Menyoal Konsep Self Service di SPBU

Sekarang ini kita terbiasa dengan istilah self service. Self service yang kurang lebih artinya pelayanan mandiri mewujud dalam banyak nama: swalayan, self check-in, dll. Jenis pelayanan yang dilakukan dengan konsep self service pun beragam, dari belanja di supermarket, check-in di bandara, makan di restoran, dll. Dan kini konsep self service sudah mulai merambah bidang lain: SPBU. Di Jakarta sendiri sudah banyak SPBU yang sudah menggunakan konsep self service, terutama SPBU Pertamina. Melalui tulisan ini saya ingin sedikit menyoal kebijakan self service tersebut.

Bagi saya, pengguna motor yang setiap hari harus bergumul dengan kemacetan Ciputat-Jakarta, kebutuhan akan bensin merupakan hal yang tidak dapat terelakkan sampai ditemukan bahan bakar kendaraan bermotor berbahan dasar air. Hampir setiap dua hari sekali saya mengisi tangki motor saya dengan premium yang jumlahnya sudah semakin langka. Iya, setiap dua hari sekali karena dalam sehari motor saya harus menempuh jarak 60 km pulang-pergi.

Menurut saya, konsep self service bagi pelayanan SPBU merupakan inovasi yang perlu dikaji ulang. Terutama karena self service yang diterapkan bukan full self service, tetapi semi self service karena masih ada petugas kasir yang membantu pengisian bahan bakar. Ketika kita datang ke SPBU, petugas kasir akan menanyakan jumlah pengisian bahan bakar yang akan kita lakukan. Setelah kita membayar, kita sudah bisa mengisi bensin ke dalam tangki secara mandiri.

Konsep ini menjadi persoalan ketika banyak pengendara yang tidak tahu cara mengoperasikan gagang selang bensin, sehingga alih-alih antrian berjalan cepat, justru berjalan lambat. Sering saya mengantri cukup lama di depan bapak-bapak atau mas-mas atau mbak-mbak yang kikuk menggunakan gagang selang. Terlebih beberapa orang justru kadang salah mengarahkan ujung selang, sehingga malah mengarah ke dirinya sendiri atau ke orang lain dan berisiko bensin dialirkan ke arah yang tidak seharusnya.

Jika tujuan dilaksanakannya konsep self service untuk mengurangi jumlah karyawan, menurut saya justru konsep ini tidak efektif. Untuk dua lajur antrian, tetap dibutuhkan 1 orang karyawan SPBU untuk mengentri jumlah pembelian di komputer. Belum lagi antriannya menjadi sedikit lebih lama karena 1 orang petugas entri harus mengentri kebutuhan dua lajur antrian. Kecuali diterapkan sistem full self service, pengisian dan pembayaran murni dilakukan pembeli, tanpa campur tangan petugas.

Kelemahan lainnya, dengan konsep self service kita tidak bisa lagi mengisi bensin “full tank”, karena kita harus terlebih dahulu menentukan berapa jumlah pembelian. Misalnya, saya tidak tahu kebutuhan tangki bensin kendaraan saya, maka saya harus membuat perkiraan.  Jika perkiraan saya meleset dan terlalu banyak, maka kita harus merelakan sisanya untuk SPBU, tanpa bisa kita minta kembali. Sering sekali saya mengira Rp25ribu rupiah adalah angka yang tepat untuk pengisian bensin saya, namun setelah saya isi, tangki bensin motor saya cuma muat Rp20ribu. Maka Rp5ribu harus saya relakan untuk SPBU.

Kesimpulan saya, self service dalam pelayanan SPBU belum efektif diterapkan. Jika tujuannya memangkas jumlah karyawan, sistem ini harus dilakukan penuh, tidak setengah-setengah. Infra struktur juga harus dipersiapkan, terutama karena masyarakat kita belum sepenuhnya menerima konsep self service tersebut. Misalnya SPBU menyiapkan mesin yang selain mengalirkan bensin juga bisa menjadi kasir.

Salam.

Advertisements

Kalau Sabun Bisa, Mengapa Harus Pake Detergent?

