Akhirnya, Saat yang Mendebarkan itu Telah Lewat

BAGI saya, ada beberapa kejadian mendebarkan yang sangat membekas bagaimana dagdigdug-nya saya melewati kejadian-kejadian itu. Pertama, saat ijab qobul. Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana nervous-nya saya waktu itu. Gara-gara duduk bersila, saya sampai harus menahan kebelet pipis dan semutan secara bersamaan. Kedua, saat sidang skripsi. Meski degdegan, saya sempat dibuat jengkel dengan tim penguji yang tidak memperhatikan presentasi saya, malah ngobrol sendiri -,-. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai A. Dan yang ketiga, kejadian yang baru beberapa hari yang lalu saya lewati, saat istri saya melahirkan anak pertama kami.

Kurang lebih tiga bulan setelah menikah, suatu pagi istri saya memdatangi saya sambil senyam-senyum. Ternyata istri saya memberikan kejutan kepada saya berupa alat testpack kehamilan yang baru saja dipakainya yang menunjukkan hasil dua strip alias positif. Tentu saja saat itu saya girang bukan main. Kami berdua sama-sama menikah di usia yang tidak lagi muda, sehingga kehadiran buah hati merupakan sesuatu yang sangat kami nanti-nanti.

Soal testpack alau alat penguji kehamilan ini sebenarnya ada cerita tersendiri. Sebulan setelah ijab qabul, istri saya minta dibelikan testpack. Awalnya saya belikan hanya 1 buah, dengan harga yang relatif mahal, dengan harapan bisa lebih akurat daripada testpack yang murah, hehe. Namun beberapa kali dibeli alat tersebut selalu menunjukkan hasil negatif setiap kali diuji, haha. Ya iya namanya juga belum dikasih ya. Sampai sedikit putus asa, biar hemat, saya pun membeli testpack yang relatif murah, yang harga satuannya sekitar Rp3-4 ribuan per buah, padahal sebelumnya saya biasa membeli testpack dengan harga 10 kali lebih mahal, haha. Hemat bok!

Nah setelah hasil testpack menunjukkan double strip, saya pun membeli beberapa varian testpack, dari yang murah banget sampai yang mahal banget, dengan teknologi termutakhirkan, halah. Maksudnya testpack digital. Istri saya pun secara rutin melakukan pengujian kehamilannya pada testpack-testpack tersebut setiap selang sehari sekali. Entah kenapa harus selang sehari sekali, hahaha, hanya ikut kata orang saja. Alhamdulillah 4 testpack yang dipakai menunjukkan hasil positif. Sejak saat itu kami pun sedikit yakin dan akan segera memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan.

Kabar kehamilan istri saya menjadi kabar yang sangat menggemberikan bagi kami dan keluarga. Karena bagi keluarga saya, kehadiran anak saya akan menjadi cucu kedua dalam keluarga ibu saya, sementara bagi keluarga istri, kehadiran anak kami akan menjadi cucu yang ketujuh. Semua orang bergembira, alhamdulillah.

Saya ingat betul, ketika saya menceritakan kehamilan istri saya kepada sahabat saya, Rio, dia berpesan “tolong dijaga ya kehamilan Yuli (nama istri saya-red)”. Saya pun agak tidak mengerti dengan pesan Rio. Ya intinya saya harus menjaga kehamilan istri saya agar selamat, sehat dan lancar sampai persalinan. Thanks Rio buat pesannya, karena gara-gara pesan itu sejak hamil saya melarang istri saya mengendarai motor, naik motor sama saya pun harus sangat pelan, saya larang bepergian jauh dan kecapean, dan segudang larangan lainnya. Semuanya tidak lain dan tidak bukan saya lakukan agar kandungan istri saya sehat, anak dan ibunya selamat sampai persalinan kelak, amin.

