Celotehan Malam (6)

Entah karena iri, atau entah karena pikiran iseng saya saja, kadang saya heran deh sama kerjaan pak satpam. Bukan apa-apa, kerjaan dia cuma duduk-duduk doank. Bayangkan saja, di kantor setinggi 27 lantai, setiap lantai ada satpam yang jaga, minimal satu orang. 27 dari 27 orang tersebut pasti hanya duduk-duduk saja, sambil ngobrol, mainan hp, kadang ada juga yang mendengarkan musik. Saya iri lho. Bayangkan saja, kerjaan saya ngangkat telp, dan hanya diberi waktu istirahat dari telp satu ke telp berikutnya cuma 28 detik. Enak ya jadi satpam, hihi. Tapi saya sih nggak sedang mengeluh, cuma sedang terlintas saja pemikiran mengenai hal itu. Toh rejeki orang sudah masing-masing ya.

Tiba-tiba saya juga kepikiran, sebelum rame twitter, kayanya tanda pagar (#) tidak terlalu terkenal ya. Mungkin dulu hanya dipakai di kwitansi, biasanya untuk menuliskan di bagian ‘terbilang’. Contohnya Rp34.567 akan ditulis terbilang: #Tiga puluh empat ribu lima ratus enam puluh tujuh rupiah#. Selebihnya kayanya tanda pagar—yang sekarang terkenal sebagai hashtag atau bahasa indonesianya tagar—jarang digunakan ya. Maka beruntunglah dengan adanya media sosial twitter, tanda pagar jadi laku.

Saya juga kadang gak mengerti sama dosen yang meriksa thesis mahasiswa cuma dibolak-balik, gak dibaca sama sekali, tiba-tiba merekomendasikan buat seminar. Wahai pak dosen, kami—saya—minta bimbingan itu karena minta petunjuk apa yang kurang, apa yang harus dihapus dan direvisi, bukan minta perintah segera seminar, haha. Tapi ya sudahlah …

Btw, baru kali ini saya main ke toko buku dan tidak tau buku apa yang harus dibeli dan dibaca karena tidak ada satu pun menarik minat baca saya. FYI, toko buku tersebut sudah lumayan lengkap untuk ukuran Jakarta. Saat-saat seperti ini saya mengharapkan buku kelima nya Dee, sebagai lanjutan Partikel segera terbit. Tapi entahlah, menantikannya datang kemungkinannya sama kecilnya seperti jodoh saya datang berbarengan dengan saya dapat hadiah undian 200juta buat nikah. Haha, ngaco.

Kalau dalam ilmu perpajakan dikenal tax gap, yaitu jurang/selisih antara berapa pajak yang seharusnya dibayar dengan pajak yang nyata-nyata dibayar, mungkin dalam ilmu hati ada love gap. Ya artinya gak beda-beda jauh dari tax gap, hihi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s