Belajar Ketulusan dari Dae Jang Geum

dae_jang_geum_100026

PERTAMA kali saya nonton drama Korea ini saat saya SMA, mungkin sekitar tahun tahun 2005-an. Waktu itu kalau saya tidak salah Jewel in the Palace disiarin RCTI setiap jam 16.00. Maka jadilah setiap sore saya nongkrong di depan tv demi menonton Dae Jang Geum.

Ketika 11 tahun kemudian (sekarang) saya menonton drama Korea itu lagi, saya masih tetap terpukau oleh pesona kecantikan dan kerendahhatian Jang Geum. Bahwa Jang Geum dikirim oleh ibunya ke istana untuk balas dendam, adalah sesuatu yang benar. Jangkan dendam, rindu-pun kata Eka Kurniawan harus dibayar dengan tuntas. Kedatangan Jang Geum ke istana memang membawa misi: membalas dendam atas kematian ayah dan ibunya yang sebenarnya tidak bersalah.

Sebelum meninggal ibu Jang Geum (Park Myeong) meninggalkan wasiat kepada Jang Geum agar menjadi Dayang Tertinggi (satu tingkat lebih rendah dari Dayang Kepala) di istana raja Joseon. Wasiat ibunya menjadi satu-satunya dorongan Jang Geum untuk giat belajar, tekun mempelajari masakan raja dan istana.

Selain cerdas, Jang Geum juga pintar menciptakan rasa. Setidaknya begitu yang diungkapkan Dayang Han (Dayang Pembimbing Jang Geum yang juga sahabat almarhumah ibunya). Masakan Jang Geum memiliki rasa yang unik, yang belum pernah ada sebelumnya. Jang Geum pintar mempergunakan bahan-bahan yang tadinya tidak berguna bisa dimanfaatkan dan enak untuk dimakan. Beberapa kejadian darurat memperlihatkan kepada kita bahwa Jang Geum selalu mempunyai solusi untuk mengatasi keadaan saat genting.

Tak hanya pintar, Jang Geum juga berani. Saat ada utusan Cina yang datang ke Korea dan utusan tersebut mempunyai penyakit diabetes, dengan berani Jang Geum (bersama-sama dengan Dayang Han) menolak menyajikan masakan mewah dan enak-enak karena tidak baik untuk penderita diabetes. Meski Dayang Han kemudian harus ditahan karena dianggap membangkang, pada akhirnya utusan Cina tersebut mengakui loyalitas Jang Geum.

Tidak ada yang gratis dalam perjuangan. Perjuangan Jang Geum harus dibayar dengan kematian Dayang Han demi menyelamatkan Jang Geum saat perjalanan ke pengasingan. Disini saya tidak bisa menyebut kematian Dayang Jung karena memperjuangkan Jang Geum, karena pada kenyataannya Dayang Jung memang sudah tua dan penyakitan.

Satu hal yang saya pelajari dari Jang Geum adalah, bahwa ketika kita berniat mencapai sesuatu, maka belajarlah dengan tekun. Cerdas menghadapi situasi yang tidak terduga, dan stay humble. Tetap rendah hati dan jangan sombong. Karena pada akhirnya kesombongan dan kecongkakan-lah yang membuat musuh utama Jang Geum harus menelan kekalahan: Dayang Choi dan Geum Young. Tulus saat mengerjakan sesuatu dan tidak mempergunakan sesuatu itu untuk kekuasaan.

Selain misi membalaskan dendam ibu bapaknya, Dayang Han dan Dayang Jung, Jang Geum juga membawa pesan bahwa makanan tidak seharusnya digunakan untuk kekuasaan, apalagi dengan cara-cara yang kotor. Pada akhirnya Dayang Choi mengakui hal itu, meski tetap merasa sakit hati dan akan membalas dendam (yang mungkin melalui anaknya).

Tidak ada salahnya menonton serial ini 2 atau 3 kali, karena memang banyak pelajaran yang bisa kita petik. Selain ilmu tentang herbal, makanan dan manfaatnya, juga bisa kita peroleh ilmu pengobatan Korea tempo dulu. Setidaknya serial ini cuma terdiri dari 54 episode, tidak seperti Uttaran yang terdiri dari ribuan episode, hehe. 

Selamat menonton. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s