Cerita Pendek Untuk Sebuah Kisah yang Panjang

Haloo… jika tulisan ini bisa saya selesaikan, tulisan ini akan menjadi curhatan saya yang pertama di tahun 2017, hehe. Windy Ariestanty, pada sebuah pelatihan menulis yang saya ikuti mengatakan bahwa writing is about rewriting. Sedihnya sejak akhir 2016 saya mulai jarang menulis. Dan tentu saja itu bukan tanpa alasan.

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan-postingan sebelumnya, akhir tahun 2016 kami sekeluarga diberkahi kebahagiaan yang luar biasa dengan hadirnya buah hati kami. Lahir melalui operasi caesar di RS Setia Mitra Jakarta Selatan dengan berat 3.1 kg dan panjang 49 cm, kami beri nama Adli Makarim.

Adli Makarim saya ambilkan dari bahasa Arab, karena dalam agama Islam, AlQuran yang menjadi panutan hidup juga diturunkan dan ditulis dengan bahasa Arab. Jadi bisa disebut bahasa Arab merupakan bahasa ibu bagi umat Islam. Manusia yang akan berbuat adil untuk kemuliaan, begitu kira-kira arti nama anak Adli Makarim.

Nah, sejak lahirnya Adli, otomatis waktu saya tercurah sepenuhnya untuk dia. Apalagi di awal-awal dia lahir, jarang sekali saya bisa merasakan tidur nyenyak. Saya kira semua orang tua mengalami hal yang sama ya, jadi rasanya tidak pantas kalau saya mengeluh 🙂 Sehingga wajar saja jika waktu membaca buku dan menulis saya juga ikut berkurang banyak. *sad*

Akhir Januari 2017, saya mengikuti pelatihan menulis yang diadakan majalah internal kantor. Windy Ariestanty—yang novelnya belum selesai saya baca—mengisi sesi menulis narasi dengan apik. Agak ironis sih ya, ikut pelatihan menulis tapi frekuensi menulis saya malah menurun. Pelatihan diadakan di Trizara Resort, sebuah resor dengan konsep yang entah apa namanya, kamarnya terdiri dari tenda-tenda dengan fasilitas hotel berbintang, mirip dengan Tanakita di Sukabumi.

Pulang dari pelatihan menulis, saya sekeluarga harus pindahan rumah. Kontrakan kami habis bulan Maret, jadi karena gubuk yang kami beli sudah siap ditempati, kami memilih untuk segera pindah pada akhir Januari 2017. Dari Radio Dalam di Jakarta Selatan, kami pindah ke Sawangan di Depok, Jawa Barat. Untuk menuju kesana, kami harus melewati 3 provinsi: DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Kebayang kan gimana jauhnya saya berangkat ke kantor saya yang berlokasi di Jakarta, sudah sama seperti supir bis AKAP. Lagi-lagi menjadi ayah, suami dan kepala keluarga menuntut saya untuk tidak mengeluh.Syukuri saja, begitu ujar ibu saya.

Rumah sendiri, meskipun kecil dan sempit terasa lapang dan adem, karena kami tidak lagi ngontrak di bawah ketiak orang lain. Yang sangat saya syukuri adalah kami sekeluarga betah disana, termasuk Adli yang baru menginjak 3 bulan waktu itu. Dan serunya di rumah sendiri adalah, kita bisa melakukan apa saja dengan rumah kita. Karena tidak ada jalan motor, akhirnya saya membeli batu alam yang sudah jadi dan siap pasang (seperti ubin). Saya bisa memasangnya sendirian? tentu saja tidak. Untung sekali ada ayah mertua yang siap membantu saya memasangkannya.

Selanjutnya: kanopi. Meski belum ada mobil, saya harus memastikan bahwa motor saya bisa parkir dengan nyaman tanpa terkena panas dan hujan. Alhamdulillah ada rejeki buat memasang kanopi. Dan ternyata memilih kanopi juga harus jeli ya, karena harganya sangat bervariasi, padahal dari segi kualitas sebenarnya mirip-mirip saja. Kebanyakan mereka mengatakan bahwa kanopi mereka anti UV, tidak berisik saat hujan dan tidak karatan. Penjual model ini biasanya menawarkan kanopi dengan harga di atas Rp300 ribu per meternya. Saya memilih kanopi dari baja ringan dengan harga kurang Rp210rb per meternya. Murah dan efisien.

Menanam rumput juga ternyata butuh kejelian sendiri, karena kita harus rajin menyiraminya pagi dan sore serta mencabut rumput liar yang kadang tumbuh diantaranya. Alhamdulillah rumput yang baru ditanam akhir Januari kemarin sekarang sudah mulai menyebar dan hampir menutup seluruh halaman rumah… senangnya.

Tanggal 4 bulan ini Adli sudah 4 bulan. Sungguh anak adalah kebahagiaan yang paling utama bagi orang tua ya. Sudah pinter ngoceh dan marah-marah kalau keinginannya tidak dipenuhi. Sudah mengenali mana papinya, mana maminya. Sudah pintar menolak ajakan orang jika sedang tidak ingin digendong orang tersebut, sudah mulai kelihatan gigi susunya, dan semoga sebentar lagi bisa tengkurep. Amiin.

Dan sekarang, setiap hari kurang lebih saya harus menempuh 1 hingga 1,5 jam perjalanan ke kantor. Meskipun jauh, alhamdulillah selalu terasa dekat karena saya senang menjalaninya. Keluarga: istri dan anak ternyata menjadi booster terbesar saya untuk berangkat ke kantor dan kembali pulang ke rumah. Saat berangkat saya niatkan mencari rizki yang halal untuk menghidupi anak dan istri, serta saat pulang saya niatkan untuk segera bertemu dengan Adli yang suka heboh kalau ketemu papinya.

Sekian cerita pendek saya tentang sebuah kisah yang panjang. Terima kasih sudah mampir 🙂

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s