Randomisasi #1

RASANYA saya menghabiskan seminggu ini di kantor dengan rapat. Rapat yang rasanya seperti main game Temple Run, rapat tak berujung. Berulang-ulang membahas hal yang sama. Kemudian harus ditindaklanjuti dengan membuat tabel dan penjelasan yang sama, berulang kali. Lelah.

Di sebuah perempatan ketika saya harus berhenti karena lampu merah, mobil mahal di sebelah saya terlihat bergoyang-goyang. Guncangannya tidak bisa saya bilang pelan, karena sangat jelas terlihat gelombang gerakannya yang dinamis. Sontak saya berpikiran negatif. Mobil goyang. Ternyata tidak hanya saya yang berpikiran negatif, karena hampir semua pengendara motor melihat ke arah mobil goyang tersebut. Mungkin karena merasa diperhatikan dengan tatapan penasaran, si pengendara mobil mahal tersebut akhirnya membuka jendela mobil. Ternyata di dalam mobil tersebut ada dua anak kecil, mereka sedang bermain lempar bola dari baris belakang ke baris tengah. Dan untuk melempar bolanya mereka harus sedikit melompat, sehingga lompatannya membuat mobil bergoyang-goyang. Setelah membuka jendela mobilnya, si pengendara melemparkan senyumnya kepada semua mata yang tertuju kepadanya. Huft, saya sedikit kecewa 😀

Di perempatan lampu merah berikutnya, anak kecil sekitar 2 tahun, berkerudung, telanjang kaki, cerumut, dan ingusnya meler menadahkan tangannya meminta-minta. Saya yang sering sengaja menyimpan uang receh di saku motor matic saya, memberikan beberapa keping uang seribuan untuk anak kecil tersebut. Setelah menadahkan tangannya ke saya, anak tersebut menadahkan tangannya ke beberapa orang di sekeliling saya. Seseorang (sebut saja mas A) di sebelah saya, alih-alih memberikan uang seperti yang diharapkan anak kecil tersebut, malah memberikan kantong bertuliskan KFC. Sayangnya, anak tersebut tidak tertarik. Dia tetap menadahkan tangan dan tidak mau menerika KFC-nya. Sama sekali tidak mau menerima, dan dia tidak bergeming atau beranjak dari tempatnya. Saya pun ikut menoleh, tertarik dengan apa yang terjadi. Mas A tetap menyorong-nyorongkan KFC-nya, namun anak tersebut tetap tidak mau menerimanya. Saya tetap memperhatikan. Mas B, yang sepertinya geram, sedikit berteriak, dia mengatakan bahwa anak ini tidak menerima selain uang. Saya menghela nafas. Kecewa, kecewa pada keadaan. Kecewa pada kemiskinan. Kecewa pada cara berpikir anak kecil cerumut tersebut.

Di masjid, saat saya menunaikan sholat maghrib, saya bersebelahan dengan bapak-bapak yang entah mengapa sebentar-sebentar harus mengeluarkan bunyi-bunyian aneh. Seperti dia mencium-cium sesuatu, kemudian membunyikan lidahnya. Bunyinya seperti sniff snifff ck ck ck, begitu berulang-ulang dari rakaat pertama hingga terakhir. Setelah salam, saya baru mengetahui rupanya si bapak ini memang melakukan hal itu (mencium-cium dan membunyikan lidahnya berulang-ulang). Ibu saya mengistilahkannya sebagai mathi (t dibaca tebal, seperti orang bali). Sama seperti ada seseorang yang sebentar-sebentar harus menggerakkan kepalanya ke kiri atau ke kanan seperti sedang senam. Percaya atau tidak, dulu sewaktu kecil saya juga mempunyai mathi. Saya sering menggerak-gerakkan tangan saya ke udara, seperti saya sedang menulis. Saya memang menulis, di udara. Kadang saya menuliskan satu paragraf lengkap dari pembukaan UUD 1945 atau saya sekedar menghitung perkalian tertentu. Tak jarang saya juga menuliskan lirik lagu di udara. Haha. Ternyata saya bisa sembuh, dengan cara membiasakan diri. Saya membiasakan diri menulis di kertas. Sehingga saat keinginan menulis di udara muncul, saya harus mengambil kertas dan pena untuk menulis atau mencoret-coret sesuatu. Lama-lama saya lupa pada kebiasaan tersebut, hingga sekarang.

Apakah saya benar-benar sembuh dari mathi tersebut? tidak, karena mathi tersebut ternyata harus berganti mathi yang lain. Sampai saat ini, setiap sebelum tidur, saya harus menggerak-gerakkan anggota badan saya berulang-ulang. Entah kaki, telapak kaki, atau tangan saya. Tidak tahu kenapa, dengan menggerak-gerakkan anggota badan tersebut saya merasa tenang. Mungkin rasanya sama seperti menghitung domba sebelum tidur. Kadang saya pun menghitung sambil menggerak-gerakkan telapak kaki atau tangan saya. Hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s