BEBERAPA minggu ini saya berkutat dengan cucian kotor, terutama cucian bayi, hehe. Menurut kebiasaan masyarakat kami, mencuci baju kotor bayi merupakan kewajiban seorang ayah. Tentu saja model ‘ayah baru’ seperti saya merasa tertantang dengan tugas tersebut. hehehe, meskipun lama-lama nyucinya pake mesin cuci juga.

Baju kotor bayi bisanya tidak cuma sekedar kotor, karena kalau gak kena pipisnya ya kena pup nya dedek bayi. Oleh karena itu, bagi bapak-bapak, mencuci baju bayi menjadi tantangan sendiri, karena banyak kejutan. Bayi yang baru lahir beberapa hari biasanya kotorannya berwarna hitam, namun seiring berlalunya waktu kotorannya akan menguning seperti kotoran manusia dewasa.

Untungnya, kotoran dedek bayi baunya khas, dan berbeda dari bau kotoran orang dewasa. Jadi mungkin disebabkan karena itu adalah kotoran anak sendiri, saat mencuci saya tidak merasa jijik sedikit pun.

Nah, sedikit berbagi cerita tentang mencuci pakaian bayi. Pertama jangan pake detergent sembarangan, terutama karena kulit bayi masih sensitif. Jangan pake detergent yang biasa dipakai untuk mencuci baju orang dewasa, gunakan detergent khusus bayi, hehe.

Meskipun sudah pake detergent khusus bayi, jangan berharap banyak sama kualitasnya. Karena tetap saja tidak bisa cukup sekali kucek, harus dikucek-kucek puluhan kali agar kotoran dedek bayi bisa ilang. Nah, biar tidak capek mengkucek, kita bisa menggunakan sabun mandi, sabun batangan (bar soap) yang biasa digunakan untuk mandi orang dewasa. Sebut saja GIV, Lux atau sabun mandi lainnya, heheheh. 

Jadi sabun mandi batangan selain bisa membersihkan kotoran/daki pada orang dewasa saat mandi, sabun batangan juga bisa memudahkan saat kita mencuci kotoran bayi. Tidak cuma kotoran bayi, kotoran yang melekat pada baju pada kenyataannya akan dengan mudah dibersihkan dengan sabun batangan.

Jadi, kalau ada sabun batangan, mengapa harus pake detergent? hehehe

adli-makarim-2

Akhirnya, Saat yang Mendebarkan itu Telah Lewat

BAGI saya, ada beberapa kejadian mendebarkan yang sangat membekas bagaimana dagdigdug-nya saya melewati kejadian-kejadian itu. Pertama, saat ijab qobul. Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana nervous-nya saya waktu itu. Gara-gara duduk bersila, saya sampai harus menahan kebelet pipis dan semutan secara bersamaan. Kedua, saat sidang skripsi. Meski degdegan, saya sempat dibuat jengkel dengan tim penguji yang tidak memperhatikan presentasi saya, malah ngobrol sendiri -,-. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai A. Dan yang ketiga, kejadian yang baru beberapa hari yang lalu saya lewati, saat istri saya melahirkan anak pertama kami.

Kurang lebih tiga bulan setelah menikah, suatu pagi istri saya memdatangi saya sambil senyam-senyum. Ternyata istri saya memberikan kejutan kepada saya berupa alat testpack kehamilan yang baru saja dipakainya yang menunjukkan hasil dua strip alias positif. Tentu saja saat itu saya girang bukan main. Kami berdua sama-sama menikah di usia yang tidak lagi muda, sehingga kehadiran buah hati merupakan sesuatu yang sangat kami nanti-nanti.

Soal testpack alau alat penguji kehamilan ini sebenarnya ada cerita tersendiri. Sebulan setelah ijab qabul, istri saya minta dibelikan testpack. Awalnya saya belikan hanya 1 buah, dengan harga yang relatif mahal, dengan harapan bisa lebih akurat daripada testpack yang murah, hehe. Namun beberapa kali dibeli alat tersebut selalu menunjukkan hasil negatif setiap kali diuji, haha. Ya iya namanya juga belum dikasih ya. Sampai sedikit putus asa, biar hemat, saya pun membeli testpack yang relatif murah, yang harga satuannya sekitar Rp3-4 ribuan per buah, padahal sebelumnya saya biasa membeli testpack dengan harga 10 kali lebih mahal, haha. Hemat bok!

