Safarnama, Sebuah Perjalanan

Akhirnya saya bisa menulis lagi di blog ini. Bukan karena sibuk tentu saja, apalagi saya sekarang tidak punya kesibukan apapun selain mengangkat telepon, tapi lebih karena semangat menulis itu belakangan raib entah kemana. Ide sih selalu ada, tapi apalah artinya ide tanpa semangat yang bisa mewujudkannya menjadi kumpulan kata dan paragraf.

Hampir dua bulan saya membaca bukunya Agustinus Wibowo, Titik Nol. Meski bukan buku baru, saya baru sempat membaca dan membelinya sekarang. Dua bulan adalah rekor terlama saya baca buku, selain sehari cuma sempat baca 5-10 halaman, juga karena saya suka mengulang membaca bagian-bagian yang menurut saya bagus.

Safarnama berarti perjalanan, karena Titik Nol memang bercerita tentang perjalanan. Tidak berbeda jauh dengan dua bukunya sebelumnya, Agus masih bercerita tentang pengalaman perjalanan–pencarian–nya: Garis Batas dan Selimut Debu. Saya sendiri orangnya suka dengan perjalanan, dan sejujurnya saya suka dengan angka nol, maka cerita-cerita Agus tentang Titik Nol membuat saya semakin suka dengan filosofi angka nol. Ada sebuah buku bagus, buku lama, berjudul Biografi Angka Nol, yang juga membahas secara mendalam mengenai filosofi dasar angka nol.

Membaca Titik Nol sebenarnya agak ngeri-ngeri sedap juga ya, bagaimana pengalaman Agus ke negeri-negeri yang membayangkannya saja saya tidak pernah: Pakistan, India, Afghan, dll. Bukan hanya menderita sakit hepatitis di India, tapi Agus juga harus lari dari bom dan serangan tembakan di Afghanistan. Dan semuanya itu dia lakukan demi sebuah tujuan: pencarian menemukan sesuatu. Yang sesuatu itu kemudian dia temukan di titik ketika dia memulai semuanya, titik awal. Seperti katanya, nol adalah awal dan akhir itu sendiri. Berikut saya kutipkan sebagian kecil dari akhir buku Titik Nol tersebut:

Safarnama itu bukan melulu tentang kisah-kisah eksotis. Perjalanan itu bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik, lokasi dan lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berarti berhenti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada hanyalah lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa batas. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.

Lingkaran sempurna itu begitu agungnya. Seperti yang pernah kau bilang, noktah adalah hidup, hidup adalah noktah. Bumi ini adalah sebuah titik. Bulan, matahari, planet-planet semua adalah titik. Negeri-negeri adalah titik. Engkau adalah titik, aku pun titik. Kita adalah kumpulan titik yang mennjadi warna-warni semesta.

Perjuangan, kesenangan, tawa riang, ketakutan, air mata, masalah-masalah mendera, stres, keberhasilan, cinta, perpisahan, nama besar, pangkat, kekusaaan, kekayaan, semua itu akan berakhir dalam wujud yang sama: debu yang berhamburan diterpa angin. Tak ada yang terlalu penting di hadapan kekuasaan alam. Tidak pula ‘aku’.

Di sini berakhir sebuah kisah, di sini pula sebuah kisah baru akan dimulai

(Agustinus Wibowo, 2013:547).

 

Ya, setiap perjalanan akan memiliki akhir, begitu juga dengan perjalanan kita.

—————————————————-

Bintaro, 9 Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s