Sejak istri mengandung, saya merasakan banyak hal berubah, terutama pada diri saya sendiri. Saya harus mempersiapkan diri menjadi seorang ayah. Saya selalu senyum-senyum sendiri saat saya membayangkan bahwa saya akan mendapat gelar ayah, gelar yang telah diperoleh teman-teman seangkatan bertahun-tahun yang lalu, dan saya baru akan mendapatkannya sekarang. Meskipun bagi saya sebenarnya hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah. Perubahan yang lain, saya merasakan jatuh cinta. Pertama, istri saya terlihat semakin cantik saat hamil, hehe (semoga istri saya tidak membaca tulisan ini); kedua saya juga catuh cinta pada anak kami. Saya jatuh cinta, bahkan sebelum saya bertemu dengan anak kami. Setiap malam saya ajak ngobrol, sebelum tidur dan sesudah bangun tidur selalu saya tuntun berdoa. Saya jatuh cinta, …

Singkat cerita kehamilan istri saya sudah menua dan kami sudah harus mempersiapkan kelahiran si kecil. Kami memanfaatkan weekend untuk melakukan senam hamil, jika tidak terlalu lelah kami akan berbelanja keperluan bayi, atau sekedar jalan-jalan atau nonton. Untuk memeriksakan kehamilan pun kami telah mencoba beberapa rumah sakit dan dokter, dari yang termahal sampai termurah namun berkualitas, hehe. Kami bahagia mempersiapkan diri menyambut kelahiran pangeran kecil kami, karena beberapa kali di-USG dokter selalu menunjukkan ‘monas’ bayi kami, yang artinya dia berjenis kelamin laki-laki, hehehe. Bisa dibayangkan kan betapa senangnya kami waktu itu, terutama saya.

Setiap kali memeriksakan kehamilan, pertanyaan yang selalu tanyakan kepada dokter kami adalah “apakah bayi sudah masuk panggul atau belum?” bahkan hingga kehamilan istri saya berumur 39 minggu, jawaban dokter selalu “belum”. Meski mendapat jawaban negatif, istri saya tidak pernah berputus asa. Setiap pagi kami selalu menyempatkan diri berjalan-jalan pagi, dan setiap hari istri saya melakukan olah raga jongkok berdiri, hingga ratusan kali, seperti saran bidan.

Namun apadaya, manusia boleh berencana, Tuhan yang memutuskan. 40 minggu telah berlalu, dan bayi kami belum juga masuk panggul istri saya. Padahal berdasarkan pemeriksaan panggul istri saya bagus dan cukup. Akhirnya kami memutuskan menunggu lagi, hingga satu minggu lagi. Di usia 41 minggu, kami mencari second opinion atas kondisi bayi kami dengan melakukan pemeriksaan ke dokter lain. Jawabannya masih tetap sama, bahwa bayi belum masuk panggul, masih jauh dari panggul. Bahkan dokter tersebut menyarankan agar bayi kalau bisa segera dilahirkan dalam 1-2 hari karena usianya sudah 41 minggu, terlebih beratnya menurut pemeriksaan USG sudah 3,6 kg.

Akhirnya kami kembali memeriksakan diri ke dokter kami. Dokter masih mengatakan hal yang sama, bahwa bayi belum masuk panggul, lalu ada informasi tambahan yang baru kami ketahui di hari itu, bahwa ada lilitan tali pusar di leher bayi kami dan posisi bayi kami yang belum membentuk siput, alias masih menghadap ke atas, sehingga tidak mungkin dilahirkan secara normal.

Setelah itu dokter menjadwalkan operasi c-section atas kehamilan istri saya. Meski berat, keputusan ini harus tetap kami ambil karena bagaimanapun juga keselamatan ibu dan bayi adalah hal yang utama. Saya merasakan betul bahwa keputusan ini berat bagi istri saya, terlebih sejak awal kehamilan istri saya sangat menginginkan melahirkan secara normal. Sekali lagi, Tuhan yang menentukan.

Hari Jumat, tanggal 4 Nopember 2016 jam 11.00 WIB istri saya dijadwalkan melakukan operasi di RS. Kalau boleh saya ceritakan, rasanya campur aduk. Dan itu adalah salah satu kejadian yang rasa degdegannya akan selalu saya kenang. Di satu sisi saya bahagia, bahwa bayi kami akan segera dilahirkan. Namun di sisi lain saya takut sekaligus waswas karena istri yang amat sangat saya cintai akan segera dioperasi.

Satu hal yang membuat saya sedih adalah (dan saya masih bersedih sampai sekarang), dokter melarang saya menemani istri saya di ruang operasi. Padahal dari beberapa referensi yang saya baca, suami dapat menemani istri di ruang bedah. Ternyata RS kami memiliki kebijakan yang berbeda. Saya yang cengeng cuma bisa menangis (di dalam hati), karena bahkan sesaat sebelum masuk ruang bedah, istri saya masih tersenyum, sebelum saya melepasnya dengan sebuah kecupan di kening dan di pipi.

unknown-3

Degdegan ijab qobul maupun sidang skripsi hanya saya rasakan dalam beberapa menit saja. Paling lama 15 menit. Namun degdegan istri dioperasi rasanya saya rasakan sangat lamaa. Setengah jam setelah istri saya dibawa masuk ke ruang bedah, saya dipanggil oleh perawat. Saya diberi selamat karena bayi kami sudah lahir, namun istri saya masih “dirapikan” begitu istilah perawat, maksudnya dijahit.

