Celotehan Pagi (8)

Kesehatan memang nikmat. Sayangnya kadang kita baru sadar atas nikmat itu setelah mengalami sakit. Sama seperti memiliki adalah anugerah, dan kita baru sadar atas anugerah itu setelah kita kehilangan. Kadang saya bertanya-tanya, apa kita sebagai manusia harus mengalami hal-hal yang berkebalikan tersebut. Kita akan merasa kaya setelah tau rasanya bagaimana menjadi miskin, atau kita akan merasa sedih setelah tau rasanya bahagia. Seandainya kita memang akan mengalami semuanya, maka sebagai manusia yang harus kita lakukan cukup berjalan, menjalani saja apa yang akan kita temui di dunia ini.

Bekerja keras itu penting, tetapi beristirahat juga perlu. Kadang kita perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan menentukan arah masa depan. Bekerja keras bukan juga berarti melupakan keluarga, sahabat, lebih-lebih melupakan diri sendiri. Kadang ada waktunya kita harus kembali kepada diri sendiri, sekadar menengok ke dalam—ke diri sendiri—dan menanyakan, hai jiwa, apa kabarmu di sana?

Suatu saat kita pernah merasa kagum, cinta atau bahkan sayang dengan seseorang. Tetapi seiring berjalannya waktu, semua rasa itu memudar. Terlebih setelah kita mengetahui bagaimana perangai asli orang tersebut. Kata cinta dan waktu memang kadang linier. Sama seperti jarak dan waktu dalam menentukan kecepatan. Lalu, apa cinta membutuhkan percepatan? Saya tidak suka mengumbar masalah pribadi di depan umum, seolah masalah pribadi kita menjadi konsumsi banyak orang. Biarlah ia tersimpan di sini, di dada, tempat di mana seharusnya ia bersemayam, bukan di blog atau twitter.

Kenyamanan dalam bekerja is a matter. Karena dari kenyamanan itulah etos kerja kita akan timbul. Saya kadang tidak mengerti dengan atasan dan bos-bos yang hanya suka mencari kesalahan bawahannya. Mungkin mereka tidak pernah menjadi bawahan, terlahir langsung menjadi bos. Kenapa mereka tidak memikirkan saja bagaimana memunculkan semangat kekeluargaan dan lingkungan kerja yang nyaman, alih-alih mencari kesalahan anak buahnya?. Seolah menjadi prestasi ketika mereka bisa memberikan surat peringatan kepada anak buahnya tersebut? Kalau memang hanya itu pekerjaan mereka, kenapa mereka tidak menjadi hakim saja? Menjadi atasan adalah menjadi orang tua dengan bentuk lain. Mereka harus ngemong, ngobrol dengan anak buahnya jika memang ada masalah.

Dan, perubahan kadang memang tidak bisa kita hindarkan. Kita tidak bisa mencegah kelahiran, seperti kita akan mencegah kematian. Lahir dan mati, natal dan mortal, adalah awal dari perubahan. Perubahan akan terus terjadi, dan semakin menghindar darinya, semakin kita tersingkir dari kehidupan. Kadang hidup memang tidak memberi pilihan, bahkan kadang hidup bukanlah pilihan. Namun, kadang kita bisa memilih untuk bagaimana bersikap.

———————————————————————————————

dalam rasa sakit yang datang setiap bulan,

(Igauan Lelaki Datang Bulan)

Advertisements

One thought on “Celotehan Pagi (8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s