Celotehan Pagi (12)

Bermimpilah setinggi-tingginya. Jika kamu terjatuh, itu artinya tidurmu terlalu ke tepi, kurang ke tengah—-

Begitu kira-kira status teman saya, Eka Sandi, di akun facebooknya. Saya geli membacanya, karena saya pikir dia akan berbicara mengenai mimpi dalam arti kiasan, ternyata yang dia bicarakan justru mimpi dalam arti sesungguhnya.

Memang kata mimpi, diantaranya memiliki dua arti. Arti yang sebenarnya, dan arti kiasan. Saya sendiri kadang terlalu mengartikan ‘mimpi’ sebagai cita-cita, harapan, oleh karena itu ketika membaca status Eka di facebook, saya seperti melambung tinggi (seperti perintah Eka dalam status tersebut: bermimpilah setinggi-tingginya), namun ternyata yang dimaksud Eka dengan mimpi adalah mimpi dalam arti yang sebenarnya (yang menurut KBBI diartikan sebagai sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur), maka saya pun kemudian terjatuh, karena kecewa. Hihi.

Berbicara tentang dunia perbankan dewasa ini sudah semakin pesat perkembangannya, terutama dari sisi penggunaan teknologi informasi. Dulu untuk menabung atau mengambil uang, kita harus datang ke bank dengan membawa buku tabungan. Sekarang kita bisa menabung maupun mengambil uang di mana saja, melalui robot sederhana bernama ATM. Saya jadi memikirkan nasib buku tabungan yang kadang selama kita memiliki rekening tersebut tidak pernah dipakai. Dipakai sih, tapi cuma pertama kali saja, saat pembukaan rekening.

Mungkin cara-cara manual di atas kita sebut saja sebagai manual banking. Dalam perkembangannya, semakin banyak fitur-fitur yang disediakan oleh perbankan. Sebut saja sms banking, e-banking, internet banking, maupun phone banking. Sekarang semuanya tersedia. Selain buku tabungan yang terancam punah, ATM pun terancam punah nasibnya. Karena bahkan sekarang sudah tersedia tabungan tanpa buku maupun ATM, dengan menggunakan nomor HP, salah satu bank menyebutnya sebagai Rekening Ponsel.

Rekening ponsel sebenarnya konsepnya tidak jauh dari alat bayar cash sejenis Brizzi, Flazz BCA, e-money, maupun alat pembayaran sejenis. Namun rekening ponsel tidak hanya alat bayar, tapi juga alat menyimpan uang. Dia seperti dompet. Tahu kan fungsi dompet? Sebagai tempat menyimpan uang, tentu saja uang dipakai sebagai alat pembayaran.

3 1 2

Nah, baru-baru ini saya melihat sesuatu yang sedikit unik menurut saya. Seperti yang sudah kita bahas di atas, mengambil uang, menabung di ATM, top up alat pembayaran, internet banking, sms banking, maupun e-banking merupakan hal yang wajar dan biasa kita temui. Namun, saya baru melihat di sudut salah satu mal di Bintaro, selain mesin ATM, mesin tabungan, mesin EDC, ternyata ada juga pesawat telepon. Heheu, sumpah saya baru tau. Nah alat ini khusus dipergunakan untuk phone banking. Tidak hanya mengecek rekening, tetapi bisa juga dipergunakan untuk melakukan pembayaran maupun pembelian. Nasabah memang semakin dipermudah dengan seua fasilitas tersebut.

Saya jadi membayangkan seandainya rekening pajak (taxpayer account) bisa dilengkapi fitur-fitur seperti itu. Wajib Pajak bisa dengan mudah membayar, baik angsuran maupun tagihan, juga melihat history pembayaran pajaknya. Meski sekarang membayar pajak sudah bisa dilakukan melalui baik ATM (PER-37/PJ/2013) maupun internet banking (e-billing), tetapi belum menyeluruh, belum seluruh bank persepsi dan belum seluruh bank bisa melakukannya. Memang ide-ide seperti itu sudah dituangkan dalam project PINTAR, namun proyek tersebut hingga saat ini mangkrak tak berkelanjutan.

Jadi, selamat datang bulan Mei! Jepang menanti!

——————————————————————-

Bintaro, 2 Mei 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s