Belajar (Tidak) Memiliki, Belajar Kehilangan

HIDUP kita di dunia ini sudah berjalan bertahun-tahun, puluhan tahun. Banyak hal sudah pernah kita alami selama puluhan tahun tersebut. Kadang menyenangkan, meski kadang tak jarang kita bertemu hal yang menyedihkan. Kita pernah bahagia, meski pernah juga kita merasa tidak bahagia. Kita pernah tidak memiliki sesuatu, namun pernah juga kita merasa memiliki segalanya.

Apa yang kita miliki, apa yang kita rasakan sekarang, hanya akan menjadi pengalaman di masa depan. Apa yang kita miliki dan rasakan sekarang hanya akan menjadi cerita di masa depan. Belum tentu jika sekarang kita bahagia, kita masih akan tetap bahagia di masa depan. Belum tentu jika sekarang kita ‘berada’, kita masih akan tetap ‘berada’ di masa depan. Masa depan adalah misteri, masa sekarang adalah hadiah, dan masa lalu adalah sumber pelajaran.

Seseorang pernah berkata, if ‘o’ means opportunity, there are no ‘o’ in ‘past’, one ‘o’ in ‘today’, and three ‘o’ in ‘tomorrow’. Tidak ada harapan di masa lalu, karena ia sudah pergi, sudah menghilang, tidak bisa kita edit dan revisi lagi. Ada harapan di masa sekarang, yang bisa kita kejar dan wujudkan hari ini. Namun akan lebih banyak kesempatan di masa depan, karena kita masih bisa mempersiapkannya dengan lebih baik dari hari ini.

Kita datang ke dunia ini dalam keadaan miskin, tidak membawa apapun. Dan akan kembali pulang dengan keadaan miskin juga, tidak akan membawa apapun selain amal baik yang kita kerjakan selama kita hidup. Sejatinya kita tidak memiliki apapun, maka jangan pernah merasa memiliki apapun di dunia ini. Apa yang kita punyai dan kuasai sekarang hanyalah titipan semata, pada waktunya akan kembali kepada pemiliknya: Yang Kuasa.

Berharap secukupnya, berusaha sebaik-baiknya, kecewa sewajarnya, dan bersyukur sebanyak-banyaknya. Karena apa yang kita miliki sekarang tidak lain dan tidak bukan adalah titipan yang suatu ketika akan kembali kepada pemiliknya. Harta, pangkat, kedudukan, keluarga, teman, sahabat, pada akhirnya akan meninggalkan kita satu demi satu. Bukan karena mereka tidak menyayangi kita, bukan karena Tuhan tidak menyayangi kita, atau bukan karena hidup ini tidak adil, karena sejatinya memang kita tidak memiliki apa-apa. Maka, ketika kita kehilangan mereka, kita boleh merasa kehilangan, sewajarnya saja. Karena pada gilirannya kita yang akan meninggalkan dunia ini juga.

——————————————————————-

Jakarta, 18 Juli 2014

Selamat jalan rekan, teman, sahabat, kakak, mentor, dan assesor kami di Kring Pajak 500200,  Rahmat. Semoga Tuhan menempatkan dirimu di tempat terbaik di sisi-Nya. amiin ya rabbal ‘alamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s