah ingin saya tonton sejak rilisnya tanggal 11 bulan 12 tahun 2013, tapi baru sempat menonton malam ini.

Saya lebih senang menyebutnya film tentang percintaan, dibandingkan film tentang perjuangan merebut kemerdekaan. Film ini tidak fokus, apakah menceritakan tentang kisah cinta Soekarno dengan Fatmawati, atau perjuangan Soekarno merebut kemerdekaan. Akibatnya, saya seperti menonton sinetron, yang benang merahnya tidak jelas.

Diawali dengan kisah pembuangan Soekarno ke Bengkulu, di mana dia kemudian mengajar, dan bertemu dengan Fatmawati yang waktu itu menjadi salah satu muridnya. Padahal ketika itu Soekarno sudah beristri, ibu Inggit Garnasih, meski belum dikaruniai anak, dan pada akhirnya mereka memang tidak dikaruniai anak. Diceritakan sebagaimana sejarah menceritakannya, bahwa Soekarno adalah seorang orator ulung, yang pidatonya mampu membakar jiwa dan semangat rakyat Indonesia, untuk merebut kemerdekaan, baik dari Belanda maupun dari Jepang.

Satu-satunya yang saya banggakan dari film ini adalah, ketika lampu telah dimatikan dan film akan segera dimulai, tiba-tiba di layar tertulis Penonton dimohon berdiri, lampu dinyalakan kembali,  dan penonton diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya pun langsung berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan tersebut. Mungkin maksudnya untuk membakar semangat nasionalisme, agar semakin meresapi isi cerita, namun saya menyayangkan cerita filmnya yang lebih seperti sinetron alih-alih membakar semangat kebangsaan saya.

Film-nya mirip-mirip dengan film Habibie dan Ainun, yang tidak fokus menceritakan apakah kisah percintaan mereka atau kisah Habibie menjadi presiden kala itu. Ya, sangat saya maklumi karena sutradaranya sama. Orang yang sama pula yang membuat film tanda tanya (?) yang selalu promosi filmnya sendiri dengan mengatakan bahwa filmnya kontroversial, mau ditarik, dsb, agar banyak yang menonton. Trik promosi yang …. agak aneh, menurut saya. Kemudian saya berfikir, mungkin judul yang tepat Soekarno dan Fatmawati, bukan Soekarno.

Kalau harus memberi skor, saya beri skor 6,5 untuk film ini. Tapi setidaknya dengan menonton film ini saya semakin yakin bahwa Soekarno memang orator yang ulung waktu itu, dan mampu merebut hati rakyat Indonesia dengan pidatonya. Meskipun dengan menonton film ini, saya merasa bahwa selentingan kemerdekaan Indonesia merupakan pemberian Jepang adalah benar. Dan, setahu saya, Sjahrir aktif dalam proses penyusunan naskah proklamasi kala itu, namun ternyata tidak.

Saya suka dengan scene yang diambil di depan istana Bogor, tepatnya di seberang danau yang memisahkan kebun raya dan istana negara. Setiap kali ke kebun raya dan berada di tempat itu, saya selalu membayangkan bahwa tempat itu adalah tempat yang cocok untuk shooting film kenegaraan, dan di film ini saya menemukannya.

Judul film ini Soekarno, dengan ‘oe’ yang ditulis dengan tinta merah, sementara huruf lainnya dengan tinta hitam. Melihat tulisannya yang demikian saya kemudian jadi ingat film Soe Hok Gie. Makanya ketika melihat judul film tersebut saya berdoa semoga filmnya sebagus film SHG. Meskipun judulnya Soekarno, di tengah-tengah film yang sering menampilkan cerita berbentuk teks di tengah layar, nama Soekarno kemudian berubah tulisannya menjadi Sukarno. Saya tidak tahu apa bedanya, makanya saya jadikan judul tulisan ini 🙂

Sutradara memang selalu punya ciri masing-masing dalam membuat filmnya. Saya lebih suka film-film garapan Riri Riza seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, atau Petualangan Sherina. Filmnya lebih natural dan tidak dibuat-buat.

————————————————-

Advertisements

One thought on “Soekarno, Sukarno?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s