Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu, Sebuah Ulasan Singkat

Entah kenapa setiap selesai menonton film atau membaca buku bagus, saya selalu ingin menuliskan sebuah ulasan. Tidak peduli panjang atau pendek, sebuah ulasan membantu mengingat-ingat saya mengenai apa isi dari film/buku tersebut apabila suatu ketika saya lupa isinya. Dulu saya menuliskan ulasan film/buku dalam sebuah buku catatan. Ya, saya menulis ulasan dengan ditulis tangan, hihi.

Kali ini saya baru selesai membaca sebuah buku yang menurut saya bagus. Buku tersebut adalah buku karangan Irfan Amalee. Bukunya berjudul Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu, atau biasa disingkat BdTKIbu.

Gambar

Gambar saya ambilkan dari http://www.sunangunungdjati.com/blog/category/resensi/resensi-buku/

Iya, buku ini sebenarnya satu buku, cuma ada dua judul. Sama seperti novel Padang Bulan-nya Andrea Hirata.

Irfan Amalee bercerita tentang perjuangannya meraih beasiswa S2 dengan cara yang tidak biasa, pada lamaran yang ke belasan kali baru beasiswanya menemui titik terang. Selain menceritakan mengenai pentingnya ketekunan dalam meraih sesuatu (dia menggambarkannya dengan orang yang menggali sumur, dimana orang itu harus menggali dan terus menggali, kemudian menggali lebih dalam lagi untuk menemukan mata air. Mata air tidak akan bisa ditemukan pada galian kita yang pertama, dan kedua), juga menceritakan mengenai bagaimana restu orang tua–terutama ibu–bisa mempengaruhi keputusan Allah SWT.

Singkat kata Irfan pada akhirnya berhasil memperoleh beasiswa S2 di Amerika. Kehidupannya di sana secara mendetail dia ceritakan dengan sangat apik, sehingga membacanya membuat kita ingin segera memperoleh pengalaman yang sama seperti yang dia alami. Bagaimana dia bertahan hidup di sana dengan beasiswa yang pas-pasan, sementara harus menghidupi istri dan anaknya, bagaimana kehidupannya di sana sebagai muslim, dan tentu saja bagaimana kehidupan kampusnya.

Satu hal yang saya sukai dari cara Irfan bercerita adalah, dia bercerita seolah-olah sedang mendongeng kepada kita. Saya kemudian sangat maklum, karena dia ternyata telah banyak menelurkan cerita anak dan memulai kariernya sebagai editor di Divisi Anak Remaja (DAR) Mizan. Sangat tidak menggurui, dan mengalir seperti air.

Saya banyak mengamati gaya bahasa penulis yang pernah tinggal di luar negeri. Dan kebanyakan dari mereka masih seneng ngomong dengan bahasa Inggris dalam tulisannya. Jadi kalau misalnya ada 5 paragraf, bisa jadi 2 dari 5 paragraf itu menggunakan bahasa Inggris. Namun saya tidak menemui hal itu di buku Irfan. Tulisannya sangat tulus, jujur, dan menyentuh.

Saya sempat berbalas twit dengan Irfan di @irfanamalee, dan berikut kiat-kiat dari Irfan mengenai cara menulis yang baik :

  • Menulis itu seperti naik sepeda, kayuh saja terus. Awalnya jatuh-jatuh, akhirnya seimbang. Nulis terus, awalnya jelek, akhirnya berbentuk
  • Menulis itu seperti menggali sumur, beberapa meter pertama lumpur, lama-lama keluar air jernih. Paragraf pertama payah, paragraf-paragraf berikutnya brilian
  • Menulis itu seperti “pengeluaran” (BAB–red). Kalau makanan kita bergizi, keluarnya lancar. Kalau banyak baca buku bergizi, menulisnya pasti lancar
  • Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Jangan mimpi menjadi penulis jika tidak suka membaca
  • Buku setebal 1000 halaman tidak akan pernah ada jika penulisnya tidak memulai paragraf pertamanya. Jadi just start anyway
  • Kenapa kita lancar bicara?? karena bicara terus. Kenapa kita tidak lancar menulis? karena jarang menulis. Simple. Budaya kita adalah budaya bertutur, tukang ngobrol.

Akhirnya, saya jatuh hati dengan gaya bercerita Irfan, dan saya pasti akan menunggu bukunya yang selanjutnya.

Terimakasih @irfanamalee

Bintaro, September 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s