Nah setelah hasil testpack menunjukkan double strip, saya pun membeli beberapa varian testpack, dari yang murah banget sampai yang mahal banget, dengan teknologi termutakhirkan, halah. Maksudnya testpack digital. Istri saya pun secara rutin melakukan pengujian kehamilannya pada testpack-testpack tersebut setiap selang sehari sekali. Entah kenapa harus selang sehari sekali, hahaha, hanya ikut kata orang saja. Alhamdulillah 4 testpack yang dipakai menunjukkan hasil positif. Sejak saat itu kami pun sedikit yakin dan akan segera memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan.

Kabar kehamilan istri saya menjadi kabar yang sangat menggemberikan bagi kami dan keluarga. Karena bagi keluarga saya, kehadiran anak saya akan menjadi cucu kedua dalam keluarga ibu saya, sementara bagi keluarga istri, kehadiran anak kami akan menjadi cucu yang ketujuh. Semua orang bergembira, alhamdulillah.

Saya ingat betul, ketika saya menceritakan kehamilan istri saya kepada sahabat saya, Rio, dia berpesan “tolong dijaga ya kehamilan Yuli (nama istri saya-red)”. Saya pun agak tidak mengerti dengan pesan Rio. Ya intinya saya harus menjaga kehamilan istri saya agar selamat, sehat dan lancar sampai persalinan. Thanks Rio buat pesannya, karena gara-gara pesan itu sejak hamil saya melarang istri saya mengendarai motor, naik motor sama saya pun harus sangat pelan, saya larang bepergian jauh dan kecapean, dan segudang larangan lainnya. Semuanya tidak lain dan tidak bukan saya lakukan agar kandungan istri saya sehat, anak dan ibunya selamat sampai persalinan kelak, amin.

Sejak istri mengandung, saya merasakan banyak hal berubah, terutama pada diri saya sendiri. Saya harus mempersiapkan diri menjadi seorang ayah. Saya selalu senyum-senyum sendiri saat saya membayangkan bahwa saya akan mendapat gelar ayah, gelar yang telah diperoleh teman-teman seangkatan bertahun-tahun yang lalu, dan saya baru akan mendapatkannya sekarang. Meskipun bagi saya sebenarnya hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah. Perubahan yang lain, saya merasakan jatuh cinta. Pertama, istri saya terlihat semakin cantik saat hamil, hehe (semoga istri saya tidak membaca tulisan ini); kedua saya juga catuh cinta pada anak kami. Saya jatuh cinta, bahkan sebelum saya bertemu dengan anak kami. Setiap malam saya ajak ngobrol, sebelum tidur dan sesudah bangun tidur selalu saya tuntun berdoa. Saya jatuh cinta, …

Singkat cerita kehamilan istri saya sudah menua dan kami sudah harus mempersiapkan kelahiran si kecil. Kami memanfaatkan weekend untuk melakukan senam hamil, jika tidak terlalu lelah kami akan berbelanja keperluan bayi, atau sekedar jalan-jalan atau nonton. Untuk memeriksakan kehamilan pun kami telah mencoba beberapa rumah sakit dan dokter, dari yang termahal sampai termurah namun berkualitas, hehe. Kami bahagia mempersiapkan diri menyambut kelahiran pangeran kecil kami, karena beberapa kali di-USG dokter selalu menunjukkan ‘monas’ bayi kami, yang artinya dia berjenis kelamin laki-laki, hehehe. Bisa dibayangkan kan betapa senangnya kami waktu itu, terutama saya.

Setiap kali memeriksakan kehamilan, pertanyaan yang selalu tanyakan kepada dokter kami adalah “apakah bayi sudah masuk panggul atau belum?” bahkan hingga kehamilan istri saya berumur 39 minggu, jawaban dokter selalu “belum”. Meski mendapat jawaban negatif, istri saya tidak pernah berputus asa. Setiap pagi kami selalu menyempatkan diri berjalan-jalan pagi, dan setiap hari istri saya melakukan olah raga jongkok berdiri, hingga ratusan kali, seperti saran bidan.

