Patuh Pajak: Mudah

DI jaman segala sesuatu dilakukan secara daring/online seperti sekarang ini, sepertinya sudah tidak jaman lagi melakukan sesuatu yang agak merepotkan dengan menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Meski tidak ada kompensasi yang didapat langsung oleh Wajib Pajak, pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh para Wajib Pajak sebisa mungkin harus membuat nyaman Wajib Pajak. Karena salah satu prinsip dalam pemungutan pajak adalah prinsip kenyamanan.

Bayangkan saja jika untuk mendaftar NPWP saja Wajib Pajak harus mendatangi kantor pajak yang lokasinya ratusan kilometer jauhnya dari tempat tinggal/domisili Wajib Pajak, misalnya, sebagai akibat jumlah kantor pajak yang hanya ada 1 (satu) kantor untuk setiap provinsi. Bisa-bisa, tidak ada satu pun Wajib Pajak yang mau membayar pajak, hehe. Oleh karena itu prinsip kenyamanan dan efisiensi menjadi perhatian tersendiri dari otoritas pajak (DJP). Nyaman bagi Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya, serta efisien: jangan sampai biaya untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan tersebut lebih besar dari pajak yang dibayar.

Ada masanya kantor pajak—dulu namanya kantor inspeksi pajak—melakukan administrasi secara manual: menggunakan buku-buku tabelaris yang besar. Pembayaran dan pelaporan pajak dicatat secara manual, serta sulit diawasi. Namun DJP sudah meninggalkan masa-masa itu. Sekarang teknologi informasi dikedepankan dalam rangka pengawasan Wajib Pajak yang lebih baik.

Dalam rangka pelayanan kepada Wajib Pajak, sejumlah besar infrastruktur terkait teknologi informasi telah disiapkan. Tidak hanya dalam pelaporan, tetapi pada setiap aspek/hal yang penting yang harus dilakukan oleh Wajib Pajak.

Pendaftaran NPWP dan/atau Pengukuhan PKP

Dulu untuk mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan/atau melaporkan diri untuk dikukuhkan sebagai PKP, Wajib Pajak harus datang ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi domisili/lokasi Wajib Pajak. Tentu saja merepotkan. Berikut sejarah ketentuan ini:

  • Pada mulanya Wajib Pajak harus datang ke KPP yang lokasinya sesuai domisili Wajib Pajak, yang artinya harus sesuai dengan alamat yang tertera pada KTP Wajib Pajak. Jika Tuan Andri ber-KTP Tegal sementara bekerja di Jakarta, untuk mendapatkan NPWP Tuan Andri harus pulang ke Tegal yang buka hanya di hari kerja, tidak buka di hari libur.
  • Karena dianggap merepotkan, ketentuan itu kemudian sedikit diubah dengan cara Tuan Andri boleh mendaftar di KPP terdekat yang lokasinya sesuai dengan tempat tinggal yang sebenarnya. Meski ber-KTP Tegal namun tinggal di daerah Jatinegara di Jakarta, Tuan Andri boleh mendaftar NPWP di Jakarta yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Tuan Andri.
  • Dan untuk menambah kenyamanan Wajib Pajak dalam mendaftarkan NPWP dan/atau melaporkan diri untuk dikukuhkan sebagai PKP, kini tersedia layanan registrasi elektronik (e-Reg). Meski infrastruktur yang ada belum bisa dibilang memadai, namun penyediaan layanan ini layak diapresiasi. Bahwa DJP mengedepankan prinsip kenyamanan dan efisiensi bagi Wajib Pajak: tanpa harus pulang dari Jakarta ke Tegal, hehe, cukup duduk manis dari belakang meja, klak klik, upload, menerima email konfirmasi, dan NPWP akan dikirimkan ke Wajib Pajak.

Membayar Pajak

Sejarah fasilitas dan kemudahan dalam pembayaran pajak juga memiliki cerita tersendiri. Dulu, tidak semua bank merupakan bank persepsi, sehingga Wajib Pajak hanya bisa membayar di bank tertentu saja dan kantor pos. Ditambah, untuk membayar pajak Wajib Pajak harus mengisi formulir SSP yang harus carbonize, beberapa bank tidak mau menerima SSP yang non-carbonize karena merepotkan saat tanda tangan dan stempel. Masalah yang lain, belum semua bank online, sehingga satu-satunya alat validasi pembayaran hanyalah tanda tangan petugas penerima dan stempel bank. Tanpa NTPN.

SSP yang terdiri dari 5 lembar dikirimkan oleh bank sesuai peruntukan. Lembar ke 1 dan 3 diserahkan kepada Wajib Pajak. Lembar ke 1 disimpan oleh Wajib Pajak sebagai arsip, lembar ke 3 dilaporkan ke KPP sebagai SPT atau lampiran SPT. Sedangkan SSP lembar ke 2 dan 4 dikirimkan ke KPPN, untuk selanjutnya lembar ke 2 dikirimkan oleh KPPN ke KPP.

Oleh KPP SSP lembar ke-2 tersebut direkap, dihitung dan diadministrasikan guna pelaporan penerimaan Negara melalui Tata Usaha Penerimaan dan Restitusi Pajak (TUPRP).

Lalu, semakin banyak bank yang bermitra dengan Kementerian Keuangan sebagai bank persepsi, menerima pembayaran pajak dan Kementerian Keuangan juga mulai membenahi sistem dan administrasi penerimaan Negara. Pembayaran pajak bisa dilakukan tanpa harus dengan mengisi SSP, karena SSP saat ini hanya salah satu bukti penerimaan Negara. Wajib Pajak bisa membayar pajak dari kantor atau dari rumah tanpa harus beranjak ke bank/kantor pos: e-billing. Saat ini bahkan sudah dikembangkan mini-ATM dengan menggunakan mesin EDC untuk semakin mempermudah dan memfasilitasi Wajib Pajak dalam pembayaran pajak.

Pelaporan Pajak

Sama halnya dengan pendaftaran NPWP, pelaporan pajak juga mengalami cerita evolusi. Dulu adalah hal yang biasa Wajib Pajak melaporkan SPT Tahunannya dengan membawa setumpuk dokumen yang tingginya bisa ½ meter sendiri. Tentu saja itu adalah formulir SPT dan lampirannya: cukup merepotkan.

Selain mengantri dan membawa dokumen yang berat, KPP juga harus merekam dokumen fisik tersebut menjadi dokumen digital: merepotkan juga.

Lalu DJP mengembangkan e-SPT: pelaporan SPT dalam dokumen elektronik. Wajib Pajak cukup membawa file softcopy hasil rekaman di e-SPT, kemudian diupload ke sistem informasi DJP: lumayan praktis.

Dan saat ini, DJP telah mengembangkan e-filing, pelaporan SPT dengan memanfaatkan koneksi internet. Wajib Pajak tidak perlu datang ke KPP, karena pelaporan tetap bisa dilakukan dari belakang meja kerja. Mudah, murah dan efisien.

Harus kita akui bahwa banyak hal telah dilakukan dan dikerjakan oleh DJP. Tentu saja tujuannya satu, optimalisasi penerimaan Negara melalui pajak. Dan sebagai masyarakat kita perlu mengapresiasi. Selamat untuk DJP, selamat untuk para Wajib Pajak yang telah membangun Negara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s