Rumah itu Bernama Diri Sendiri

IMG_0175

photo by Irwan.

KADANG kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari ‘rumah’ itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan rumah itu untuk kita, apa pun bentuknya. Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri. Sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun.

(Windy Ariestanty dalam Life Traveler, 2011)

 

Sabtu kemarin saya iseng bongkar-bongkar lemari buku. Diantara tumpukan buku-buku yang mulai berdebu dan beberapa diantara buku itu kertasnya sudah menguning, saya menemukan bukunya Windy dengan judul Life Traveler. Saya lupa-lupa ingat pernah membaca buku itu. Ternyata setelah saya gali lagi ingatan saya, memang saya belum selesai membaca buku itu entah karena hal apa. Saya buka covernya, dan saya langsung teringat sesuatu. Buku yang saya beri nomor pengenal 76997 (saya terbiasa mencatat buku-buku saya dalam katalog pribadi, memberinya nomor pengenal, serta membubuhkan tanggal pembelian dan stempel sebagai signature) bertanggal 16 Maret 2013. Tepat hari ulang tahun saya setahun yang lalu. Dan ternyata memang buku itu tidak saya beli, tapi pemberian, hadiah ulang tahun. Hadiah ulang tahun, yang ternyata memang akan menjadi satu-satunya barang kenang-kenangan dari orang tersebut.

Aaah hidup memang penuh kejutan. Bahkan hidup itu sendiri adalah sebuah kejutan. Di tengah-tengah keluhan saya mengenai betapa menjemukannya pekerjaan saya, banyak kejutan-kejutan kecil yang tidak saya sadari terjadi di pekerjaan saya. Dan kejutan itu memang membuat hidup saya semakin semarak.

Siapa sangka niat mencari jodoh yang dilakoni Dini sampai ke negeri Filipina malah kesampaian? Meskipun dibalut alasan kemanusiaan: membantu korban topan haiyan? Siapa sangka teman yang kemarin malam masih single dan tanpa ada angin apa-apa malam ini memberi kabar bahwa pagi tadi dia telah melangsungkan pernikahan? Siapa sangka niat mengejar cinta yang dilakukan Rio–sampai harus datang ke Jakarta–yang tadinya kandas sekarang kembali menemukan angin dan ada pelabuhan untuk sekedar menambat? Aaah kadang hidup ini terlampau misterius.

Semuanya menjadi misteri di mata manusia, karena kadang kita hanya bisa menebak dan mengira-ira, memperhitungkan kemungkinan keterjadiannya. Siapa mengira niat memiliki rumah yang tahun kemarin masih sebatas obrolan antara saya dengan Irwan kini sudah benar-benar terlaksana?  Hidup selalu menyimpan kejutannya untuk kita. Kadang kita lupa saja bahwa itu adalah kejutan yang membahagiakan, lalu kita lupa untuk bersyukur.

Bertemu empat orang sahabat saya: Irwan, Rio, Dini, dan Tanzil adalah kejutan besar yang sangat saya syukuri. Karena bersama merekalah saya menemukan rumah, menemukan diri sendiri. Siapa sangka kami yang setahun lalu masih saling asing, kini menjadi sangat bocor saat bertemu, dan sangat nyambung bila sudah terlibat pembicaraan?

Penglihatan manusia memang terbatas, tidak bisa menebak dan menerka apa yang akan terjadi esok hari. Tapi di situlah nikmatnya keterbatasan manusia. Yang akan terjadi esok hari adalah masih misteri malam ini, namun akan menjadi kejutan saat kita menjalaninya esok hari. Jadi, bersyukurlah untuk semua kejutan-kejutan itu. Dan teruslah mencari kejutan-kejutan dalam kehidupan kita.

————————-

15 September 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s