Namun apadaya, manusia boleh berencana, Tuhan yang memutuskan. 40 minggu telah berlalu, dan bayi kami belum juga masuk panggul istri saya. Padahal berdasarkan pemeriksaan panggul istri saya bagus dan cukup. Akhirnya kami memutuskan menunggu lagi, hingga satu minggu lagi. Di usia 41 minggu, kami mencari second opinion atas kondisi bayi kami dengan melakukan pemeriksaan ke dokter lain. Jawabannya masih tetap sama, bahwa bayi belum masuk panggul, masih jauh dari panggul. Bahkan dokter tersebut menyarankan agar bayi kalau bisa segera dilahirkan dalam 1-2 hari karena usianya sudah 41 minggu, terlebih beratnya menurut pemeriksaan USG sudah 3,6 kg.

Akhirnya kami kembali memeriksakan diri ke dokter kami. Dokter masih mengatakan hal yang sama, bahwa bayi belum masuk panggul, lalu ada informasi tambahan yang baru kami ketahui di hari itu, bahwa ada lilitan tali pusar di leher bayi kami dan posisi bayi kami yang belum membentuk siput, alias masih menghadap ke atas, sehingga tidak mungkin dilahirkan secara normal.

Setelah itu dokter menjadwalkan operasi c-section atas kehamilan istri saya. Meski berat, keputusan ini harus tetap kami ambil karena bagaimanapun juga keselamatan ibu dan bayi adalah hal yang utama. Saya merasakan betul bahwa keputusan ini berat bagi istri saya, terlebih sejak awal kehamilan istri saya sangat menginginkan melahirkan secara normal. Sekali lagi, Tuhan yang menentukan.

Hari Jumat, tanggal 4 Nopember 2016 jam 11.00 WIB istri saya dijadwalkan melakukan operasi di RS. Kalau boleh saya ceritakan, rasanya campur aduk. Dan itu adalah salah satu kejadian yang rasa degdegannya akan selalu saya kenang. Di satu sisi saya bahagia, bahwa bayi kami akan segera dilahirkan. Namun di sisi lain saya takut sekaligus waswas karena istri yang amat sangat saya cintai akan segera dioperasi.

Satu hal yang membuat saya sedih adalah (dan saya masih bersedih sampai sekarang), dokter melarang saya menemani istri saya di ruang operasi. Padahal dari beberapa referensi yang saya baca, suami dapat menemani istri di ruang bedah. Ternyata RS kami memiliki kebijakan yang berbeda. Saya yang cengeng cuma bisa menangis (di dalam hati), karena bahkan sesaat sebelum masuk ruang bedah, istri saya masih tersenyum, sebelum saya melepasnya dengan sebuah kecupan di kening dan di pipi.

unknown-3

Degdegan ijab qobul maupun sidang skripsi hanya saya rasakan dalam beberapa menit saja. Paling lama 15 menit. Namun degdegan istri dioperasi rasanya saya rasakan sangat lamaa. Setengah jam setelah istri saya dibawa masuk ke ruang bedah, saya dipanggil oleh perawat. Saya diberi selamat karena bayi kami sudah lahir, namun istri saya masih “dirapikan” begitu istilah perawat, maksudnya dijahit.

Saya pun diajak menemui bayi kami, yang saat itu tengah dibersihkan dan menangis kencang. Begitu melihat muka bayi kami, saya langsung menangis. Rasanya saat itu saya ingin berteriak “Naak, ini papi kamuuuu” tapi saya malu karena ada beberapa perawat/bidan di sana.

Saya pun diberi tahu oleh bidan bahwa anak saya laki-laki, sesuai hasil USG. Saya diminta memeriksa/tepatnya memperhatikan saat bidan memeriksa jenis kelamin dan jumlah jari-jari tangan dan kaki, bentuk mulut, hidung, pipi dan mata. Setelah dibersihkan dan dibedong, saya meminta izin untuk mengadzani dan mengqamati bayi kami, seperti yang diajarkan pendahulu kami dalam agama Islam.

