Timbulnya Utang Pajak dan Piutang Pajak

BERBICARA mengenai akuntansi pajak, tentu saja kita berbicara mengenai jurnalnya: cara menjurnal atau mencatat pajak-pajak. Seperti yang sudah saya bahas di tulisan saya sebelumnya, akuntansi pajak timbul sebagai akibat penerapan sistem self assessment di bidang perpajakan di Indonesia. Dimana Wajib Pajak mau tidak mau harus menggabungkan pembukuan komersialnya dengan pembukuan secara fiskal.

Di dalam sistem self assessment di Indonesia, selain menghitung dan menyetor pajaknya sendiri, dikenal juga istilah withholding system atau hybrid system (Irianto dan Rosdiana, 2012), yaitu dimana pajak dipotong atau dipungut pihak lain pada saat transaksi. Untuk pemotongan maupun pemungutan ini ada yang bersifat final dan ada yang bersifat tidak final. Bersifat final apabila pemotongan tersebut tidak dapat diperhitungkan lagi sebagai kredit pajak, baik pada masa tersebut maupun di akhir tahun. Sedangkan bersifat tidak final apabila dapat diperhitungkan lagi dengan pajak yang akan terutang di akhir masa atau akhir tahun pajak.

Berkenaan dengan hal tersebut, maka pencatatan atas transaksi-transaksi di atas adalah:

1. Pajak-pajak yang dipotong/dipungut oleh sendiri : dicatat sebagai utang pajak

2. Pajak-pajak yang dipotong/dipungut pihak lain: dicatat sebagai piutang pajak

3. Pajak-pajak yang dilunasi sendiri: bersifat sebagai pelunasan pajak

 

Utang Pajak

Utang pajak timbul ketika perusahaan diharuskan memotong/memungut pajak orang lain, seperti:

a) PPN atas penjualan (PPN Keluaran)

b) PPh Pasal 21 atas gaji karyawan

c) PPh Pasal 22, jika perusahaan ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22

d) PPh Pasal 23

e) PPh Pasal 26

f) PPh Pasal 15

g) PPh Pasal 4 ayat (2)

 

Piutang Pajak

Piutang pajak atau bisa disebut juga uang muka pajak merupakan pajak-pajak yang dipotong atau dipungut pihak lain atau yang dibayar sendiri oleh perusahaan yang dapat diperhitungkan dengan pajak yang terutang pada saat pengisian SPT Tahunan. Pajak-pajak untuk jenis ini misalnya adalah

a) PPh Pasal 22

b) PPh Pasal 23

c) PPh Pasal 24

d) PPh Pasal 25

e) PPN Masukan

 

Pelunasan Pajak

Pajak-pajak ini bersifat sebagai pelunasan pada tahun berjalan. Caranya dapat melalui penyetoran sendiri maupun pemotongan oleh pihak lain. Misalnya:

a) PPh Pasal 4 ayat (2)

b) PBB

c) Bea Materai

d) BPHTB

e) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD)

Advertisements

One thought on “Timbulnya Utang Pajak dan Piutang Pajak

  1. Pingback: Akuntansi PPh Pasal 21 | nasikhudinisme.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s