Tentang Cinta Sejati

TEMPAT belajar saat kita masih kecil adalah keluarga, baik keluarga dalam skup kecil maupun dalam skup yang luas. Dan ternyata keluarga pada praktiknya bukan hanya tempat belajar saat kita kecil saja, tetapi bahkan saat kita sudah dewasa dan menua. Keluarga adalah tempat belajar semua hal, tentang kasih sayang, tentang kebersamaan, pengorbanan, komitmen, bahkan tentang cinta.

Sewaktu kakek saya meninggal dunia, nenek adalah orang yang paling merasa kehilangan. Beliau menangis setiap hari, tersedu-sedu tak henti-henti. Setiap malam, saat kami semua terlelap tidur, nenek menangis sendirian. Tangisan nenek terus terdengar setiap hari setiap malam, bahkan hingga memperingati 40 hari meninggalnya kakek, nenek masih terus menangis. Saat lebaran kemarin pun yang notabene sudah berbulan-bulan sejak kakek meninggal, nenek masih menangis tersedu-sedu saat mengingat tentang kakek.

Bukan tentang tangisan neneknya, saya menyoroti perasaan kehilangan yang diungkapkan nenek lewat tangisannya. Kakek saya meninggal dalam usia 72 tahun, saya mengira-ira usia pernikahan mereka sudah lebih dari 50 tahun yang lalu, mengingat dari kakek dan nenek itu sudah lahir ayah saya yang usianya lebih dari  50 tahun saat ini. Ada rasa kehilangan yang amat sangat mendalam yang dialami nenek saya. Saya sendiri ikut menangis jika mendengar nenek tersedu-sedu, berusaha menutupi tangisannya saat malam namun tak kuasa. Ada rasa sedih yang tak terperi di balik sedu sedannya. Ada rasa getun yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Lalu saya mencoba mengingat-ingat bagaimana hubungan atau kemesraan kakek dan nenek saya. Kakek saya orang yang cerdas. Bahkan di akhir masa hidupnya, meskipun dalam kondisi sakit, kakek masih bisa berdiskusi tentang pajak dan tentang pekerjaan saya ketika saya datang menjenguknya. Masih menanyakan bagaimana hubungan saya dengan atasan saya atau rekan-rekan satu kantor saya. Masih menanyakan bagaimana pola karir dan masa depan karir saya, dan masih menyampaikan wejangan-wejangannya yang sebenarnya saya sudah hafal di luar kepala, karena itu yang selalu disampaikannya kepada saya. Kakek bukanlah tipikal orang romantis melankolis. Kakek adalah orang yang tegas. Saya menyebutnya tegas karena jika ada keinginan yang tidak terpenuhi, kakek akan marah. Kakek juga hampir tidak pernah menyatakan rasa sayangnya kepada nenek. Begitu juga nenek, bukanlah tipe wanita manja yang suka bergelayutan kepada suaminya. Bahkan sebenarnya nenek sering memarahi kakek di masa sakitnya, karena mungkin dipikirnya kakek sangat rewel. Tetapi saya tahu, jauh di lubuk hatinya, rasa cinta nenek kepada kakek dalam membekas di sana.

Rasa cinta yang didasari rasa kagum kepada sosok kakek, yang telah selama itu hidup bersama dirinya. Rasa sayang yang tumbuh (mungkin karena keterpaksaan pada awalnya) dengan tulus seiring kebersamaan mereka. Rasa cinta dan sayang itu kemudian melahirkan rasa patuh dan ketakutan untuk berpisah, bahkan karena ajal sekalipun. Mungkin itu yang bisa saya terjemahkan dari setiap sedu sedan yang saya dengar di malam hari, saat nenek mengingat hal-hal tentang kakek.

Saya menyebut ini cinta sejati.

Saya pernah mencoba mengajak nenek untuk tinggal bersama ibu dan ayah saya di rumah kami, agar lebih dekat mengurusnya. Nenek saya menolak ajakan saya setiap kali saya mengutarakan ajakan itu. Alasannya selalu sama: nanti kalau kakekmu nengokin rumah ini terus nenek gak ada, pasti kakek kecewa! Saya pun tidak bisa memaksa nenek untuk melupakan kakek dengan meninggalkan rumah yang sudah menjadi kenangan kebersamaan mereka selama lebih dari setengah abad lamanya. Saya tidak bisa memisahkan cinta sejati, yang bahkan sudah dipisahkan oleh takdir: kematian.

Seandainya saya jadi nenek, sepertinya saya tidak kuat untuk tinggal di rumah itu. Bagaimana saya bisa bertahan jika setiap sudut dan setiap bagian dari rumah yang kita tinggali mengingatkan kita pada sosok yang paling kita cintai di hidup kita. Tapi ternyata cinta nenek kepada kakek bukanlah pilihan. Nenek akan mencintai kakek, bahkan di saat kebersamaan keduanya dipisahkan oleh maut.

Mungkin jika saya bertanya kepada nenek: nek, kenapa nenek begitu cinta dan sayang kepada kakek? nenek saya akan menjawab tidak tahu. Karena katanya cinta sejati adalah ketika kita tidak punya alasan mengapa kita mencintai seseorang.

Terima kasih untuk pelajaran tentang cinta dan ketulusan ini, Nek!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s