Saya takjub, saat saya bacakan ta’awudz di telinga kanan, tangis bayi kami yang kencang langsung berhenti. Dengan bergetar saya lantunkan adzan dan iqamat. Setelah itu bayi kami dibawa ke ruangan bayi untuk diinkubator. Karena takut tertukar dengan bayi lainnya, saya menunggu bidan membuatkan identitas untuk bayi kami. Setelah itu saya keluar untuk menemui keluarga dan memberitahukan kabar gembiranya, tentu saja setelah saya jepret sana sini dengan bayi kami, hehehe. 

unknown-2

unknown

Tidak lama setelah itu, saya dipanggil kembali untuk bertemu dengan istri saya. Saat itu istri saya belum bisa berkata-kata, yang dia lakukan hanya menangis sambil berbisik “sakiittt….“. Saya tidak tahu harus berkata apa, sambil menangis saya hanya bisa bilang “sabar yang sayaangg …, dek Adli sudah lahir, kamu sudah ketemu kan?” istri saya hanya menjawab dengan anggukan.

Jadi, bagi bapak-bapak yang istrinya tengah mengandung, baik melahirkan normal maupun operasi sama-sama sakitnya, namun tentu saja melahirkan normal merupakan pilihan terbaik. Saran saya, hanya pilih operasi jika memang dokter mengharuskannya.

Dan sekarang, alhamdulillah. Bayi kami sudah berada di tengah-tengah kami, sebagai penyejuk dan pelengkap kebahagiaan. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang bisa kami dustakan?

Kami beri nama bayi kami Adli Makarim, lahir di RS Setia Mitra, Jakarta Selatan pada hari Jumat, 4 Nopember 2016 melalui operasi c-section dengan berat badan 3,1 kg dan panjang badan 48 cm. Terima kasih kepada keluarga besar, sahabat dan handai taulan yang memberikan semangat dan bantuan tak henti kepada kami. Semoga Allah membalas kebaikan bapak/ibu sekalian dengan kebaikan lain yang berlipat. Amiin.

unknown-4

Kita di Dunia Maya

MARI rehat sejenak dari urusan pajak, khususnya amnesti pajak, hehehe. Dulu sekali, awal-awal saya baru mengenal media sosial (friendster, facebook), saya merasa latah. Sedikit-sedikit (dan sebentar-sebentar) update status di medsos tersebut. Bukan masalah update statusnya, tetapi isi dari status saya tersebut. Saya banyak mengeluh, saya terlalu banyak mengomentari, bahkan kadang saya mengomentari sesuatu yang saya tidak punya kapasitas terhadap sesuatu itu. Duuh saya malu kalau facebook menampilkan memori update status saya 7-8 tahun yang lalu, saat saya masih alay. Biasanya saat facebook memunculkan memory itu, langsung saya ignore.

Awalnya saya berpikir semua orang melewati masa-masa itu. Masa-masa suka curhat di facebook, masa-masa jadi tukang komentar, masa-masa marah-marah di facebook, bahkan masa-masa menulis dengan huruf besar dan kecil dengan kombinasi angka dan huruf. Mungkin itu semacam etape yang harus dilalui dalam hidup seseorang untuk menuju etape berikutnya. Sayangnya pikiran saya itu salah, banyak juga orang yang tidak melalui masa-masa itu. Untunglah sekarang saya sudah taubat, hehehe. Bayangin saja dulu saya sok-sokan komentar soal politik, ekonomi atau kebijakan pemerintah sambil maki-maki tanpa mau tahu masalah yang sebenarnya. Atau saya menyindir seorang teman di facebook, berharap teman saya membaca status saya itu kemudian meminta maaf, iiih nggak gentle sama sekali, hehe. 

