C.2. Akuntansi PPh Badan: Rekonsiliasi Fiskal dan Penyajiannya di SPT Tahunan PPh Badan

BIAYA-BIAYA yang diperkenankan secara fiskal berdasarkan ketentuan perundang-undangan perpajakan dalam beberapa hal berbeda dengan biaya-biaya yang diperkenankan secara komersial. Oleh karena itu dalam penyusunan SPT Tahunan PPh Badan laporan keuangan komersial tersebut harus diubah isinya dengan menggunakan pendekatan fiskal melalui suatu cara yang dikenal sebagai rekonsiliasi fiskal. Rekonsiliasi fiskal dilakukan untuk menyesuaikan perbedaan antara laporan keuangan komersial (yang berdasarkan PSAK) dengan peraturan perundang-undangan perpajakan, sehingga dihasilkan laporan keuangan fiskal untuk pelaporan SPT Tahunan PPh Badan.

Rekonsiliasi/penyesuaian fiskal terbagi menjadi dua, yaitu penyesuaian fiskal positif dan negatif. Penyesuaian fiskal positif adalah penyesuaian terhadap penghasilan neto (di luar unsur penghasilan yang dikenai PPh Final dan yang tidak termasuk objek pajak) dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP) berdasarkan UU PPh beserta peraturan pelaksanaannya, yang bersifat menambah penghasilan dan/atau mengurangi biaya-biaya komersial. Penyesuaian fiskal positif mengakibatkan jumlah pajak yang akan dibayar menjadi lebih besar dari sebelum penyesuaian.

Sedangkan penyesuaian fiskal negatif adalah penyesuaian terhadap penghasilan neto komersial (di luar unsur penghasilan yang dikenai PPh Final dan yang tidak termasuk objek pajak) dalam rangka menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP) berdasarkan UU PPh beserta peraturan pelaksanaannya, yang bersifat mengurangi penghasilan dan/atau menambah biaya-biaya komersial. Penyesuaian fiskal negatif mengakibatkan jumlah pajak yang akan dibayar menjadi lebih kecil dari sebelum penyesuaian.

Penyajian di SPT Tahunan PPh Badan
Selama ini kita mengenal laporan keuangan ada 2 jenis, yaitu laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal. Pada prakteknya, laporan keuangan hanya ada 1 jenis saja, yaitu laporan keuangan komersial berdasarkan pembukuan Wajib Pajak. Sedangkan laporan keuangan fiskal tidak perlu dibuat oleh Wajib Pajak karena laporan keuangan fiskal ini ada di Lampiran 1771-I SPT Tahunan PPh Badan: Penghitungan Pengasilan Neto Fiskal. Dengan kata lain, laporan keuangan fiskal adalah lampiran 1771-I SPT Tahunan PPh Badan.

Tata cara pembuatan laporan keuangan fiskal/tata cara pengisian formulir 1771-I adalah sebagai berikut:
1) Pindahkan data-data berdasarkan laporan keuangan komersial ke formulir 1771-I angka 1-3
Laporan keuangan fiskal pada dasarnya hanya menyesuaikan apa yang ada pada laporan keuangan komersial dengan melakukan penambahan atau pengurangan penghasilan dan/atau biaya. Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Data-data yang harus dipindahkan dari laporan keuangan komersial ke formulir ini diantaranya:
a. peredaran usaha
b. harga pokok penjualan
c. biaya usaha lainnya
d. penghasilan neto dari usaha
e. penghasilan dari luar usaha
f. biaya dari luar usaha
g. penghasilan neto dari luar usaha
h. penghasilan neto komersial luar negeri
i. jumlah seluruh penghasilan neto komersial

2. Penyesuaian fiskal yang pertama dilakukan dengan mengeluarkan penghasilan neto yang sudah dikenai PPh final serta penghasilan yang tidak termasuk objek pajak.
Cara ini dilakukan agar penghasilan yang akan dihitung pajaknya (PPh Pasal 29-nya) adalah selain penghasilan yang sudah dikenai PPh final maupun penghasilan yang bukan merupakan objek pajak.

3. Penyesuaian fiskal positif dilakukan dengan cara mengeluarkan penghasilan/biaya-biaya yang sudah dibebankan namun tidak diperkenankan untuk dicatat/dibebankan berdasarkan ketentuan UU PPh. Sebaliknya, penyesuaian fiskal negatif dilakukan dengan cara menambahkan penghasilan/biaya-biaya yang seharusnya dicatat/dibebankan namun Wajib Pajak tidak mencatat/membebankannya. Berikut tabel lengkap daftar penyesuaian fiskal positif dan negatif:

Uraian Positif Negatif
Biaya yang dibebankan/dibayarkan untuk kepentingan pemegang saham, sekutu, atau anggota X
Pembentukan atau pemupukan dana cadangan X
Penggantian atau imbalan pekerjaan atau jasa dalam bentuk natura dan kenikmatan X
Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham/pihak yang mempunyai hubungan istimewa sehubungan dengan pekerjaan X
Harta yang dihibahkan, bantuan, atau sumbangan X
Pajak Penghasilan yang telah dibebankan sebagai biaya X
Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau CV yang modalnya tidak terbagi atas saham X
Sanksi administrasi perpajakan (misal bunga atau denda) yang dibebankan sebagai biaya X
Selisih penyusutan komersial di atas penyusutan fiskal X
Selisih amortisasi komersial di atas amortisasi fiskal X
Biaya yang ditangguhkan pengakuannya X
Selisih penyusutan komersial di bawah penyusutan fiskal X
Selisih amortisasi komersial di bawah amortisasi fiskal X
Penghasilan yang ditangguhkan pengakuannya X

Setelah Wajib Pajak melakukan hal-hal di atas, maka dapat diperoleh penghasilan neto komersial yang akan dipergunakan untuk menghitung penghasilan kena pajak.
Semoga bermanfaat

Advertisements

3 thoughts on “C.2. Akuntansi PPh Badan: Rekonsiliasi Fiskal dan Penyajiannya di SPT Tahunan PPh Badan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s