Kemerdekaan dan Pajak

HARI ini tepat 70 tahun kita merayakan hari kemerdekaan negara kita tercinta. 70 tahun bukanlah angka yang sedikit, namun juga bukan angka yang banyak jika dibandingkan dengan usia kemerdekaan negara lain, Amerika misalnya yang sudah mencapai usia ratusan tahun. Suatu kebetulan semata jika 17+8+45 = 70, dengan mengabaikan angka 19 pada tahun 1945. Lalu 70 tahun itu usia yang seperti apa? Jika menggunakan tolok ukur usia manusia, maka 70 tahun adalah usia tua, saat manusia penuh udzur, bahkan sudah ‘mendekati’ ajalnya jika melihat usia rata-rata manusia meninggal dunia. Namun jika menggunakan tolok ukur usia negara, 70 tahun adalah usia yang masih muda.

Namun menurut hemat saya, negara tidak perlu menunggu usia ratusan tahun untuk menjadi sejahtera. Karena usia warga negaranya tidak akan mencapai 100 atau 150 tahun. Warga negara bergantung banyak kepada negaranya. Mari kita baca lagi tujuan negara kita yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945:

  1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  2. memajukan kesejahteraan umum
  3. mencerdaskan kehidupan bangsa
  4. ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial

Negara tidak perlu menunggu usia kemerdekaan hingga ratusan tahun untuk melindungi warga negaranya, tidak perlu menunggu ratusan tahun untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa atau dalam rangka ikut berpartisipasi aktif dalam menjaga ketertiban dunia.

Maka, 70 tahun seharusnya menjadi usia yang cukup bagi Indonesia untuk mewujudkan semua itu. Meski harus kita akui bahwa saat ini rakyat Indonesia masih jauh dari kata sejahtera. Indonesia sendiri–sebagai negara–masih belum bisa memenuhi swasembada pangan. Impor bahan pangan masih terus kita lakukan. Belum semua rakyat Indonesia bisa merasakan pendidikan maupun pembangunan. Oh, Indonesiaku sayang, Indonesiaku malang.

Memang tugas yang berat menanti untuk Indonesia. Tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga tugas seluruh warga negaranya yang merasa cinta kepada tumpah darahnya. Tugas berat apa? Tugas berat dalam rangka mewujudkan cita-cita negara yang mulia di atas. Semua warga negara harus ikut andil dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut.

Jika kita petani, maka bekerjalah dengan giat agar produksi pertanian kita mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional. Jika kita peternak, maka bekerjalah dengan giat agar produksi peternakan kita mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional. Jika kita seorang guru, mengajarlah dengan baik dan benar agar mampu mengantarkan generasi penerus bangsa menjadi generasi cemerlang sehingga bisa menjadi harapan masa depan bangsa itu sendiri. Jika kita bekerja dalam profesi/bidang tertentu, maka bekerjalah/berusahalah dengan giat sehingga hasilnya bisa memberikan nilai yang maksimal dan manfaat bagi masyarakat dan bagi negara. Dan jika kita mengaku menjadi warga negara yang baik, maka bayarlah pajak sesuai dengan yang seharusnya kita setorkan untuk negara.

Kesadaran membayar pajak adalah bukti kedewasaan sebuah bangsa. Karena dengan begitu rakyat telah sadar bahwa uang pajak yang dia bayarkan adalah dalam rangka membiayai negara dalam rangka mencapai cita-citanya. Kontribusi nyata masyarakat dalam pembangunan adalah melalui pembayaran pajak tersebut. Tidak peduli besar atau kecil (selama itu benar dan sesuai dengan ketentuan) maka rakyat telah berkontribusi dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa.

Kesadaran membayar pajak bisa terlihat dari profil kepatuhan Wajib Pajak secara nasional. Besarannya akan terlihat ketika kita membuat suatu diagram Venn dengan semestanya adalah jumlah penduduk Indonesia dan dengan lingkaran terkecil adalah jumlah Wajib Pajak yang membayar pajak. Maka angka yang muncul akan membuat kita sedih. Sedih karena negara ini dibiayai oleh sekelompok kecil masyarakat saja. Di sisi lain, negara ini juga dibiayai hanya oleh sekelompok kecil perusahaan semata. Yang intinya adalah kesadaran membayar pajak masih sangat rendah.

Maka kemerdekaan adalah saat kita telah merdeka dalam arti yang sebenarnya, tidak hanya bebas dari penjajahan bangsa atau negara lain, tetapi juga merdeka secara ekonomi. Merdeka membiayai bangsa dan negara sendiri dari uang sendiri yang dipungut melalui pajak, tidak dengan uang hutang/pinjaman pihak lain. Semoga target penerimaan pajak tahun 2015 sebesar Rp1.294,26 triliun bisa tercapai demi kemandirian APBN kita di tahun ini dan di tahun-tahun mendatang. Terlebih beban penerimaan yang harus kita kumpulkan akan terus semakin naik secara jumlah dari tahun ke tahun, sementara di sisi lain otoritas pajak menghadapi permasalahan yang super serius: rendahnya kesadaran masyarakat membayar pajak.

Jadi itu semua menjadi tugas siapa? Bukan hanya tugas otoritas pajak, tetapi tugas semua orang yang mengaku cinta pada negara kesatuan republik Indonesia.

Selamat memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-70.

Merdeka!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s