Dari pengalaman bergaul di media sosial, saya menemui orang-orang dengan banyak karakter. Ada yang aslinya pendiam, tetapi aktif di media sosial. Bahkan hiperaktif. Sedikit-sedikit (atau sebentar-sebentar) update status. Bahkan sekedar ke toilet saja harus menekan tombol post/share terlebih dahulu. Ada yang aslinya rame, ternyata pendiam di media sosial, seperti saya, hihi. 

Saya menemui orang yang kalau punya masalah lebih senang bercerita di dunia maya dari pada di kehidupan nyata. Si A punya masalah sama si B, si A menuliskan keluh kesahnya di facebook, sayangnya si B tidak berteman dengan si A di facebook, atau bahkan si B tidak punya akun facebook sama sekali. Lha trus gimana si B tau keluh kesah si A? Apa menunggu seseorang meng-capture keluh kesah si A dan menyampaikannya ke si B?

Saya jadi banyak tau urusan (baca: masalah) orang di media sosial. Positifnya, saya jadi merasa lebih bersyukur, bahwa masalah yang saya hadapi tidak seberat masalah orang lain. Negatifnya, saya jadi silent reader yang jadi tau urusan/masalah banyak orang, meski saya tidak menginginkannya.

Pelajaran yang saya ambil, bahwa seseorang bisa menjadi ‘orang lain’ di dunia maya. Atau sebaliknya, seseorang menunjukkan karakter aslinya di dunia maya. Seperti kata Owl City, everything is not always what it seems. Pesan saya, hati-hati dengan apa yang kita share di dunia maya. Karena banyak mata tertuju kepada diri kita. Kita tidak pernah tahu orang seperti apa yang kita hadapi di dunia maya (salah satunya ya orang kaya saya ini), jadi berhati-hatilah.

Sekian tulisan nggak penting saya tentang dunia maya, khususnya facebook, hehehe. 

Mati Hari ini atau Besok Sama Saja, Jika …

SEGERA setelah dua orang petugas pajak dibunuh oleh Wajib Pajak beberapa hari lalu, banyak bermunculan orang-orang ahli, yang keahliannya diperoleh mendadak. Ahli perpajakan, ahli tata negara, ahli manajemen, ahli kriminologi, dsb. Masing-masing memberikan komentar sesuai sudut pandang masing-masing. Tak jarang komentar yang disampaikan merupakan sesuatu yang tidak berdasar, atau didasarkan pada ‘ketidaksukaannya’ pada Direktorat Jenderal Pajak.

Secara pribadi, saya ikut prihatin dan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarga korban. Bayangkan saja, keluarga sendiri, tewas saat melaksanakan tugas negara dengan cara yang sama sekali tidak diharapkan. Saya hanya tidak percaya bahwa keadaan tersebut tidak membuat seseorang berhenti mencela atau menjelekkan dirinya dan institusinya.

Semoga kejadian ini merupakan yang pertama sekaligus yang terakhir dalam sejarah perpajakan Indonesia. Dimana seorang abdi negara yang datang ke Wajib Pajak dalam rangka melaksanakan ketentuan undang-undang, dibunuh oleh Wajib Pajak.

Pimpinan DJP kemudian menyatakan perang terhadap teroris pajak, dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada almarhum. Dalam pesannya kepada seluruh pegawai DJP, Dirjen Pajak mengatakan duka cita yang mendalam atas kejadian yang dialami almarhum dan meminta kepada aparat penegak hukum untuk memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku.

Dirjen Pajak menutup pesannya dengan mengatakan bahwa mati sekarang atau kapan saja sama saja; saya membacanya sebagai mati hari ini atau besok sama saja. Entah kenapa kalimat penutup tersebut terngian-ngiang di benak saya selama beberapa hari ini. Saya langsung teringat kalimat Soe Hok Gie yang juga mengutip kalimat seorang filsuf yang mengatakan bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.

Secara pribadi saya kurang setuju dengan kalimat mati hari ini atau besok sama saja. Lalu, setelah melalui perenungan yang cukup mendalam (haish) saya menemukan apa yang kurang dalam kalimat tersebut. Karena menurut saya, mati hari ini jelas berbeda dengan mati esok hari.

