SEKARANG ini terminologi transfer pricing tidak lagi tabu dibicarakan semua orang, termasuk oleh otoritas pajak. Perkembangan teknologi dan globalisasi mengharuskan otoritas pajak harus melek, bahwa transfer pricing itu nyata, bukan imajinasi sekumpulan ekonom/praktisi. Praktik penghindaran pajak dengan cara-cara tradisional seperti tidak atau kurang melaporkan penghasilan atau pelaporan biaya yang berlebihan sudah tidak lagi relevan, mengingat otoritas pajak saat ini sudah menerima data transaksi dari hampir semua instansi, lembaga, asosiasi dan pihak lain (ILAP) baik dalam negeri maupun luar negeri. Modus penghindaran pajak tradisional tersebut dengan mudah diketahui oleh otoritas pajak apabila Wajib Pajak masih melakukannya.
Transfer pricing sebenarnya adalah praktik yang wajar dalam dunia bisnis. Praktik tersebut dilatarbelakangi oleh tujuan utama suatu entitas: mensejahterakan pemegang saham. Pemegang saham akan membuat transaksi-transaksi di dalam grup yang sama memberikan keuntungan maksimal bagi pemegang saham. Praktik transfer pricing menjadi salah ketika digunakan untuk menghindari pajak.
Salah satu faktor penting dalam analisis transfer pricing adalah penentuan metode yang tepat. Penentuan metode menjadi penting karena dengan metode tersebut kita akan menentukan berapa harga/laba yang wajar dari suatu transaksi. Namun demikian, dikarenakan transfer pricing bukan merupakan suatu ilmu yang pasti, maka metode yang paling tepat sekalipun hanya akan menghasilkan suatu kisaran harga/laba, bukan angka yang pasti.
Secara umum metode transfer pricing dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu metode transaksi tradisional dan metode laba transaksional. Yang termasuk dalam metode transaksi tradisional adalah metode CUP (Comparable Uncontrolled Price), RPM (Resale Price Method) dan CPM (Cost Plus Method). Sedangkan yang termasuk dalam kategori metode laba transaksional adalah TNMM (Transactional Net Margin Method) dan PSM (Profit Split Method). Gambaran umum dari seluruh metode tersebut adalah:
Level | Jenis Metode |
---|---|
Harga | CUP |
Gross Profit | 1. RPM 2. CPM |
Net Profit | 1. TNMM 2. PSM |
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih metode yang tepat adalah:
- Beda metode, beda situasi/kondisi transaksi yang dianalisis;
- Pertimbangan dalam memilih metode adalah kelebihan dan kekurangan masing-masing metode, sifat dari transaksi yang dianalisis, ketersediaan informasi pemanding yang andal dan relevan, dan derajat kesebandingan antaran transas afiliasi dengan transaksi pembanding;
- Ketika pertimbangan di atas menghasilkan lebih dari satu metode yang sesuai, maka metode CUP dipilih terlebihi dahulu dibandingkan metode transaksional.
Karakter masing-masing metode tersebut akan saya bahas pada kesempatan yang lain.
Sehingga secara umum panduan dalam memilih metode transfer pricing adalah:
No | Kondisi | Metode yang Dipilih |
---|---|---|
Bila CUP tersedia | ||
1 | Bila CUP dan metode lain dapat diterapkan dengan tingkat keandalan yang sama | CUP |
Bila CUP tidak dapat digunakan, maka: | ||
2 | Bila satu pihak dalam transaksi afiliasi menjalankan fungsi yang lebih sederhana tanpa adanya aktiva tidak berwujud dan risiko yang bernilai sangat unik | One sided method : pemilihan pihak yang diuji apakah seller atau buyer |
3 | Bila pihak yang diuji adalah seller (misalnya dalam transaksi contract manufacturing atau penyediaan jasa) | CPM Cost based TNMM Asset based TNMM |
4 | Bila pihak yang diuji adalah buyer (misalnya dalam transaksi marketing atau distribusi) | RPM Sales based TNMM |
5 | Bila masing-masing pihak dalam transaksi afiliasi memberikan kontribusi berupa aktiva tidak berwujud yang sangat bernilai dan unik serta menanggung risiko yang sangat besar dan ujik | Two sided method: PSM |
Gambar dari sini.
1 Comment