Saya pun diajak menemui bayi kami, yang saat itu tengah dibersihkan dan menangis kencang. Begitu melihat muka bayi kami, saya langsung menangis. Rasanya saat itu saya ingin berteriak “Naak, ini papi kamuuuu” tapi saya malu karena ada beberapa perawat/bidan di sana.

Saya pun diberi tahu oleh bidan bahwa anak saya laki-laki, sesuai hasil USG. Saya diminta memeriksa/tepatnya memperhatikan saat bidan memeriksa jenis kelamin dan jumlah jari-jari tangan dan kaki, bentuk mulut, hidung, pipi dan mata. Setelah dibersihkan dan dibedong, saya meminta izin untuk mengadzani dan mengqamati bayi kami, seperti yang diajarkan pendahulu kami dalam agama Islam.

Saya takjub, saat saya bacakan ta’awudz di telinga kanan, tangis bayi kami yang kencang langsung berhenti. Dengan bergetar saya lantunkan adzan dan iqamat. Setelah itu bayi kami dibawa ke ruangan bayi untuk diinkubator. Karena takut tertukar dengan bayi lainnya, saya menunggu bidan membuatkan identitas untuk bayi kami. Setelah itu saya keluar untuk menemui keluarga dan memberitahukan kabar gembiranya, tentu saja setelah saya jepret sana sini dengan bayi kami, hehehe. 

unknown-2

unknown

Tidak lama setelah itu, saya dipanggil kembali untuk bertemu dengan istri saya. Saat itu istri saya belum bisa berkata-kata, yang dia lakukan hanya menangis sambil berbisik “sakiittt….“. Saya tidak tahu harus berkata apa, sambil menangis saya hanya bisa bilang “sabar yang sayaangg …, dek Adli sudah lahir, kamu sudah ketemu kan?” istri saya hanya menjawab dengan anggukan.

Jadi, bagi bapak-bapak yang istrinya tengah mengandung, baik melahirkan normal maupun operasi sama-sama sakitnya, namun tentu saja melahirkan normal merupakan pilihan terbaik. Saran saya, hanya pilih operasi jika memang dokter mengharuskannya.

Dan sekarang, alhamdulillah. Bayi kami sudah berada di tengah-tengah kami, sebagai penyejuk dan pelengkap kebahagiaan. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang bisa kami dustakan?

Kami beri nama bayi kami Adli Makarim, lahir di RS Setia Mitra, Jakarta Selatan pada hari Jumat, 4 Nopember 2016 melalui operasi c-section dengan berat badan 3,1 kg dan panjang badan 48 cm. Terima kasih kepada keluarga besar, sahabat dan handai taulan yang memberikan semangat dan bantuan tak henti kepada kami. Semoga Allah membalas kebaikan bapak/ibu sekalian dengan kebaikan lain yang berlipat. Amiin.

unknown-4

Advertisements

2 thoughts on “Akhirnya, Saat yang Mendebarkan itu Telah Lewat

  1. Assalamualaikum..

    Assalamualaikum..

    selamat utk Ayah Nasikhudin & Bunda Yuli atas kehadiran baby Adli~
    😊

    senang bacanya :’D
    ndak melulu soal pajak dkk hehe..

    FYI..
    saya malah barusan keguguran di usia kandungan 10W..
    sedih bukan main..
    😭

    makanya,

    baca postingan ini, ikut bahagia sekaligus IRI krna ingin punya anak laki2 spt Ayah & Bunda~ 😂

    Mohon doanya, semoga saya bisa segera dapat “pengganti” spt adik Adli..

    Salam utk Bapak sekeluarga!
    😊

    Wassalam

    Like

    1. Waalaikum mba Zinny
      Terima kasih atas perhatiannya, kami ikut bersimpati atas kehilangan yang mba rasakan, smg mba segera mendapat gantinya dari Allah SWT, anak-anak yg akan menjadi penyejuk keluarga. Tetap semangat dan tetap bersyukur 🙂

      Salam,

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s