Kita di Dunia Maya

MARI rehat sejenak dari urusan pajak, khususnya amnesti pajak, hehehe. Dulu sekali, awal-awal saya baru mengenal media sosial (friendster, facebook), saya merasa latah. Sedikit-sedikit (dan sebentar-sebentar) update status di medsos tersebut. Bukan masalah update statusnya, tetapi isi dari status saya tersebut. Saya banyak mengeluh, saya terlalu banyak mengomentari, bahkan kadang saya mengomentari sesuatu yang saya tidak punya kapasitas terhadap sesuatu itu. Duuh saya malu kalau facebook menampilkan memori update status saya 7-8 tahun yang lalu, saat saya masih alay. Biasanya saat facebook memunculkan memory itu, langsung saya ignore.

Awalnya saya berpikir semua orang melewati masa-masa itu. Masa-masa suka curhat di facebook, masa-masa jadi tukang komentar, masa-masa marah-marah di facebook, bahkan masa-masa menulis dengan huruf besar dan kecil dengan kombinasi angka dan huruf. Mungkin itu semacam etape yang harus dilalui dalam hidup seseorang untuk menuju etape berikutnya. Sayangnya pikiran saya itu salah, banyak juga orang yang tidak melalui masa-masa itu. Untunglah sekarang saya sudah taubat, hehehe. Bayangin saja dulu saya sok-sokan komentar soal politik, ekonomi atau kebijakan pemerintah sambil maki-maki tanpa mau tahu masalah yang sebenarnya. Atau saya menyindir seorang teman di facebook, berharap teman saya membaca status saya itu kemudian meminta maaf, iiih nggak gentle sama sekali, hehe. 

Dari pengalaman bergaul di media sosial, saya menemui orang-orang dengan banyak karakter. Ada yang aslinya pendiam, tetapi aktif di media sosial. Bahkan hiperaktif. Sedikit-sedikit (atau sebentar-sebentar) update status. Bahkan sekedar ke toilet saja harus menekan tombol post/share terlebih dahulu. Ada yang aslinya rame, ternyata pendiam di media sosial, seperti saya, hihi. 

Saya menemui orang yang kalau punya masalah lebih senang bercerita di dunia maya dari pada di kehidupan nyata. Si A punya masalah sama si B, si A menuliskan keluh kesahnya di facebook, sayangnya si B tidak berteman dengan si A di facebook, atau bahkan si B tidak punya akun facebook sama sekali. Lha trus gimana si B tau keluh kesah si A? Apa menunggu seseorang meng-capture keluh kesah si A dan menyampaikannya ke si B?

Saya jadi banyak tau urusan (baca: masalah) orang di media sosial. Positifnya, saya jadi merasa lebih bersyukur, bahwa masalah yang saya hadapi tidak seberat masalah orang lain. Negatifnya, saya jadi silent reader yang jadi tau urusan/masalah banyak orang, meski saya tidak menginginkannya.

Pelajaran yang saya ambil, bahwa seseorang bisa menjadi ‘orang lain’ di dunia maya. Atau sebaliknya, seseorang menunjukkan karakter aslinya di dunia maya. Seperti kata Owl City, everything is not always what it seems. Pesan saya, hati-hati dengan apa yang kita share di dunia maya. Karena banyak mata tertuju kepada diri kita. Kita tidak pernah tahu orang seperti apa yang kita hadapi di dunia maya (salah satunya ya orang kaya saya ini), jadi berhati-hatilah.

Sekian tulisan nggak penting saya tentang dunia maya, khususnya facebook, hehehe. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s