Lalu saya pun melengkapi kalimat tersebut sebagai berikut: mati hari ini atau besok sama saja, jika kita tidak bermanfaat bagi orang lain.

Semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

🙂

Asuransi dan Ojek Online

LUMAYAN lama juga ya saya tidak nulis di sini. Bukan karena sibuk juga, tapi beberapa hari ini memang badan sedang tidak terlalu enak untuk diajak beraktivitas, walhasil harus istirahat ranjang (baca: bedrest) di rumah selama beberapa hari ini.

Sebagai karyawan, tentu bedrest membawa satu dampak tersendiri bagi saya. Pertama, dengan tidak ngantor artinya potongan gaji saya, meski tidak seberapa, kalau dipotong ya tetep sayang ya, hehe. Kedua, dengan tidak ngantor, pekerjaan kantor saya bukannya berkurang malah makin banyak karena ‘antrian pekerjaan’ jadi semakin panjang. Ya, namanya juga pegawai ya 🙂

Saya mau cerita sedikit tentang asuransi. Dulu–beberapa tahun yang lalu–kesadaran berasuransi saya sangat rendah. Waktu itu saya pikir ngapain ya saya harus bayar-bayar buat asuransi kesehatan yang manfaatnya kadang tidak saya ‘klaim’ sama sekali. Pemikiran itu mungkin ada benarnya sih ya, mengingat beberapa tahun lalu badan saya masih bugar, belum sering sakit-sakitan seperti sekarang. Waktu itu saya lebih tertarik sama asuransi unit link yang menawarkan pengembalian hingga 160%. Maka saya pun membeli asuransi unit link yang sebenarnya saya gak mudheng-mudheng banget cara kerjanya.

Dua tahun, masih oke membayar 500ribu sebulan untuk asuransi unit link saya. Setiap melihat monthly report atau annual report asuransi tersebut, sebenarnya saya agak-agak miris gimana gitu ya, dari 6juta rupiah yang saya bayarkan setiap bulannya (terutama di tahun-tahun awal), hanya ratusan ribu saja yang masuk sebagai nilai investasi saya karena sisanya entah diapakan oleh asuransi saya. Sering saya harus menelan ludah saya setiap membaca laporan tersebut. Bagi saya nilai uang tersebut sangat besar, bahkan hingga sekarang.

Tahun ketiga, saya mulai pikir-pikir. Sayang juga uang saya jika terus-terusan membayar asuransi yang membaca laporannya pun saya enggan. Ditambah asuransi tersebut tidak ada manfaat kesehatan yang bisa saya ambil. Maka setelah 2.5 tahun akhirnya saya memutuskan berhenti saja dari asuransi tersebut. Saya diwanti-wanti sama makelar asuransi saya waktu itu, intinya sayang banget kalau saya harus berhenti di tengah jalan. Namun keputusan sudah terlanjur saya ambil, saya tetap pada pendirian saya untuk quit dari asuransi tersebut, hehe. Saya pun kena penalti hampir 60% dari uang yang telah saya setor.

Beberapa tahun kemudian saya mulai berkenalan dengan asuransi kesehatan. Tentu saja ditambah kesadaran saya yang mulai tumbuh mengenai pentingnya asuransi kesehatan. Mengenai asuransi kesehatan ini, saya sangat bersyukur bahwa di dunia yang sedemikian kompleksnya ada model asuransi seperti ini. Bayangkan saja ya, dengan hanya membayar 1,5 juta rupiah setahun, saya bisa mendapatkan manfaat beberapa kali lipat dari nilai yang saya bayarkan tersebut. Kebetulan kantor tempat saya bekerja bekerja sama dengan asuransi yang pelayanannya sudah bagus, cashless, tidak pake reimbursement lagi. Cukup datang ke rumah sakit provider, periksa, gesek dan semuanya ditanggung oleh asuransi.

Saya pernah sakit DBD dan harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Karena dirawat dan ditanggung asuransi, saya ambil kelas VIP, waktu itu kebetulan harga kamarnya masih sesuai dengan angka yang ditanggung asuransi. Dan ketika saya melihat bill perawatan saya selama beberapa hari tersebut, tentu saja saya keberatan jika harus membayar dengan uang dari kantong saya sendiri, hehe. 

