Dua Menit Untuk Lima Tahun

HARI ini, negara kita mengadakan hajatan akbar untuk memilih presiden dan wakil presiden kita selama lima tahun ke depan. Alhamdulillah saya sudah mencoblos juga, tepat jam 09.30 di TPS terdekat dengan tempat saya tinggal—mengingat saya perantau, nama saya tidak terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Tetapi saya membawa formulir A5 yang dibuatkan oleh keluarga saya di kampung dan dikirimkan melalui pos, sehingga nama saya bisa dimasukkan ke Daftar Pemilih Tambahan.

Pesta Demokrasi diadakan setiap lima tahun sekali, baik untuk memilih anggota dewan yang terhormat maupun memilih presiden dan wakilnya. Sebenarnya saya tidak senang menggunakan kata ‘pesta’, karena penggunaan kata ‘pesta’ lebih menunjukkan kegiatan menghambur-hamburkan uang untuk pemilu. Meski pada kenyataannya memang demikian. Negara kita—yang bisa dikatakan miskin ini—menghabiskan dana puluhan triliun untuk sekedar menyelenggarakan pemilu (yang kita lebih senang menyebutnya sebagai pesta).

Tadi saya sempat bingung juga, memilih nomor 1 atau 2. Meski dari rumah saya sudah yakin akan mencoblos nomor berapa. Begitu saya membuka surat suara saya dan melihat foto kedua pasangan calon, saya sempat ragu. Apakah calon yang akan saya pilih ini bisa amanah dan memenuhi janji-janji kampanye-nya? Akhirnya dengan mengucapkan bismillah saya mencoblos salah satu dari pasangan tersebut.

Setiap orang memiliki pandangan mengenai presidennya masing-masing. Dan, saya berharap siapapun yang nanti terpilih menjadi presiden kita mampu membawa perubahan kepada negara kita dengan segudang permasalahan dan hutangnya.

Mungkin sekedar omong kosong, tapi saya berharap banyak kepada presiden yang akan terpilih ini. Hal ini lebih dikarenakan saya cinta pada tanah air saya, tidak rela jika negara kita ini terus-terusan dijajah. Tidak hanya dijajah perekonomiannya, tetapi juga politik dan mental-nya dijajah secara terang-terangan. Dan herannya itu dilakukan tidak hanya oleh negara dan bangsa lain, tetapi oleh orang-orang kita sendiri yang tanpa mereka sadari bahwa yang mereka lakukan adalah penjajahan dan pelemahan mental bangsa sendiri.

Saya percaya bahwa kalimat ‘politik itu kotor’ adalah benar adanya. Politik penuh dengan trik dan intrik untuk mencapai tujuan sekelompok orang, bahkan mencapai tujuan seseorang saja. Siapapun presiden yang terpilih pasti membawa misi tertentu, baik dibawa oleh dirinya sendiri maupun dibawa oleh kelompoknya. Saya cuma bisa berharap bahwa kepentingan yang dibawa tersebut baik untuk seluruh rakyat Indonesia.

Berikut saya coba uraikan presiden ideal versi saya sendiri selama lima tahun ke depan:

1) Presiden Indonesia lima tahun ke depan adalah yang mampu merubah mental bangsa kita. Dari mental-mental terjajah dan mental pesuruh menjadi pribadi yang penuh optimisme, sehingga kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dan itu harus dimulai dari diri setiap orang, setiap warga negara, termasuk harus diinisiasi sejak kecil. Oleh karena itu pendidikan mental menjadi faktor yang penting dalam perubahan ini. Harus ada perubahan ekstra besar dalam kurikulum pendidikan, terutama terkait pendidikan agama, moral, mental, dan kepribadian yang luhur. Harus ada perubahan besar dalam pola kehidupan berbangsa dan bernegara, lingkungan kerja, cara kerja, cara berkendara, cara bergaul, dan seterusnya. Memang absurd kedengarannya. Tapi perubahan mental yang signifikan akan merubah pola kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu pemerintah perlu menyiapkan infrastruktur yang mendukung perubahan mental tersebut

2) Presiden Indonesia lima tahun ke depan harus bisa membangun Indonesia secara menyeluruh, tidak hanya di Jawa dan Jakarta, tetapi seluruh Indonesia. Perkembangan ekonomi yang tinggi di setiap daerah adalah bentuk ejawantah dari pembangunan yang merata. Oleh karena itu lagi-lagi kembali kepada infrastruktur dan sistem yang baik harus disiapkan di setiap daerah. Tidak ada lagi daerah yang merasa dibeda-bedakan, karena masing-masing mempunyai hak yang sama.

3) Kesejahteraan masyarakat Indonesia seharusnya bisa menjadi prioritas utama. Pendapatan per kapita harus naik. Oleh karena itu penambahan jumlah lapangan kerja mutlak dibutuhkan. Dengan demikian angka pengangguran di usia kerja serta angka kemiskinan akan menurun. Dengan tenaga kerja yang produktif, lapangan kerja yang banyak, serta varian industri yang ‘laku’ di tingkat masyarakat global akan meningkatkan jumlah PDB, yang tentu saja akan berimbas kepada meningkatnya jumlah pendapatan negara dari sektor pajak yang akan dipergunakan untuk pembangunan baik infrastruktur maupun sistem.

4) Presiden Indonesia harus membawa perdamaian, keamanan, dan kenyamanan bagi warga negara. Suasanya bernegara yang tenang, nyaman, dan aman akan membawa lingkungan yang kondusif bagi perekonomian dan investasi. Oleh karena itu isu-isu terkait SARA maupun isu lain yang akan memicu perpecahan harus dihindari. Perbedaan-perbedaan dilihat sebagai suatu kekayaan yang harus diselesaikan dengan kepala dingin, dengan prinsip win-win solution, tidak merugikan pihak-pihak tertentu.

Demikian omong kosong saya tentang siapa presiden harapan saya. Siapapun presiden dan wakil presidennya yang terpilih, saya harap bisa membawa perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Amin

———————————–

Bintaro, 9 Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s