Sakit yang saya derita beberapa hari ini, menurut dokter adalah typhus, namun belum perlu dirawat di rumah sakit, cukup bedrest saja di rumah. Tetap saja saya harus ke rumah sakit, ke laboratorium (beberapa kali) untuk memeriksakan darah saya dan tentu saja menebus obat yang harus saya minum. Alhamdulillah saya punya asuransi yang mengcover semuanya. Dan yang paling penting, alhamdulillah saya punya istri dan orang tua yang mau merawat saya dengan penuh kasih sayang, meski sebenarnya saya kasihan melihat istri saya yang juga sedang hamil, hehe. 

Intinya, asuransi kesehatan penting banget buat kita, terutama di tengah-tengah mahalnya ongkos kesehatan seperti sekarang ini. Ya gimana nggak mahal, orang cek laboratorium saja sekali datang bisa 600-850 ribu rupiah. Kalau  tidak pake asuransi ya tekor!

Itu cerita saya tentang asuransi. Selanjutnya saya ingin cerita tentang ojek online. Go-jek, Grab Bike, dan sejenisnya sekarang ini marak sekali di Jakarta. Dari sejak jaket mereka baru-baru semua, sampai jaketnya sudah pada lusuh seperti sekarang ini. Dari dandanan mereka necis-necis seperti dulu, sampai dandanan mereka sudah pada sembarangan seperti sekarang ini. Gimana nggak sembarangan coba, kemarin saya lihat driver ojek online yang pake celana Levis dipotong, terus pake sandal crocs palsu. Dilihatnya aja nggak enak sama sekali.

Dari semua ojek online yang ada, saya sih ngefans banget sama OK-Jek. Apalagi kalau drivernya cantik seperti Asna atau Sarah, hihi. Sayangnya OK-Jek cuma ada di Net.TV, tidak ada di jalanan Jakarta pada kenyataannya.

Jadi, gara-gara sakit, saya nggak bisa ke Gramedia untuk membeli buku, atas saran istri saya, saya pun memanfaatkan fasilitas ojek online ini untuk membeli buku. Kebetulan saya sedang penasaran dengan bukunya Eka Kurniawan: Manusia Harimau yang sudah dialihbahasakan kedalam banyak bahasa asing. Berkat ojek online ini juga saya bisa mengambil hasil tes laboratorium saya di klinik prodia tanpa harus datang lagi ke klinik yang sama untuk kedua kalinya di hari yang sama, hehehe.

Saya termasuk orang yang memandang segala sesuatu dari manfaatnya ya, saya sih sejujurnya tidak terlalu peduli dengan urusan peraturan atau tata perizinan, atau bahkan saya tidak peduli dengan perdebatan mengenai legal atau tidaknya ojek dan taksi online berbasis aplikasi. Bagi saya, selama bermanfaat bagi saya dan mudah, ya saya pakai. Seperti Sabtu kemarin, waktu saya sama istri saya mau periksa ke rumah sakit. Biasanya sih kami naik motor, cuma karena saya kurang fit, kami memutuskan naik taksi. Sengaja kami naik taksi offline (baca: nyegat di pinggir jalan) sebagai salah satu bentuk penghargaan kami untuk taksi-taksi nonaplikasi (meskipun mereka sudah memakai apliaksi juga sebenarnya). Maka kami-pun naik taksi putih dengan logo huruf E. Eeeh di tengah jalan, si Pak Supirnya menurunkan kami dengan paksa dengan alasan dia harus menjemput pelanggan di RS Fatmawati. Halooooo, salah sendiri ambil orderan saat ada penumpang. Meskipun dia bilang argonya tidak usah dibayar, tetap saja bagi saya itu masalah. Memang seperti itulah kadang kekurangan taksi offline ya, terutama saya risih banget saat melihat tatapan mereka meminta uang kembalian.

Jadi, kesimpulannya, asuransi kesehatan dan ojek online, selama kita bisa mengambil manfaatnya, jangan ragu deh buat memanfaatkannya, hehe.

Salam.